First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
You Hate Me



Setelah sampai di tempat tujuan, aku langsung mencari keberadaan Rachel, menjelajah berbagai orang dan melacak muka asing mereka satu per satu berharap ada Rachel di sana tapi nihil. Aku berputar-putar tiga kali namun Rachel tidak di sana. Kemudian melihat di lorong-lorong gelap, kamar-kamar maupun toilet Rachel tidak di sana. Pria-pria hidung belang mencoba menggoda maupun menarik ku namun untung si bartender menyelamatkan ku.


"Hei tiny girl!" Sapa bartender gemuk dan berjenggot. Pria yang bernama Jacob itu memanggil ku seperti itu sebagai panggilan akrab pada pelanggannya. Aku tersenyum membalas sapaannya.


"You look so beautiful."


"Thanks Jac." Dia tersenyum. "Rachel tadi di sini?."


"Oh yes, dia sudah kembali setelah aku menelepon kamu."


"Dia baik-baik saja?."


"Tampak kacau, tapi baik-baik saja."


Aku pamit setelah tahu informasi Rachel telah kembali ke hotel. Aku meneleponnya untuk memastikan keberadaannya namun panggilan ku di reject. Saat di luar suasana kacau. Seseorang telah di hajar oleh petugas keamanan club. Pria itu di hadang karena nekat masuk tanpa izin. Tapi bukan itu persoalannya, dia mencari seseorang.


Aku memperhatikan pria itu. Pria yang dihajar tidak asing bagi ku. Aku mendekat. Jidan?.


"Hei please stop! Stop! Stop!." Aku menghadang petugas-petugas itu yang kembali menghajar Jidan. Lalu menarik Jidan. Salah satu petugas meneriaki kami lalu mengusir kami. Kemudian aku memapah Jidan yang babak belur.


"Apa yang terjadi Dan?." Tanya ku setelah membawanya duduk dibangku taman. Aku mengambil sapu tangan lalu membasuh luka di wajah dan tangannya. Untung aku membeli plester saat di apotik tadi lalu menempel plester di pipinya yang tergores lalu berlari menuju bar tadi dan meminta es batu pada Jacob lalu mengompres luka lebam.


"Thanks Mahu." dia menatapku tulus. Ada kesedihan disana. Pada sorot mata yang sayu.


"Aku sudah bilang hati-hati, kenapa sampai bisa jadi lebam kayak gini huh?!, harusnya belajar beladiri biar nggak luka kayak gini." Omel ku. Dia menyeringai.


"Mahu yang dulu telah kembali!." Gumamnya.


"Apa yang terjadi, kamu pergi tiba-tiba dan berakhir seperti ini?." Jidan bungkam. Menunduk lama, sepertinya berat untuk diceritakan. Lanjutku. "Aku memang tidak banyak membantu tapi jika butuh teman untuk cerita, aku bersedia jadi teman itu." "Aku pamit yaa."


"What's! Menghilang?."


"Aku dengar malam itu mereka berpesta dengan Rachel."


"Aku tahu!." Jidan tampak terkejut. "Aku juga bersama mereka. Jill memang bertengkar dengan ku karena dia memaksa bersama Rachel tapi setelah itu aku mengantar Rachel dan kembali ke apartemen. Apa sebenarnya yang terjadi."


"Yah aku tahu, malam itu Bruce menelepon ku mereka di serang oleh seseorang karena pertengkaran itu. Paginya Jill dibunuh, Bruce menghilang hingga saat ini." Jidan menunduk penuh kesedihan "Aku tidak bisa hidup tanpa Bruce, dia satu-satunya yang ku miliki Mahu. Kamu yakin tidak ada seseorang yang didekat mu yang begitu dekat dengan mu hingga berani melukai orang lain untuk melindungi kamu atau balas dendam demi kamu?"


"Maksud mu apa, Dan?."


"Siapa lagi yang bertengkar dengan mereka kecuali kamu?, Mungkin saja Teo melihat pertengkaran itu dan membunuh Jill lalu menculik Bruce."


"Teo yang membunuh dan menculik?. Jangan sangkut pautkan Teo dengan hal ini."


"Kamu tidak tahu seberapa menakutnya Teo. Mahu aku mohon tanyakan pada Teo di mana Bruce. Ku mohon Mahu!." Jidan menahan tangan ku. Aku masih menatapnya sinis. "Kamu pikir aku salah?, ingat waktu anak-anak menuduh mu pembunuh? Yang melukai orang-orang itu adalah Teo, dia menghancurkan anak-anak itu." Aku hanya terdiam. Mencari tahu maksudnya, mencerna tingkahnya, dia frustrasi. "Aku mohon Mahu, jujurlah. Kembalikan Bruce, yaa bisa saja kamu yang menculik Bruce dan membunuh Jill untuk balas dendam."


"Sekarang aku. Setelah Teo yang kamu tuduh, sejak dulu kamu memang tidak pernah tulus."


"Aku sudah baik pada mu, sekali saja aku minta tolong kamu tidak sudi?. Aku tidak akan melapor ke polisi asalkan kembalikan Bruce. Ku mohon Mahu!."


"Kamu mendekati ku karena hal gila ini?. Aku pikir kira teman Jidan, ternyata kamu sama saja seperti orang lain yang selalu menuduh ku sejak dulu maupun sekarang, kamu nggak pernah berubah."


Yang terpendam dalam ingatan ku adalah kenangan menyedihkan dari teman-teman yang ku percayai menunduh ku melakukan kejahatan. Setiap kejadian pencurian, bully, dan pembunuhan, aku selalu yang di dera isu-isu tidak sedap. Mereka selalu mengatakan pada ku, semua salah ku. Karena aku mereka kehilangan orang terkasih, barang yang disayangi. Dan aku selalu di fase yang sama. Fase di mana selalu mempercayai mereka yang tulus berteman. Nyata selalu ada kepentingan tersembunyi.


"Aku menyesal bertemu dengan mu. Bawa bukti jika aku benar menculik Bruce dan ku harap Bruce segera di temukan." Ucapku sebelum meninggalkan Jidan yang masih terdiam membungkuk penuh kesedihan.


Bersambung.... 🥺