
Musim Panas
Musim telah berganti namun kami masih di tempat yang sama. Di badai musim dingin. Masing-masing memilih memendam sendiri keresahan berakibat hanya satu dua kata formal. Kemudian rutinitas berjalan seperti biasa, bagun pagi - sarapan - berangkat kantor - dan sesekali di jemput Teo.
Aku makan malam di luar
SMS ku kepada Teo dan hanya dibaca.
Jidan telah menunggu ku di depan gedung kantor. Janji untuk makan malam bersama beberapa bulan lalu akhirnya terpenuhi. Meski tertunda lama, dia tidak pernah mengganggu ku seperti yang ku kira. Ia hanya beberapa kali mengirim pesan atau menelepon menanyakan kabar.
"Akhirnya kita bisa bersama." Ucapnya ketika kami berjalan berdampingan menuju trem. Lalu menaiki trem menuju Brandengburg Gate. Namun tidak masuk ke Brandenburg, kami berjalan-jalan di kanal-kanal sungai sembari memandang dari kejauhan Kuba Gate itu, lampu-lampu yang berkilau menambah kesan romantis kota Berlin. Orang-orang yang berlalu-lalang seperti kami menambah kesan kota ini selalu ramai dan kisah romantis selalu tercipta disini. Di sudut-sudut kota di bawah langit kota Berlin.
"Makan malam saja sejauh ini?."
"Ini namanya nge-date, dating, kencan, pdkt. Harus tempat yang spesial dong."
"Ada-ada aja." jawab ku. "So, di mana tempat kita makan?."
"Hmm... Nggak tau, jalan-jalan aja liat tempat yang enak lalu mampir." aku mengangguk.
"Gimana kerjaan kamu?." Tanya ku.
"Yah baik. Makanya bisa ke Berlin."
"Hm... Tumben ngabarin pas ke kantor. Biasanya langsung aja nyerocos tanpa pemberitahuan."
"Kalo tiba-tiba datang dan Mahu lagi sama Teo, bisa berabe dong. Ketahuan selingkuh seperti waktu itu ketahuan sama mama kamu. Kayaknya marah besar yaa."
"Perubahan besar!. Haha..." "Itu ibu mertua."
"Wow!!, maafkan aku, sungguh aku tidak berniat menghancurkan hubungan keluarga kalian." Seru Jidan sembari menatapku penuh penyesalan.
Aku tertawa lagi. "Malah mama mendukung ku, aneh kan. Aku di hadiahi gaun cantik untuk kencan."
"Haha... Dan sekarang kamu nggak pake gaun itu?."
"Nggak sempet dong."
"Jadi ada kesempatan kedua dong."
"Ya! Aku harus menepati janji pada mu." di tertawa, mengangguk lalu menatap lurus kedepan. Kemudian
"Wow! Perut mu mampu habiskan sebanyak itu?."
"Ya tentu saja."
"Jadi, gimana ceritanya bisa pindah ke Berlin?." Tanya Jidan, dia menatap ku lekat. Cara bicaranya dan sikapnya yang biasanya urak-urakan berubah jadi lebih sopan, lebih lembut dalam berbicara, biasanya ia menggunakan kata 'gue, elu' dalam penyebutan aku - kamu. Lihat sekarang cara ia bertanya tanpa mendesak si penanya. Sikapnya tentu membuat ku nyaman berbagi cerita meski seputar kerjaan yang tidak bisa ku lakukan pada orang terdekat ku. Rachel maupun Teo. Mereka memberi jarak. Mungkin aku yang salah karena tidak memulai komunikasi lebih dulu.
"Setelah lulus belajar bahasa, persiapan tes, kemudian diterima di Kementerian Luar negeri, lalu di tugaskan ke sini." Jawabku mempersingkat kisah perjalanan panjang meraih impian ku.
"Waktu itu aku pikir Mahu hilang karena aku."
"Hilang? Maksudnya?."
"Mahu nggak ingat?." aku menggeleng. Lanjutnya. "Lain kali saja ceritanya, sekarang kita cerita yang indah-indah saja. Lalu bagaimana kehidupan dengan Teo?."
"Ya baik. Dari mana kenal Teo?."
"Waktu kuliah kita kan pernah liburan bareng, waktu itu juga ada Mahu sama Rachel. Nampak Mahu sudah pikun."
"So, ceritakan gimana liburan kita waktu itu. Gimana kalian saling kenal?."
"Waktu kita semester 4 kalo nggak salah, anak-anak fotografi liburan bareng, nah Rachel ajak aku dan aku ajak Mahu. Kita ke Bandung lalu ke Banten. Perjalanan yang panjang dan menyenangkan. Di sana deh aku kenal Teo, meski anaknya sedikit nyeremin. Ooh yaa Mahu ingat dulu tuh Rachel suka banget sama Teo makanya aku kaget pas tahu Mahu nikah sama Teo. Mahu nggak ingat sama sekali?."
"Aku nggak ingat kita liburan bareng."
Kenapa aku nggak ingat hal sepenting itu?, jadi Teo telah mengenal ku sejak dulu atau mungkin ia tidak mengingat ku juga. Lalu Rachel..., mungkinkah karena itu Rachel menjauh dari ku?. Pesanan telah di tata dengan rapi di depan kami. Jidan berucap selamat makan lalu menyantap kebabnya.
"So, apakah impian travel Mahu sudah terwujud?." dia tidak mempertanyakan tentang ingatan ku yang telah pikun ini. Aku melupakan moment penting saat mengenal Teo maupun perasaan Rachel, apakah aku mengkhianatinya. Apa mereka benar-benar menjalin hubungan.
"Tentu saja. Kamu masih ingat?."
"Iya dong, aku penggemar berat Mahu. Kita pernah pdkt juga."
"Iih ngaco ih. Kita hanya chatting ngobrol seperti biasa." jawab ku membuatnya tersenyum. Aku menyantap potongan telur (sefeier) telur rebus dengan saus tradisional yang ditambahkan dengan kentang dan taburan daun hijau, lalu menyantap currywurst atau sosis Jerman, biasanya orang Jerman suka memakan makanan berbahan dasar sosis, lalu Pasta atau spatzle yang diolah dengan cara tradisional setelah menyantap sampai habis barulah aku menutup santapan ku dengan memakan perlahan Bienenstich, jajanan yang terbuat dari madu, vanilla dan almond. Sungguh, aku puas dengan makan sebanyak ini.
"Aku sungguh tidak mengingat apapun tentang liburan itu, sesungguhnya aku mengenal Teo secara resmi ketika kami malam bersama pak Arif atasan ku."
"Tentu saja Mahu lupa, memang kalian tidak saling mengenal waktu itu. Sejak dulu kamu memang selalu pikun dalam mengingat orang."