First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Pertemuan 2



Yoo Teo


Malam itu, tidak pernah terpikirkan kehadiran seorang perempuan yang telah ku cari 5 tahun terakhir. Perempuan yang menyeret ku pada cahaya sekaligus kegelapan.


Wajahnya oval, matanya bulat dengan bola mata berwarna kecoklatan, dihiasi bulu mata yg lentik, hidungnya kecil, dan apabila bibirnya merekah indah memperlihatkan deretan gigi putih. Warna kulit yang kecoklatan dan rambut curly dengan panjang sepinggang, jika ia berjalan dibawah sinar mentari memperlihatkan gelombang kecoklatan rambutnya. Sempurna sekali Tuhan ciptakan satu manusia seindah dia.


Badannya kecil dengan tinggi 167 cm. Ia selalu mengenakan pakaian berwarna gelap, seperti saat ini kaos hitam dengan blazer berwarna abu-abu dengan warna celana yang senada dengan kaos. Persis seperti terakhir kali menemuinya di pesta perayaan ulang tahun Robert.


Tidak pernah ku kira akan menemuinya lagi malam ini. Padahal aku telah berusaha agar tidak pernah didekatnya. Cukuplah bagi ku memandangi nya dari kejauhan.


Faktanya aku harus berlari menjauh sebelum kenyataan pahit menghampiri dan menghancurkan segalanya yang telah ku bangun.


Melepasnya pergi setelah makan malam adalah cara terbaik agar kami tetap hidup.


- - 🌸🌸 - -


Mahuzes


Sudah dua pekan dalam sebulan ini, sering terjadi kasus pembunuhan. Flatfrom berita yang ku baca dalam perjalan menuju kantor, topik pembunuhan selalu menjadi tanding topic. Misteri yang tidak dapat dipecahkan oleh kepolisian Berlin hingga saat ini.


Bahkan menjadi perbincangan ku dengan barista sebuah caffe yang bertempat tidak jauh dari kantor Kedutaan. Aku selalu mampir hanya sekedar istirahat atau mengerjakan proyek blog.


Seperti hari ini, hari minggu yang damai. Menyesap kopi dan menikmati sepotong kue cokelat. Dan memandangi orang-orang berlalu lalang.


"Hari yang damaikan?." Aku mengangguk sambil tersenyum pada asal suara. Laki-laki paruh bayah pemilik kedai. Aku kembali memandangi buku Oka Rusmini, penulis favorite ku yang mengangkat tema perempuan.


Satu panggilan masuk dari Pak Arif. "Halo, Pak, ada yang bisa saya bantu?."


"Oh iya bu, ada yang bisa saya bantu?."


"Aduh, kamu ini seperti operator aja nawarin bantuan melulu." Aku tertawa pelan. Masih menunggu maksud bu Lindra. "Nanti malam keluarga tante dan keluarga Mahu akan makan bersama. Jangan lupa dandan yang cantik yaa. Tante akan kirimkan alamatnya."


"Maksudnya bu?."


"Sudah, datang saja yaa... Ibu Mahu sudah di rumah tante." "oh yaa, jangan panggil bu, panggil tante saja lebih enak."


"Untuk apa bu? Eh tante." dari mana mereka saling mengenal?. Keluarga yang ku punya hanya mama ku. Wanita karier yang diktator. Sejak kecil hingga saat ini selalu memaksakan kehendak mama. Tidak peduli dengan pendapat orang lain termasuk diri ku.


Namun, sejak kejadian mengerikan yang ku alami beberapa tahun lalu. Mama sedikit berubah. Mengizinkan ku melakukan apa yang ku inginkan untuk masa depan ku. Menjelajah dan menjauh darinya. Aku membenci sekaligus menyayangi mama ku, dia satu-satunya keluarga yang ku miliki.


"Kejutan buat kamu. Bye sayang..."


19:30 - Kediaman Pak Arif.


Sebelum berangkat, aku memperhatikan penampilan ku. Rambut yang ku ingat seperti ekor kuda, dengan sedikit rambut-rambut halus yang ku biarkan menggantung dekat telinga. Make up sekadarnya dengan pipi rona orange dan bibir yang ku poles dengan lip tin. Memaknai kemeja dan celana hitam di paduan dengan auter abu-abu. Mengenakan suatu yang praktis dan tidak perlu banyak berpikir adalah gaya ku. Karena itu hitam atau warna gelap pilihan ku.


"Hai." sapa ku, kaku pada Yoo Teo, tidak sengaja kamu sampai di waktu yang bersamaan. Ia menjawab dengan senyuman. Kami di sambut oleh Bu Lindra dengan kekaguman ia kami datang bersamaan.


Kami menuju ke ruang makan. Mama, Pak Arif, sepasang suami istri paruh baya, mungkin seusai dengan Pak Arif dan Bu Lindra. Mereka menyambut kedatangan kami dengan suka cita. Ada apa ini?, warna penasaran ku tunjukkan pada mama ketika kami saling bertatapan hingga aku duduk di samping nya.


"Kenapa mama bisa di sini?." bisikku. Aku melirik Teo yang telah duduk disamping wanita cantik paruh baya. Yang tepat di hadapan aku dan ibu. Dia sama bingung nya dengan ku.


Bersambung....