First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Club Malam



Mendapat sms dari Rachel secara tiba-tiba membuat Mahu segera memenuhi keinginannya, meski awalnya dia enggan pergi. Namun mengingat sikap Rachel yang berubah drastis setelah pertemuan mereka sore itu membuat Mahu ingin segera bertemu dengan Rachel dan memperoleh penjelasan atas sikapnya yang menghindari Mahu.


Setelah merapikan dokumen-dokumen penting dan jadwal meeting besok yang ku masukkan ke dalam ransel. Aku bergegas ke Tresor yang terletak di jalan Koepenicker, Str 70 Mitte, tempat hiburan malam dan biasanya orang-orang Berlin melepaskan penat atau sedekar mencari pasangan one night. Bagiku tempat hiburan malam adalah tempat di mana orang-orang yang lari dari kenyataan hidupnya, menyia-nyiakan waktu.


Bar, klub dan tempat hiburan malam bukan sesuatu yang baru bagiku. Memiliki pengalaman kerja melayani tamu dari berbagai negara dan membuka relasi dengan orang-orang Eropa budaya malam selalu menjadi tempat nomor satu. Namun, sepanjang perjalanan yang ku lalui tidak sekali pun aku merasa nyaman. Bau alkohol, musik keras, dan kerumunan beragam manusia yang melakukan sentuhan-sentuhan dan aksi-aksi saling menggoda agar malam terpuaskan dengan bahagia. Tidak jarang pula menemukan orang-orang dengan bebasnya melakukan ciuman, belaian, dan bahkan mempertontonkan aksi keintiman seakan dunia hanya milik mereka tanpa peduli pada manusia lain yang mungkin saja iri atau jijik dengan tingkah mereka.


Setelah menggantri selama 15 menit aku memasuki lorong kecil dengan beberapa lampu penerang, remang-remang yang sengaja dijejerkan menghadirkan suasana malam yang sensual. Melewati kerumunan orang-orang yang berjoget, tertawa sambil mengobrol dan menikmati berbotol-botol alkohol. Aku mencari keberadaan Rachel. Beberapa saat kemudian, aku menemukan posisi Rachel yang sedang mengobrol riang dengan beberapa laki-laki dan seorang perempuan seksi. Aku mendekati mereka, disambut dengan pelukan Rachel lalu duduk ditengah-tengah antar 3 laki-laki tampan dan Rachel. Posisi yang membuat ku tidak nyaman. Mereka bau alkohol.


"I miss you Mahu." Rachel melingkari tangannya di pinggang ku sesekali mengendus. Dia mabuk. "Hei... Kenalin dia sahabat ku paling berharga, malam ini kalian harus menghiburnya."


"Mahu... Mahu... Mahu... Ayo berdansa..." Rachel semakin merancau. Aku lepaskan rangkulannya dan mencoba menepuk-nepuk pipi mulusnya, agar dia sedikit tersadar lalu mengajaknya pulang.


Tetapi gadis seksi yang tidak asing bagiku malah menarik Rachel. Aku menahannya namun Rachel menepis tangan ku dan ikut bersama perempuan itu. Mereka menuju ke lantai dansa dan berjoget sesukanya. Sembari menjaga jarak dari tiga laki-laki tampan dengan bentuk fisik yang kekar sempurna bak model pakaian renang. Pria pertama wajah tirus, hidung mancung, dan bermata biru, rambutnya pirang, dia mengenakan kameja putih dengan kancing yang dibiarkan terbuka memamerkan bulu dada dan otot perut. Pria kedua tidak jauh berbeda dari pria itu. Tidak. mereka kembar. Hanya saja warna mata mereka berbeda. Pria kedua bermata cokelat, dia berpenampilan kasual. kaos polo hitam dan jeans selutut, serta sepatu kets. Dan pria ketiga, seperti blasteran Asia-Eropa, mata sipit, otot rahang yang tegas seperti gambaran pria-pria Hollywood dan hidung yang mancung dan rambut yang berantakan namun memancarkan pesona, badannya kekar. Dia mengenakan hudy putih dan celana selutut. Mereka nampaknya dibayar Rachel untuk menghiburnya.


"Mau minum bersama?." Ucap pria bermata biru dengan bahasa German.


"No thanks." Jawabku sopan sambil tersenyum.


"Apa kalian sahabatan?." aku mengangguk. "Sepertinya dia sedang sakit hati, seseorang yang patah hati wajar bila bersikap seperti itu."


"Kami dibayar cukup mahal untuk menghiburnya, sayang sekali jika tidak bisa menikmati permainan kami." Seru pria kembarannya.


"Iya, mereka sangat seksi dan menggoda. Malam ini akan sangat memuaskan." timpal pria cipit itu. Mata kami tertuju pada Rachel dan perempuan itu yang sedang berjoget dengan gaya erotis, yah siapa pun akan tergoda dengan mereka.


"Kalian dibayar untuk menghibur, menemaninya minum, tidak berarti kalian bebas menjamah tubuhnya. Dalam bekerja sebaiknya kalian profesional. Saya akuin teman saya salah membayar amatir seperti kalian." Jawab ku tanpa memperhatikan mereka dan langsung berpindah tempat ke meja bar. Duduk tepat di depan bartender. Pria gemuk berjenggot. Menyambutku dengan senyuman.


"Ada minuman non-alkohol?."


"Tentu saja tidak ada di menu, tapi aku akan buatkan special untuk Nona cantik." Tidak lama kemudian segelas lemon squash tersedia di depan. Aku berucap terima kasih dan meneguk minuman itu, rasanya tidak seperti lemon squash, berasa varian buah-buahan bercampur jadi satu, segar dan lezat. Mungkin air kelapa dengan topik buah-buahan segar, begitulah gambaran tentang minuman itu. Sesekali aku berbalik mencari Rachel, memastikan dia masih berada ditempat ia berjoget. Perempuan itu tidak lagi disamping Rachel. Entah kemana keberadaannya.


"Kamu tidak mengenal ku?." Suara lembut seorang perempuan yang telah duduk disamping ku.


"Kita pernah bertemu sebelumnya?." Tanya ku. Dia mengangguk dengan senyuman.


"Sayang sekali padahal kita sudah bertemu beberapa kali."


Aku mengerutkan dahi. Mencoba mengingat siapa perempuan ini. Namun tidak berhasil meskipun telah ku coba memutar ingatan ku tentang perempuan ini tapi nihil.


"Aku Emma." aku menyambut uluran tangannya. Sembari menyebutkan nama ku. "Mahu."


"Aku kekasih Teo."


"Oh, begitu."


"Sebenarnya aku yang ingin bertemu dengan mu bukan Rachel, aku sengaja gunakan hp-nya."


"Ceraikan Teo!." Dua kata itu membuat ku emosional, dia kekasih Teo memanfaatkan Rachel demi kepentingan nya dan meminta aku bercerai. Mudah sekali baginya.


"Beri saya alasan yang logis." Jawabku.


"Kalian tidak saling mencintai, Teo masih mencintai ku."


"Dua tahun hidup bersama, tentu kami saling mencintai, Anda merengek pada saya memohon melakukan keinginan Anda, konyol sekali." aku tertawa kecut. Tapi perempuan disamping ku tegang, air muka merah padam, menahan amukannya.


"Anda tidak berhasil meyakinkan Teo dan sekarang memohon pada saya. Bukan saling mencintai tapi hanya perasaan sepihak." aku meneguk minuman "Arti lain dari pertemuan ini, strategi Anda konyol bahkan anak kecil pun bisa tahu tragedi perasaan sepihak mu."


"Okay Emma, senang bertemu Anda. Saya harus kembali." Pamit ku. Aku beranjak meninggalkan Emma yang hilang kata-katanya, dan semoga dugaan ku benar. Aku ingat jelas bagaimana Teo mengatakan dia memiliki kekasih tetapi aku harus pura-pura tidak tahu dan berusaha tegar meski seseorang datang dan mengaku pada ku. Yah aku hanya penghalang bagi mereka. Dilema.


Aku menuju tiga lelaki tampan yang duduk sambil meneguk minuman bersama Rachel. Dia sangat kacau. Sebelum aku berhasil menarik Rachel pria bermata biru yang sedang mendekap Rachel berkata.


"Tenang saja aku akan menjaga Rachel."


"No, saya yang akan membawanya."


Entah kenapa pria bermata biru itu tiba-tiba menampar ku lalu mendorong ku ke sofa. Rachel yang telah terkulai lemah tidak berbuat apa-apa.


"Kau pikir kau siapa huh!. Dasar murahan." Pria itu kembali memukul ku. Sementara dua pria lainnya berusaha menahannya. Aku kembali berdiri berhadapan dengan pria itu, dengan tatapan penuh amarah ku layangkan tamparan tepat di pipinya dan menendang organ fitalnya. Dia kesakitan sembari mengucapkan makian, tentu orang-orang berkumpul dan seketika keamanan datang dan menyeret aku dan Rachel keluar.


Tepat pukul 00.00 aku telah sampai di apartemen setelah mengantar Rachel ke hotel tempat dia menginap. Aku beristirahat sejenak di sofa, merebahkan badan ku yang sedikit kesakitan. Tiba-tiba seseorang mengedor-gedor pintu, mengganggu, sangat mengganggu. Dia minta tolong dan berlari ketakutan dilorong apartemen. Lebih terkejut lagi dia adalah pria yang ku kenali. Si mata biru. Tubuhnya bersimbah darah. Sebelah matanya berdarah tersisa satu bola mata kirinya. Tangannya yang semula digunakan menampar ku tidak di posisi normal . Bagian tangan kanan hilang, sementara tangan kiri jari-jemarinya hilang. Darah menetes dimana-mana.


"Tolong! Tolong aku!, aku tidak ingin mati. Maafkan aku maaf." dia memohon ketakutan, agar selamat dari kematian.


Tiba-tiba datang seorang pria bertopeng memukulnya dengan palu tepat dibelakang kepalanya, sangat keras dan membuat pria bermata biru itu tumbang. Pria bertopeng itu menariknya bagai singa yang baru saja menyeret mangsa nya untuk diberikan pada keluarga nya. Aku tercengang. Membatu memandangi lumuran darah yang mengalir didepan ku. Cipratan darah mengenai wajah ku. Pikiran ku kosong, resiko mungkin aku di serah pria itu mungkin saja terjadi. Aku ingin melarikan diri namun tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Beberapa saat kemudian pria bertopeng itu telah berdiri dihadapan ku dan menutup pintu dengan kakinya sembari menatap tajam padaku, seakan berbicara 'kamu selanjutnya'. Aku gemetaran ketakutan.


"Mahu! Mahu! Mahu!." Aku terkejut mendapati diri ku yang masih terbaring di sofa. Ku lihat pukul 4 pagi menjelang pagi hari. Teo membangunkan ku. Menghiraukannya dan aku berlari ke kamar mandi. Tidak ada darah. Aku masih baik-baik saja. Mimpi macam apa ini, seperti menyaksikan seseorang melakukan aksi brutalnya.


"Mahu mimpi buruk lagi?." seru Teo, duduk di sofa. Aku mengangguk. "Mungkin karena capek."


"Teo baru pulang?."


Dia menggeleng. "Sudah dirumah sejak sore. Hanya tidak tahu Mahu sudah pulang."


"oh, begitu."


Teo menuju dapur kesukaannya dan aku masuk ke kamar ku. Mencoba menenangkan diriku.


Bersambung...😉