First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Mimpi Buruk



Hujan. Aku membuka jendela balkon. Menghirup aroma hujan dan malam yang senyap. Teo di kamarnya, dua hari terakhir aku tidak bisa terlelap dengan nyenyak. Selalu di hantui oleh suara-suara yang aku pun tidak paham apa.


Menutup jendela dan berbaring di sofa depan tv. Tiba-tiba seorang pria yang datang, entah dari mana dan berdiri depan jendela. Dia kemudian mendekat dan mencekik ku. Aku berteriak tetapi suara ku tercekat. Berusaha sekuat tenaga melepas cekikikan nya, dalam sekejap ia melempar tubuh ku, hingga terbentur dinding dan lampu lalu terjatuh ke lantai mengenai pecahan lampu.


Dengan ganas ia menangkap ku lagi, mencekikku dengan satu tangan melayang ke udara. Aku memberontak dan menendang-nendang sebisa ku. Dia melempar ku keluar jendela.


Tenggelam ke danau yang gelap. Sebuah cahaya muncul dari seorang anak kecil berbaju putih, ia berenang ke arah ku. Namun perlahan gadis itu menghilang, aku mencoba naik ke permukaan. Tidak ada seorang pun. Teriakan ku bahkan tidak terdengar. Aku bergegas berenang ke pinggiran sungai. Dan mencari jalan keluar dari hutan belantara.


Tiba-tiba anak kecil tadi didepan ku. Seakan menunjukkan jalan. Aku mengikutinya. Terdengar suara jeritan minta tolong. Namun, menyelamatkan diriku adalah yang terbaik. Gadis itu berhenti, ia tersenyum mengenggam tangan seorang pria. Ya pria tadi.


Berdiri dibalik pohon, tatapan tajam dan merah serta napasnya yang memburu. Sinar bulan yang menembus pepohonan menampakkan pria itu dan bayang-bayang anak kecil. samar-samar.


Tiba-tiba pria itu mengangkat palu memukul tubuh-tubuh yang tidak berdaya. Ia berbalik menatap ku. Kemudian, ia mengambil pisau dan mengejar ku. Aku berlari sekuat tenaga, namun kecepatan ku tidak sebanding dengannya. Satu gerakan ia menakapku, gerakan lainnya seketika ia menikam ku. Satu kali, dua kali, berulang kali, disaat terakhir ku bertahan gadis itu menahan pria itu.


Sehingga aku berhasil mendorongnya dan berlari sekuat yang aku bisa. Berjalan tergopoh-gopoh, memuntahkan darah, dan menahan sakit di sekujur tubuh. Dingin yang menyayat membuat ku semakin tidak berdaya. Lemah dan ketakutan.


"Mahu! Hei... Mahu!." seseorang memanggil ku. Anak kecil itu. Ia tersenyum dan berkata 'aku akan menyelamatkan mu'. Ia memeluk ku lalu mengeluarkan pisau dan menikam ku.


Aku terbangun dengan napas yang memburu.


"Hei, are you okay?." Tanya Teo. Aku mengangguk. Kemudian ia memberi segelas air.


"Terima kasih..." Jawabku sembari membenarkan posisi duduk. Menyeka keringat.


"Yakin baik-baik saja?." Tanyanya lagi, memastikan.


"Iya, cuman mimpi buruk." "Aku ke kamar dulu, maaf mengganggu waktu tidur mu."


"Mahu..." aku berbalik menatap Teo yang masih duduk di sofa.


"Nanti malam kita ke pesta Robert."


"Oh oke."


Pukul 6 pagi, aku keluar membuatkan sarapan. Namun ada Teo sana, di pantry. Mengingat kejadian malam tadi, baru pertama kali dalam setahun ini kami duduk sedekat itu. Bahkan pagi ini pun pertama kalinya aku melihatnya memasak. Aku memberanikan diri berkomunikasi dengannya walau dia terus berubah-ubah.


"Pagi... Mau saya bantu?."


"Hai, siapkan piring." Jawabnya tanpa beralih pandang dari wajan dan masakannya. Aku menatap alat makan di meja makan. Dan menyiapkan jus alpukat favorit ku.


Omelet, sosis, roti bakar dengan saus srikaya, dan buah cherry. Begitu enak dinikmati dalam hening seperti biasa. Setelah sarapan, tugasku mencuci piring.


"Saya ke supermarket dulu."


Ya. Yang selalu belanja bahan makanan adalah Teo, kebersihan dan kerapian adalah moto hidupnya. Setiap kebutuhan habis Teo langsung pergi membeli. Tidak ada kesempatan bagiku untuk menginjakkan kaki di supermarket.


Karena hari ini weekend, aku menghabiskan waktu dengan melakukan hobi melukis ku hingga malam. Setelah itu bersiap-siap untuk pergi ke pesta ulang tahun Robert.


Jam 7 kita berangkat. SMS dari Teo.


Oke.


Teo terlalu malas untuk mengetuk kamar ku untuk bertanya.


Bersambung...