
Aku berbaring dikasur empuk menatap langit-langit kamar yang kosong. Memilah kembali pertemuan ku dengan Emma, pertengkaran dengan pria bermata biru, dan mengantar Rachel pulang lalu pulang dan tertidur di sofa. Tempat kejadian dalam mimpi itu pun persis di depan apartemen. Aku bangkit dari tempat tidur, mengambil matras untuk yoga dan melakukan beberapa perenggangan, mengolah pikiran agar lebih tenang dan jernih. Setelah selesai dalam 30 menit, aku langsung keluar dari kamar. Bau darah masih jelas di mimpi ku, aku menengok kearah dapur Teo masih disana memotong ikan segar lalu menuju pintu keluar apartemen.
Aku yakin bukan mimpi tapi diri ku yang lain takut mimpi itu benar adanya. Diluar lorong apartemen bersih tanpa ada bekas darah sedikit pun bahkan pintu bersih pakaian kerja yang ku kenakan bersih. Syukurlah hanya mimpi.
"Ada apa tiba-tiba keluar?." tanya Teo penasaran mengikuti arah pandang ku. Aku menggeleng lalu kembali masuk ke apartemen diikuti oleh Teo. "Kamu tampak linglung, ini minum dulu." Teo menyerahkan segelas air. Lalu menyalakan mesin kopi dan membuatkan americano hangat.
"Thanks." aku duduk di meja makan. Didepan ku ada Teo yang juga menyeruput kopi.
"Jadi mimpi mu terasa begitu nyata sampai harus memeriksa keadaan diluar?."
"Bagaimana Teo bisa tahu?."
"Wajah mu mengatakan segalanya."
"Wah aku harus lebih hati-hati dengan psikiater." dia tertawa.
"Jadi bagaimana hubungan Mahu dengan Rachel? Sudah baikan?." Aku makin mengerutkan dahi. Aku bahkan tidak menceritakan padanya, bagaimana dia bisa tahu. Siapa sebenarnya Teo, begitu hebatnya sampai tahu segalanya?.
"Eh, aku tidak sehebat itu sampai bisa baca isi pikiran orang lain, tapi Rachel cerita pada ku katanya dia sedang menghindari kamu beberapa saat."
"oh, begitu." aku tersenyum padanya. "Hampir saja aku mencurigai kamu penguntit. Haha..." dia ikut tertawa.
"Hari ini aku masak sup ikan Pollak dan lobak, ada roti dan selai srikaya juga. ."
"Pasti enak, terima kasih Teo." ucap ku tulus. Aku bergerak ke dapur mengambil roti dan selai srikaya di kulkas, rasanya mimpi itu menguras energi ku. "Kapan Teo buat selai srikaya ini?."
"Kemarin." Jawabnya sembari beranjak dari duduknya. Beberapa langkah dia telah berada di balik meja dapur.
"Sebaiknya roti dipanggang dulu."
"Aku tidak sabar cobain selai kesukaan ku. Hehhe..." Teo tersenyum. Aku menyantap roti yang telah di oles selai srikaya, begitu nikmat apalagi dipadukan dengan rasa kopi pahit. Lezat. Setelah selesai dengan roti ku. Aku membersihkan kamar dan seisi ruangan, mengalihkan pikiran agar lebih tenang. Namun gambaran si mata biru yang menjerit minta tolong masih jelas. Terus menghampiri memori ku, mimpi sedetail itu membuatku ngeri. Berusaha menyingkirkan dari ingatan pun terasa sulit.
Setelah bersih-bersih, aku mandi, dan bersiap-siap menuju meja makan yang telah ditata rapi. Di meja masing-masing 2 mangkuk nasi kacang, 2 mangkuk sup ikan, dan satu mangkuk kecil kimchi. Perpaduan yang tampak menggiurkan. Aku ingin segera melahap hingga puas tetapi Teo masih dikamarnya sedang berdandan rapi ke kantor.
Beberapa menit kemudian Teo kembali dengan pakaian rapi dan duduk berhadapan dengan ku. Kami langsung memulai ritual makan yang bersahaja. Aku menambah dua kali mangkuk sup, satu mangkuk tidak cukup karena masih terasa lapar. Teo pun terkagum-kangum dengan nafsu makan ku. Dia tertawa melihat ku yang makan terburu-buru dan rakus. Sesekali menegur agar makan perlahan-lahan ku hiraukan tegurannya.
"Ini sangat enak!."
"Akan ku buatkan lagi."
"Thanks Teo, kamu memang terbaik." ku ancungkan jempol.
Tiba-tiba terdengar serine dari kejauhan lama-kelamaan bunyi serine semakin mendekat dan berhenti tepat di depan lokasi apartemen kami. Aku dan Teo yang penasaran mengintip dibalik jendela. Mobil ambulans dan beberapa mobil polisi di bawah. Orang-orang yang lewat pun ikut berhenti. Mungkin penasaran dengan apa yang terjadi, sama seperti kami. Setelah puas mengintip namun tidak menemukan informasi apapun. Aku memutuskan berangkat bersama Teo. Lebih tepatnya aku ingin memastikan kejadian mengerikan sedang terjadi di gedung ini dan semoga tidak berkaitan dengan mimpi ku.
"Loh kok dibuang?." Herannya.
"Ah itu hanya dari orang iseng."
"Tidak dilihat siapa pengirimnya, bisa jadi dari teman atau penggemar rahasia."
"Hanya penguntit yang mengirimkan bunga tanpa identitas."
"Apa! Penguntit?."
"Eh nggak, asal ngomong aja."
"Oh, kirain beneran."
Hampir saja aku ceroboh dan ketahuan.
Tiba di loby, polisi memberi pembatas polisi di dekat meja informasi. Di sana ditemukan potong tangan seseorang dan bola matanya. Begitu yang ku dengar ketika berada di lift bersama beberapa orang penghuni gedung ini. Jantung ku berdetak kencang, keringat dingin bercucuran dari dahi. Memindai sekeliling loby berharap tidak ada yang ku kenali, kemudian mata ku tertuju pada sosok laki-laki yang duduk terkulai di sofa, wajahnya pucat pasi seperti orang ketakutan yang baru saja lolos dari kematian. Aku mendekatinya namun Teo menahan tangan ku. Dengan sigap aku melepaskan tangannya dan menuju kearahnya. Mencari penjelasan apa yang terjadi. Saat aku di hadapannya tiba-tiba dia teriak ketakutan dan menyerangku, untung saja beberapa polisi menahannya.
"Please... Apa yang terjadi?." Tanya ku padanya. Pria bermata cokelat kembaran pria bermata biru terisak histeris, dia kalut. Menyerang siapa saja yang mendekat. "Semua gara-gara kamu, perempuan itu gara-gara dia saudara ku mati. Gara-gara dia, aku akan membunuh nya." ucapnya sembari menunjuk kearah ku.
Karena aku?. Sebenarnya apa yang terjadi.
"Mahu, kamu mengenalnya?." Tanya Teo yang menahan bahu ku ketika pria itu menyerang ku. Aku mengangguk. Kemudian polisi yang mengevakuasi sosok mayat. Wajahnya tidak ditutupi sempurna sehingga aku bisa melihat sosok mayat itu, si pria mata biru tanpa mata berlumuran darah persis dalam mimpiku. Aku membeku. Bagaimana bisa mimpi ku menjadi nyata.
"Mahu ayo kita berangkat." aku mengangguk dan berjalan dipapah oleh Teo. Sebelum masuk ke mobil seorang polisi berseragam menghampiri kami dan meminta keterangan ku. Aku mengatakan mengenalinya di club Tresor dan terlibat perkelahian dengan pria itu yang diketahui bernama Edvard asal Finlandia. Setelah itu aku pulang pukul 12 pagi. Sementara kematian baru terjadi pukul 1.30 pagi. Teo membenarkan alibi ku pulang pukul 12 pagi dan tertidur hingga pukul 4 dini hari.
Sepanjang perjalanan ke kantor, aku terus diam. Bagaimana mimpi itu jadi nyata. Batin ku mempertanyakan hal yang sama. Tentu aku tidak menceritakan kejadian dalam mimpi ku, aku bahkan bertemu pelakunya. Tapi tidak jelas siapa pembunuhnya.
"Kamu pasti syok. Apa sebaiknya cuti kerja dulu?." Seru Teo yang khawatir.
"Nggak perlu. Hari ini ada meeting penting. Aku baik-baik saja kok."
"Kamu yakin?."
Aku mengangguk. "Maaf merepotkan Teo."
"Nggak kok. Kalau begitu akan aku jemput setelah selesai kerja."
"Terima kasih."