ERLANGGA

ERLANGGA
Akui Saja



Erlangga melangkah keluar sambil menenteng sebuah kantong plastik yang berisi minuman soda. Ia merebahkan tubuhnya diatas sebuah ranjang kemping yang biasa ia gunakan untuk rebahan dikala letih mendera tubuhnya. Erlangga berbaring sambil menikmati langit malam yang dihiasi cahaya bulan dan bintang hingga terlihat begitu indah. Erlangga mengambil sebotol minuman soda kemudian langsung menikmatinya seorang diri.


Erlangga memutuskan rileks sejenak dibengkelnya untuk sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja. Pikirannya begitu kacau setelah mengalami begitu banyak masalah hari ini. Erlangga begitu larut dalam lamunannya hingga tidak menyadari kehadiran Panji disisinya.


"Loe lagi kemping Ga,,,?".


Panji datang dan langsung duduk disamping Erlangga.


"Kemping kok nggak ngajak- ngajak,,,!".


Erlangga melirik Panji yang duduk disampingnya tanpa memberi jawaban.


"Apa yang bisa dilihat dari sini,,,! Nggak ada apapun yang menarik, selain besi- besi itu" Ucap Panji sambil menunjuk beberapa mobil dan motor yang rusak.


Panji melirik Erlangga yang masih terdiam tanpa menanggapi ucapannya.


"Loe kenapa Ga,,,? Lagi mikirin apa,,,?" Panji kembali bertanya.


"Kejadian tadi siang,,,? Loe lagi mikirin cewe- cewe itu,,,?".


Erlangga menarik nafas yang dalam kemudian menghebuskan dengan kencang. Saat ini ia benar- benar tidak ingin membahas kejadian yang terjadi tadi siang. Untuk sesaat ia berpikir ingin menghilang dan pergi jauh dari situasi yang rumit ini.


Panji mengambil sebotol minuman dan ikut menikmatinya juga.


"Eh, loe tahu nggak,,,? Awalnya gue sempat iri sama loe. Gue iri banget dengan wajah tampan yang loe miliki. Loe juga pria yang pintar, baik, setia kawan dan juga dambaan setiap wanita. Loe sosok yang sangat sempurna dimata semua orang" Ucap Panji.


"Loe ngomong apa,,,?" Erlangga tidak memahami arah pembicaraan Panji.


Panji melirik Erlangga.


"Gue iri banget sama loe. Pesona loe itu kuat banget Ga, banyak cewe- cewe yang tersihir sama loe. Mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian eloe".


"Loe iri sama gue,,,!" Erlangga meledek Panji.


"Nggak salah,,,!".


"Tentu saja gue iri." Jawab Panji.


"Bukan hanya gue. Tapi semua cowo yang mengenal loe pasti sama kayak gue, mereka semua iri sama loe. Kami juga ingin merasakan dikejar- kejar oleh banyak cewe kayak loe,,,!".


Erlangga menggelengkan kepala seakan tidak setuju dengan ucapan Panji.


"Tapi itu dulu,,,! Dulu gue memang seiri itu sama loe Ga, gue pengin banget jadi cowo cakep kayak loe. Tapi sekarang tidak lagi, gue nggak kuat lihat loe jadi sasaran kemarahan cewe- cewe itu".


"Jadi loe senang melihat gue kewalahan menghadapi cewe- cewe itu,,,? Sesenang itu loe melihat penderitaan gue,,,?" Erlangga menatap Panji tajam.


"Eh, bukan begitu Ga,,,! Gue nggak pernah bilang kalau gue senang melihat loe menderita. Gue hanya sedikit,,,!" Ucapan Panji lansung dipotong Erlangga.


"Ah sudahlah,,,! Loe nggak perlu lanjutin lagi. Mendengar loe bicara membuat kepala gue semakin pusing".


Erlangga kembali meneguk minumannya, perasaannya kini menjadi kian tidak karuan. Panji menatap Erlangga dengan perasaan iba, ia tahu pasti Erlangga sedang kesulitan menghadapi permasalahan yang terjadi padanya akhir- akhir ini.


"Sebenarnya apa sih yang mengganggu pikiran loe Ga,,,?".


Erlangga terdiam


"Loe lagi mikirin pekerjaan atau kejadian tadi siang,,,?" Tanya Panji lagi.


Erlangga melirik Panji


"Loe sekepo itu,,,! Pengen banget tahu apa yang lagi gue pikirin,,,! Udah kayak perempuan loe,,,!".


"Ya iyalah,,,! Gue emang kepo sama loe. Gue pengen tahu apa yang sedang mengganggu pikiran loe, siapa tahu gue bisa bantu loe mencari solusi" Ucap Panji.


"Gue nggak mau loe memendam perasaan loe seorang diri. Bahaya Ga,,,! Bahaya kalau masalah dipendam sendiri, lama- lama bisa meledak".


"Sok tahu loe,,,!" Erlangga menyingirkan bibirnya.


"Apa yang harus gue ceritain, gue aja bingung apa yang mengganggu pikiran gue" Ucap Erlangga.


"Nah benarkan,,,! Loe memang lagi punya masalahkan,,,!".


"Ehm,,, Iya sih,,,! Memang ada sedikit masalah, tapi itu bukan sesuatu yang berarti buat gue" Ucap Erlangga santai.


"Gue juga nggak mau membahas masalah itu, nggak ada gunanya. Saat ini gue cuma ingin santai tanpa ada yang mengganggu, termasuk eloe,,,!".


"Loe nggak tahu atau nggak mau tahu,,,! Atau loe emang segaja nggak mau jujur sama perasaan loe sendiri" Panji menatap Erlangga.


"Gue kenal sama loe udah lama Ga. Dan gue tahu pasti apa yang kini sedang mengganggu pikiran loe".


Panji melirik Erlangga dan menatapnya lekat.


"Ga,,,! Selama ini tidak ada seorangpun yang bisa mengalihkan perhatian loe selain pekerjaan dibengkel. Tapi saat ini loe mulai terganggu Ga,,,! Ada sesuatu yang membuat loe terganggu dan gue yakin loe sadar akan hal itu, tapi loe nggak mau mengakui itu" Ucap Panji.


"Loe terlalu gengsi untuk mengakuinya Ga,,,!".


Erlangga menelan ludah, kata- kata Panji menusuk hatinya.


"Gengsi,,,! Untuk apa gue gengsi. Hah,,,! Ada- ada aja loe Ji,,,!".


"Apa karena Alexa, Ga,,,?" Panji akhirnya menyebut nama Alexa.


Erlangga kembali terdiam.


"Apa Alexa yang mengganggu pikiran loe,,,?".


"Loe ngomong apa sih,,,? Makin ngawur,,,!" Erlangga mengelak.


"Loe masih nggak mau ngaku,,,!" Panji mulai kesal karena Erlangga terus mengelak.


"Ok,,,! Kalau loe masih nggak mau ngaku, gue bakal ngetes loe".


Panji menarik tubuh Erlangga untuk mendekat.


"Loe mau ngapain sih,,,?" Erlangga ogah- ogahan mengikuti keinginan Panji.


"Loe diam aja. Ikuti apa yang gue suruh" Ucap Panji.


"Loe lihat gue,,,!" Perintah Panji.


Erlangga mengikuti perintah Panji walaupun sebenarnya ia tidak menyukai itu.


Panji dan Erlangga kini duduk saling berhadapan. Erlangga menatap Panji seperti perintah sebelumnya.


"Sekarang loe diam aja dan dengarkan ucapan gue baik- baik. Kalau loe nggak suka dengan kata- kata gue, loe bisa langsung berpaling. Ok,,,!".


Erlangga mengangguk pura- pura mengiyakan, padahal ia sama sekali tidak tertarik dengan permainan Panji.


"Dia masih santai".


Panji mengamati raut wajah Erlangga, namun tidak ada yang berubah, wajahnya tetap datar.


"Siap- siap, kita akan mulai tes yang sebenarnya".


"Gue Erlangga Farras ingin membuat sebuah pengakuan. Saat ini hati gue sedang diterganggu oleh seorang cewe" Panji terdiam sejenak.


"Loe lagi ngapain sih Ji,,,?" Batin Erlangga.


"Cewe itu adalah,,,! Gina,,,!"


'Gina adalah cewe yang pernah dekat dengan Erlangga, tapi hanya sekedar teman.


Erlangga tersenyum mendengar nama Gina.


"Wah parah loe,,,! Lama- lama mulai kurang ajar ya,,,!".


"Eh nggak boleh marah. Inikan tes kejujuran" Elak Panji.


"Gue Erlangga Farras suka sama,,,! Naora,,,!".


"Loe minta dihajar ya,,,!" Erlangga tampak kesal.


"Kalau orangnya dengar gimana,,,? Loe mau tanggung jawab,,,?".


"Nggak ada orang Ga,,,! Cuma kita berdua" Panji menenangkan Erlangga.


"Loe sensi banget kalau dengar nama Naora".


"Bukan sensi, tapi gue cuma nggak mau kalau ada yang salah paham" Elak Erlangga.


"Ok kita lanjut ya,,,!" Ucap Panji.


"Gue Erlangga saat ini sedang menyukai,,,! Diaz,,,!".


"Sudah cukup gue nggak mau lanjut lagi" Erlangga berbalik.


"Eh, tapi kan belum selesai Ga,,,! Gue belum menyebut nama,,,!" Ucapan Panji terpotong.


"Siapa,,,? Nama siapa lagi yang mau loe sebut,,,?" Tanya Erlangga kesal.


"Nama,,,!"


"Nama siapa,,,?" Erlangga menatap tajam.


"Nama cewe yang membuat pikiran loe terganggu,,,!" Suara Panji mulai meninggi


"Siapa,,,?" Suara Erlangga ikut meninggi.


"Alexa,,,!" Ucap Panji tegas.


"Al,,,!" Erlangga tidak meneruskan kalimatnya. Ia terdiam dan langsung memalingkan wajahnya dari Panji.


"Nah,,,! Loe mulai sadarkan. Loe nggak bisa lari lagi Ga,,,!".


"Alexa,,,!" Ucap Panji lagi.


"Loe punya perasaankan kepada Alexa,,,?" Panji memaksa Erlangga untuk mengakuinya.


"Jawab Ga,,,! Kenapa loe diam,,,,?".


"Gue nggak mau jawab itu,,,!" Erlangga membuang wajahnya.


Panji menepuk pundak Erlangga.


"Loe mungkin masih bisa mengelak Ga, tapi hati loe nggak bisa. Hati loe telah menentukan pilihannya. Sekarang tinggal loe mengakui hal itu".


Erlangga hanya terdiam.


"Dulu loe mungkin masih bisa nggak peduli sama perasaan loe, tapi sekarang loe nggak bisa begini terus. Loe nggak bisa terus cuek sama perasaan loe sendiri".


"Ga,,,! Loe sadar nggak sih, dari semua cewe yang pernah mendekati loe selama ini cuma Alexa yang mengganggu pikiran loe. Cuma Alexa yang bisa membuat loe duduk disini melamun sambil menatap langit. Ini bukan gaya loe, Ga,,,! Loe sadar nggak sih,,,?" Ucap Panji.


Ucapan Panji membuat dada Erlangga berdebar.


"Gue yakin seratus persen loe mulai menyukai Alexa. Sekarang tinggal bagaimana loe mau mengakui itu".


Panji berdiri dan menatap Erlangga yang masih diam membisu.


"Akui saja Ga,,,! Sebelum terlambat. Karena loe nggak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepan. Mungkin saja ini kesempatan yang Tuhan berikan untuk loe".


Erlangga membalas tatapan Panji.


"Sejak kapan loe jadi puitis begini,,,!".


"Heh,,,! Sejak gue merasakan patah hati untuk yang kesekian kalinya,,,!" Ucap Panji sambil tertawa.


"Sialan loe,,,!" Erlangga memukul lengan Panji.


"Tapi gue serius Ga,,,! Loe pasti nyesal kalau loe lepasin Alexa" Ucap Panji.


"Karena gue yang akan ngejar dia,,,!".


"Emang loe bisa,,,?" Erlangga tersenyum sinis.


"Bisa,,,!" Jawab Panji penuh keyakinan.


"Loe nggak percaya,,,! Mau gue buktiin,,,!".


Erlangga bangun dan menepuk pundak Panji.


"Nggak perlu. Loe nggak akan bisa ngalahi gue" Ucap Erlangga.


"Kenapa,,,? Loe takut kalah,,,?" Tanya Panji.


"Atau loe cemburu,,,?".


Erlangga melangkah pergi meninggalkan Panji tanpa menghiraukannya lagi. Erlangga melangkah dengan perasaan ragu, benarkah apa yang dikatakan Panji. Haruskah ia mengakui itu,,,!".


**Bersambung,,,,!!!


Jangan lupa like, comment, vote dan share


Terima Kasih**,,,,