First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
I'm Sorry



Rumah Sakit


Malam semakin larut, Teo tidak bisa tidur dengan lelap dia harus menjaga Mahu, ia merasa bersalah karena tidak menjawab telpon Mahu sore itu.


Dia berdiri di dekat jendela yang tidak jauh dari tempat tidur pasien, di sana Mahu sedang terlelap dengan jarum infus menempel di tangan kirinya.


Teo memandang keluar jendela, bulan purnama bulat sempurna, sesekali ia melirik kearah Mahu yang terbaring. Cahaya bulan mengenai kepala Mahu memperjelas raut wajah Mahu yang tampak damai dalam tidurnya.


Setelah puas memandang langit malam. Ia mengambil buku dari ransel kerjanya, sebuah buku dari Haruki Murakami. Meski sudah di baca ia memutuskan membaca kembali buku itu sekadar mengisi waktu luangnya.


Teo mencari posisi nyaman di samping Mahu, mengambil kursi dan duduk, membuka buku lalu mencari halaman terakhir yang di bacanya. Sesekali ia merenung memikirkan kalimat dari buku itu.


Sesekali ia beralih fokus memikirkan Mahu, rasa bersalah karena meninggalkannya dalam keadaan kacau. Menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu menjaga orang yang dia sayangi.


Hingga akhirnya Teo terlelap.


______


Fajar telah menyingsing. Rotasi bumi berputar menyebabkan perubahan waktu. Hanya dalam hitungan jam dari gelap berubah menjadi terang.


Mahu membuka kelopak matanya perlahan. Dilihatnya Teo masih tertidur sembari menggenggam tangannya. Ia terdiam sejenak lalu membangunkan Teo.


"Teo, Teo, bangun." Suaranya pelan nyaris tidak terdengar. Mahu bangun dengan posisi duduk lalu menyentuh bahu Teo, membangunkan secara perlahan.


"Are you okay?." Tanya Teo setelah membuka kelopak matanya.


Mahu mengangguk sembari tersenyum. Kemudian Teo menuangkan air mineral dan memberikan pada Mahu supaya ia meredakan dahaganya yang kering.


"Maaf buat kamu khawatir." Ucap Mahu menatap Teo lalu menunduk ketika Teo menatapnya.


"Aku yang minta maaf. Salah ku yang tidak menjaga mu." Teo diam sejenak. "maaf karena aku nggak jawab telepon mu."


Dokter menghampiri mereka lalu memeriksa keadaan Mahu. Mahu bisa kembali ke rumah dengan syarat harus istirahat beberapa hari sebelum beraktivitas.


"Aku lapar." Ucap Mahu ketika Dokter telah pergi.


"Mau makan apa?."


"Apa aja."


Teo membantu Mahu bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit lalu mereka berjalan keluar dari rumah sakit setelah membayar biaya pengobatan. Teo menenteng jaketnya di tangan kiri sembari berjalan disamping Mahu. Lalu memakaikan jaket ke bahu Mahu.


"Thanks."


Seperti biasa mereka selalu tanpa kata. Bergelut dengan pemikiran masing-masing. Sesampai di mobil Teo membukakan pintu untuk Mahu mempersilahkan Mahu masuk. Lalu ia bergerak ke kursi pengemudi.


Laju mobil berjalan normal hingga mereka sampai di restoran dekat apartemen mereka.


Mahu dan Teo memesan 2 Spatzle dan curry wurst serta 2 gelas limun.


"Maafkan aku, Mahu." Ucap Teo. Mahu menunduk, dia tidak ingin bicara sekarang, energinya telah terkuras habis.


"Aku tidak bermaksud mengabaikan mu. Hanya saja tidak ingin mengganggu waktu mu dengan Jidan. Sesungguhnya aku juga kesal melihat mu jalan sama Jidan."


"Sudahlah semua sudah berlalu. Kepala ku sakit memikirkannya."


"Maaf."


Pramusaji membawakan pesanan mereka lalu menata dengan rapi. Mahu mengucapkan terima kasih setelah pramusaji itu berlalu meninggalkan mereka.


Mahu menyantap dengan lahap dan cepat. Ia makan seperti orang kelaparan. Dia tidak menyadari Teo yang memperhatikannya dengan terkejut sembari tersenyum. Teo merasa senang Mahu masih bisa makan dengan baik.


"Mau habiskan punya ku?." Tawar Teo ketika Mahu sudah menghabiskan pastanya.


"Serius?."


"Ya silahkan." Dengan sigap Mahu menyingkirkan piring kosong lalu mengambil piring Teo berisi pasta yang masih penuh. Melihat nafsu makan Mahu yang tinggi Teo merasa kenyang meski tidak benar-benar menyantap Pasta itu.


"Makasih Yoo." Ucap Mahu tulus. Teo memperhatikan Mahu makan sembari menyeruput limun.


Setelah kenyang Mahu beristirahat sejenak lalu bertanya. "Siapa perempuan waktu itu?."


"Emma. Adik teman ku."


"Apa hubungan kalian?."


"Hanya teman."


"Dia menyukai mu. Aku pernah bertemu dengannya."


"Aku menyukai orang lain."


"Oh begitu."


"Siapa yang kamu sukai?."


"Siapa yang kamu sukai?." Giliran Teo bertanya.


"Aku. Diri ku sendiri."


Kemudian Mahu mengambil ponselnya yang dibawakan Teo bersamaan dengan pakaian ganti. Dia membuka notifikasi yang masuk.


Hai mbak, gimana keadaan mbak? Sudah baikan?


Pesan whatshap dari Gina. Mahu memperhatikan ponselnya dan sibuk mengetik.


***Oh yaa... Makasih yaa Gin, udah nolongin aku. Nggak tau deh kalo nggak ada Gina.


Nggak kok mbak, malah mas Teo yang datang bukain pintu, trus bawa lari mbak ke rumah sakit.


Iya, kata Teo, kalo bukan karena Gina, bakal parah. Hehe...


Makasih yaa Gin.


Iya mbak, sama-sama. Mbak sudah baikan kan?.


Iya Gin***


"Makasih Yoo, makasih sudah menolong ku."


Ucap Mahu tulus. Dia pikir Teo mengabaikan dan membencinya karena itu menolak menjawab teleponnya.


Tapi kenyataannya Mahu berprasangka. Berburuk sangka pada orang yang tidak bersalah. Mungkin saja Teo benar-benar sibuk waktu itu.


Mereka beranjak dari restoran dan melaju dengan mobil mengililingi kota. Mahu menyadarkan kepala di jendela mobil menatap tanpa bicara. Ia memerhatikan lampu-lampu dan orang-orang yang mereka lewati dengan kecepatan normal.


"Oh yaa, sebaiknya kita segera pergi liburan." Teo mulai bicara. Dia sesekali melirik Mahu yang sudah sempurna memandangnya.


"Ku rasa kita perlu merenungkan segala hal yang kita alami selama ini, selama kita menikah aku khawatir terus menyakitimu." Ucap Teo lagi.


"Maksud mu?."


"Kita harus punya waktu untuk diri kita sendiri. Kebersamaan kita memang karena keterpaksaan, aku nggak mau terus memaksakan kamu untuk terus bersama. Kita harus benar-benar memikirkan hubungan kita."


Apa Teo ingin bersama kekasihnya? Karena itu dia berpikir seperti itu. Batin Mahu.


"Aku tidak merasa terbebani. Namun, terkadang aku nggak paham sikap mu dan isi pikiran mu."


Teo terdiam. Dia memikirkan cara menjelaskan pada Mahu tentang sifatnya, namun dia tidak menemukan kata yang tepat. Akhirnya dia hanya diam.


Mahu berusaha paham dengan Teo. Lalu ia berucap.


"Aku tahu ini sulit untuk kamu jelaskan. Tidak apa. Akan ada saatnya kita bisa saling mengerti tanpa perlu bicara." "So, di mana kita akan berlibur."


Teo tersenyum tulus. "Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?."


"Bali."


"Kalau begitu sudah di putuskan kita akan ke Bali."


"Tidak adil dong, kita ke tempat yang ingin kamu kunjungi saja." Timpal Mahu tidak setuju.


"Lain kali kita bisa mengunjungi tempat yang aku inginkan."


"Kemana Teo ingin pergi?."


"Cuba."


"Kota itu kan biasa saja. Tidak lebih indah dari kota-kota lain."


"Mahu pernah kesana?."


"Belum. Hanya menonton serial dokumenter di Cuba."


"Menurut ku, Cuba negara yang indah di kunjungi, tempat retro, bekas sejarah dan banyak yang ingin aku pelajari dari sana."


"Ohh begitu..."


"Kenapa Mahu ingin ke Bali."


"Sejak kuliah sangat ingin berkunjung ke Bali. Hanya sedekar ingin saja. Tidak ada alasan spesifik. Ingin merasa nuansa Bali."


"Absurd."


Moment pertama Mahu dan Teo berbicara dengan santai. Jika di pikir-pikir memang bermanfaat aku sakit. Sudah lama ingin berbicara dengan Teo seperti ini. Semoga malam ini dan malam-malam besok yang kami lewati lebih baik. Batin Mahu.


Bersambung....