
Mahu telah berada disamping Teo setelah mengakhiri panggilan dari Mama Kim.
"Gimana kerjaan kamu?."
"Berjalan lancar sempat ngobrol juga sama Gita, dia ternyata suka banget sama kasus kriminal."
"Syukurlah."
"Mama nelpon katanya akan ke sini."
"Kapan kabarinnya?."
"Baru saja."
Teo melajukan mobil menuju apartemen. Perbincangan kami berhenti. Aku hilang topik. Ku putuskan untuk memejamkan mata sembari mendengarkan musik someday dari 92914. Aku menyukai musisi dengan nama menarik ini, lagu-lagu mereka menarik dan mengandung arti yang mendalam. Bernada santai, terkadang aku menikmati video music karena video grafi yang enak dilihat sangat pas dengan tema lagu, sangat enak jika menikmati hari sembari membaca buku mendengarkan lagu-lagu 92914 atau Samantha Davidson - Effortlessly.
Saat mobil berhenti. Aku mematikan musik lalu turun dari mobil begitu juga dengan Teo, kami berjalan berdampingan melewati lobby dan menuju lantai apartment. Ketika di lobby seorang wanita cantik dan sederhana yang dipunggungnya terdapat tas backpack. Ia tersenyum lebar kearah kami, merentangkan tangan menyambut kedatangan kami. Sungguh membuat ku terkejut. Mama berrambut pendek, tingginya sepantaran dengan ku, kulitnya putih bersih, meski wajahnya telah berkerut kecantikannya tidak berkurang sedikit pun. Senyum merekah terkesan menyejukkan.
"Mama!." Seru ku, sembari mendekatinya. Aku tidak menyangka mama secepat ini. Baru beberapa menit lalu menelepon dengan nada 'akan' mengindikasikan segera datang tapi tidak hari ini namun ternyata sudah di Berlin duluan sebelum mengabari ku. Kejutan. Sudah pasti.
Aku menyambut pelukan mama Kim Eun Ji, menenangkan dan hangat. "I miss you mom." kemudian ia membelai kepala ku lalu mencium lembut pipi ku. Orang lain mungkin menganggap aku anak kandung mama Eun Ji bukan Teo. Teo hanya dipeluk sebentar lalu kembali menggandeng tangan ku dan naik ke lantai apartemen kami.
"Mama ke sini sendiri, Papa bagaimana?." Tanya ku saat kami telah duduk di meja makan. Mama Eun Ji membawa kimchi, aku membuka wadah dan mencicipi kimchi buatan mama. Sementara Teo entah menghilang kemana.
"Baik-baik aja, mama sengaja kesini kangen sama Mahu dan Teo. Mama bermalam disini yaa."
Aku dan Teo saling menatap, mengirim kode 'apa yang harus kita lakukan jika ketahuan tidur terpisah'.
"Lebih baik ibu di hotel saja. Aku tidak nyaman ada ibu di sini." Ucap Teo.
"Mama harus serumah dengan Mahu."
"Hust Teo!." tegur ku pelan. Kata-katanya tentu menyakiti mama. "Hem... Mah, Kalo gitu aku beresin kamar dulu yaa mah, mama bisa pergi belanja sama Teo." Mama mengangguk lalu mengeluarkan oleh-oleh bawaannya. Sementara mama sedang asik dengan barang-barangnya, aku menarik Teo menuju kamarnya.
"Bukannya kamu nggak nyaman ibu ku di sini?."
"Bukan gitu, aku hanya nggak ingin mama tau kita tidur terpisah."
"Tidak masalah ibu tahu."
"Mama di kamar ku saja." Ucapku pelan mengalihkan perdebatan kami. Teo masih tanpa ekspresi, beberapa saat dia terdiam seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Kemudian berucap lagi.
"Mama di kamar ku saja, kamar ini tampak kosong tinggal pindahin pakaian ku saja." Aku memperhatikan sekeliling.
Memang benar, di kamar ini tidak ada barang-barang tertentu yang menghiasi, tampak seperti tidak di tempati siapa-siapa. Hanya lemari pakaian yang memberi informasi kamar ini pernah ditempati seseorang. Dibandingkan dengan kamar ku yang di hias sedemikian rupa dengan rak buku kecil, meja hias, sofa pendek yang diletakkan dekat jendela tempat aku biasa melukis. Terdapat beberapa lukisan yang ku pajang di sudut kamar. Setelah itu, Teo mengambil ransel dan memasukkan pakaiannya. Setelah beres dengan pakaiannya dia pergi bersama mama. Sementara aku bertugas memindahkan pakaiannya ke kamar ku dan membersihkan kamar Teo agar nyaman di tempati mama. Kemudian mengambil tas mama dan meletakkan di kamar Teo.
Malamnya, mama dan Teo kembali membawakan banyak belanjaan seperti buah semangka, apel, jeruk, anggur, daging sapi, daun bawang, sayur-mayur seperti kol, wortel, zukini, mentimun, minyak wijen, tepung, tempe, bumbu khas Indonesia dan beberapa jajanan cokelat.
"Wow banyak banget mah."
"Iya mama pengen masak rawon, pajoen, gorengan, pokoknya banyak deh."
"Mama nggak capek?."
"Capek dong. Tapi mama pengen masakin makanan yang enak buat kalian. Malam ini kita makan kimchi stew, besok mama bakal masak yang lebih enak lagi."
"Baiklah. Lalu aku bantuin apa mah?."
Aku mengeluarkan kimchi, mencuci panci, dan memotong daging. Pekerjaan asisten koki menurut ku. Mama asik menyiapkan bubu dan memberi ku arahan cara memotong daging dan resep kimchi stew. Sementara Teo berada depan tv dan membaca buku.
30 menit memasak, kami makan dengan khidmat. Setelah itu aku dan mama banyak bercerita hingga larut. Tentang pekerjaan ku, kisah masa kuliah ku dan mama bercerita masa mudanya, dan yang paling banyak bercerita tentang Teo, kisah masa kecil Teo. Seperti prestasi dan karakter Teo yang sejak kecil to the point dan kasar. Menyakiti perasaan teman-temannya tetapi jika mengenalnya lebih dekat terasa lebih hangat dan manja. Teo telah mandiri sejak masa sekolah karena itu ia jarak dekat dengan keluarga. Malam itu pun di tutup dengan aku tertidur disamping mama.
Selama seminggu kami hidup bersama mama, selama itu pula kami menunjukkan kehangatan. Teo lebih banyak senyum, kadang membelai kepala ku atau memelukku ketika berangkat ke kantor. Sesuatu yang sangat asing bagi ku. Perubahan tiba-tiba itu membuatku kesal dan hampa. Perasaan bersalah harus bersandiwara dan kehangatan yang hadir bersamaan.
Kemudian, mimpi-mimpi tentang kematian si mata biru terus berulang. Kadangkala gadis kecil datang menikam ku. Ketika itu pula, bunga-bunga berdatangan kepada ku, kadang dengan pesan 'I miss you' kadang tanpa pesan. Pernah sekali mama yang menemukan bunga itu. Akhirnya aku berbohong dari beberapa penggemar ku karena aku sebagai penulis beberapa novel daring. Seiring hadir bunga itu, kabar tentang kejadian mengerikan terjadi di beberapa tempat. Tentu membuat ku tidak fokus dan dilema. Bahkan beberapa kali mual ketika bucket bunga datang ke kantor atas nama Mahuzes. Seakan bunga itu berbicara akan masa lalu yang harus ku temukan.
Mahu sayang, yuk nemenin mama sore ini. Kita jalan-jalan berdua saja.
SMS dari mama Eun Ji. Aku segera membalas pesan mama setelah selesai dengan pekerjaan ku.
Iya boleh ma, sore yaa setelah pulang kantor.
Pukul 17.30 aku dan mama jalan-jalan di sekitaran apartemen. Berkeliling melihat matahari terbenam lalu duduk menikmati kopi dan kue.
"Bagaimana hari mu sayang?."
"Cukup baik, mah. Pekerjaan ku berjalan lancar tapi ada beberapa yang sedikit mengganggu."
"Kamu terlihat seperti orang yang tertimpa banyak masalah."
Aku terkekeh. "Nggak kok mah, hanya deadline novel."
"oh begitu. Sebisa mungkin komunikasikan yang Mahu rasakan. Jangan memendam sendiri."
"iya mah." aku menyesap kopi.
Tiba-tiba seru seseorang yang membuat aku dan mama terkejut seketika "Mahu sayang ku?." aku berbalik mencari sumber suara. Jidan. Oh Tuhan apalagi ini. Aku melirik sejenak wajah mama, tampak penuh tanya. Jidan menghampiri ku lalu memeluk ku. "Kapan kita kencan?." tanya nya serius.
"Apaan sih Dan."
"Oke, sepertinya kamu ada tamu. nanti aku telpon yaa sayang." Jidan langsung pergi setelah memesan kopi. Entah dari mana datangnya setelah beberapa bulan hilang kabar. Kehadiran Jidan yang tiba-tiba merusak suasana. Seperti aku habis ketahuan selingkuh.
"Dia teman kuliah ku ma."
"Ternyata Mahu populer juga yaa." Mama tertawa pelan. "Ekspresi Mahu seperti orang yang ketahuan selingkuh sama mertua."
Aku menutup wajah ku dengan telapak tangan. Memalukan. "Dia teman ku, dulu pernah berjanji menemaninya jalan-jalan."
"Dihitung sebagai kencan?." aku mengangguk. "Mama senang kalau Mahu bisa kencan dengan pria itu." sebelum aku merespon mama lanjut berucap. "Nanti malam mama berangkat ke Jakarta. Ini buat Mahu." mama menyerahkan sebuah tas berisi dua kotak besar.
"Apa ini mah?."
"Hadiah kecil. Pakaianlah saat kencan." aku tersenyum. Lalu berucap terima kasih.
"Terima kasih banyak mah tapi aku nggak kencan dengan Jidan mah." Aku mencoba menjelaskan. Takut mama tahu keadaan aku dengan Teo.
"Tepati janji kamu sayang." lanjut mama setelah memberi jeda beberapa detik.
"Maafkan mama sayang. Harusnya mama nggak memaksakan kalian bersama. Sebenarnya mama sudah masuk ke apartemen kalian lalu turun ke loby hari itu." Hening sejenak. "Mama sangat sayang sama Mahu, mama harap Mahu dapat memutuskan dengan baik orang yang Mahu cinta. Dalam menjalani hubungan dua orang semestinya memiliki perasaan yang sama. Saling jujur pada masing-masing dan saling cinta. Jika tidak, hubungan itu tidak bertahan lama."
Mama tahu keadaan kami. Tapi kenapa diam saja. Pura-pura tidak tahu selama ini. Aku merasa dipermainkan.
"Sejujurnya aku bahagia mah, aku bahagia dengan kehidupan kami saat ini. Meski kadang terasa hampa. Tapi Teo memperlakukan ku dengan baik sudah cukup bagi ku. Kami saling mengerti walau tidak banyak kata."
"Akan berat jika tanpa cinta sayang. Pikirkan baik-baik, jika ada yang kamu cintai perjuangkan dia. Kamu tetap anak mama meski nggak bersama Teo."
Mama menggenggan lembut tangan ku. Penuh kasih. Aku tidak bisa menjawab kalimat terakhir mama. Terus memikirkan kata-kata mama untuk saling mencintai tapi antara aku dan Teo tidak boleh ada perasaan itu. Janji harus ditepati.
Pukul 7 malam Kami kembali ke apartemen. Lalu mengambil tas mama menuju bandara. Aku berniat mengantar mama ke bandara tapi mama menolak kata mama nanti tidak akan bisa kembali ke Jakarta kalau melihat aku dan Teo sebelum naik pesawat. Mama memilih naik taxi ke bandara. Sebelum mama naik taxi ia memeluk aku dan Teo lalu berucap "sampai jumpa sayang".
Setelah mama kembali. Hari-hari kami kembali seperti musim dingin. Tiap hari dilanda badai. Dingin dan membeku.
Bersambung....