First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Di Semayamkan



Lampu gudang pembuatan tembikar menyala. Barang-barang sudah di bereskan selama Mahu pergi. Ia mencari Teo di sekeliling tapi tidak ditemukan.


Dia mendekati gudang, samar-samar terdengar suara musik klasik.


"Mahu, Sudah pulang?." Suara Teo mengagetkannya. Mahu berbalik melihat Teo dengan pakaian serba hitam.


"Aku pikir kamu di gudang."


"Nggak, memang sengaja dinyalain lampu."


"Musiknya nggak di matiin?."


"Musik apa?."


Apa aku salah dengar?. Batin Mahu.


"Ooh nggak, aku salah dengar."


"Jadi, urusan mu dengan Rachel sudah selesai?."


"Yah tambah runyam. Merebut sesuatu yang tidak kami miliki. Anehkan!."


"Iya, aneh."


"Oh iya ini cincin siapa? Aku nemu saat mampir ke apartemen."


Teo tampak terkejut tetapi dia mengendalikan emosinya. "Nggak tau. Mungkin pemilik lama." Jawab Teo. Mahu masih memperhatikan cincin itu dengan saksama. Mungkin di dunia ini ada orang-orang yang memiliki cincin yang sama.


"Mau ku tanyakan pada pemilik lama?."


"oh kamu punya kontaknya?."


"Tidak ada. Tapi bisa aku cari tahu."


"Kalau begitu, ku percayakan pada mu untuk menemukan pemilik cincin ini."


Mahu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sekali terlelap mimpi buruk terus berdatangan. Dia terjaga, lalu membuka jendela dan duduk di balkon kamar. lagu yang sama, samar-samar terdengar dari arah gudang.


Lagu yang familiar namun dia tidak ingat di mana pernah mendengar lagu itu. Kemudian, dia mengambil laptop dan mencari tahu judul lagu klasik itu.


Ludwig van Beethoven: Sonata No. 32 In C minor op. 111: I. Maestoso, Allegro con brio e oppassionato. Begitu judul yang ia temukan. Sama persis seperti yang ia dengar baru saja.


Dia memutar lagu tersebut berselang dua menit. Tiba-tiba dia merasa mual lalu berlari ke toilet memuntahkan isi perutnya.


Kemudian, berjalan menuju dapur mengambil segelas air.


"Teo? Kau kah itu?." Tanya Mahu saat mendengar suara televisi. Mahu berjalan menuju ruang tv. Tidak ada orang namun tv dibiarkan menyala. Lalu dia mematikan tv dan kembali ke kamar.


Tanpa dia sadari, seseorang dibalik jendela memperhatikan gerak-geriknya. Seperti singa yang menarget seekor rusa.


"Tidak bisa tidur?." Seru Teo mengagetkan Mahu. Teo berdiri menghadap danau sama seperti posisi Mahu saat itu.


"Oh Tuhan!, kamu yang nyalain tv?."


"Sudah aku matikan tadi."


"Barusan tv masih menyala. Tapi sudah ku matikan."


"Oh... Terima kasih." Jawab Teo. "Kamu pucat sekali. Masih merasa Sakit. Bagian mana."


"Nggak kok. Hanya mimpi buruk."


Mereka terdiam. Mimpi buruk telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Yoo Teo dengan setumpuk penyesalan dan Mahusez dengan segunung pertanyaan.


"Kamu tahu Jidan telah meninggal." Ucap Mahu. Mereka saling menatap. Lalu Mahu menunduk dan melanjutkan cerita.


"Aku bermimpi tentang Jidan. Sebelum kematiannya dia menyusul ku ke apartemen, lalu seseorang datang menikamnya. Satu kali dua kali. Satu matanya hilang. 'Ayoo Mahu! tikam dia! Jika tidak. Kau target selanjutnya.' lalu aku menikam Jidan dan menggantungnya di lampu kamar. Lalu pria itu menyeret ku ke kolam dan menenggelamkan ku sana. Mimpi yang aneh bukan?." Mahu tersenyum memandang Teo yang simpati padanya.


"Bukan salah kamu. Mimpi itu tidak berarti apa-apa." Jawab Teo.


"Besok pagi aku akan ke Bali."


"Kita pergi bersama. Bagaimana pun juga Jidan adalah teman ku. Sekarang kamu istirahat, aku menjaga mu. Mimpi buruk nggak akan datang lagi."


- _ - - _ - *_*


Pukul 05.30 Mahu telah berangkat tanpa berpamitan pada Teo, dia hanya menuliskan sepucuk memo 'Ketemuan di Bandara yaa jam 8.'. Mahu menuju rumah sakit. Ya janji ketemuan dengan seorang dokter kejiwaan pada pukul 6.30.


Bukan waktu yang wajar untuk lakukan pemeriksaan tetapi dia terdesak oleh waktu dan beruntungnya. Dokter Frans adalah kenalannya ketika ia kunjungan ke Inggris.


"Nona Mahu?."


"Ya."


"Dokter Frans menunggu anda."


Mahu berkonsultasi seputar mimpi yang ia alami serta reaksi ketika mendengar lagu Beethoven.


"Saya merasa tertekan, jantung berdecak kencang, dan terkadang bisa tidak sadarkan diri."


"Itu reaksi wajar. Penolakan terhadap suatu kejadian traumatis yang memicu diri Anda untuk tidak mengingat peristiwa itu."


"Saya harus membuka tabir itu."


"Bagaimana pun harus ku lakukan. Aku tidak ingin tersiksa lebih lama lagi."


"Baiklah. Jika begitu saya sarankan Anda ke Psikiater, akan saya kirimkan kontaknya."


"Bisakah rahasiakan ini dari Teo?."


"Ya, pasti. Tapi Mahu, sebaiknya Anda di dampingi pihak keluarga itu akan sangat membantu."


"Terima kasih, Dok."


"Okay, sama-sama Mahu."


Di Bandara.


Mahu tiba di Bandara 30 menit sebelum keberangkatan. Ia menunggu kedatangan Teo. 15 menit menunggu akhirnya Teo telah berada di sampingnya.


"Sudah sarapan?." Tanya Teo.


Mahu menggeleng. Teo membuka ranselnya lalu mengambil kotak makan.


"Aku tahu ini akan terjadi, sarapan dulu. Bersedih juga butuh energi."


"Terima kasih."


Mahu sedang mempertimbangkan apakah dia mengatakan pada Teo atau tidak tetang dirinya yang terus di teror dengan bunga-bunga serta mimpi kematian teman-temannya.


"Apa terjadi sesuatu?." Tanya Teo yang melihat Mahu melahap sandwich dengan pelan seperti orang yang tengah banyak pikiran.


Teo berubah lagi. Dia tampak hangat sejak kemarin. Banyak bicara. Lebih banyak tersenyum. Kenapa dia berubah?. Apa aku bisa percaya padanya?. Batin Mahu.


"Mahu... Apa terjadi sesuatu saat kamu pergi tadi?." Tanya Teo lagi dan membuyarkan lamunan Mahu.


"Ooh maaf maaf, nggak kok." Mahu menengok jam tangannya. "Sepertinya sudah waktunya ayo berangkat."


22 Jam penerbangan yang melelahkan. Mereka tiba di Bali dan langsung menuju Amlapura kota kediaman Jidan di semayamkan.


Upacara Ngaben sawa wedana 7 hari setelah kematian Jidan. Duka dan kemegahan dapat disaksikan bersamaan.


*Kepergian Jidan tentu menjadi teka-teki bagiku. Meski dia di nyatakan di bunuh oleh Bruce tetapi masih menjanggal. Bruce menghilang berbulan-bulan dan dalam waktu semalam Bruce datang lalu membunuh Jidan.


Kenapa? Bagaimana bisa orang hilang membunuh?. Apa sebenarnya yang terjadi*... Batin Mahu.


Mereka menyapa keluarga Jidan, memberikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Setelah selesai upacara kematian Mahu kembali ke hotel untuk beristirahat sementara Teo masih bersama keluarga Jidan.


Gin, gimana udah dapat infonya?.


SMS Mahu pada Gina.


***Ooh iya mbak, sorry lupa kabarin.


Foto-foto di TKP masih sulit aku dapatin. Tapi ada artikel menarik yang di tulisin di forum kami. Aku email ke mbak yaa.


Oke Gin, makasih banyak yaa...


Iya mbak, btw mbak ke Bali yaa


Iya Gin, kenapa. Mau nitip oleh-olehkah?.


Boleh mbak. Tapi bukan itu, nah ada temen ku yang ekspert banget sama yang beginian. Aku kasih kontaknya nanti mbak bisa ketemuan trus ngobrol banyak deh soal pembunuhan berantai itu.


Makasih banyak Gin, tapi emang temen mu itu bersedia ketemu sama mbak?.


Anaknya santuy kok mbak. Aku dapat banyak wawasan sama dia. Aku bilang wawancara gitu jadi dia mau deh. Hitung-hitung nambah temen katanya.


Oke deh, Gin. Thanks yaa***....


Tok... tok...


"Siapa?."


"Aku Teo."


Mahu membukakan pintu. "Ada apa?."


"Makan malam."


Teo bahagia. Auranya berbeda dari biasanya. Apa dia berkepribadian ganda. Sulit bagiku memahaminya. Batin Mahu.


"Sebentar aku ganti baju dulu."


Notifikasi email dari Gina masuk. Mahu membuka lalu menscolling dengan sistem baca skimming. Kemudian, satu foto yang membuat dia terdiam.


Sebuah gambar Jidan yang di gantung lalu ia memperhatikan bekas cincin di jari kelingking Jidan.


Di mana cincin itu?


Malam itu, dia masih pake cincin. Apa benar seseorang mengambilnya ataukah hilang saat dia dibunuh?.


Bersambung.... 💃*