
"Are you okay, Mahu?"
Aku mengangguk. "Hmm... Iya. Rumah sakit lagi ya?"
"Ya, dua hari."
"Bagaimana pertemuan dengan kedutaan?"
"Sudah di handle sama pak Agus kok, sekarang istirahat yaa... Kerjaan nanti aja dipikirin."
"Bagaimana lagu itu bisa dimainkan di pesta itu?" Ku tatap lekat mata indah Rachel. "Hel, apa mungkin pembunuh itu mengenalku?" Kenangan yang telah tenggelam bertahun-tahun yang lalu, perlahan-lahan akan mengambang ke permukaan.
"Jangan khawatir, dia tidak akan menemukan kita. Mereka mengubah musik untuk sambutan pembuka Robert." Rachel tampak skeptis, aku tahu dia jauh lebih khawatir daripada aku.
Ada kemungkinan itu bisa terjadi. Dan aku bisa terus bersembunyi selamanya. Waktu. Akan selalu menjadi jawaban dan misteri bagiku.
- - πΈπΈπΈ - -
Jerman, februari 2019.
Rutinitasku kembali normal. Bekerja dari pagi sampai malam, kadang-kadang melakukan perjalanan panjang dengan pejabat negara. Tepatnya adalah Duta Besar Indonesia untuk Jerman. Aku bekerja sebagai sekretaris dan penerjemah.
Telepon berdering di meja sekretaris, dan aku langsung mengambil ganggang telepon. "Halo pak. Ada yang bisa saya bantu?." "..." "Baik pak."
Tok... Tok...
Aku melangkah masuk ke ruangan pak Arif Havas
"Selamat siang pak."
"Silahkan masuk Mahu."
"Bagaimana dengan jadwal saya setelah meeting sore ini." Tanya beliau.
"Jam 3-4 sore, pertemuan dengan delegasi siswa Indonesia yang mengikuti olimpiade matematika pak."
"Baiklah. Terima kasih Mahu."
Aku melangkah pergi, kemudian berbalik.
"Pak, jika ada yang bisa saya bantu seperti mengatur pertemuan atau mengosongkan jadwal, mungkin bisa saya lakukan."
"Haha... Kamu seperti peramal. Sangat mengerti apa yang saya butuhkan."
"Dengan senang hati pak." sembari tersenyum.
"Saya ingin menemui keponakan saya malam ini. Sudah lima tahun kami tidak bertemu, rasa rindu dan penasaran bagaimana ia dewasa."
"Sangat beruntung keponakan bapak, punya paman sebaik bapak. Kalau begitu akan saya pilih tempat yang indah."
"Terima kasih Mahu." "Oh ya Mahu, alangkah baiknya kamu juga ikut makan malam kami, pulang lebih awal untuk siap-siap."
"Oh baik pak."
Tepat pukul 19.00 pak Arif bersama istrinya sampai ditempat pertemuan. Sebuah restoran sederhana dengan desain klasik. Namun interior dan jamuan makanannya terkesan mewah. Aku memilih tempat di lantai 3 dengan posisi menghadap langit malam kota Berlin.
"Selamat malam pak-bu." sambut ku ramah ketika mereka turun dari mobil.
"Hei, Mahu sayang." Jawab Isteri Pak Arif. Bu Lindra. Sembari kami saling memeluk. Dan kemudian mengawal mereka ke tempat reservasi. Setelah sampai aku pamit ke toilet. Sengaja memberi ruang untuk suami-istri berbincang. Suasana romantis untuk pasangan.
Saat keluar dari toilet, dari kejauhan aku melihat seorang pria bertubuh tinggi, dengan setelah jas hitam rapi. Berdiri dihadapan Pak Arif dan Bu Lindra, mereka saling memeluk dan menyapa. Terlihat seperti orang tua dan anak. Senyum yang merekah membawa kehangatan.
Aku menghampiri dan menyapa. Diperkenalkan oleh Pak Arif. Dia bernama Teo. Yoo Teo. Kami saling berjabat tangan. Tatapannya dingin sekaligus menghangatkan.
"Sudah berapa lama di Jerman Teo?." Tanya pak Arif.
"Setahun."
"Sudah punya kekasih?."
"Om mau carikan untuk saya?." Ia tertawa. Begitu juga dengan pasangan suami istri itu.
"Bagaimana dengan Mahu?, sudah punya kekasih?." Tiba-tiba Bu Lindra melempar pertanyaan pada ku. Aku membelalak mata.
"Ah tidak bu." Jawabku dengan mulut yang penuh makanan.
"Nah kalau begitu, kalian kencan saja." timpal bu Lindra tanpa bersalah.
Uhuk... Uhuk... Aku langsung meneguk segelas air. "Ah Ibu... Bisa aja becandanya."
Aku melirik Teo yang hanya tersenyum.
"Kalian sangat cocok bersama, Teo sangat menyukai anak-anak, tampan, dokter, penulis buku anak-anak juga. Hebatkan." "Mahu juga sangat baik. Pandai mengurus segalanya. Bisa berbagai bahasa. Dan juga sangat setia." Ucap Pak Arif mendukung Isterinya.
"Sepertinya ini konspirasi Bapak dan Ibu mengatur pertemuan ini." Ucap ku menyelidik. Mereka tersenyum.
Kami melanjutkan perbincangan seputar keluarga Teo, pekerjaannya dan dan keseharian yang dijalankan oleh Teo.
Setelah makan malam usai. Aku dan Teo mengantar Pak Arif dan Isterinya hingga masuk ke mobil dan hilang diujung jalan. Walau mereka menolak. Aku bersikukuh.
Kemudian, tersisa kami berdua berdiri berdampingan. Tidak terlalu dekat namun dapat ku hirup aroma woody aroma khas kayu bergamot, kulit pohon, dan oak moss. Jika aku tidak salah aroma ini terinspirasi dari hutan Barat Cape, Afrika Selatan.
"Terima kasih untuk malam ini." Ucapku tulus pada Teo.
"Ya."Jawabnya. Senyumnya begitu indah. Untuk omongan basa-basi seputar kencan. Entah kenapa aku merasa ingin melakukannya, mengenalnya dan menjadi bagian dari hidupnya.
Kami berpisah. Aku ingin kembali mengejarnya, mengajaknya untuk bertemu kembali. Dan sangat berharap ia melakukan hal yang sama. Namun, hanya imajinasi ku.
Bisakah aku menemuinya lagi?...
Menggali misteri dirinya dan coba untuk memahami.
Bersambung...