
Naora keluar dari rumah menuju teras sambil membawa mampan yang berisi teh dan kue kering untuk ayahnya dan Erlangga. Sambil tersenyum kepada Erlangga, Naora meletakkan mampan tersebut diatas meja.
"Silahkan diminum kak,,,!" Naora mempersilahkan untuk minum sambil duduk disamping ayahnya.
Naora memanggil Erlangga dengan sebutan kakak.
"Terima kasih Naora" Ucap Erlangga.
Erlangga meraih cangkir teh kemudian meminumnya, pak Ferry juga ikut melakukan hal yang sama.
"Bagaimana kamu bisa mengendalikan Ramon,,,?" Tanya pak Ferry setelah meletakkan minumnya kembali.
"Selama ini tidak orang yang mampu melakukan hal itu".
"Entahlah paman,,,! Saya juga tidak terlalu mengerti. Saat itu saya hanya mengajak Ramon untuk berdamai dan ternyata Ramon menerima permintaan saya tersebut" Jelas Erlangga.
Erlangga tidak menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi diantara ia dan Ramon, karena ia telah membuat kesepakatan dengan Ramon untuk merahasiakan apa yang sesungguhnya telah terjadi.
"Semudah itu,,,,? Paman masih tidak bisa mempercayainya. Walau bagaimanapun hal itu tidak masuk akal" Ucap pak Ferry.
"Paman tidak perlu khawatir, untuk saat ini hubungan kami telah membaik" Jelas Erlangga.
"Tapi bukankah itu aneh,,,!" Naora yang tadinya diam ikut berkomentar.
"Ya jujur saja, itu memang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Ramon bisa dengan mudahnya setuju dengan dengan permintaan kak Angga. Semua orang juga tahu bagaimana sifat Ramon yang sesungguhnya".
Naora menatap Erlangga penuh curiga
"Apa yang kakak sembunyikan dari kami,,,? Apa yang telah kakak lakukan,,,? Apa yang sebenarnya telah terjadi antara kak Angga dan Ramon,,,?".
Erlangga terdiam mendengar pertanyaan dari Naora, ia tahu benar kalau Naora bukan orang yang mudah untuk dibohongi.
"Menurut kamu apa yang telah terjadi,,,?" Erlangga berusaha mengalihkan pikiran Naora dari prasangka.
"Apa mungkin aku mengancamnya,,,? Apakah itu mungkin,,,? Kamu akan percaya kalau aku berkata seperti itu,,,?".
Naora tidak menyangka kalau Erlangga bisa membaca isi pikirannya.
"Kalau memang bukan seperti itu, terus apa,,,? Apa yang telah kak Angga lakukan,,,?".
"Kesepakatan,,,! Kami melakukan sebuah kesepakatan,,,!" Jawan Erlangga.
"Kesepakatan,,,? Kesepakatan apa,,,?" Tanya Naora.
Erlangga tertawa karena Naora terus bertanya dan ingin tahu kebenaran yang sebenarnya. Memang seperti itulah sifat Naora, ia selalu curiga dan tidak akan mudah percaya begitu saja.
"Kamu begitu penasaran ya,,,?" Ucap Erlangga sambil tersenyum.
"Tapi maaf aku tidak bisa menceritakannya kepada orang lain. Aku telah berjanji kepada Ramon".
"Sudah Naora, kamu jangan bertanya terus. Mungkin Erlangga memang mempunyai alasan sendiri" Ucap Pak Ferry.
Naora tampak kecewa karena Erlangga tidak mau menjawab pertanyaannya.
Erlangga bisa melihat kekecewaan itu sehingga ia memutuskan untuk pergi sebelum keadaan menjadi tambah rumit.
"Sudah larut malam paman, saya permisi pulang dulu,,,!" Erlangga berdiri dan pamit pulang.
"Mau pulang sekarang,,,? Kamu tidak menginap,,,?" Tanya pak Ferry.
"Iya, kenapa kakak pulang,,,! Kak Angga menginap saja disini malam ini. Kamar kak Nauval kan kosong" Ucap Naora.
"Tidak apa- apa Naora, aku mau langsung pulang saja. Mari paman, saya pulang dulu,,,!".
Erlangga keluar menuju motornya dan bergegas pergi.
"Kenapa ayah tidak menahan kak Angga,,,?" Naora kecewa karena Erlangga tidak mau menginap.
"Ayah tidak punya alasan untuk menahan Angga, lagipula kamu seharusnya lebih mengerti dia" Ucap pak Ferry.
"Ayah tahukan, aku menyukai kak Angga,,,? Kenapa ayah tidak mau membujuk kak Angga,,,?".
Pak Ferry tahu putri menyukai Erlangga namun beliau juga tahu kalau Erlangga tidak punya perasaan khusus kepada Naora, ia hanya menganggap Naora sebagai adiknya saja.
"Naora, kalian sudah dewasa, kalian sudah saling mengenal sejak lama. Seharusnya kamu yang lebih memahami Erlangga, kamu pasti tahu apa yang sebenarnya Erlangga rasakan" Ucap Pak Ferry.
"Tapi ayah,,,,! Ayah kan bisa membujuk kak Angga untuk mau membalas perasaan aku. Kak punya hutang budi sama ayah, ayah bisa meminta kak Angga untuk membalas budi ayah itu" Ujar Naora.
"Kamu salah akan hal itu Naora. Erlangga tidak punya hutang budi kepada ayah tetapi ayahlah yang punya hutang budi kepada Erlangga dan juga kedua orang tuanya. Jadi kamu jangan pernah mengungkit- ungkit masalah ini lagi".
"Tapi ayah,,,!".
"Cukup Naora, ayah tidak mau mendengar hal ini lagi. Kalau kamu memang sangat menyukai Angga maka kamu harus berusaha untuk mendapatkan hatinya, ayah akan selalu mendukungmu".
Pak Ferry berbalik dan masuk kedalam rumah meninggalkan Naora yang masih terus merengek.
"Baiklah ayah, aku akan membuat kak Angga sadar dan mulai menyukaiku".
Naora telah menetapkan pilihan kalau ia akan terus berusaha untuk mendapatkan cinta Erlangga apapun yang terjadi.
####
Alexa masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya namun sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
"Alexa,,,!" Panggil bu Rossa.
Alexa berhenti melangkah kemudian berbalik melihat ibunya.
Bu Rossa mendekati putrinya itu.
"Kamu dari mana saja jam segini baru pulang,,,?".
Alexa tersenyum manis berusaha meluluhkan sang mami yang sedang marah.
"Mommy,,,! Alexa baru pulang dari pesta ulang tahun gladis. Mommy lupa ya,,,! Kan Alexa sudah bilang tadi pagi".
Bu Rossa mengerutkan meningnya mencoba mengingat tentang hal itu.
"Benarkah,,,! Kenapa mami tidak ingat,,,!".
Alexa merangkul lengan maminya sambil berkata :
"Ah,, mommy payah ,,,! Masa lupa sih,,,! Padahal Alexa sudah beberapa kali mengatakannya sama Mommy".
"Daddy mana mi,,,?" Tanya Alexa mengalihkan mami.
"Daddy pergi keluar kota tadi pagi" Ucap bu Rossa.
"Oh,,,!" Alexa menganguk pelan.
"Ya udah, Alexa masuk kamar dulu ya mi,,,!".
Alexa ingin bergegas pergi namun bu Rossa kembali memanggilnya.
"Tunggu Lex,,,!".
"Ada apa lagi sih Mom,,,!" Alexa kembali memandangi maminya.
"Tadi Niko datang kemari" Ucap bu Rossa.
Alexa kaget mendengar nama Niko disebut.
"Memangnya kenapa mi,,,! Apa yang Niko bicarakan dengan mami,,,?".
"Niko ingin menemui kamu, ia datang kemari karena ponsel kamu tidak bisa dihubungi" Bu Rossa menatap Alexa.
"Kalian berantem lagi,,,? Kalian punya masalah apa lagi,,,?".
Alexa bingung bagaimana harus menjelaskannya kepda maminya tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Niko. Alexa belum memikirkan kata- kata yang tepat untuk menjelaskannya kepada orang tuannya.
"Nggak kok mi,,,! Nggak ada apa- apa kok,,,!" Jawab Alexa.
"Benar,,,! Kalian tidak punya masalah apa- apa,,,?" Tanya bu Rossa lagi.
"Iya mommy,,,! Nggak ada apa- apa kok,,,! Kami hanya berantem sedikit, nanti Alexa akan bicara sama Niko".
"Ya sudah kalau begitu,,,! Kamu pergi istirahat sana".
"Ya mi,,,!" Alexa mencium pipi maminya dan langsung berjalan menuju kamarnya.
Alexa menutup pintu kamarnya dengan perasaan yang penuh emosi.
"Dasar nggak tahu diri,,,! Berani- beraninya loe datang kerumah ini dan bertemu dengan mami,,,!".
Alexa melempar tasnya keatas sofa kemudian menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang.
"Loe benar- benar tidak tahu malu Niko,,,! Bagaimana mungkin loe bisa seberani itu menemui mami setelah gue tahu apa yang telah loe lakuin dibelakang gue".
Alexa mengusap wajahnya.
"Aku harus mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada mami. Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu menang Niko,,,!".
"Tapi aku tidak punya bukti untuk menjatuhkan Niko. Aku harus mencari bukti yang kuat agar mami dan papi percaya sama aku dan membuat mereka setuju untuk membatalkan pertunangan ini".
Alexa bangkit dan duduk di pinggir ranjang.
"Ya,,,! Aku harus mencari bukti dulu sebelum menceritakan semuanya sama mami dan papi. Ah,,,! Dasar bodoh, kenapa aku tidak merekam Niko saat itu. Padahal itu bisa menjadi bukti kuat. Ah,,,,! Dasar **** kamu Lexa,,,!" Alexa mengacak- ngacak rambutnya.
Alexa berdiri kemudian meraih ponselnya menghubungi seseorang.
"Hallo,,,! Boy,,,! Aku punya pekerjaan penting untuk kamu,,,!".
Alexa terlihat berbicara serius dengan Boy hingga beberapa menit kemudian ia mematikan ponselnya setelah pembicaraannya selesai.
"Lihat saja Niko, aku tidak akan membiarkan kamu lolos kali ini,,,!".
Alexa tersenyum senang karena akhirnya ia benar- benar bisa melepaskan diri dari Niko. Alexa melempar ponselnya kembali keatas kasur kemudia berjalan menuju kamar mandi sambil tertawa dan bernyanyi riang.
**Bersambung,,,,!
Mohon dukungannya
Like
Comment
Share
Vote
Terima kasih**