First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Ubud



Pernikahan.


Makna yang Mahu cari


Ketemu Firdan/kang jun


Saat Mahu bangun dia tidak di sofa lagi tetapi terbaring di kasur empuk. Ia memandang keluar. Melihat gemerlap malam yang dihiasi kunang-kunang.


"Indah sekali... Lama tak melihat mu wahai kunang-kunang." Gumamnya.


"Iya. Ini pertama kalinya aku lihat kunang-kunang sebanyak ini." Tukas Teo membuat Mahu terkejut. Teo berdiri di dekat tangga. Dia berencana membangunkan Mahu.


"Makan malam dulu yuk." Ajaknya. Mereka turun ke lantai dasar. Menuju dapur sederhana namun dengan peralatan lengkap. Lampu-lampu redup dengan angin sepoi-sepoi serta suara air sungai sungguh membuat nuansa di villa semakin romantis.


Dua manusia itu saling melirik satu sama lain. Ketika ketahuan pura-pura tidak melirik. Mereka sama-sama menahan gejolak di hati.


Perlahan menyesali telah mengucapkan syarat pernikahan sewaktu dulu. Namun, waktu tidak dapat diputar kembali. Sudah terlanjur berucap tentu sulit menarik ucapan masing-masing.


Tidak ada yang mampu mengalahkan ego. Membabi buta perasaan hingga orang lain menjadi jalan pelarian.


"Maaf atas sikap ku akhir-akhir ini." Tukas Mahu memandang Teo. Teo membalasnya. Tatapan yang penuh kasih sayang.


"It's okay. Aku senang setidaknya bisa melihat kamu judes sesekali." Dia terkekeh.


"So, do you want to go Sinta's married?."


"No."


"Why?."


"I just hate about my family. They are disgusting."


"Humm... It's bad. But I hope, kamu memaafkan kesalahan mereka."


"Kau tahu apa yang mereka lakukan pada ku dan mama?."


"Tidak. But semua manusia pasti pernah lakukan kesalahan. Memaafkan akan mengurangi sesal mu."


"I don't need you advice!."


"I'm Sorry." Teo tersenyum. Mahu diam sembari melahap nasi dan stew. Lima menit dalam keheningan Mahu berucap.


"I'm so sorry."


Selesai makan Mahu mencuci piring dan Teo bertugas menata piring di sesuai rak. Setelah selesai mereka duduk di halaman sembari memandang bintang-bintang bersinar di langit.


"Dari mama kebaya untuk besok." Teo menyerahkan kotak segi empat berwarna pink kepada Mahu. Mahu membuka tutup kotak melirik sesat isi kebayang berwarna cokelat muda dengan heels hitam senada.


"Thanks Yoo."


"Do you know beautiful moment in my life?." Tanya Teo. Mereka saling memandang. Teo menggeleng.


"Now. When I speending time to holiday with you."


"Ooh really. Nice to hear that." Mahu tersenyum manis antara tersipu dan tidak percaya ucapan Teo.


"Yoo, aku keatas duluan yaa. Mau tidur dulu. Kamu bisa gunain kasur. Aku di sofa. Kita gantian."


"Good night yaa..." Jawab Teo sembari memandang kepergian Mahu.


Kicau burung-burung dan mentari yang perlahan naik menyambut pagi mereka. Mahu masih terbenam dalam selimut di kasur empuk. Saat ia tertidur pulas semalam di sofa. Teo memindahkan dirinya ke kasur.


Mahu mengeliat, terbangun karena suara burung. Dia memandang sekeliling dan menghirup udara segar. Mencari sosok Teo. Paras tampan nan penuh misteri itu membuatnya merasa nyaman meski sekedar melirik.


Oh itu di sana, apa yang dia lakukan?. Mahu membatin. Melihat Teo yang terbaring di halaman, ia menghadap langit dan merentangkan tangan. Menikmati paginya dengan relaxasi.


Mahu memandangi dari kejauhan. Tidak ingin mengganggu. Ada rasa lain di hatinya. Sementara Teo bergelut dengan dirinya sendiri mencari pembenaran agar Mahu bisa menerimanya.


Mereka berangkat ke resort menghadiri pernikahan Sinta dan Ferdi. Teo sesekali melirik Mahu. Mahu sangat menawan dengan kebaya berwarna mocca, dengan makeup natural serta sanggul rambut yang menambah khas wanita Jawa. Indah.


"Kamu sangat cantik." Puji Teo ketika Mahu turun dari kamarnya.


"Terima kasih." Jawabnya tersipu malu.


Mahu dan Teo menyalami seluruh keluarga dan memberi selamat pada Sinta dan Ferdi. Setelah itu mereka berdialog dengan sanak saudara Ferdi. Kemudian Rachel datang dan menghampiri Teo, menariknya dan mengajak berkeliling berdua.


Sementara Mahu hanya duduk dan melihat dua manusia itu sedang bersenda gurau dengan Sinta dan Ferdi. Karena bosan ia pergi. Menuju pantai dan mencicipi hidangan di sana.


Memilih Limun dan cerry. Pandangannya tertuju pada sosok laki-laki yang sangat di kenalnya.


"Soe Kang Jun?" Mahu menghampiri laki-laki itu. Laki-laki Bali menawan, tubuh tinggi, berbadan tegap dan kekar. Parasnya rupawan. Terlebih matanya, berwarna cokelat. "Eh Firdan deh."


"Mahu...." pria itu berbalik memandangnya. Sorot matanya tertuju pada Mahu terpesona dengan perempuan yang di lihatnya.


Spontan mereka berpelukan. "Aku nggak percaya kamu di sini." Ucap Mahu.


"Oh pengantin pria temen nongkrong ku. Nggak tahunya Sinta sepupu mu. Ah kalo jodoh emang nggak kemana." Jawab Firdan. Mahu memberi julukan Soe Kang Jun karena matanya mirip dengan sang aktor Korea itu.


"Seneng banget bisa ketemu yaa Kang Jun."


"Iya. Berkah bisa bertemu." Dia mengusap kepala Mahu. Di satu sisi sosok lain menatap tajam ke arah mereka. Memasang wajah curiga.


Mereka pergi dari kerumunan berjalan menyusuri pantai.


"Bosen yaa di dalam?." Tukas Firdan.


"Yah begitulah. Kamu kan tahu, nggak akrab sama keluarga."


"So, kemana saja kamu selama ini?."


"Aku pindah ke Jerman. Kamu sendiri gimana?."


"Ya seperti biasa jagain Bali. Hehe..."


"Bali mah nggak perlu di jaga. Hehe...."


"Di Jerman ngapain aja?."


"Yah gitu deh, naik turun, cerah gelap, begitulah. Kamu sendiri?."


"Pertama aku mencari mu di seluruh kota. Hehe..." Mahu menatapnya tajam tidak percaya. "Becanda, aku emang pernah ke Jakarta lalu ke Jogja saat si Jidan bilang kamu lagi di kota itu, eh aku di bohongin."


"Parah sih dia... Tapi sedih juga nggak bisa becanda lagi sama Jidan."


"Iya, aku pun begitu."


"Ku dengar kamu sudah menemukan impian mu?."


"Iya bisa dibilang begitu. Tapi ada satu impian lagi yang harus ku raih."


"Hebat dong. Masih punya impian."


"Iya karena kamu."


Mereka berjalan terus hingga ke ujung pantai lalu duduk berdua memandang ombak. Dalam diam lalu berdialog dan bernostalgia. Kisah-kasih yang dilewatkan bersama.


Teo masih memperhatikan mereka hingga Rachel menariknya.


"Kamu dan Mahu aneh deh." Tukas Rachel.


"Kenapa?."


"Dua orang yang tidak saling mencintai."


"Huh! Jangan ngaco. Tentu saja kami saling mencintai."


"Teo, kamu nggak bisa bohong. Buktinya kamu nggak berani hampiri mereka. Mahu bahkan nggak marah saat aku sama kamu. Atau kamu yang cinta sepihak?."


"Bukan urusan mu."


"Teo... Please jujur sama diri kamu sendiri. Jelas-jelas kalian tidak saling suka. Nikahnya karena terpaksa kan. Tante cerita sama aku."


Teo meninggalkan Rachel sendiri. Dia marah dan kesal. Tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia mencintai sepihak. Ketakutan lain hadirnya Firdan. Sosok yang membuat Teo rasah, khawatir Mahu akan berpaling darinya.


Namun, jika itu keputusan Mahu ia tidak bisa berbuat apa-apa.