First Man In My Life But He Kill Me

First Man In My Life But He Kill Me
Dilema



Mahu telah kembali ke Villa diantarkan oleh Firdan. Mereka menghabiskan sore bersama. Sementara Teo masih terjebak dalam kehangatan keluarga Mahu dan Rachel tentu saja disamping Teo.


Mereka bersama hingga makan malam. Waktu berdua yang diidam-idamkan oleh Rachel sejak pertama kali mengenal Teo membuatnya bahagia


Rachel diam-diam memandang Teo, memperhatikan dengan saksama paras tampan laki-laki pujaannya. Dia begitu bahagia hingga membuatnya berdebar tak menentu.


"Besok jalan-jalan yuk." Ajak Rachel.


"Iya, boleh. Aku harus menepati janji jalan-jalan di Bali yaa kan." Setuju Teo. Rachel mengangguk bahagia lalu menggandeng Teo, namun Teo melepas secara perlahan.


"Apa yang disukai Mahu?." Tanya Teo.


"Melukis. Warna favoritnya hitam. Lagu jadul, band indie Jepang, Korea, atau Barat adalah favorite nya."


Rachel menyadari dia tidak ada disana. Di hati Teo namun ia ingin menikmati waktu bersama lelaki tercintanya.


"Mahu sebentar lagi berulang tahun tapi aku nggak tahu harus diberi hadiah apa."


"Mau aku temenin belikan hadiah untuknya?."


"Kamu nggak keberatan?." Tanya Teo.


"Tentu saja tidak." Jawab Rachel. "Kalo gitu besok kita jalan-jalan bareng yah, lusanya mencari hadiah untuk Mahu."


Mereka setuju dan berpisah. Teo berlalu dengan mobilnya. Dan Rachel menatap hingga mobil tidak kelihatan barulah dia masuk ke resort tempatnya menginap.


Pagi buta Teo, Mahu, dan Rachel berburu sunrise. Seperti yang dijanjikan Teo, mereka bertiga liburan bersama. Mahu menelan mentah-mentah egonya. Memahami sahabatnya.


Mungkin saja Teo dan Rachel seharusnya bersama. Mereka tampak serasi. Teo pun berbeda ketika bersama Rachel. Dia lebih bahagia. Mahu membatin. Lagi dan lagi.


"Hai..." Sapa Mahu ketika menjemput Rachel. Dia tersenyum manis. Membiarkan takdir Tuhan berbicara. Jika kebersamaan ini adalah petunjuk terbaik. Maka lebih baik ia menikmati hari bersama Teo dan Rachel. Toh mereka sama-sama sahabat berharga yang ia miliki.


Mereka menikmati sunrise dalam diam. Mengingat dengan saksama moment berharga itu dan menyimpan dihati.


Perjalanan selanjutnya mereka ke Monkey Forest lalu ke bukit campuhan hingga pada sore hari menunggu sunset terbenam.


Mahu memesan jagung untuk mereka bertiga. Dia memandangi dari kejauhan Rachel dan Teo yang tertawa bersama. Pertama kalinya ia melihat Teo tertawa terbahak-bahak seperti itu melihat tingkah lucu Rachel yang bergaya ala monyet.


Terselip rasa iri pada Rachel yang bisa sedekat itu dengan Teo. Dia hanya menyunggingkan senyum ceria.


"Menyenang sekali hari ini." Seru Mahu. Rachel tampak bangga.


"Iya dong." Jawab Rachel sembari merangkul lengan Teo. Dia duduk disamping Teo. Sementara Mahu duduk berhadapan dengan mereka. Teo sendiri tampak canggung terlalu dekat dengan Rachel disaat bersama Mahu.


Meski Teo sering kali menghindar, Rachel semakin mendekat. Jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dan seperti dugaan Rachel, Mahu tidak marah sama sekali. Semakin memperkuat asumsi Rachel terhadap hubungan aneh antara Mahu dan Teo.


Esok pagi.


"Aku pamit dulu yaa. Janji ketemu sama temen Gina." Ucap Mahu kepada Teo saat berangkat pagi-pagi.


"Hati-hati..."


Seseorang telah menunggu Mahu di kedai caramel. Sebuah kedai kecil yang nyaman untuk mengobrol. Saat Mahu tiba di sana ruang tampak kosong. Wajar masih sangat pagi untuk orang datang nongkrong.


Dia naik ke lantai dua. Seseorang yang duduk mengharap jalan dan membelakangi tangga masuk. Mahu mencoba menelepon kontak yang diberikan Gina. Pria itu mengangkatnya. "Hallo?."


Mahu mendekat dia tampak mengenali sosok itu. "Hai... Kang Jun?." Firdan berbalik melihat Mahu. Dia tampak heran dengan kedatangan Mahu. Mereka sama-sama mengecek HP berpikir bahwa salah nomor.


"Temen Gina?." Sama-sama berseru. Lalu terkekeh


"Dunia kita sempit banget yaa."


"Iya. Dan kamu Kang Jun temen Kepala Polisi divisi forensik?."


Mereka takjub dengan kebetulan yang telah terjadi.


Seorang Barista mengantar kue tart dan Americano Hot. Karena masih pagi sang Barista melayani mereka dari memesan, membuat, hingga mengantarkan pada pelanggan.


"So, what's you want to know?."


"Aku dengar kamu pernah menyelidiki kasus 8 tahun lalu pembunuhan berantai di Bandung?." Firdan mengangguk.


"Boleh aku tahu alasannya?." mereka sama-sama menyeruput kopi.


Mahu berpikir sejenak mengolah kata yang tepat. "Ada yang harus aku selesaikan. Menulis cerita." dia berbohong.


Tatapan Firdan mendeteksi kebohongan Mahu. Namun ia berusaha memahami sebuah alasan yang tidak ingin diungkapkan oleh Mahu meski ia juga terlanjur penasaran.


Firdan menyerahkan amplop cokelat. Dan Mahu segera membuka isi amplop itu. Dokumen penyelidikan Firdan selama 4 tahun terakhir.


Foto Desa kecil nan elit, Rumah berwarna putih dengan danau di depan rumah, halaman bunga yang ditemukan tiga kerangka manusia, laki-laki leher dicekik dan bola mata di genggaman, jejeran 6 mayat yang di keluarkan dari danau, pria tua yang ditemukan di kamarnya dengan bersimbah darah serta koper dengan seorang gadis di dalamnya meringkuk kedinginan.


Mahu terdiam melihat gadis itu, lalu memperhatikan gambar laki-laki dengan genggaman bola mata. Mereka tidak asing baginya. Gambaran gelap dan samar-samar bermunculan tapi tidak ada apapun yang terjadi.


"Itu Alex dan kamu." Seru Firdan ketika melihat Mahu memperhatikan dua foto itu. "Kamu kunci kasus ini."


"Kejadian yang mengerikan terjadi di desa dalam semalam dan kamu satu-satunya yang selamat."


"Aku tidak mengingat apa pun."


"Aku tahu. Itu ada di keterangan polisi. Aku harap kamu tidak mencari tahu lebih lanjut, ini sangat berbahaya."


Mahu tersenyum. "Apa yang terjadi pada mereka?." Mahu menunjuk foto 6 mayat yang di temukan di danau terbungkus plastik. Tubuh yang tidak berbentuk.


"Mereka di culik 1 tahun sebelum ditemukan. Rata-rata penghuni desa itu. Hanya dua kerangka di taman mahasiswa yang berkunjung ke desa."


"Dan pria itu di temukan saat kamu menghilang malam itu, rumah ini. Tempat party ulang tahun Rachel."


"Petunjuk yang aku temukan hanya jam tangan ini." foto jam tangan bermerek dengan harga puluhan juta. "Pelaku bukan orang biasa, dan sayangnya tidak ada DNA yang ditemukan selain kamu dan pria tua itu."


Kenapa dia membiarkan aku hidup. Apa yang ingin dia mainkan?.


"Apakah ada seorang yang datang menghubungi mu?. Meneror atau melukai kamu?."


"Haha... Nggak dong. Sejauh ini tidak ada yang meneror ku, apa hubungannya?."


"Pembunuh biasanya tidak akan meninggalkan korbannya, itu bisa berbahaya baginya. Alasan korban selamat pertama berhasil kabur dan kedua sengaja dibiarkan oleh pembunuh. Dalam kasus kamu ditemukan di koper tentu karena kesengajaan. Dan itu tidak bisa ku temukan jawaban yang jelas."


"Kenapa kamu menyelidiki kasus yang telah lama selesai?."


"Melindungi mu. Dan tentu akan menangkap pembunuh Alex."


"Alex sahabatku, aku harus menepati janji ku padanya."


"So, bisakah kamu meluangkan waktu untuk jalan-jalan bersama? Kasus ini biar aku yang selesaikan."


Mendengar kalimat terakhir Firdan membuat Mahu berpikir. Banyak hal yang ingin dia cari tahu. Mencari dan menemukan kebenaran dari dirinya. Alasan orang-orang tidak bersalah ini mati mengenaskan. Mungkin dia sebabnya tetapi mengapa?.


"Iya, tentu." Jawab Mahu menyetujui ucapan Firdan tentangnya untuk berhenti mencari tahu terkait kasus itu.


Dan teror yang diterimanya hingga hari ini membuatnya semakin yakin. Seseorang pasti datang membunuhnya.