First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Malam di Amlapura



"Kau terlihat bahagia. Hal baik apa yang terjadi?." Seru Mahu. Dia menatap Teo yang tersenyum lalu menatap kedepan.


"Nothing. Just feeling good today."


"Nice. But for me, sad day. I lost my friend again." Jelas-jelas Mahu risih dengan keceriaan yang tampak pada Teo. Hatinya tidak tenang.


"I'm so sorry."


Mereka berjalan kaki menuju restoran hotel. Memilih tempat didekat kolam dengan satu lilin di meja. 20 menit kemudian pesan mereka datang.


Melahap tanpa banyak bicara. Saling melirik kemudian menerjemahkan raut masing-masing. Ragu-ragu bertanya. Ragu-ragu mengungkap isi hati. Akibatnya, bungkam tanpa bisa memahami satu dengan yang lain.


Setelah makan malam mereka berjalan pelan kembali ke kamar hotel. Kali ini, Teo memandang Mahu penuh kebahagiaan. Benar. Sesuatu terjadi padanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?." Akhirnya suara Mahu memecahkan kekakuan mereka.


"Tentu saja, aku selalu senang jika kau mau mengungkapkan perasaan mu."


"Cincin yang aku berikan tempo hari sudah ketemu siapa pemilik?."


Jauh dari ekspektasi Teo, dia berharap Mahu bertanya tentang liburan mereka yang ia nantikan sejak lama. Padahal, bagi Mahu hal itu bukan liburan tetapi perenungan perpisahan.


"Ooh belum. Aku minta tolong pada manager apartment mencari pemilik sebelumnya. Mungkin besok akan segera kabari. Memangnya ada apa?."


"Oh begitu, aku mengenali cincin itu."


"Apa Jidan pernah datang ke apartemen saat aku di rumah sakit?."


"Jidan? I don't know. Aku tidak pernah bertemu dia di apartemen." Mahu mengangguk. "Kamu pikir cincin itu milik Jidan?."


"Aku dengar cincin yang di kenakan Jidan hilang, banyak hal yang menjanggal dengan kematian Jidan."


"Kau mencurigaiku?." Mereka saling memandang. Air muka Mahu mengatakan segala 'Iya. Aku mencurigaimu.'


"Ah tidak! Bukan itu maksud ku." Mahu mengelak. Berpaling dari Teo.


"Wajar kau curiga, aku mengerti. Ayo sebaiknya kita kembali ke kamar." Ucap Teo. Hatinya gusar dan kecewa namun berusaha tidak menunjukkan pada Mahu.


"Mahu! Teo!." Teriak seseorang dari kejauhan. Dua pasang manusia itu berbalik memandang asal suara. Perempuan itu berlari mendekati mereka.


"Rachel?." Seru Mahu seakan tidak percaya.


"Bagaimana bisa kamu di sini?." Tanya Teo yang sama tidak percaya bertemu Rachel.


"Prosesi pemakaman!. Aku tidak mungkin melewatkan upacara kematian sahabat ku sendiri."


"Mahu aku sangat merindukanmu..." Ucap Rachel lagi sembari memeluk Mahu dengan erat. Sementara Mahu mengernyitkan dahi, keheranan dengan sikap Rachel yang tiba-tiba. "Aku senang kita di hotel yang sama."


Tanpa menjawab sesat Mahu menyadari kehadiran Teo memberi dampak pada sikap Rachel.


Rachel berjalan menggandeng tangan Mahu dan Teo dibelakang mereka. Sesaat kemudian mereka tiba di depan kamar.


"Kamu pasti sedih kepergian Jidan yang tiba-tiba. Padahal kalian sangat dekat." Gumam Rachel.


"Hel, please... Jangan seperti ini. Aku lelah... Sekarang kembalilah ke kamar mu."


"Nggak! Nggak mau!." Rachel menahan tangan Mahu dengan erat. Menolak untuk pergi.


"Bodo amat!." Mahu melepas rangkulan Rachel.


"Mahu... menemani aku yaa malam ini?." Suara memelas Rachel membuat Mahu muak dengan sandiwaranya.


Baru kemarin Rachel melayangkan nota permusuhan. Sekarang dia mendekat dengan sikap yang menyebalkan. Tentu membuat Mahu bingung sekaligus kesal.


Tanpa memberi respon Mahu langsung masuk ke kamarnya meninggalkan Teo dan Rachel yang mematung melihat sikap kasar Mahu dengan membanting pintu.


"Dia sedang bad mood, ku harap kau mengerti. Selamat malam."


"Teo!." Rachel menahan tangan Teo saat ia melangkah masuk kamar. "Temani aku minum yaa, aku sangat sedih atas kepergian Jidan dan Mahu yang membenciku, aku nggak tau kenapa dia seperti itu."


"Sorry, Rachel. Aku nggak bisa. Dan Mahu tidak mungkin kesal seperti itu tanpa sebab. Mohon pengertian mu yaa..." Jawab Teo sembari melepaskan genggaman Rachel. Kemudian, berjalan masuk ke kamar Mahu.


Rachel terdiam menatap kepergian mereka. Hatinya ngilu. Dia menyadari tidak ada ruang untuk nya namun ia tidak menyerah. Meski harus membuang sahabatnya sendiri. Dengan langkah berat Rachel masuk ke kamarnya.


Mahu telah berbaring di kasur meski dia tidak benar-benar terlelap membelakangi Teo yang telah duduk di sofa sembari mengamati punggung orang terkasihnya meski dia terus mengelak kata hatinya.


"Rachel di kamar sebelah, aku tidak bisa kembali ke kamar ku." Ucap Teo, khawatir rahasia mereka terungkap karena itu ia memutuskan bermalam di kamar Mahu.


"Iya."


Prasangka. Mahu terus berpikir Teo tampak bahagia karena ada Rachel. Mahu kesal dan frustrasi akan perilaku Rachel yang berusaha menggoda Teo.


Dan tanpa ia sadari, cemburu telah menyelimutinya perlahan. Meski, ia teringat ucapan Teo tentang hubungan mereka yang harus di renungkan kembali. Menambah sesak di dadanya.


"Besok kita ke Ubud" Ucap Teo.


"Ya pernikahan sepupu ku. Tapi ku rasa aku tidak akan hadir di pernikahan itu."


"Bukankah sebaiknya kita bertemu dengan keluarga mu, mumpung masih di Bali."


"Mereka bukan keluarga ku!."


"Baiklah, selamat malam, Mahu. Nice dream..."


Esoknya Rachel, Mahu, dan Teo berangkat ke Ubud. Teo menyewa mobil untuk ke lokasi pernikahan Sepupu Mahu yang juga teman kantor Rachel.


Mahu dan Rachel duduk di bangku penumpang sementara Teo sebagai pengemudi.


"Iya, nanti aja. Nggak perlu juga ngabarin." Jawab Mahu judes. Teo tersenyum melirik Mahu.


Untuk pertama kalinya dia melihat sisi lain dari Mahu, tentu ia bahagia meski Mahu bersikap dingin padanya seakan-akan Teo melihat dirinya pada Mahu.


"Yaudah aku aja yang ngabarin. Tante pasti senang aku ikut." Seru Rachel sembari mengotak-atik Hp-nya.


"Ya makasih yaa, Rachel." Jawab Teo ramah.


Sementara Mahu mengambil masker, memakai kacamata hitam, pakai headset lalu memutuskan untuk tidur. Melihat Mahu yang terlelap Rachel mencondongkan badan ke arah dan mengajak ngobrol.


"Udah lama yaa kita nggak ke Bali, ingat deh masa kuliah dulu bareng anak-anak fotografi." Tukas Rachel. "Seru banget waktu itu, kita ke pantai, naik gunung, trus diving, pasti asik deh kalo bisa ngulang masa itu."


"Oh begitu yaa... Ingat mu bagus, aku sudah lupa pernah ke Bali."


"Tentu aja, waktu itu juga kita makan makan-makan di pantai. Aku ingat banget pas Teo hampir muntah karena makan durian. Mau nyoba durian lagi?."


"Wah nggak deh. Nggak lagi. Sehabis makan durian muntah-muntah parah."


"Haha... Tapi lucu banget pas kamu muntah-muntah itu kena si Robert dan Robert marah-marah karena itu. Lucu liat ekspresi kamu pas minta maaf itu."


"Iya, aku benar-benar minta maaf soal itu, makanya sampai sekarang Robert selalu melarang aku dekat-dekat sama durian."


"Oh yaa sehabis dari nikahan Sinta kita ke pantai yuk." Ajak Rachel dengan penuh keceriaan.


"Boleh, tapi kalau Mahu mau yaa."


"Pasti mau kok. Yaa Mahu..." Rachel berbalik ke arah Mahu, namun si empunya tidak menanggapi sedikit pun. Dia pura-pura tertidur.


"Sejujurnya aku masih kesal dengan kalian, setelah kalian bersama kita punya waktu bersama." Lanjut Rachel dengan ekspresi sedih. Meski dia hanya membuka topik obrolan dan membuat Mahu kesal.


"Iya, maaf soal itu. Tapi menyenangkan juga bisa liburan bersama."


"Tidak akan ku maafkan sampai kita bisa ke pantai lagi."


Teo hanya tertawa pelan. Mereka terus berbincang sesekali diam mencari topik hingga tiba di tempat tujuan.


Satu jam tiga puluh menit perjalanan mereka tiba di Ubud. Resort tempat pernikahan di adakan. Mereka di sambut oleh mama Mahu dengan senyum merekah.


Mama Mahu memeluk Teo sembari menanyakan kabar begitu juga dengan Rachel. Sementara Mahu setelah salaman langsung membungkam dan mendengarkan obrolan mereka tentang kabar masing-masing.


"Ma aku ke kamar dulu. Mana kunci kamarnya?." Ucap Mahu memotong pembicaraan mereka.


"Lho kok gitu? Sapa dulu dong Om sama Tante."


"Nanti aja, besok pas hari-H."


"Iih kayak nenek sihir aja bawa suasana gelap di hari bahagia ini. Lihat nih suami mu ceria sekali. Rachel juga, kamu aja yang cemberut."


"Udah ah ma capek. Mana kuncinya."


Seru Mahu memaksa.


"Nggak ada kunci. Ini alamatnya. Mama pesan khusus buat kalian berdua selama honeymoon. Tapi masih jauh dari sini."


"Lho Tante kok nggak di hotel bareng sih?." Sergah Rachel terkejut. Tentu jika mereka tidak sehotel akan merusak rencananya.


"Sudah kamu disini saja bareng tante." Jawab Mama Mahu seakan tahu, Rachel akan jadi benalu selama mereka honeymoon.


"Tapi Tante, aku mau bareng sama Mahu." Elak Rachel.


"Udah sini aja nemenin tante." Ucap mama Mahu sembari menggandeng erat tangan Rachel.


"Ooh yaa udah mah. Makasih banyak. Aku anterin Mahu dulu."


Mereka masuk ke mobil dan langsung beranjak menuju villa Pererepan jl. Melayang. Vila asri dengan dekorasi eco-friendly. Vila di kelilingi hutan. Dua lantai. Kamar tidur berada di lantai dua dengan dilengkapi kolam renang.


Mahu takjub dengan Vila yang akan ditinggalinya selama beberapa minggu. Dia berencana menjauh dari Teo dan benar-benar memikirkan hubungan mereka ke depan.


Tapi nuansa berkata sebaliknya. Dia semakin merasa dekat. Merasa nyaman meski berulang kali ia memaksakan untuk memberi jarak.


"Aku mau tidur dulu." Ucap Mahu ketika mereka tiba di Vila.


"Makan dulu gimana? Sejak pagi belum sarapan."


"Nanti aja. Thanks Yoo."


"Ada yang mengganggu pikiran mu?."


Mahu mendesah berat. "Iya Yoo, banyak. So, please biarkan aku istirahat."


Mahu langsung naik ke lantai dua dan tidur di sofa menghadap kolam renang kecil.


*Tidak seharusnya aku marah padanya. Teo salah apa? Tidak ada. Aku bingung dengan mood ku sendiri. Aku tidak mengerti perasaan iu sendiri. Sahabat tempat aku bertanya, berkeluh kesah kini menjadi musuh ku sendiri.


Apa yang harus aku lakukan*?.


"Maaf Teo." Gumam Mahu dengan nafas berat. Ia benar-benar merasa bersalah.


"Iyaa nggak apa-apa." Jawab Teo membuat Mahu terkejut. Dia tidak menyadari Teo telah berada di dekat sofa dan duduk dekat kolam memandangi hutan yang asri.


Karena malu Mahu membenamkan wajahnya dalam selimut hingga tertidur.


Bersambung....😁