First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
New House



"Lho kita kemana? Kok nggak ke apartemen?."


"Pindah ke rumah kakekku."


"Kakek?. Kok nggak ngomong dulu?, barang-barang aku gimana?."


"Maaf, aku pikir lebih baik kita tinggal di tempat yang lebih tenang. Tempat tinggal juga berpengaruh pada kesehatan bukan. Dan semua barang-barang sudah di pindahkan. Tenang aja."


"Tapi, ini terlalu jauh dari kantor ku."


"Kamu bisa pakai mobil. Aku jamin di rumah peninggalan kakekku sangat nyaman. Kamu akan senang tinggal di sana."


30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di kawasan perumahan yang asri. Kawasan yang luas, rumah-rumah dengan halaman yang sangat luas. Di depan rumah berwarna putih ada papan bertuliskan 'Mr. Yoo Teo & Mrs. Mahuzes"


Rumah dua lantai dengan furniture zaman dulu. Tidak terlalu banyak benda. Sofa di ruang tamu, dapur, ruang menonton tv, satu kamar tidur. Di lantai dua kamar tidur dan toilet. Masing-masing terdapat teras kecil.


Dari teras bisa melihat hutan dan perkebunan warga lokal. Tidak jauh dari rumah terdapat danau besar di sampingnya sebuah gudang tua yang masih terawat.


"Itu tempat pembuatan tembikar." Ucap Teo. "Kakek dulu suka membuat tembikar, aku belajar dari beliau. Ku pikir menyenangkan bisa membuat tembikar lagi."


"Wow keren. Aku bisa melihat kesana?."


"Ayo!."


Di gudang itu terpajang hasil karya kakek Teo, kira-kira sudah berusia puluhan tahun namun masih terjaga dengan baik.


Terdapat sebuah ruang baca, rak-rak buku serta koleksi kaset-kaset klasik.


"Ini punya kakek mu juga?."


"Iya, Sebagian buku-buku punya kakek sebagian punya ku."


"Piringan lagu klasik ini?."


"Punya kakek tapi aku suka dengar lagu klasik."


"Oh begitu... Ternyata Teo suka lagu klasik yaa."


Dengan rasa bangga Teo memperkenalkan koleksi warisan kakeknya.


"Bagaimana. Indah bukan tinggal di sini?." Tanya Teo pada Mahu. Mahu menjawab dengan anggukan setuju.


Ponsel Mahu berdering. Sebuah panggilan dari Rachel tapi Mahu masih kesal dengan Rachel yang mengabaikan panggilannya tempo hari saat dia sangat membutuhkan bantuan Rachel. Mahu mereject.


Kegigihan Rachel membuat Mahu akhirnya menjawab panggilan itu.


"Aku di depan apartemen."


"Aku sudah pindah."


"Kok tiba-tiba?."


"Ada yang ingin aku katakan, penting!. Aku tunggu di caffe biasa."


"40 menit aku sampai. Tidak apa menunggu?."


"Iya, sebelum aku berubah pikiran."


Mahu langsung berangkat setelah berpamitan dengan Teo, meski Teo mengatakan dia yang mengantar tetapi Mahu bersikukuh masih kuat untuk mengemudi. Akhirnya Teo memberikan kunci mobilnya.


Mahu tiba di kedai, memarkir, masuk lalu menyapa si Barista dan mencari keberadaan Rachel. Seorang gadis dengan gaun merah terang yang pas di tubuhnya.


"Hai..., Maaf buat kamu menunggu." Sapa Mahu dan langsung duduk berhadapan dengan Rachel. Raut Rachel tidak ramah. Sedih serta kesal.


"Ada apa Hel?, aku tidak paham kenapa kamu marah sampai sekarang. Bisa jelaskan agar aku mengerti. Kamu satu-satunya sahabat ku, aku tidak ingin kehilangan kamu."


"Pertama, aku mencintai Teo jauh sebelum kamu mengenalnya. Karena itu persahabatan kita tidak bisa berlanjut lagi."


"Karena itu kamu bersikap kejam pada ku?."


"Aku kejam?. Kamu! Kamu yang merebut Teo dari ku, aku sangat mencintainya lebih dari apapun bahkan diri ku sendiri." Suara Rachel meninggi. Mahu menunduk berpikir sejenak lalu berkata.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?. Meninggalkan Teo?."


"Sebaiknya begitu."


"Rachel..." "Sangat disayangkan persahabatan yang kita bangun sejak kecil hingga kini berakhir karena Teo. Aku tidak ingin mengakhiri persahabatan kita tapi jika itu keputusan mu aku menghargai itu. Dan satu hal yang perlu aku tegaskan. aku tidak bisa meninggalkan Teo."


"Aku tidak akan menyerah. Lebih baik aku mengatakan padamu langsung, aku juga terbebani tapi sekarang setidaknya aku bisa lega jika suatu saat kamu melihat ku bersama Teo."


"Aku juga tidak akan menyerah."


Mereka terdiam. Menjelajah pikiran masing-masing.


Maafkan aku Mahu, aku sungguh menyayangi mu sebagai sahabat ku tapi ini tidak adil bagi. Perjuangan ku bertahan-tahun sia-sia karena kamu. Batin Rachel.


"Aku dengar kamu orang terakhir yang bertemu Jidan. Kapan kalian bertemu?." Ucap Rachel.


"Tiga atau empat hari lalu. Kenapa?."


"Jidan meninggal empat hari lalu, mayatnya baru ditemukan kemarin di hotel."


"Apa?. Serius? Bagaimana itu terjadi?."


"Bukankah kamu pelakunya?."


"Huh! Kamu selalu mengelak seperti itu."


"Kamu ingat dulu pernah terjadi hal yang sama?. Tiga pria malam itu yang bersama ku salah satunya meninggal setelah bertengkar dengan mu. Dan dulu teman-teman kita meninggal tapi hanya kamu yang selamat. Bukankah itu aneh?."


"Oh yaa aku lupa, kamu hilang ingatan yaa... Tidak ingat dengan perbuatan mu sendiri." Rachel berucap dengan nada sinis.


"Apa yang sebenarnya terjadi?."


"Tidak ada yang tahu selain diri mu sendiri Mahu."


"Kamu pernah cerita bermimpi tenggelam dan melihat seorang gadis membunuh. Mungkin saja itu bukan mimpi biasa tapi berkaitan dengan mu. Aku sudah muak teman-teman ku yang berurusan dengan kamu Mahu selalu berakhir mengenaskan."


"Dan bisa jadi aku korban selanjutnya. Dan aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi."


"Siapa teman-teman kita yang menyukai bunga? Atau memiliki toko bunga?." Tanya Mahu, dia menyadari bahwa teror bunga yang selama ini terjadi pasti berkaitan dengan masa lalunya.


"Tidak ada."


"Tidak ada yang kamu ingat sama sekali?. Kamu mengenal tulisan ini?."


Mahu menunjukkan sebuah foto kertas yang bertuliskan "To beloved Mahu." sebuah pesan yang pernah di kirim bersamaan dengan bunga.


"Tidak. Kamu mau pamer ada yang mengirimkan bunga untuk mu?." Jawab Rachel.


"Bukan itu maksud ku. Tolong lihat lagi."


Rachel memperhatikan lagi. "Tulisannya tidak asing." "Ku rasa itu tulisan Alex, diantara teman-teman kita hanya Alex yang pandai membuat ukiran seperti itu."


Alex? Bukannya dia sudah meninggal 10 tahun lalu. Batin Mahu.


"Tidak mungkin itu Alex, dia sudah mati."


"Apa ada bunga di samping mayat Jidan?."


"I don't know!."


"Aku harus pergi." Mahu langsung beranjak ketika teringat sesuatu. Dia harus ke lokasi mayat Jidan di temukan.


"Mahu! Mahu! Aku belum selesai bicara!, pokoknya Teo harus jadi milikku." Teriak Rachel sebelum Mahu keluar dari Caffe Mahu tampak tidak peduli dengan teriakan Rachel.


Bunga tulip kuning terakhir di kirim ke apartemen, jika mayat Jidan ada bunga tulip kuning, pasti bunga-bunga itu sebuah pesan. Tapi apa? Apa sebabnya?. Benar kata Rachel, aku lah penyebab nya. Kenapa aku?. Batin Mahu.


Mahu membuka ponsel dan menemukan nomor Gina.


"Hallo, Gin. Apa aku bisa bicara sekarang?."


"Iya mbak, boleh. Aku nggak sibuk kok."


"Kemarin ada kasus pembunuhan lagi, tiga hari setelah kematian baru ditemukan. Kamu tahu informasinya?."


"Ohh itu... Aku kurang tahu detailnya tapi dia dibunuh kekasihnya. Warga US yang melarikan diri."


"Lokasi kejadian di mana."


"Parkiran hotel. Tapi percuma kalo kesana mbak, polisi masih berjaga."


"Gin, kamu punya kenalan yang bisa akses foto TKP nggak?."


"Hemm... Ada mbak, tapi sulit di dapat. Akan aku usahakan deh." "Tumben mbak nanya kasus pembunuhan."


"Iseng aja ngisi waktu luang buat jadi bahan tulisan."


Mahu berbohong. Dia harus mencari tahu potongan puzzle teka-teki kematian Jill dan Jidan. Mungkin kasus-kasus itu berkaitan dengannya.


"Ooh gitu yaa mbak. Siap deh aku kabarin lagi setelah dapat infonya."


"Makasih ya Gin."


"Iya mbak, bye."


Mahu sampai di apartemen tempat dia dan Teo tinggal beberapa waktu lalu. Dia teringat ketika kiriman bunga tulip dan kumpulan bunga-bunga yang telah layu yang bisa menjadi petunjuk penting.


Tong sampah tempat ia membuang bunga itu telah bersih tidak ada di sana. Di dapur juga tidak ada. Dia hanya perlu memastikan satu daun saja yang jatuh berhamburan. Dia menuju kamarnya dan mengambil dus tempat ia menyimpan bunga-bunga itu.


Lalu membawa ke mobil. Lalu kembali lagi mencari di setiap sudut kamar dan di sela-sela sofa tapi nihil. Hanya bau apartemen yang berbeda dari biasanya.


"Ooh mungkin karena tidak ditempati bau nya jadi seperti ini."


Mahu mencari lagi di tong sampah kosong. Mengangkat dan memindah tong sampah, memeriksa dibawah rak sepatu. Ureka!. Dia menemukan sesuatu.


"Cincin? Punya siapa?." Mahu memperhatikan dengan saksama. Ada ukiran inisial di bagian dalam cincin 'J&B'. "J&B, siapa?."


"Jidan and Bruce?. Eh mana mungkin. Kok bisa disini?."


Mahu teringat Jidan memang memakai cincin yang mirip dengan cincin yang saat ini berada di genggamannya.


"Kenapa bisa di sini?. Mungkin milik orang lain. Nanti ku tanyakan saja pada Teo.


Mahu menuju apartemen pribadi nya sebelum menikah dengan Teo. Meletakkan dus di kamarnya lalu menuju rumah baru mereka.


Bersambung.... 💕