
Setelah puas berjalan-jalan diatas air dengan kapal. Kami beristirahat disebuah restoran Prancis untuk makan malam. Kami memesan dua Pasta dan Limun serta bir untuk Jidan.
Hal yang diceritakan Jidan terus berputar di kepala ku, sekeras apapun aku berpikir. Sulit untuk mengingatnya. Terkubur di dasar yang paling dalam. Sejujurnya aku menolak mengingat kejadian mengerikan itu. Aku takut pada diri ku sendiri. Mungkin benar aku seorang pelaku kejahatan.
"Mahu! Mahu! Sudah, nggak usah dipikirkan." Aku tersenyum menatapnya.
"Aku takut pada diri sendiri, Dan. Bagaimana jika benar aku yang membunuh orang-orang itu?."
"Mungkin kamu sudah di penjara saat ini." Aku tertawa pelan. Lanjut Jidan. "Kamu ingat Firdan?."
"Firdan?." Aku berpikir sejenak lalu teringat. "Ohh si Kang Jun itu yaa." Jidan mengangguk. "Ada apa dengannya?."
"Dia sudah jadi kepala penyidik di Bali. Dia menyampaikan salam pada mu."
"Syukurlah impiannya terwujud. Kang Jun masih mengingat ku?."
"Tentu saja, kamu orang yang sulit di lupakan. Kribo, item, tinggi. Ciri-ciri yang mudah diinget."
"Ah dasar rasis. Aku cantik tau, penuh pesona."
Kami tertawa. "Sampaikan salam ku juga untuk Kang Jun." Jidan mengangguk sembari tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu?."
"Lancar. Hanya beberapa problem soal pekerja ilegal yang belum selesai urusannya."
"Tentu saja kamu pun begitukan, Dan." Jidan mengangguk lalu tersenyum, aku memandang ke depan dan membalas senyumannya. Lalu mata ku tertuju pada seseorang yang duduk tidak jauh dari kami. Hanya berbatasan dua meja dan kursi. Posisi kami sama-sama saling berhadapan, membentuk garis lurus. Teo bersama seorang perempuan berrambut pendek yang duduk membelakangi ku namun berhadapan dengan Teo. Bola mata ku dan Teo saling bertemu. Aku terpaku melihatnya. Sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya dan berbincang dengan perempuan itu. Tepatnya aku diabaikan.
"Ada apa, Mahu?." Tanya Jidan yang tiba-tiba melihat ku terdiam memandang ke depan.
"Ooh nggak." Aku tersenyum sembari memainkan serbet. Kemudian seorang pramusaji datang membawakan dua piring Pasta. Lalu beranjak dan kembali membawakan dua gelas minuman, Limun dan Bir.
"Selamat makan." Seru ku. Jidan mengucapkan kalimat yang sama lalu melahap perlahan-lahan pasta yang disajikan. Sesekali aku melirik Teo dengan pasangannya, dia tertawa, tampak ceria bersama perempuan itu, sangat berbeda ketika bersama ku. Mungkinkah itu wanita yang dicintai Teo?. Mereka masih saling bertemu, ah aku pun menghabiskan waktu bersama laki-laki lain. Munafik jika aku pura-pura tidak bersalah.
"Masih memikirkan ucapan ku?." Tanya Jidan yang melihat ku melamun.
Aku menggeleng kepala sembari menjawab. "Nggak kok." Aku melanjutkan makan meski tidak bernafsu namun harus ku paksakan untuk terus melahap Pasta hingga habis.
Ponsel Jidan bergetar. Tanda panggilan masuk. Lalu Permisi menerima panggilan, lima menit kemudian Jidan kembali.
"Mahu, I'm sorry aku harus pergi sekarang, ada urusan dadakan." Jidan tampak panik dan terburu-buru. Dengan tersenyum aku memakluminya.
"Iya nggak apa-apa. Apapun itu tetap hati-hati yaa."
Dia mengangguk lalu beranjak. Tiba-tiba perut ku terasa nyeri lalu berjalan menuju toilet. Sekembali dari toilet Teo sudah tidak di meja itu. Mungkin mereka telah pergi ke tempat lain. Aku mengambil tas dan menuju kasir. Namun telah dibayar oleh Jidan.
Aku menuju apotik terdekat membeli obat nyeri perut lalu meminum obat dan kembali ke apartemen. Di tengah jalan aku menerima telpon dari seorang pria yang menggunakan telepon Rachel, segera aku menuju club malam tempat biasa Rachel berpesta ketika berada di Berlin.
Bersambung.... 💕