
"Gimana keadaan mu, Rachel?."
Mahu mengirim pesan kepada Rachel, penuh harap segera dibalas, tapi nihil. Mahu khawatir dengan keadaan Rachel meski malam itu telah kembali dengan aman. Mengingat kejadian pagi tadi di gedung apartemen, kematian mendadak si mata biru yang menjadi sewaan Rachel tentu saja mengkhawatirkan sesuatu yang buruk dapat terjadi pada sahabatnya. Semoga saja dia baik-baik saja. Batinnya.
Mahu kembali bekerja. Menyusun laporan dan meninjau tugas-tugas yang diberikan sekali lagi sebelum menyerahkan kepada atasan. Yang tidak lain adalah pamannya sendiri melalui ikatan pernikahan bersama Teo. Meski diperlakukan baik oleh Pak Arif tidak berarti dia berleha-leha dan bersantai. Mahu menjunjung profesionalitas, meski sesekali pak Arif memintanya untuk lebih santai ketika berdua namun Mahu menjadi canggung karena itu pak Arif membiarkan Mahu apa adanya. Senyamannya.
"Pak, tamu sudah hadir, sedang menunggu di ruang pertemuan."
"Oh iya, terima kasih Mahu."
Mahu berjalan berdampingan dengan pak Arif menuju ruang pertemuan untuk menemui beberapa pihak keluarga dari Indonesia yang mengalami masalah kewarganegaraan.
"Bagaimana persiapannya?."
"Sejauh ini sudah kami persiapkan segala kebutuhan. Persiapan negosiasi dengan pihak kedutaan setempat terkait tenaga kerja Indonesia sudah kami persiapkan. Kemarin tim Gita sudah turun lapangan meninjau kondisi warga negara Indonesia dan alhamdulillah mereka baik-baik saja."
"Nice job Mahu, ."
"Iya pak."
Pak Arif menyambut para tamu, mempersilahkan duduk dan memulai basa-basa berkenalan, bertukar kabar kemudian berfokus pada pokok bahasan masalah yang dibahas dengan santai namun serius. Dua jam pertemuan berlangsung dengan menemukan titik terang dan pihak kedutaan akan berupaya memulangkan warganya ke tanah air.
Dan tepat pukul 16.30 sore pekerjaan Mahu telah selesai termasuk persiapan materi untuk esok hari. Apa yang harus ku lakukan lagi. Batinnya. Pekerjaan memiliki dua wajah baginya, satu sisi sebagai kecintaan, perwujudan dari impian. Satu sisi yang lain pekerjaan sebagai sarana melarikan diri dari kenyataan. Melupakan sebentar. Tapi hanya sementara. Masanya diperpanjang bergantung seberapa lama kesibukan berlangsung. Semakin menumpuk pekerjaan yang dilakukan semakin baik Mahu melarikan diri dari satu masalah. Namun, yang dihadapinya kali ini tidak mudah melupakan. Kemudian Mahu teringat lagi dengan Rachel yang tidak menjawab pesannya lalu mengirim pesan untuk kedua kalinya.
Rachel, kamu baik-baik saja kan?. Aku menunggu penjelasan mu tentang kesalahan ku
Pesan kedua tanpa balasan. Mungkin nanti. Entah
kapan.
"Mbak Mahu dengar nggak berita hari ini?. Lagi gempar banget lho." Ucap Gita, Mahu menengok ke sumber suara. Gita sedang bersiap-siap untuk pulang lalu mendekati Mahu. Sekarang mereka berhadapan dengan jarak satu meter. Mahu mendengar dengan saksama sedikit menggeleng dan menunggu kalimat selanjutnya. "Tadi pagi ditemukan mayat lagi, orang Finlandia. Denger-denger sih itu pembunuhan berantai, metodenya, pesan yang ditinggalkan pada mayat itu sama persis dengan mayat yang ditemukan dua bulan lalu. Nah kata temen ku, pernah ada kasus yang serupa terjadi di Bandung sekitar 2016 atau 2017-an gitu. Diduga pelaku yang sama tapi bisa jadi hanya tiruan. Bisa jadi juga pelaku di Bandung migrasi ke Jerman dan melakukan aksinya tapi isunya sih pelaku yang di Bandung sudah meninggal. Ah tapi kok aneh yaa, pelakunya belum ditemukan tapi dinyatakan meninggal. Terus di Jerman sistemnya juga lebih ketat kok pelakunya masih belum ditemukan sudah hampir tiga bulan berjalan."
"Yang Finlandia itu, gimana ceritanya?." Gita memang suka bergosip di kantornya namun terkadang Gita juga bergosip dengan topic menarik. Seperti saat ini, tentang pembunuhan misterius, Mahu tidak terlalu tertarik dengan topik kriminal tapi mengingat mimpinya mungkin ia akan memperoleh suatu informasi yang membantu mengatasi kebingungannya.
"Saat ini belum ada keterangan lebih lanjut dari polisi, tapi kemungkinan korban di bunuh oleh rekannya inisial B, malam sebelum kejadian mereka terlibat perkelahian hebat setelah korban memukul seorang perempuan. Dan sekarang B menghilang." Menghilang, pria itu tidak tampak seperti pembunuh. Fisiknya juga beda dari mimpi ku, ah mungkin hanya kebetulan. Batin Mahu. "Kondisi mayatnya juga mengenaskan. Anggota tubuh korban di mutasi, satu mata lepas, dan ada pukulan benda tajam di kepala korban. Oh yaa menariknya juga, saudara si korban mengalami gangguan mental setelah kematian kakaknya itu. Polisi menduga adiknya yang melakukan pembunuhan itu tapi belum di pastikan. Aku merasa ada Mr. X dibalik kejadian ini." Mungkin bukan mimpi tapi petunjuk. Ah sudahlah.
"Mbak Mahu serius banget. Mikirin apa mbak?."
"Bunga mbak. Di German sejauh ini mayat yang ditemukan baru 3 tiga orang. Diduga masih banyak mayat lagi. Kalau di kasus-kasus lain beberapa bulan kemudian baru ditemukan mayatnya tapi kali ini terjadi perubahan perilaku si pelaku yang sengaja korbannya dibuang ditempat umum. Tapi anehnya apartment semahal itu dengan keamanan ketat cctv tidak ditemukan pelakunya. Sementara kasus di Indonesia ditemukan dua belas korban, satu korbannya selamat tapi hilang kabar sampe saat ini. Balik ke bunga itu. Setiap korban selalu di letakkan setangkai bunga mawar dark crimson. Nah menariknya setiap korban yang ditemukan tewas selalu dengan bunga itu. Tapi ada satu korban selamat malah bunga Crisan. Banyak yang prediksi bunga itu sebagai bentuk kebencian dan kecintaan pelaku pada korban, isunya juga pelaku ahli botani namun sejauh ini masih misteri meski bertahun-tahun berlalu."
"Aneh sekali yaa. Oh ya Git, jika seseorang bermimpi tentang seseorang yang membunuh orang lain lalu kejadian itu tiba-tiba jadi kenyataan apa yang harus dilakukan?." Tanya Mahu serius.
"Emang ada yang seperti itu mbak?. Biasanya itu hanya pengaruh alam bawah sadar yang dimanipulasi setelah melihat suatu kejadian sebelum tidur. Sejauh ini aku belum tahu soal itu."
"Yaa mungkin ada teori konspirasi yang diketahui Gita tentang hal itu."
"Hmm... Menarik mbak. Akan coba aku cari tahu."
"oh ya, dari mana Gita memperoleh banyak informasi penting seperti itu?."
"oh, aku gabung ke komunitas pencari fakta kasus-kasus yang nggak terpecahkan. Tapi baru-baru aja kok."
"oh begitu. Sangat menarik cerita mu."
"Iya dong mbak, eh sudah waktunya pulang. Pamit dulu yaa mbak."
"Lain kali kita cerita lagi yaa kasus misteri kamu."
"Oke mbak, bye."
Sembari menunggu Teo menjemputnya, Mahu mencari tahu kebenaran yang di ucapkan Gita. Informasi yang disampaikan Gita benar adanya. Yang menarik perhatiannya 'korban selamat'. Bagaimana keadaan si korban itu yaa. Lalu bunga itu, apakah pembunuh itu sama dengan orang yang mengirimkan aku bunga.
Ponsel bergetar. Mahu menengok layar ponsel 'Yoo Teo'.
"Aku di depan."
"Iya, aku segera kesitu."
Panggilan diakhiri, Mahu non-aktifkan komputer dan segera berlari pelan menuju pintu keluar. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering, kali ini bukan dari Teo atau rekan kerja tapi dari mama Teo. Mahu menghentikan langkah dan berbicara dengan mama Kim. Lalu berjalan pelan menuju mobil Teo yang telah bertengger, ketika Teo melihat sosok yang ditunggunya dia melambaikan tangan sembarin tersenyum. Mahu membalas senyuman tanpa lepas dari pembicaraan dengan mama Kim.
Bersambung....