First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Leave It All Behind



Dalam keadaan frustrasi aku kembali ke apartemen.


Aku membenci mu!, kamu merebut segala yang ku miliki.


Pesan dari Rachel.


Apalagi ini, kenapa?, apa yang ku rebut. Salah ku lagi. Jidan menuntut, Rachel membenci, dan Teo yang juga membenciku. Kenapa?. Apa yang salah denganku. Aku tidak membalas pesannya. Lalu menuju apartemen dengan berjalan kaki.


Saat di loby apartemen aku bertemu dengan Teo yang juga baru pulang dari suatu tempat. Dia diam seperti biasa. Laki-laki berdarah dingin. Tatapan dan senyuman menakutkan itu memberi pesan 'aku membenci mu!' tatapan mengintimidasi selalu membuat ku tersudut. Kami menaiki lift bersama. Suasana kaku menghiasi ruang segi empat ini. Dada ku serasa sesak.


"Apa dia teman mu, huh. Bukannya dia kekasih mu!. Bilang saja berkencan tidak perlu berbohong."


"Bohong?. Apa peduli mu dia kekasih atau bukan. Bukannya kamu juga sama seperti ku."


"Kamu istri ku, wajar jika aku peduli!."


"Isteri?, kita hanya pura-pura!." Kata-kata terakhir itu membuat kami terdiam. Teo berjalan keluar lift ketika kami sampai di lantai apartemen kami. Aku mengikutinya dari belakang. Dada ku sesak, kepala terasa berat dan di tekan.


"Apa salah ku, huh?. Kamu mendiami ku meski aku mencoba bicara lebih dulu, kamu mengabaikan aku seakan-akan aku orang asing, manusia yang tidak ada di dunia ini. Aku juga punya perasaan, kenapa kalian selalu membenci ku?, Rachel, Jidan, Mama, dan kamu Teo sama saja selalu menyalahkan ku, menuntut sesuatu lalu ketika aku tidak sesuai ekspektasi kalian, kalian marah, membenci lalu menjauhi ku. Sekuat apapun aku berusaha tetap dipandang sia-sia."


Kalimat itu keluar keudara begitu saja. Seakan aku lepas kontrol dan melampiaskan pada Teo yang telah berdiri menatapku.


Aku menatapnya tajam seolah-olah menantangnya dan kembali mengamuk. "Pernahkah kamu menghargai ku ada?, kau membenci karena menikah dan tinggal bersama ku lalu kenapa menerima perjodohan bodoh ini, huh. Lalu Rachel dan Emma siapa yang kamu cintai?, mereka menyalahkan ku, harusnya kamu menikahi mereka saja, kenapa aku?. Kenapa aku yang disalahkan!."


Sedetik kemudian seperti tersadar aku diam, menunduk merasa bersalah. Karena malu aku berlari masuk ke apartemen, melewati dirinya yang masih terdiam menjadi korban amukan ku.


Pukul 01.00 pagi, setelah pertengkaran hebat dan mengingat kejadian bersama Jidan, dan Rachel, membuat ku tidak bisa terlelap. Upaya untuk tidur sudah ku lakukan seperti yoga bahkan melukis agar tubuh bisa tidur tapi nihil.


Pikiran ku selalu menjelajah pada mereka, bahkan kisah pembunuhan, masa lalu yang menjadi teka-teki menjadi beban pikiran. Tepat pukul 03.00 barulah aku bisa terlelap kemudian terbangun pukul 06.30 pagi.


Gemericik air di dapur menandakan Teo sudah siap dengan sarapan namun aku terlalu malas untuk bangun. Dan mengingat kejadian semalam membuatku malu karena itu aku memilih mengunci diri di kamar lalu terlelap lagi.


Tiba-tiba perut ku terasa sakit. Sangat sakit. Ku lihat sudah pukul 15.00 sore di layar ponsel. Aku begitu capek hingga bolos kerja. Aku keluar menuju dapur dan memimun air mineral. Kulihat di meja sudah tersedia bubur, sup rumput laut, dan belut. Enak tapi aku tidak bernafsu makan.


Bel apartemen berbunyi. Aku membuka pintu dan seorang kurir mengantarkan bucket bunga tulip. Aku menerima bunga itu lalu membuang ke tong sampah. Tidak ada pengirimnya maupun surat ancaman yang sering ku terima.


Jika di pikir, mungkinkah karena si pengirim bunga itu yang membuat Bruce, Jill, dan Greg menghilang? Siapa sebenarnya pengirim itu. Aku mengambil kembali bunga itu dan kembali ke kamar.


Namun nyeri perut ku semakin menjadi-jadi dan tidak tertahankan. Sakit perut ini membuat aku terjatuh. Aku berusaha berdiri dan tergopoh menuju kamar mencari obat semalam yang ku beli.


Tidak sengaja aku menyentuh gelas dan terjatuh tetapi tidak pecah. Hanya tumpahan air membuat lantai basah. Pijakan ku pada kursi oleng dan terjatuh lagi.


Aku berusaha masuk ke kamar sekuat tenaga dan meraih tas ku. Namun sakit yang menusuk membuat aku terjatuh meringkuk di samping tempat tidur.


Sembari menahan sakit aku mencari kontak yang bisa ku hubungi. Gina. Tolong semoga ia menjawab.


"Halo mbak, ada apa?." Aku tidak sanggup menjawabnya. Sakit perut ini semakin menjadi, menusuk dan tidak memberi ampun. "Gin, t-t-tolong aah... Tolong aku Gin." suara ku nyaris tidak terdengar. Aku meringis kesakitan. Entah Gina mendengar atau tidak. Pandangan ku gelap.


Siapa pun, tolong aku.


***


Teo kembali ke kantornya setelah makan siang dengan rekannya. Mereka berdiskusi hingga sore. Teo melihat notifikasi di ponselnya 10 panggilan dari Mahu, Teo langsung berlari menuju tempat parkir dan terjun ke mobilnya lalu melajukan mobil.


Mengemudi mobil seperti orang yang kesetanan, khawatir sesuatu terjadi pada Mahu. Saat sampai di apartemen Teo berlari menuju lift namun masih menunggu hingga lantai 11 sebelum menuju lantai dasar. Dia putuskan berlari menggunakan tangga darurat hingga ke lantai kamar mereka.


Di depan kamarnya dia melihat seorang perempuan berpakaian batik sedang mengedor-ngedor pintu kamarnya.


"Sepertinya mbak Mahu terluka." Ucap Gina membuat Teo semakin was-was ia segera membuka pintu. Di pintu masuk ada bunga yang berserakan, gelas yang terletak di lantai. Dia segera menuju kamar Mahu yang tidak terkunci.


Mahu yang tergeletak dilantai, meringkuk bagaikan bayi dalam kandungan ibu. Dengan cekatan ia menggendong Mahu lalu membawa ke rumah sakit.


"Berapa lama Gina sampai disini?." Tanya Teo pada Gina yang ikut berlari bersamanya. Gina sama khawatirnya dengan Teo.


"15 menit setelah mbak Mahu menelepon."


Teo memerintah Gina menyiapkan mobil, mereka melaju dengan kecepatan penuh. Sesampai di rumah sakit Mahu langsung ditangani dokter.


"Thanks Gin atas bantuannya. Kamu bisa kembali biar aku yang jagain Mahu." Ucap Teo setelah memastikan Mahu baik-baik saja.


"Mbak Mahu baik-baik aja kan?."


"Iya, hanya nyeri perut karena stress."


"Ooh syukurlah kalo mbak Mahu baik-baik aja."


"Makasih yaa Gina."


"Iya, Mas Teo. Saya pamit."


Mahu masih belum sadarkan diri. Dia masih terlelap. Teo duduk di samping tempat tidur sembari mengawasi Mahu.


Salah ku. Tidak seharusnya aku mengacuhkannya, bodoh. Mahu sudah cukup terbebani teman-temannya dan seseorang yang terus menerornya dengan bunga. Batin Teo.