
Menikah. Apa artinya?. Setahu ku, pernikahan adalah dua orang yang saling mencintai, memiliki komitmen sehidup semati. Lantas yang ku alami? Tidak ada cinta hanya dua manusia yang terpaksa memenuhi keinginan egois keluarga.
Pernikahan berlangsung dua hari setelah pertemuan malam itu. Menikah secara sederhana, akad dan acara makan malam di sebuah restoran yang dihadiri kedua keluarga dan teman-teman dekat Teo. Aku tidak mengabarkan pada Rachel sebab ia sedang keliling Eropa untuk urusan pekerjaan.
Setelah acara makan malam, aku dan Teo menginap di hotel yang sama dengan kedua orang tua kami. Sengaja memantau agar kami selalu bersama. Aku ambil cuti seminggu untuk acara pernikahan begitu juga dengan Teo.
Malam ini, dua hari setelah menikah. Kami makan malam dirumah tante Lindra, begitu juga dengan kedua orang tua kami. Setelah acara makan malam aku dan Teo kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun.
Meski tidur seranjang, kami tidak pernah saling kontak fisik. Memberi jarak pada ruang masing-masing. Menutup diri satu sama lain. Teo sedang mandi sementara aku segera berganti pakaian. Kaos kuning lebar dengan celana training.
"Sedang apa?." seru Teo ketika keluar dari kamar mandi.
"Liat bulan." jawabku tanpa memalingkan pandangan ku pada langit malam dengan cahaya yang dua kali lebih terang. "Cantik banget." Kemudian, Teo yang penasaran berdiri disamping ku, ia membuka korden dinding hotel yang terbuat dari kaca tebal lebih lebar.
"Iya, indah..."
"Supermoon" aku beranjak dari duduk dan bersegera mandi. Setelah selesai, aku lihat Teo masih duduk memandangi langit. Seakan terpesona atau mungkin saja banyak yang ia pikirkan. Tentang keadaan kami yang tiba-tiba harus tinggal bersama. Hanya dalam hitungan hari.
"Besok apa yang harus kita lakukan?, papa-mama masih mengawasi." Ucap ku sembari mengerikan rambut. Tiba-tiba Teo mendekat, sigap ia mengambil hairdryer dan menarik ku duduk di kursi.
"Saya bantu."
"Tapi saya bisa sendiri Yoo."
"Besok, sebaiknya pergi kemana yaa..." Gumamnya menghiraukan protes ku.
"Saya mau sehari di kamar saja, capek. Mama dan papa nggak bakal dobrak kamar kita kan karena nggak kemana-mana."
"Baiklah..." "Ku rasa sudah cukup." Ia meletakkan hairdryer di meja rias dan tiba-tiba langsung keluar tanpa sepatah kata pun.
Yoo Teo.
Pukul 12 malam. Semenjak menikah, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak. Darah yang mendesir diseluruh tubuh membuat ku segera memangsa. Apalagi di dekat Mahu. Nafas ku selalu sesak. Perasaan ingin membunuh.
Malam itu, kebohongan yang ku buat menjerumuskan ku pada penyesalan. Namun, keputusan yang baik bagi kita berdua agar terus memberi jarak masing-masing.
Tepat pukul 02:00 pagi aku kembali ke kamar hotel. Mahu telah terlelap membiarkan tv yang menyala. Mengambil remote TV yang masih di tangannya. Menekan tombol off lalu mengambil selimut dan menyelimuti kemudian menatapnya hingga terlelap juga disamping nya.
- - - - -
Mahuzes
Pukul 5 pagi aku terbangun, Teo berbaring di samping ku. Tidak dekat. Posisi kami sama-sama di ujung ranjang. Tiba-tiba. "Jangan menatap seperti itu" Ucap Teo tanpa membuka matanya.
"Good morning." Jawabku sembari tersenyum.
"Jangan ramah, perhatian, simpati, atau menunjukkan ekspresi apa pun. Ingat itu!." Tatapan tajam yang dan penuh ketegasan. Kemudian beranjak dari kasur ke kamar mandi. Dia berubah menjadi sosok lain. Seperti summer kemudian winter...
Sunyi dan senyap.
Sarapan duduk berhadapan tetapi tidak ada sepatah kata pun. Hening. Setelah selesai sarapan, aku menyalakan tv mengambil buku sketsa dan pencil. Mencari posisi nyaman di kasur kemudian langsung mengsketsa bulan semalam yang ku lihat. Sementara Teo duduk di samping ku sambil menikmati sebuah buku.
Ku pikir hanya terjadi hari ini. Tidak. Setelah papa dan mama kembali ke Indonesia. Aku pindah ke apartemen Teo. Terdapat dua kamar, ruang tv dan dapur beserta meja makan. Kami tidur di kamar terpisah. Aku selalu berangkat kerja pagi dan pulang sore. Sementara Teo berangkat siang dan pulang tengah malam.
Percakapan. Hampir tidak ada. Hampa. Keharmonisan kami tunjukkan hanya di hadapan keluarga, beberapa rekan yang mengundang ke pesta. Setelahnya suram. Hari-hari yang kami lewati seperti itu, dari minggu ke minggu, berganti bulan hingga berganti tahun. Terbiasa.
Namun, satu hal yang ku sukai. Teo tidak pernah menuntut ku mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan terkadang dia yang menyiapkan sarapan ketika bangun pagi lebih dulu. Meski sangat jarang duduk bersama di meja makan.
Meski begitu, aku nyaman hidup seperti ini. Mungkin kalian berpikir pernikahan yang sia-sia. Namun, aku sebaliknya, kami tidak saling mencintai. Tidak juga memaksakan kehendak. Sebab tidak ada ekspektasi dan harapan padanya.
Dan selamanya... Kami menjadi dua orang asing.
Bersambung....