First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Pesta dan Kecemburuan



Aku mengenakan dress hitam dengan panjang selutut. Bagian atasan terbuka memperlihatkan bahu. Di bubuhkan aksesoris anting dan kalung berwarna hitam serta rambut yang di sanggul seadanya namun rapi dan cocok untuk pesta malam ini. Kemudian dipadukan heels berwarna merah yang senada dengan roba bibirku.


Tok. Tok... "Sudah siap?."


"Iya..."


Aku tersenyum pada Teo, ini memalukan. Pertama kali berdandan sefeminim ini.


"Saya terlihat aneh yaa?." Tanya ku ketika melihat Teo yang mematung. Air muka yang tidak bisa ku tebak. Datar dan memerah. "Saya ganti baju aja yaa..."


"Nggak usah cantik kok." cegatnya. "ayoo berangkat."


"Pasti aneh yaa saya pake gaun seindah ini, ini hadiah dari mama Eun Ji. Dari pada tidak digunakan sayang kan. Tapi... Saya juga malu. Sangat tidak cocok dengan gaya saya."


"Oh yaa... Kata Robert dia sudah sepekan di sini. Makanya sekalian dia ingin merayakan ulang tahun disini."


"Rachel... Semoga gadis itu tidak datang. Habislah ditertawakan sama dia."


"Dan juga menikah tanpa mengundangnya. Tidak bisa bayangkan semarah apa dia nanti."


"Oh... Bagaimana saya memperkenalkan diri pada teman-teman mu, saya tidak mau mempermalukan kamu lagi. Seperti bulan lalu dikira asisten. Memalukan sekali."


Aku mengoceh sendiri. Teo tidak merespon apa-apa. Entahlah, disaat yang memalukan seperti ini, aku selalu mengoceh meski tidak ada balasan dari si pendengar.


"Ayo turun..."


"Saya malu... Bisakah kita pulang dan mengganti gaun ini?..." Ucapku memelas, memohon padanya.


"Buang waktu. Ayoo!."


"Heh!... Dasar Voldemort." bisikku pelan. Teo membukakan pintu mobil, menyambut ku laksana putri. Aku menggandeng lengannya dan memasuki gedung berbintang ini.


Tampak romantis. Orang-orang akan berbisik iri. Beruntung sekali wanita itu menjadi pasangan lelaki tampan itu. Apa hebatnya wanita itu. Aah pemikiran yang mengganggu ku ketika momen seperti ini.


"Sangat tidak nyaman kita berpura-pura seperti ini."


Teo menghentikan langkah. Melirikku sejenak lalu berucap. "Saya pikir kamu sangat suka bersandiwara dan membuat semua orang iri."


"Jangan seenaknya berpikir tentang saya!." Ku lepaskan genggaman dan menuju resepsionis. Kemudian perempuan cantik itu berwajah Asia, menuntut kami ke ruang acara.


"You are so beautiful." Ucap perempuan itu.


"Me?." Kaget mu. Dia mengangguk. Aku tersenyum malu lalu berucap. "Thank you so much." 😊


Kami sampai pada sebuah room megah untuk sebuah perayaan ulang tahun. Para tamu yang berpenampilan rapi berjas, sementara para perempuan saling menandingi kemewahan gaun malam. Seksi dan terhormat.


"Hai... Teo." Sapa seorang gadis sembari menghampiri kami. Gadis yang sangat ku kenali. Tubuh yang seksi, berambut pendek, dengan pakaian serba terbuka. Rachel. "Wow... Istri kamu sangat cantik malam ini." ia bersalaman dengan Teo. Lalu menatap ku, menelisik.


"Ooh iya... Isteri ku memang sangat cantik."


Aku tersenyum menatapnya memelas. "Hel..."


"What's! Mahu?." "Oh my God...apa yang terjadi sama kaku sayang?." Dia membolak-balik diriku, tidak percaya. Dan Teo tertawa melihat tingkah Rachel.


"Nanti dulu protesnya, saya pinjam sahabat mu dulu. Malam ini dia milik saya." Potong Teo. Lalu menarikku pergi.


"Saya akan menemui kamu." ucapku sebelum menjauh dari Rachel.


Aku dan Teo memberi selamat pada Robert, memberikan sebuah hadiah yang ku buat sendiri. Sebuah lukisan wajah Robert bersama ibunda nya. Ketika pekan lalu tidak sengaja ku temui di sebuah caffe langganan ku. Tawa bahagia dari kedua ibu dan anak yang membuat ku terharu sekaligus bahagia.


Setelah itu, menemani Teo menyapa rekan-rekannya. Berkenalan dan saling memuji. Kehidupan orang kaya yang tidak pernah ku pikirkan akan menginjakkan kaki dan mencicipi budaya mereka. Menghabiskan secara cuma-cuma penghasilan tanpa khawatir besok bisa bertahan hidup atau tidak. Namun, dari sisi lain kerumunan orang. Seseorang yang menarik perhatian ku. Kenapa dia disini?.


"Mahuzes..." "Hei... Mahu, long time no see you." Jidan, pria tampan, tubuh tinggi, dan senyum yang mempesona. Tanpa aba-aba ia langsung memelukku. Entahlah apa yang akan dipikirkan Teo. Apakah ia akan marah. Mana mungkin dia marah, toh dia tidak memiliki perasaan padaku.


"Oh Jidan... Lepas." dorong ku pelan.


Kemudian, Jidan merangkul bahu ku.


"She is my girlfriend." Ucapnya menjelaskan pada lima pasang mata yang kaget. Mereka mengenalku sebagai isteri Teo bahkan menghadiri pernikahan kami. Aku terbelalak dan spontan mendorong nya lagi.


"Just kidding, we are friends." Jawabku sembari tertawa kecut. "Jidan please... Jangan becanda." bisikku.


"Mahu, calon kekasih ku. Aku mencintainya tetapi dia selalu menolak cintaku. Suatu hari dia akan takluk dalam pelukan ku." Ucapnya memberi penjelasan. Jidan mengenal orang-orang disini. Hanya saja dia dan Teo baru pertama kali bertemu.


"Teo, kamu punya saingan baru." Ucap salah seorang wanita. Herlin. Teman-teman yang lain ikut tertawa.


"Haha... Tidak, tidak, tidak, Jidan memang suka becanda. Jangan di dengarkan." Ucapku sembari melirik Teo. Air mukanya seperti biasa datar tanpa ekspresi.


"Mahu... Bukankah kita harus bernostalgia masa lalu kita?." bisiknya. Aku tidak tahu bagaimana mengatasi manusia gila ini. Habislah aku. Ku putuskan untuk pergi, jika tidak. Hal gila lainnya yang akan membuat ku malu.


"Yoo... Saya permisi sebentar yaa." Aku berpamitan pada Teo dan teman-temannya. Kemudian aku menarik Jidan sembari memukulnya. Namun, ia tertawa. Sebelum keluar jauh dari pandangan Teo, aku meliriknya yang berbincang dengan Rachel dan seorang gadis cantik bak model.


Aku dan Jidan duduk di lobby. Dia hanya tertawa menatapku. Mengejekku sepuasnya. Dan tiba-tiba ia serius.


"Kenapa kamu menikah dengan laki-laki seperti Teo, aku lebih baik darinya. Aku bisa membuatmu bahagia. Aku memiliki segalanya, tapi tidak sempurna tanpa mu."


"Jangan mengada-ngada Jidan. Sejak dulu kita teman. Tidak lebih, tidak kurang."


"Bisakah kamu melihat ku sekali saja Mahu..."


"Maaf Jidan."


"Baik. Aku akan melupakan mu kalau kamu mau kencan dengan ku sebanyak 3 kali."


"What's... Nggak mau."


"Kalau gitu, aku bakal gangguin kamu terus. Nggak akan pernah menyerah sampai kamu menerima cinta ku."


"Ooh Tuhan... Harus saya apakan kamu."


"Oke baiklah. Nanti saya kabari yaa..." Dia tersenyum sumringah. Berjingkrak-jingkrak bahagia. "Ayo kembali..."


"Ayo pulang..." tiba-tiba suara Teo dibelakang ku. Aku berbalik. Kaget seperti orang yang ketahuan melakukan kesalahan. Tanpa basa-basi Teo menarik tangan ku pergi.


Bersambung...