First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Narrow 2



"Apa kamu bahagia selama ini?." Tanya Jidan.


"Ya, tentu saja. Aku mensyukuri segala sesuatu yang telah hadir pada ku."


"Kamu yakin?."


"Ya!."


"Syukurlah jika kamu seyakin itu."


Kenapa orang-orang selalu mempertanyakan kebahagiaan ku?. Apa karena setiap orang ingin menengok kebahagiaan orang lain lalu mencoba dalam kehidupan mereka?. Atau aku tidak tampak seperti orang yang berbahagia?.


"Aku tidak paham kenapa bertanya seperti itu Dan?." Dia tersenyum lalu menunduk lalu menatap ku.


"Tidak ada maksud apa-apa, hanya saja kamu terlihat selalu menahan sesuatu. Ada beban di hati yang tidak bisa disampaikan. Mahu yang ku kenal dulu selalu to the point, mengutarakan isi kepalanya."


Aku tersenyum. "Aku tidak seperti itu." "Ada hal-hal yang sudah ku lupakan, momen-momen penting yang seharusnya ku ingat dengan baik terlupakan begitu saja, aku takut menyakiti orang terdekat ku karena kelupaan ku ini."


"Ooh begitu. Rachel dan Teo tidak memiliki hubungan apa-apa, Teo tidak menyukai siapapun waktu itu. Rachel juga tidak pernah mengenalkan Teo pada kita, aku saja yang tidak sengaja mendengar percakapan anak fotografi tentang Rachel yang selalu di dekat Teo. Sekedar itu."


"Bagaimana kalau sebenarnya aku tahu?."


"Toh kalian sudah di takdirkan bersama. Aku sangat yakin kalian memang cocok bersama."


Pukul 9 malam Jidan mengantar ku sampai depan gedung apartemen. Lalu ia kembali ke hotel tempatnya menginap. Pekan depan janji untuk makan siang bersama di hari libur.


Apartemen kosong. Nampaknya Teo belum kembali, aku menyalakan lampu dapur bermaksud minum seteguk air. Namun, di meja makan telah tersaji nasi belut dengan telur gulung. Teo sudah pulang lebih dulu. Dia tidak baca sms ku?. Tapi... Aku mengambil air lalu membuka tudung saji dan mencicipi telur gulung.


"Sudah dingin tidak perlu di makan!." seru Teo membuat aku terperanjat. Ia mengenang baju serba hitam dengan tudung yang lebar. Seperti sosok menakutkan di lorong gelap.


"Aku masih lapar, aku makan yang ini saja." Aku tidak benar-benar lapar. Syukurnya perut ku masih cukup di isi kembali setelah makan bersama Jidan. Tidak sampai hati jika makanan ini dibuang begitu saja.


"Aku bisa masak yang baru."


"Aku makan ini saja. Masih enak kok." jawabku sembari memandangnya dengan senyuman setulus hati.


"Ya sudah!." ia menghilang dibalik pintu kamarnya.


Setelah makan aku mandi dan beristirahat, namun mimpi yang sama terus berdatangan. Bayangan Si anak kecil dengan gaun putih, tenggelam di danau gelap, lalu di kejar seorang pria, lalu kematian si mata biru mengitari ruang bawah sadarku. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lalu aku keluar dari kamar dan menonton tv hingga fajar menyingsing. Kemudian terlelap sebentar dan ketika terjaga sarapan telah siap dan rumah telah dibersihkan.


Sabtu pagi, aku berkesempatan bangun lebih pagi dari Teo, karena itu aku membuatkan roti bakar, selain strawberry dan jus jeruk untuk sarapan kita pagi ini sebelum aku bertemu dengan Jidan untuk pertemuan kedua kami.


Tidak ada yang istimewa dari sarapan ku tetapi berhasil membuat sarapan seadanya untuk Teo sungguh membahagiakan. Mungkin kebahagiaan ini yang dirasakan Teo ketika hasil karyanya dimakan dengan lahap.


"Rotinya enak?." Ucapku berusaha mencairkan suasana.


"Iya."


"Bagaimana dengan jus nya?."


"Syukurlah." Aku melanjutkan santapan ku. Lalu kembali ke kamar dan mengganti pakaian.


Aku mengenakan gaun yang diberikan mama Eun Ji, dress merah panjang hingga mata kaki, tanpa lengan namun dengan tali tipis sebagai penahan gaun agar tidak melorot. Gaun motif bunga-bunga kecil, namun tidak mencolok, berwarna merah kecokelatan yang cocok dengan kulit ku yang sawo mateng. Rambut di kuncir seperti ekor kuda dengan sedikit anak-anak rambut dibiarkan berjatuhan di dekat daun telinga yang mengenakan anting khas India sangat pas dengan dress saat ini.


Berdandan senatural mungkin, rapi dan enak di pandang. Ku kenakan boot hitam dengan tas kecil samping dengan warna senada. Jika ku perhatikan kembali, ini pertama kalinya aku berdandan diluar kebiasaan ku yang mengenakan kemeja hitam.


"Aku keluar hari ini bersama teman. Mungkin akan kembali larut malam." Ucapku pada Teo saat aku kembali duduk di meja makan untuk meneguk jus. Dia mengangguk, selalu datar, suram dan tidak bisa ku tebak isi kepalanya. Setelah memperoleh respon tanpa kata, aku langsung beranjak keluar apartemen dan menuju tempat yang telah ditentukan sebagai titik awal pertemuan hari ini.


Janji ketemuan dengan Jidan di depan gedung Brandenburg Gate.


"Maaf yaa aku telat. Sudah lama menunggu?." Rasa bersalah ku ketika melihat Jidan yang telah lama menunggu.


"Nggak kok, aku aja yang datang ke pagian." Aku tersenyum lalu berjalan berdampingan.


Kami berjalan-jalan seputar kota, melihat pemandangan kota, gedung-gedung menjulang tinggi, dan keramaian kota. Pada sore hari kami menaiki kapal (Landwehr Canal Cruise), memandangi kota dari sisi tengah kanal. Kami duduk di lantai dua dengan beratapkan langit. Kursi-kursi biru yang berjejer memenuhi badan kapal yang tidak banyak penumpang menambah kesan eksekutif bagi ku.


"Dan, ceritakan seperti apa aku dulu?." Pintaku memandang Jidan lalu beralih memandang orang-orang yang berjalan-jalan menikmati sore menjelang malam yang damai ini.


"Cerewet, menyebalkan karena selalu menolak ku but karena kamu, aku menemukan jati diri ku."


"Oh begitukah?."


"Yes, kamu selalu terbuka menerima aku apa adanya dan nggak pernah men-judge. Kamu aktif, kadang suka menyendiri tapi punya banyak teman. Nyaman saat bersama kamu."


"Benarkah? Jangan mengarang deh Dan."


"Serius Mahuuu... Tapi sejak kejadian itu, kamu berubah lebih pendiam dan yaa lebih banyak yang disembunyikan."


"Kejadian?."


"Rachel melarang ku menceritakan ini, but I think sudah waktunya kita harus menguak rahasia." Aku mengernyitkan dahi lalu menunggu penjelasan Jidan lebih lanjut. "Hari itu kami bermalam di villa teman Rachel, berpesta dan sejenisnya. Karena mabuk Rachel minta di jemput kamu. Hari itu juga kamu menyusul Rachel ke Villa temannya anggota fotografi, tapi 4 jam setelah kamu mengabari sudah sampai lokasi tapi kamu tidak disana. Dan sehari setelah itu terjadi pembunuhan di villa itu, tukang kebun ditemukan mati di kamarnya. Anak-anak yang hadir tidak tahu kejadian itu selama pesta berlangsung. Anehnya polisi menemukan ponsel mu di kamar tukang kebun itu. Sejak itu kamu menghilang karena itu banyak yang berasumsi kamu membunuh tukang kebun dan melarikan diri."


"Aku?." Sungguh aku tidak mengingat apapun. Benarkah aku seorang pembunuh? Jangan - jangan si mata biru benar aku pelakunya. Tapi... Kenapa aku melakukan itu?.


"Sepekan kemudian ditemukan mayat lagi di danau dekat villa itu, hingga satu bulan kemudian kamu temukan di tepi danau terbungkus dalam koper dan dua mayat lainnya mengapung. Sayangnya sejak kejadian itu kamu tidak mengingat kenapa hal itu terjadi padamu. Hari suram itu menyayat banyak hati." Jidan memberi jeda. "Bukan maksudku menuduh mu sebagai pembunuh. Kamu seorang saksi Mahu... Hari saat kamu ditemukan, mayat Alex ditemukan di danau itu juga."


"Alex, who?."


"Orang yang jauh lebih menyayangi kamu dari siapa pun, Mahu. Sejak kamu jadi buronan, Alex satu-satunya yang meyakinkan kami, kamu bukan pembunuh dan sayangnya Alex juga ikut menghilangkan ketika berusaha menemukan mu."


"Aku sungguh tidak mengingat apa pun." Tatapan ku kosong. Memandang ujung sepatu ku. Kejadian mengerikan itu, bagaimana aku mengingatnya kembali, mungkinkah bunga-bunga itu memiliki arti tersendiri. Dan Alex? Siapa dia bagi ku?.


"Aku hanya khawatir Mahu, kenapa dan siapa yang melakukan kejahatan itu belum ditemukan hingga saat ini. Sejauh apapun kita pergi, ada hal-hal yang terus mengejar kita."


Bersambung....