First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Kecemburuan



Wajah Teo tampak memerah, seperti menahan amarah. Aku tidak tahu harus berkata apa. Hanya menatapnya. Ingin sekali ku tanyakan apa yang terjadi tetapi suara ku tercekat tertahan oleh ego ku sendiri. Diam. Menjadi pilihan terburuk ku. Tetapi aku harus melakukan pilihan buruk itu.


- - 🌸🌸 - -


Yoo Teo


Tok... tok...


Aku mengetuk pintu kamar Mahu. Meski tidak akan terlambat ke pesta. Aku ingin segera melihatnya.


Saat ia melangkah keluar kamar. Sungguh membuat ku terpesona, hilang kosa kata untuk gambaran keindahan gadis ku. Jika perumpamaan bidadari adalah perumpamaan bagi kecantikan seorang perempuan, maka izinkan aku menyebut Mahu bidadari langit.


Aura, pancaran mata cokelat nya menambah keindahan yang ku sebut kesempurnaan ciptaan Tuhan. Padahal ia hanya mengenakan Dress hitam selutut. Dengan Makeup natural seperti biasanya Mahu berangkat ke Kantor.


Namun malam ini ia sangat seksi dan menggoda. Dan benar. Semua mata tertuju padanya. Marah. Tentu saja. Tidak ada seorang laki-laki yang senang melihat gadisnya dilihat oleh laki-laki lain.


Mahu selalu banyak berbicara ketika ia merasa malu atau gugup pada suatu hal. Ia selalu mengungkapkan isi pikiran nya. Dan itu, selalu membuatku nyaman dengan kejujuran nya. Tetapi di satu sisi aku selalu menahan diriku agar tidak jatuh dalam pelukan nya. Ego selalu menahanku mendekat padanya.


Namun, laki-laki kurang ajar. Jidan, seenaknya memeluk dan merangkul gadis ku. Aku naik pitam. Ingin sekali ku menahan mereka pergi. Tetapi Rachel menghalangi. Kesal. Sangat kesal. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Haruskah aku mengungkapkan perasaan ku yang sesungguhnya?, tapi aku membencinya.


Aku bergegas mencari Mahu dan laki-laki brengsek Jidan. Mereka tidak ada di ruangan. Aku keluar melihat mereka berduaan di lobby, apakah mereka telah berpacaran?. Laki-laki itu, menggenggam tangan Mahu lalu bermanja-manja. Tidak pernah aku melihat Mahu tertawa seceria itu.


Kencan?. Ku dengar soal kencan. Mereka?. Tapi kenapa?...


Mahu terkejut ketika aku menariknya pergi.


"Teo... Pelan-pelan, sakit Teo!." Jeritnya. Aku tidak peduli, setelah di mobil. Kami melejit dengan kecepatan penuh. Seolah ada seseorang berbisik padaku untuk terus marah.


Tiba-tiba aku membanting stir lalu berhenti, hampir saja membuat kami berdua terbentuk di dasbor. Mahu yang tampak bingung dan takut dengan sikapku. Dengan cekatan aku menyerangnya. Mencium dan ******* bibir nya. Dia terus menolak. Aku tidak memberinya akses untuk bernafas. Aku menahan tangannya dan menyudutkan.


Ia bersikeras mendorongku dan tiba-tiba satu tendangannya berhasil membuatku tersadar. Tatapan nya nanar. Kemudian air mata mengalir deras di matanya. Terasa menyayat.


"Sakit Teo!, kamu memperlakukan saya seperti wanita murahan. Kamu tidak berhak menyentuh tanpa seizin saya ." Ucapnya sembari tersedu-sedu...


Aku melajukan mobil. Normal. Sepanjang perjalanan ia terus terisak. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Mahu benar. Dalam hal pasangan, kita memiliki hak masing-masing untuk menerima atau menolak suatu hubungan. Bahkan dalam hal ciuman. Aku telah memaksa. Dan melampiaskan amarahku padanya. Sungguh tidak pantas.


"Maaf!." Ucapku sebelum ia masuk ke kamar. "Maaf atas sikap kasar saya. Maafkan saya Mahu."


- - 🌸🌸🌸 - -


Mahuzes


Aku teringat kejadian malam itu, berusaha melupakannya agar aku kembali menemui Teo dengan tenang. Entah perasaan takut atau bahagia. Aku bingung menafsirkan perasaan ku.


"Selamat pagi..." Sapa menyapa nya yang telah rapi dan duduk di meja makan.


"Selamat pagi..." Jawabku sembari mengambil posisi duduk di depannya. Menyantap sarapan yang telah dia sediakan. Dan seperti biasa. Kami terasa kikuk.


"Mahu..."


"Iya."


"Maafkan saya."


"Iya, sebaiknya kita lupakan kejadian itu."


"Apakah karena kamu cemburu?."


Uhuk Uhuk...


Teo terbatuk-batuk dengan pernyataan ku. Kemudian menggeleng. "Tentu saja tidak!."


"Jika benar pun tidak masalah. Bisa menjadi alasan kita untuk tidak berpisah. Meski kita tidak akan saling mencintai, tetapi hidup bersama tidak seburuk yang saya pikirkan."


"Jika kamu ingin berpisah kata saja."


"Tidak. Sampai kamu mengatakan mencintai saya. Saat itulah kita berpisah."


Dia menatap tajam. Begitu dengan ku yang tidak lepas dari tatapannya.


"Baiklah." Jawabnya kembali menyantap potongan sosis terakhir. Dan berangkat kerja.


Aku tidak pernah bisa menebak isi pikiran nya. Dan entah kenapa aku mengatakan itu, apakah karena aku ingin tetap bersamanya?. Ah bodoh.


Bersambung...