
"Mahu, mama tadi telpon." Teo bersuara sebelum aku masuk ke kamar. "Mama mau kita honeymoon."
"Besok aja yaa kita bahasnya."
Aku mengambil handuk lalu segera berendam dalam bathup, menyalakan lilin aromatik, berharap dapat meredakan penat. Namun huru-hara otak bergerilya tidak mau diam, tidak mau berdamai dengan diri ku dan terus menelisik kejadian tadi sore dengan Rachel. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti tentang hubungan manusia, rumit untuk dimengerti oleh orang aneh seperti ku. Aku tidak mau disibukkan dengan suatu keriwutan jalinan kasih, entah bersama keluarga, pertemanan, atau kekasih. Merepotkan. Tetapi, orang-orang terus saja berdatangan menuntut sesuatu padaku. Aku harus begini lalu begitu agar mereka tetap bersama ku. Bisakah aku memilih tidak memiliki siapapun?. Di satu sisi aku pun takut. Takut direnggut dalam kesepian, kesedihan. Setelah ku pikirkan lagi, Bukankah saat ini pun aku merasakan kesedihan dan kepedihan meski telah menjalin hubungan dengan manusia lain.
Bagaimana rasanya yaa. Hidup tanpa hiruk pikuk manusia, tanpa direpotkan tuntutan kehidupan, tuntutan karir, bagaimana jika aku bersembunyi di gua, kembali pada kehidupan zaman purba. Bagaimana rasanya hidup seperti itu.
"Mahu!."
"Iya, ada apa Teo?."
"Masih lamakah?, saya mau ke toilet."
"Oh sebentar."
Oh astaga sudah lebih dari 30 menit aku berendam. Segera membasuh diri dan berpakaian lalu keluar melihat Teo duduk mematung menahan sesuatu dari dalam dirinya untuk segera dituntaskan. "Oh maaf yaa lama, good night Teo." entah dia mendengar ku atau tidak, sesuatu yang tidak tertahankan itu membuatnya bergerak secepat kilat. Dalam huru-hara kebatinan aku mencoba untuk terlelap.
Jam weker menunjukkan pukul 5.30 AM, bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut dan membuka jendela, lalu menghirup kesegaran pagi. Terdengar gemerisik air di luar sana. Bukan hujan. Tapi ulah Teo, manusia rajin yang selalu bangun pagi dan membuatkan sarapan atau pun berbenah. Sebenarnya ini adalah suatu berkah, biasanya perempuan yang menikah akan tuntut untuk memasak dan mengurus rumah. Berbeda dengan Teo, dia tidak pernah menuntut hal itu, katanya kesadaran masing-masing orang. Dia terbiasa bangun pagi dan berbenah selain itu menyukai dapur sebagai sarana terapi. Mendamaikan.
Setelah membasuh wajah, aku menuju dapur kecil dengan peralatan masak yang lengkap. Nasi telah dinanak, telur omelet sudah masak, tersisa sup tauge yang dalam proses pembuatan.
"Ada yang bisa saya bantu?."
"Saya sudah hampir selesai."
Lihatlah tangannya kekar memperlakukan tauge dengan lembut, tahu dipotong dadu lalu dimasukkan ke dalam wajan berisi kaldu, hebat. Jika membandingkan diriku bahan-bahan masakan itu akan kacau balau, hangus, dan berantakan. Masakannya pun sangat enak. Jauh lebih enak dari masakan mama. Dia lebih cocok menjadi seorang koki dan membuka restoran, dari pada menjadi seorang Psikiater.
Sementara Teo memasak, aku membersihkan setiap sudut ruangan mulai dari kamar ku, toilet, ruang tamu, kamar Teo dan menyiram tanaman di balkon. Meski sebenarnya tidak ada yang perlu dibersihkan, apartemen ini tampak bersih. Hanya alasan ku agar tidak hanya menatap Teo memasak. Aku duduk di balkon, memandang langit biru tidak berawan. Lalu beralih ke tanaman lalu berbalik ke sumber suara.
"Mau kopi?." manusia indah bagai patung Yunani. Ah bukan. Aku belum pernah melihat seperti apa patung Yunani. Tapi Teo lebih indah dari itu, kulit putih bersih dengan air muka tanpa senyuman namun memikat makhluk lain untuk mengagungkan keindahannya.
"Oh boleh boleh." aku mengikuti jejak Teo dari belakang menuju dapur kecil kami. Diatas meja sudah tersedia biji kopi dan alat penyaring manual, dia memasukkan biji kopi ke grinder manual lalu menggiling hingga halus. kemudian tanpa aba-aba aku membantu menyiapkan teko berisi air panas, paper filter, V-60, dan gelas kaca untuk menyeduh biji kopi. Setelah selesai menghaluskan biji kopi, Teo langsung menyeduh biji kopi Kintamani. Aroma kopi dan udara pagi beradu melahirkan harmoni kesegaran.
"Thanks Teo!."
Kami duduk di balkon menyesap kopi dari gelas sedikit demi sedikit.
"Kamu juga suka kopi ya?."
"Iya, saat kuliah pernah bekerja di kedai kopi. Sedikit tau tentang kopi."
"Nggak juga. Punya Teo yang terbaik!. Masakan, jus, kopi, apapun yang dibuat Teo selalu enak."
"Benarkah?."
"Iya."
Pukul 7.00 aku bersiap-siap berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Teo. 30 menit kemudian kami telah duduk di meja makan. Kami menyantap makanan sehari-hari. Nasi kacang merah, sup, omelet dan sosis yang begitu lezat. Sembari mendengarkan berita terkini. Rutinitas ku sebelum berangkat kerja mendengar atau membaca berita, disamping tuntutan kerja sejak kuliah memang telah terbiasa update hal baru.
Subuh tadi ditemukan mayat lagi yang dibekukan di sebuah rumah tua. Korban belum teridentifikasi, seluruh kota gempar dengan penemuan mayat, bermunculan stigma pelaku akan beraksi lagi dan setiap orang diharapkan berhati-hati karena setiap orang bisa saja menjadi korban selanjutnya. Setelah sarapan aku mencuci piring sementara Teo berpamitan duluan.
Aku kembali mendengarkan pewarta berita, dalam seminggu ditemukan 2 mayat perempuan dan 1 orang lelaki paruh bayah dengan kondisi mengenaskan mata mereka di congkel, mulut dirobek, bagian-bagian tubuh mereka yang lain terpisah dari badan. Setiap potongan tubuh mayat ditemukan pola bunga tulip, diduga pembunuhan berantai yang dilakukan beberapa tahun lalu. Dan pelaku, motif, dan pola membunuhan masih dalam proses penyelidikan.
Saat hendak keluar apartemen, setangkai bunga mawar tergeletak depan pintu dengan pita menempel ditangkainya bertuliskan "to my love Mahu". Lagi. Bunga-bunga ini selalu menghantuiku. Sejak 3 tahun terakhir aku selalu mendapatkan kiriman bunga misterius, selama itu pula bunga-bunga itu layu dan ditelan waktu. Aku minta pertolongan teman ku yang bekerja di badan forensik untuk meneliti, bisa jadi seseorang dengan sidik jari yang sama di bunga tersebut ditemukan pada bunga itu. Tapi nihil. Sidik jari yang ditemukan hanyalah para pedagang bunga. Sebanyak bunga itulah sebanyak itu pula aku menemui berbagai penjual bunga dan berbagai hipotesis mungkinkah salah satu dari mereka pengirimnya. Teka-teki itu tidak pernah ku temukan hingga kini.
Jam istirahat saya jemput yaa, kita makan siang.
Iya. Jam 1 yaa.
Aku membalas pesan dari Teo.
Waktu bergulir disibukkan dengan aktivitas kantor membuat ku melupakan pengiriman bunga. Namun tidak demikian, teka-teki baru menghampiri ku.
"Mbak Mahu, ada kiriman bunga untuk mbak." Ucap seorang staff yang menghampiri. "Ciee... Romantisnya." ucap seorang rekan kerja lagi. Aku hanya tersenyum kecut lalu mengambil bunga darinya sembari berucap terima kasih. Kali ini serangkaian bunga anyelir perpaduan merah tua dan putih, sebuah surat merah menancap disana.
***To beautiful Mahu.
I'm always be with, love you***...
Your murder.
Bulu kuduk ku bergidik, ini bukan cinta tapi ancaman pembunuhan. Kenapa. Kenapa selalu aku?. Semakin jauh aku berlari semakin dekat kenangan dan kematian mendekat pada ku. Apa yang harus aku lakukan?.
Bersambung......
#Informasi
- Mulai minggu depan Update setiap senin dan kamis. 🙂🐣
- Semoga saya bisa konsisten update nya. 😉