
Pertemuan keluarga?. Konyol!. Aku tidak pernah menduga, apalagi mengharapkan sebuah pernikahan. Suka tidak berarti mencintai. Apalagi berkomitmen menikah. Ya, arti pertemuan yang mengejutkan. Meledakkan diriku.
"Kalian sudah cukup saling mengenal, alangkah baiknya untuk menyatukan keluarga kita. Kalian menikahlah." Ucap pak Arif setelah selesai makan dan sedang menikmati hidangan penutup.
Sesi pengenalan yang sudah dilalui, sepasang suami istri di samping Teo adalah orang tuanya. Sementara ayah Teo adalah saudara kandung Pak Arif. Dan bu Lindra dan Ibu Teo adalah teman semasa kuliah mama ku. Mereka bertemu tiga pekan lalu saat liburan ke Bali. Ide pernikahan ini lahir dari mama ku yang ingin aku menikah. Begitu juga dengan Tante Eun Ji yang sejak lama menginginkan Teo menikah.
Dan Tante Lindra yang mengatur pertemuan ini. Konyol dan menyebalkan. Mereka seenaknya pada hidup ku.
"Mama sangat ingin kamu menikah. Teo adalah laki-laki terbaik untuk kamu." ucap ibuku tanpa rasa bersalah. Aku masih menatap buah di hadapanku. Enggan melihat bagaimana ekspresi mereka.
"Tante sangat ingin memiliki anak perempuan seperti kamu, Tante tau masih banyak yang ingin kamu lakukan. Tapi sebaiknya berbagi impian dengan pasangan adalah hal baik bukan?." Ucap Ibu Teo yang tiba-tiba telah berada disamping ku dan menatap ku dalam.
Aku masih tetap diam begitu juga dengan Teo. Harusnya dia mengangkat suara. Menolak dengan keras.
"Maafkan saya Om, tante, mah, saya belum siap menikah." Jawab ku, hening seketika. "Terima kasih Tante, Om atas makan malamnya. Saya permisi dulu." aku beranjak pergi. Teo mencoba melakukan hal yang sama. Menolak dijodohkan.
"Mahu! Mahu! Mahu..." ku abaikan panggilan mama. Keluar dari rumah.
"Mahu berhenti!." teriak mama ketika aku hendak menyeberangi jalan.
"Apa lagi sih ma." "saya nggak mau nikah, ini hidup saya, mama selalu seenaknya menentukan hendak mama. Saya capek mah. Saya nggak cinta sama laki-laki itu."
"Kamu selalu buat mama malu, begini mama mendidik kamu?. Pokoknya kamu harus menikah!."
"Saya nggak mau mah!."
"Harus menikah!. Jika tidak, jangan pernah kembali ke rumah." "Janji mu tujuh tahun lalu, tujuh tahun mama nggak pernah campur urusan mu. Sekarang, tepati janji mu!."
"Mah saya mohon..."
"Kembali dan minta maaf. Pernikahan akan diatur secepatnya."
Sekilas ku dengan Teo menentang orang tua nya. Kami sama-sama terikat pada kemauan keluarga. Kesepakatan telah dibulatkan. Dan mereka menutup mata, seakan tidak peduli pada keinginan kami.
- - - - -
"Saya punya kekasih dan kami saling mencintai."
"Lalu?."
"Saya hanya ingin kamu tahu, mengakhiri suatu hubungan dengan orang yang kita cintai tidak akan pernah bisa. Karena itu, jika kita menikah saya harap kita tidak saling mengharapkan satu sama lain."
"Ini akan menjadi pernikahan suram bukan?."
"Hmm..."
"Apakah kamu tetap mau menikahi saya, sementara kamu sudah memiliki kekasih?. Menikahlah dengan kekasih mu." Jawab ku.
"Kamu tahu, keluarga kita sama-sama keras kepala. Egois, menentukan keinginan mereka seenaknya. Benci adalah kata yang tepat untuk mereka yang selalu membekas di hati."
"Iya, begitu juga dengan saya. Tapi saya lebih mencintai mama dari pada kebencian itu sendiri."
Kami saling melirik dan tersenyum, memahami duka masing-masing. "Jadi... Kita akan menikah?."
"Apa kita punya pilihan lain?." haha... Kami terkekeh. "Baiklah, terima kasih sudah jujur." ucapku sembari berdiri dari duduk.
"Kau tahu?, saya menyukai mu."
haha... "Jangan kaget seperti itu, menyukai tidak berarti cinta. Cewek mana yang tidak menyukai pria setampan kamu."
"Terima kasih atas pujian nya." ia terkekeh.
Bye..., have a nice dream....
Berharap?. Aku mudah terpengaruh, sedikit perhatian selalu membuatku tersanjung. Aku takut dekat dengan seseorang karena mencintai sepihak tidak pernah menyenangkan. Akhirnya selalu buruk.
Bersambung....