ERLANGGA

ERLANGGA
Moment



Pak Ferry termenung memikirkan nasib bengkelnya yang sedang menghadapi masalah besar yaitu terancam gulung tikar. Beliau terlilit hutang yang cukup besar dengan pegadaian swasta dimana beliau meminjam uang dan menggadaikan bengkel tersebut sebagai jaminannya. Dan sekarang pinjaman tersebut hampir jatuh tempo dan Pak Ferry tidak memiliki cukup uang untuk membayar hutang- hutangnya.


Memikirkan nasib bengkel yang kini berada di ujung kehancuran membuat Pak Ferry merasa sangat bersalah dan sekaligus menyesal. Beliau merasa bersalah karena telah berbohong kepada Erlangga dan karyawannya yang lain dengan menutupi masalah tersebut, serta beliau menyesal karena telah termakan hasutan orang- orang dari pegadaian tersebut dimana mereka sebenarnya bukanlah ingin menolong melainkan berusaha menghancurkannya.


Disaat Pak Ferry sedang kebingungan menghadapi masalah hutang yang begitu besar tersebut, pada saat yang bersamaan sebuah perusahaan otomotif yang terkenal menghubungi beliau dan menyampaikan keinginan mereka untuk membeli bengkel Sofian Otomotif.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang,,,? Apa aku harus melepaskan bengkel ini kepada mereka,,,? Apa yang harus aku katakan kepada Erlangga,,,!".


Pak Ferry memijat- mijat keningnya yang sedang pusing memikirkan persoalannya, dan pada saat yang bersamaan Erlangga masuk kedalam kantor kemudian melangkah menghampiri Pak Ferry.


"Paman,,,!" Sapa Erlangga ketika masuk kedalam ruang Pak Ferry.


"Ini laporan pendapatan bengkel untuk bulan ini" Erlangga menyerahkan map laporannya.


"Bulan ini kita mendapat tambahan pelanggan yang cukup banyak Paman dan jika dibandingkan dengan bulan yang lalu, pendapatan kita juga mengalami peningkatan. Bukankah itu kabar yang sangat bagus,,,!" Erlangga berucap sambil tersenyum.


Pak Ferry melihat map yang diberikan Erlangga.


"Iya,,,! Kamu benar Erlangga. Kita memperoleh pendapatan yang bagus untuk bulan ini. Tapi ini tidak akan cukup untuk menutup pinjaman yang telah terlanjur menumpuk".


Pak Ferry menarik nafas pelan berusaha tenang, beliau menatap Erlangga dan tersenyum.


"Kamu memang hebat Erlangga,,,! Kamu telah berhasil membawa bengkel kita yang sebelumnya bukan apa- apa menjadi sesuatu yang lebih baik dan semakin terkenal saat ini. Kamu memang luar biasa,,,! Bakat dari ayahmu telah mengalir didalam dirimu 'Erlangga',,,!".


"Paman tidak perlu memuji begitu, ini semua berkat usaha dan kerja keras kita selama ini. Erlangga bukan apa- apa kalau tanpa dukungan dan bimbingan yang Paman berikan selama ini" Ucap Erlangga.


"Paman tidak melakukan apa- apa Angga. Kamu yang telah melakukan yang terbaik untuk kita semua" Pak Ferry membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop kemudian menyerahkannya kepada Erlangga.


"Ini,,,! Ambillah,,,! Ajak teman- teman yang lain untuk makan diluar hari ini".


Erlangga menerima amplop tersebut sambil tersenyum girang.


"Wah,,,! Terima kasih Paman,,,! Anak- anak pasti senang".


"Kalian pantas mendapatkan itu. Kalian sudah bekerja keras melanyani para pelanggan yang kadang- kadang sulit untuk diajak bekerja sama".


"Baiklah Paman,,,! Terima kasih untuk ini,,,!" Erlangga menunjukkan ampolop yang ia pengang kemudian melangkah keluar dari ruang Pak Ferry.


"Maafkan Paman Erlangga,,,! Paman telah mengecewakan kamu, Paman telah gagal menjaga bengkel ini dengan baik".


"Aku harus melakukan sesuatu,,,! Aku tidak bisa membiarkan bengkel ini jatuh ketangan orang lain dan tidak ada satu orangpun yang bisa merebut bengkel ini dari tanganku dan juga Erlangga".


Pak Ferry telah bertekat akan melindungi bengkelnya dengan cara apapun, beliau tidak akan pernah menyerah dan akan bertanggung jawab atas kesalahan yang pernah beliau lakukan.


Sementaea itu Erlangga kembali kemeja kerjanya dan meletakkan amplop yang diberikan oleh Pak Ferry tadi didalam laci dan setelah itu melangkah keluar. Erlangga menghampiri Panji Cs yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka, bukan Panji Cs namanya kalau tidak berisik ketika bekerja.


"Yang kuat dong Beng,,,! Masa lembek begitu,,,!" Ucap Dedi kepada Abeng.


"Ini juga udah kuat mas,,,!" Abeng memutar baut dengan sekuat tenaganya.


"Kuat bagaimana,,,? ini masih goyang- goyang,,,!" Dedi menggoyangkan motor didepannya.


"Putar lagi yang lebih kencang".


"Saya nyerah mas,,,!" Abeng duduk dilantai dengan nafas tersengal- sengal.


"Saya sudah nggak kuat lagi".


"Alah,,,! Payah kamu beng,,,! Badan aja yang kekar tapi tenaga kurang. Minggir kamu,,,!" Dedi mendorong tubuh Abeng untuk bergeser.


"Nih lihat baik- baik,,,! Anak bengkel itu harus kuat,,,!".


Dedi mulai memutar baut namun tidak ada pergerakan dari baut tersebut, Dedi mencoba lagi hingga berulang kali namun tetap tidak bisa.


"Kok nggak mau muter sih,,,!".


Dedi kembali mencoba namun tetap tidak berhasil dan wajahnya mulai memerah serta keringatan.


"Gimana,,,! Bisa mas,,,!" Abeng menggoda Dedi yan terlihat mulai kelelahan.


"Diem loe,,,?" Bentak Dedi.


Abeng tertawa geli sambil melirik Ojan dan Leon yang dari tadi sudah cengengesan melihat Dedi yang masih sok gengsi.


Erlangga datang menghampirin Dedi yang sedang berjuang mempertahankan gengsinya dan langsung menunduk


"Begini,,,! Lihat baik- baik,,,! Luruskan dulu, kemudian ditekan dengan kuat seperti ini setelah itu baru bautnya diputar dengan cepat biar tidak ada cela yang bisa membuat motor longgar dan goyang".


Erlangga selesai memutar baut tersebut


"Coba periksa Beng,,,! Apakah masih goyang,,,?".


Abeng mengikuti kata- kata Erlangga dan menggoyangkan motor tersebut namun motor itu tetap berdiri kokoh dan tidak bergoyang sama sekali.


"Nggak goyang lagi bos,,,! Sudah beres" Ucap Abeng.


"Bos Angga memang hebat,,,! Bos bisa melakukan itu tanpa perlu banyak gaya, tidak seperti,,,! Uhm,,,!".


Ucapan Abeng terhenti sambil melirik Dedi.


"Uhm,,,! Apa,,,! Seperti siapa,,,?" Tanya Dedi yang menyadari sindiran Abeng tersebut.


"Kenapa diam,,,! Apa,,,?".


"Nggak,,,! Bukan apa- apa kok mas,,,!" Abeng berlari kearah Leon dan Ojan untuk menghindari kemarahan Dedi.


"Sudah,,,! Kamu nggak perlu marah dan gengsi" Erlangga menepuk pundak Dedi. "Kalau kamu butuh bantuan, kamu harus jujur dan mengakuinya. Jangan sok kuat padahal juga sama lembeknya seperti yang lain".


Erlangga menatap kearah Leon, Ojan dan Abeng dan kembali berkata :


"Kalian juga sama. Jangan sok pintar dan sok sombong. Kita kerja disini sebagai tim yang saling membantu dan saling support,


tidak ada yang kerja sendiri- sendiri. Jadi tidak ada yang merasa lebih baik dan hebat dari yang lain. kalian mengerti,,,!".


"Iya bos,,,! Kami mengerti,,,!" Jawab Dedi Cs bersamaan.


"Ok,,,! Lanjut kerja,,,! Kalau ada masalah, kalian bisa panggil aku atau Panji".


"Baik bos Angga,,,!" Ucap Leon.


Erlangga meninggalkan Dedi Cs kemudian menghampiri Panji yang sedang memperbaiki mobil pelanggan lain. Panji melirik Erlangga yang melangkah menuju kearahnya.


"Lain kali loe harus lebih tegas lagi sama mereka" Ucap Panji ketika Erlangga telah berdiri disampingnya.


"Mereka terlalu santai belakangan ini. Banyak pekerjaan yang tertunda karena kelakuan mereka itu".


"Iya, gue tahu,,,!" Ucap Erlangga.


"Loe nggak perlu mengkhawatirkan itu,,,! Loe hanya perlu fokus sama mesin mobil ini saja, ok,,,!".


"Emang sejak kapan gue nggak fokus sama kerjaan gue,,,! Gue adalah pegawai yang paling profesional dari pada yang lain" Ucap Panji membanggakan diri.


"Hmm,,,! Ya,,,! Baiklah,,,! Loe memang yang terbaik,,,!" Erlangga tersenyum sambil melihat keadaan disekelilingnya dan tiba- tiba pandangan tertuju pada mobil BMW Alexa masih terparkir disana.


"Loe udah menghubungi pemilik mobil itu,,,?" Tanya Erlangga kepada Panji.


"Mobil apa,,,?" Panji melihat kearah pandangan mata Erlangga.


"Oh,,,! Mobil si nona judes Alexa maksud kamu,,,!".


Erlangga mengangguk.


"Gue udah menghubunginya dua hari yang lalu, tapi dia tidak menjawabnya,,,!".


"Kenapa,,,?"


"Entahlah,,,! Gue juga nggak tahu,,,!" Panji mengangkat pundaknya.


"Loe udah coba hubungi dia lagi,,,? Mungkin ponselnya sedang mati" Ucap Erlangga.


"Udah,,,,! Gue udah hubungi nomer itu berkali tapi tetap nggak aktif. Hari ini aja gue udah coba lebih dari sepuluh kali buat hubungi cewe itu, tapi tetap saja nggak bisa" Jelas Panji.


Erlangga menatap mobil Alexa dengan hati yang penasaran.


Panji mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinga Erlangga.


"Gue rasa cewe itu penipu,,,! Gayanya aja yang terlihat sok kaya dan manis tapi gue yakin dia bukan cewe baik- baik. Loe harus lebih hati- hati,,,!".


"Apaan sih loe,,,! Loe ngomong apa,,,?" Erlangga melirik Panji.


"Jangan menilai orang sembarangan, nanti loe yang nyesel,,,!".


"Gue nggak ngomong sembarangan Ga,,,! Gue serius,,,!" Ucap Panji penuh keyakinan.


"Gini ya,,,! Sekarang loe coba pikir baik- baik. Mana ada sih orang kaya naik mobil BMW tapi salah masuk bengkel, masa dia tidak tahu bengkel khusus untuk mobilnya sendiri dan yang lebih anehnya lagi nomer ponsel yang dia berikan itu aktif".


Panji melanjutkan ucapannya


"Bagaimana kalau ternyata dia itu adalah penipu atau mungkin saja dia adalah komplotan penadah mobil- mobil mewah hasil curian,,,? Wah,,,! Kita dalam masalah besar nih Ga,,,! Bengkel kita bisa kena masalah,,,!".


Panji menutup mulutnya karena kaget dengan ucapannya sendiri.


"Apa mungkin cewe itu sudah tertangkap polisi dan sekarang sedang berada dipenjara,,,! Ah,,,! Gawat nih Ga,,,!".


Panji benar- benar terbawa oleh prasangkanya sendiri hingga ia mulai gelisah tak menentu.


Erlangga menjitak kepala Panji yang sepertinya sedang bermasalah itu.


"Eh,,,! Sadar dong loe,,,! Kalau ngayal jangan ketinggian, nanti loe jatuh,,,!".


Panji mengelus kepalanya yang kesakitan


"Gue serius Ga,,,! Gue khawatir sama nasip bengkel kita kalau itu memang benar".


"Loe nggak usah mikir yang aneh- aneh, apalagi mikirin sesuatu yang tidak masuk akal seperti ucapan loe tadi".


"Loe kok nggak percaya sama gue sih Ga,,,! Kalau ucapan gue itu,,,!" Ucapan Panji terhenti ketika sebuah suara menyapa mereka dari belakang.


"Hei,,,,!"


Erlangga dan Panji berbalik secara bersamaan dan berapa terkejut mereka ketika melihat Alexa yang sedang berdiri dibelakang mereka.


**Bersambung,,,,!!!


Like


Comment


Share


Vote


🙏**