
Tepat pukul 1 siang Teo menjemput ku. Ia berpakaian rapi dengan setelan jas biru gelap, sangat cocok dengan badannya yang kekar dan berotot penuh. Sementara aku seperti biasa, mengenakan kemeja putih dan rok hitam selutut, rambut diikat bentuk ekor kuda lalu menata sedikit anak-anak rambut yang dibiarkan bergantungan mengikuti bentuk wajah. Cukup cantik bila bersandingan dengan Teo. Mengingat rambutku yang panjang sepingang tidak nyaman ketika makan nanti. Kemudian membuka ikatan rambut memperbaiki bentuk rambut menjadi sanggul diatas kepala sembari memperhatikan penampilan dikaca mobil.
"Lebih cantik terurai." Seru Teo sembari melirikku. Aku tersenyum malu.
"Terima kasih, tapi saya tidak ingin rambut ini akan masuk ke makanan kita." Teo tersenyum lagi dan kembali menyetir. Sesekali aku meliriknya. Menjamah sosoknya yang sangat indah. Kami menuju jalan Kurfurstendamm, untuk makan siang sejauh ini pasti dia sangat mengidam. Tidak lama kemudian kami berhenti disebuah restoran. Hanok, Korean Grill & Restaurant. Tempat mewah menurut ku. Mungkin karena Teo tumbuh dari keluarga berada dan terucukupi segalanya tentu makan ditempat seperti ini sudah biasa baginya. Mama ku memang memiliki segala yang baginya cukup tapi sejak dini telah didik mencari uang sendiri, ketika menginginkan sesuatu harus berusaha sendiri atau diberikan mama tapi dengan syarat yang harus ku penuhi. Mengingat hal itu membuat ku sedikit bersyukur dengan cara mama yang membuat ku menjadi perempuan mandiri.
Saat di pintu masuk, seseorang menyambut kami. Wanita paruh bayah namun masih sangat cantik dan anggun, menunjukkan kematangan pesona wanita. Teo tampak akrab dengan wanita itu, terlihat dia begitu santai berbicara, aku tidak paham apa yang mereka bicarakan, mungkin Teo memperkenalkan aku padanya sebab setelah itu wanita itu menyapa ku lalu mengantarkan kami ke sebuah meja khusus dua orang. Lalu menyerahkan buku menu.
"Saya sering kesini sejak kuliah, makanan disini juga sangat enak." Ucap Teo setelah perempuan itu berlalu membawa pesanan kami. "Oh maaf sebelumnya saya nggak beritahu kamu kita ke restoran Korea, apa Mahu nggak masalah?."
"Ah saya pemakan segalanya, tidak masalah. Saya juga suka makanan Korea."
Aku penasaran siapa wanita anggun tadi, tetapi tidak berani bertanya. Karena itu, hening menguasai meja kami, sementara di sekeliling kami orang-orang berbincang dengan kencang sembari menikmati sajian restoran. Aku menatap meja sedangkan Teo menatap kedepan sesekali mata kami bertemu lalu canggung lagi. Dalam diriku bergejolak ingin lebih dekat dengannya. Tapi ragu ditolak lagi seperti waktu itu, teringat ucapan Teo agar tidak terlalu dekat. Kami memang tinggal bersama dan menikah tapi tidak untuk mencintai meski sudah beberapa tahun menikah.
"Teo!." "Mahu!." Panggil kami secara bersamaan. "Kamu duluan Teo." lanjutku secepatnya.
"Bisakah kita berbicara lebih santai. Maksudnya tidak perlu terlalu formal." Iya. Jika dipikirkan kembali aku terlalu formal. Mungkin sebuah kebiasaan tetapi untuk seseorang yang telah hidup bersama mestinya aku lebih santai. Seperti tidak menggunakan 'saya'. Tapi bukannya selama aku bersama mama juga tidak pernah mempermasalahkan. Aku mengangguk.
"Maafkan saya. Eh maaf, mungkin sudah kebiasaan. Akan saya rubah. Eh aku. Aku akan lebih santai sama kamu."
"Tapi nggak perlu dipaksakan." aku mengangguk dan tersenyum padanya. Sesaat terdengar lagu Let it Be Me dari The Everly Brothers, lagu favorite ku. Dulu pernah membayangkan mendengarkan lagu ini bersama seseorang yang spesial. Meski Teo bukan seseorang yang spesial tetapi dia bagian dari keluarga ku saat ini. Sudah seharusnya dia akan menjadi teman ku. Mungkin.
"Lagu apa yang di sukai Teo?."
"Nggak ada."
"Aku menyukai lagu-lagu lama, nah the Everly Brothers salah satu favorite ku. Liriknya indah."
"Aku menyukai apa yang disukai Mahu."
"Haha... Iya, aku saranin Teo dengerin lagu-lagunya."
Seorang pramusaji menghampiri kami dan menyerahkan pesanan, aku memesan miso suppe dan cinnamon tea. Sementara Teo sup mie tofu, Korea curry dob bab, salad kimchi, tofu bibimbab dan sparkling water.
"Kita harus habiskan bersama."
"Wah Teo ingin banyak banget."
"ayo silahkan dinikmati."
"terima kasih makanannya." aku menyantap semua sajian dimeja secara perlahan-lahan begitu juga dengan Teo, makan adalah momen paling khidmat. Aku setuju dengan Teo, makanan disini enak-enak. Apalagi kimchi nya. Teringat kimchi yang dibuatkan ibu Teo, sangat lezat. Ingin sekali aku menyantap masakan ibu Teo lagi.
"Jadi bagaimana rencana bulan madu kita?."
"saya khawatir. Eh aku khawatir ibu akan terus mendesak kamu, sebaiknya kita pergi saja. Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?."
Teo menggeleng. Ia kembali menyantap bibimbab terakhir. Setelah selesai mengunyah ia berucap. "Bagaimana kalau keliling Eropa?." giliran aku menggeleng.
"Waktu kita tidak cukup. Kita sama-sama bekerja."
"Atau ke tempat masa kecil Teo. Aku ingin kesana."
"Tidak ada yang menarik di sana."
Aku ke toilet sembari memikirkan tempat yang akan kami kunjungi. Tapi otak ku buntu. Tidak ada satu tempat pun yang ingin ku kunjungi. Tepatnya aku telah lupa bucket list keliling dunia ku. Sebaliknya aku pulang dan lihat buku harian ku.
Kembali dari toilet. Aku liat seorang perempuan duduk didepan Teo, dia duduk ditempat ku. Langkah ku terhenti dan mengamati mereka. Perasaan ku tergelitik. Mungkin kah dia kekasih yang cintai Teo. mereka berbincang keliatan mesra. Dia menggenggam tangan Teo lalu menatapnya penuh arti. Arti yang tidak ku pahami. Saat Teo berdiri, perempuan itu mendekap erat dan penuh mesra tidak peduli pada pengunjung lainnya. Sesaat mata ku bertemu dengan Teo, spontan aku berbalik. Malu karena ketahuan. Rasanya aku harus melarikan diri dari tempat ini dan membiarkan dua insan yang jatuh cinta itu bersama. Mestinya aku tidak menjadi penghalang bagi mereka. Aku berjalan kembali ke toilet, bersembunyi lebih lama memberi mereka waktu bersama. Namun tiba-tiba seseorang menahan tanganku. Tangan kekar dan bau yang khas, aku berbalik di depan ku Teo berdiri. Melihat ku tajam. Hendak berkata sesuatu tapi tidak sepatah kata pun yang keluar.
"Ah sebaiknya aku ke toilet lagi."
"Ayo kita kembali saja."
Teo menarik ku. Tidak. Dia menautkan jari-jari nya diantara jari-jari ku. Mengambil tas ku dan pergi meninggalkan perempuan itu yang duduk memandang kami. Dia tampak terkejut dan menatap penuh marah kearah ku.
Air wajah Teo tidak seceria awal kami bertemu, seperti menahan amarah. Nafasnya menderu. Di dalam mobil ia melepas jas nya dengan kasar dan lalu keluar melempar ke tong sampah. Sangat sayang jas semahal itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun dia melajukan mobilnya. Hal ini pernah ku alami sebelumnya. Dia kalap. Dan entah apa yang akan dilakukannya nanti, mungkin menabrak mobil didepannya. Orang sepertinya sangat pandai menahan gejolak hatinya tetapi ketika tiba saatnya akan meledak seperti bom waktu dalam dirinya.
Entah dari mana keberanian ku, aku raih satu tangannya menggenggam erat dengan kedua tanganku. Dia menatapku lalu kembali fokus pada jalan. Ku lakukan untuk menenangkannya, mengingatkan bahwa ada aku disamping nya dan tidak ingin mati mengenaskan gara-gara amarah sesaatnya itu.
"Pelan-pelan Teo, aku belum siap mati muda."
Perlahan-lahan laju mobil kembali normal. Tatapnya tidak lagi menyeramkan. Kemudian ku lepaskan genggaman ku. Dan turun dari mobil ketika laju mobil berhenti tepat depan kantor lu. Teo mengikuti langkah ku.
"Maafkan aku Mahu, dia bukan siapa-siapa." Aku tersenyum dan mengangguk memberi syarat. 'aku percaya' tapi apa perlu dijelaskan pada ku. Kurasa bukan hal penting namun satu sisi dari diri ku merasa lega.
"Bisa aku memeluk mu?." mata ku terbelalak. Seperti sebuah mimpi. Kenapa?. Aku mengangguk dan mendekat lalu mendekapnya. Melingkari tangan ku pada tubuhnya nya, lalu menyandarkan kepala pada dada bidangnya. Begitu juga dengannya yang kurasakan dagunya diatas kepala ku. Seolah-olah meresap seluruh energiku. Dapat ku dengar detak jantung yang saling beradu. Entah punya ku atau Teo, sulit membedakannya.
"Aku marah karena membenci bau orang lain menempel pada ku. Aku hanya menyukai bau Mahu." gumamnya yang tidak terlalu jelas ku dengar. Aku bertanya 'apa?' dia tidak menjawab. Sesaat ku nikmati pelukan hangat itu dan penuh sensasi yang berbeda. Tidak ingin ku lepaskan tapi aku tersadar. Diantara kami banyak batas, ruang yang telah diisi orang lain. Melepas dekapan dan memasuki kantor dan Teo berlalu dengan mobilnya. Jantung ku berdecak semakin tidak karuan.
"Cie... Mbak Mahu mesra sekali, jadi iri nih." Seru rekan kerja. Aku hanya tersenyum. Pelukan persahabatan yakin ku. Melihat bucket bunga yang tergeletak di samping meja. Aku tersadar kembali, siapa pelakunya, apa motifnya, dan apa salah ku, kenapa harus aku yang di teror seperti ini. Aku mengambil bunga itu dan membuang ke tong sampah.
******Mahu, ayo ke club temenin aku.
Sorry, aku nggak bisa masih banyak kerjaan.
Ah tega sih, lagian ini sudah lewat jam kerja. Rajin banget. Mentang-mentang sudah nikah aja nggak mau nemenin aku lagi****.
Ah mantra itu lagi, 'mentang-mentang' menjadikan aku sebagai pelaku kejahatan yang melupakan sahabatnya sendiri. Tega sekali meng-judge seperti itu.
******Okay, aku datang tapi jam 7.30 pm aja yaa.
Lah kok cara bicara mu beda?.
Iya, mau berubah dikit.
Pasti gara-gara Teo.
Nggak juga, udah ah mau kerja dulu.
Oke, baby****.
Bersambung....
#Open Kritik dan saran๐