
Saya ingin berhenti sejenak. Lupakan semua yang telah kita alami. Namun, kenangan dan kebencian telah menggerogoti ku. Dan kamu tahu, hanya kematian yang akan menghentikan ku. Maka musnakan aku dan kebencian ku.
- - - - - - -
"Mahu, malam ini kamu harus ikut berpesta."
"nanti aja deh, mager keluar." Jawabku.
"Ayolah, malam ini kamu harus ikut. Banyak pria tampan, kita bisa berpesta dan melupakan penat di kantor. Ayo ... Temenin aku yaa." Mohon Rachel sembari menarikku dari kasur.
Dia memilih pakaian untukku dan memberikan gaun merah mencolok yang sangat seksi.
"Aku ikut tapi aku yang pilih sendiri pakaian ku. Oke."
"okey." jawab nya sembari senyum kemenangan.
------
Dentuman musik yang diiringi oleh seorang DJ dengan Paras rupawan. Wajar saja berpesta menjadi hal yang menyenangkan. Orang-orang berkumpul dan berjoget melepaskan semua beban.
Ini pertama kalinya aku memasuki club. Atau tempat pesta perayaan ulang tahun teman Rachel yang berasal dari Amerika Serikat dan merayakan di Hong Kong.
"Rachel, sepertinya aku salah kostum deh."
"Udah jangan bawel, kan sudah ku bilang jangan pake setelan seperti itu. Kaos, blezer dan sepatu. Persis seperti bodyguard ku."
"Ejeklah sepuasnya." ia merangkul ku dan menarik agar berjalan beriringan. Entah siapa yang dicari nya. Aku hanya mengikutinya menjelajah tempat asing ini.
"Hai Rachel, Wow sangat cantik." Sapa seorang pria tampan dan cantik mungkin?. Mereka Cipika-Cipiki. "Siapa gadis eksotis ini?".
"Oh, Kenalin Mahu, Mahuzes sahabat ku. Dan Mahu ini Robert, raja peserta kita malam ini."
"Selamat menikmati pesta kita Mahu sayang." kami saling berpelukan.
"Okey, kalian adalah tamu spesial, jadi. Let's goo ke tempat istimewa itu"
Kami menaiki beberapa lantai. Seperti labirin rahasia kemudian tiba-tiba sampai ditempat dengan pemandangan langit malam.
"Wow luar biasa Robert." ucap kami bersamaan.
"Let's berburu lelaki mu." haha...
"Terima kasih Robert, love you." ucap Rachel.
"gue 7 tahun di Bandung, jadi bisa bahasa indonesia."
"Wajah mu jelas sekali bertanya Mahu..." haha...
" Wow ... Robert, ini luar biasa. Dari mana kamu mengumpulkan mereka semua." Kagum Rachel,
Aku memberi tatapan setuju pada Rachel. Tempat ini dipenuhi laki-laki tampan dan perempuan super seksi serta rupawan bak model.
Robert memberi kami minum, berkenalan dengan beberapa temannya dari kantor diplomasi, kebanyakan dari mereka adalah pengusaha terkenal dan memiliki banyak aset. Pesta ini bukan hanya pesta biasa tapi kesepakatan bisnis ada di sini. Entah jenis transaksi apa yang mereka lakukan.
Aku meninggalkan Rachel yang sedang bermesraan dengan seorang pria. Dan Robert tentu saja ia harus menyambut teman-temannya yang datang.
"Hai, bisa memesan segelas air mineral?. "
Bartender memberikan segelas air untukku. Aku duduk menghadap bar, sesekali memperhatikan orang-orang sekitar.
"So, tidak biasa minum?" aku mengangguk. "Akan ku buatkan cokelat untuk mu."
"Oh thank you."
"Di sini sendirian?." tanya bartender. Seorang perempuan dengan mata emerald.
"Tidak, aku bersama teman ku."
"Tempat yang luar biasakan?, kamu bisa menemukan lelaki kaya untuk di nikahi atau bisa berkencan."
"Yep. Bener sekali. Tapi aku tidak tertarik."
"why?."
"Mereka hanya akan menghabiskan waktu memperhatikan penampilan, menghamburkan uang yang mereka miliki. Aku lebih memilih menghargai diriku, uang ku, untuk yang lebih bermakna."
"Seperti malaikat."
Aku tersenyum memandangnya.
Tiba-tiba alunan instrumen Mozart dimainkan. Memberikan suasana tenang. Namun bagi ku, mencekam. Serasa mencekat nafasku.
Banyakan gelap dan sosok tubuh kekar bagaikan monster mendekat. Menerkam orang-orang yang menghalangi jalannya. Nafasnya memburu, ia berlari kencang mengejar ku.
"Rachel! Rachel! Rachel!" teriak ku, seseorang menahan ku, suaranya samar-samar. Suara Rachel kembali mendominasi "Mahu... Mahu... Mahu... Please Mahu." instrument yang memberi kesakitan ribuan kali.
Kenangan yang ingin ku lenyapkan, tangisan dan jerit kesakitan dari gadis kecil yang tidak bisa ku selamatkan. Gelap. Aku tidak ingin mati.
Bersambung...