
Mahuzes πΈπΈπΈ
*Saya pulang larut malam ini.
Oke*.
....
Apa yang ku harapkan dari Teo?, berharap sms akan dibalas panjang lebar dan melarang ku pulang malam. Nyatanya seperti biasa. Sudahlah... Kami masih dua orang asing yang menjalani siklus kehidupan.
Aku sangat bahagia menemui Rachel meski resiko yang ku terima adalah dimarahi habis-habisan olehnya. Tapi itu tidak masalah selama aku bisa mendengar suaranya, melihat, dan berbagi cerita.
Lihat. Gadis cantik yang menunggu ku dan sedang menikmati secangkir kopi. Sangat indah tatapannya pada sudut jalan. Apa yang ia pikirkan?.
"Dorr..." Ia terkejut. Sambil membelalak matanya.
"Dasar menyebalkan. Hampir copot jantung ku."
"Hehe... Maaf." "Gimana kabar mu."
"Always be fine..."
"Bagaimana dengar tambatan hati mu yang menghilang itu?."
"Lupakan pria brengsek itu."
"haha..."
"Mahu, please... Jangan basa-basi. Kamu sangat jahat. Tidak mengundang, jika kita sahabat tidak ada kejadian seperti ini."
"Saya benar-benar minta maaf tentang itu?." "Saya tidak ingin mengganggu kerjaan kamu. Hari itu kamu bilang akan pergi ke Malaysia urusan diplomasi, mana mungkin saya tega mengganggu pengabdian kamu untuk negara dari pada saya."
"Kamu selalu berasumsi Mahu." "Kamu sangat penting bagiku. Ayo katakan sebenarnya apa yang terjadi."
"Itu yang sebenarnya."
"Yakin kamu menikah tanpa memberi kabar sama sekali?, selama setahun?."
"Maafkan saya Hel, tapi benar itu yang terjadi."
"Kamu mencintainya?."
"Aku akan maafkan kamu asalkan kamu cerita yang sebenarnya." selidiknya. "Aku tahu pasti ada yang kamu sembunyikan."
"Baik." "Sebenarnya saya dijodohkan dengan Teo, dia keponakan pak Arif dan kebetulan ibunya sahabatan sama mama, and then kami menikah. Awalnya kami memang tidak saling mencintai tapi waktu selalu menjawab perjalanan cinta kami." Tatap Rachel tampak curiga, bukan tatapnya sayu. Sedih. Kenapa?.
"Apakah dia baik pada mu?."
"Iya, jauh dari ekspektasi, Teo sangat baik, pengertian dan perhatian, dia juga jago masak, setiap hari ia yang menyiapkan sarapan. Saya merasa seperti diperlakukan seperti ratu. Hehe..." ceritaku sedikit berbohong, aku mulai mempertanyakan apakah kami benar sahabat?. Banyak kebohongan diantara kami. Rahasia-rahasia yang satu per satu mungkin akan terungkap kemudian menyakiti setiap kita.
"Bagaimana kamu mengenal Teo?." tanya ku kembali.
"Kami berteman sejak kuliah. Dia ketua BEM dan pimpinan direksi di komunitas fotografi kampus."
"Oh wow..." "serius?, coba ceritakan seperti apa Teo yang kamu kenal Hel?."
"Teo cerdas, pandai bergaul, tapi kadang-kadang dia penyendiri." aku mengangguk mengerti. Setelah itu, kami diam. Menatap keluar jendela, bukan menikmati suasana tapi menjelajah pikiran masing-masing, mencoba menemukan titik terang.
"Mahu." Aku kembali menatap Rachel sembari tersenyum. Menunggu kalimat berikutnya, "aku mohon katakan yang sebenarnya. Pernikahan kalian hanya sandiwara kan!." "Aku tau kalian tidak mungkin saling mencintai, itu hanya perjodohan bodoh yang terpaksa kalian lakukan. Please... Mahu jangan biarkan Teo menderita hanya karena ego ibu kamu. Aku tidak percaya, tidak mungkin kalian hidup bersama!, katakan Mahu, katakan kamu berbohong!." aku terkejut mendengar ucapan Rachel. Aku terdiam. Bermain-main dengan pikiran ku sendiri. Kenapa Rachel sangat marah?, yang ia katakan benar adanya, suatu kemustahilan kehidupan kami harmonis. Tapi apa Rachel menyukai Teo ataukah mereka memang menjalin hubungan. Mungkinkah wanita yang dicintai Teo adalah Rachel?.
"Kenapa?." akhirnya satu kata itu lolos keudara. Menengok raut merah padam Rachel.
"Aku membenci mu!!." Rachel beranjak dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak ada jawaban darinya. Aku dibenci lagi?. Kenapa aku dibenci? Apa kesalahan ku? Apa karena aku hidup ditempat yang banyak kebencian? Aku ingin pergi ketempat yang tidak ada manusia agar aku tidak dibenci lagi oleh ayah, oleh ibu, oleh Rachel dan oleh laki-laki pembunuh yang terus menghantui diriku.
- - πΈπΈπΈ - -
Pukul sepuluh malam. Aku masih terdiam di caffe yang sama. Sudah dua kali ku memesan kopi. Pikiran ku kosong, aku harus segera mencari aktivitas tetapi aku juga malas bergerak. Pandangan ku tertuju keluar jendela, entah apa yang menarik disana aku sendiri pun bingung. Sementara telinga ku menjelajah kesana kemari mendengar orang-orang mengobrol. Aku seperti penguping andal. Kadang mendengar obrolan sepasang manusia yang jatuh cinta, kadang mendengar pertengkaran dan bahkan sempat mendengarkan dua remaja yang menceritakan tentang sebuah impian. Sudah berganti berbagai manusia, hanya aku yang tetap diam. Menunggu larut malam untuk pulang. Terbersit imaji ku, menikmati kopi dengan seseorang. Teo. Tidak ku idamkan hanya saja aku ingin duduk, diam dan melupakan teka-teki di otak ku tentang kejadian sore tadi. Marah tadi bersama seseorang.
"Boleh saya duduk disini?." Suara khas. Terdengar nyata, bahkan aku bisa mencium aroma tubuhnya. Aku tersenyum menikmati aroma nya. Sebenarnya menertawakan diri sendiri. Menertawakan khayalanku. "Boleh saya duduk disini?." Tanyanya lagi. Membuat ku terbahak-bahak. Pasti aku akan dikira orang gila. "Mahu, saya boleh ikut duduk di sini?." Aku berpaling, menengok sumber suara. Dan benar saja ada Teo sedang berdiri sembari memegang kopi nya. Aku mengangguk. Meletakkan gelas dimeja. Menghadap Teo yang sudah duduk sambil tersenyum. Tidak. Ia seperti ingin tertawa tapi ditahan dengan menyeruput kopi hangat.
"Apa yang kamu lamunkan, sampai tertawa seperti itu?."
"Ooh sangat memalukan."
"Suara saya terdengar lucu?."
Aku menggeleng. "Sebenarnya, tadi saya berkhayal Teo datang dan duduk di sini, eh kejadian. Makanya kenapa saya ketawa karena imajinasi saya sangat nyata."
Dia tertawa. Aku pun ikut tertawa dengan kekonyolan ku sendiri. Jika dipikir-pikir ini pertama kalinya aku tidak merasa canggung meski kami hanya duduk diam tanpa topik perbincangan. Setelah pukul setengah dua belas, kami memutuskan kembali ke apartemen.
Bersambung...