
Panji mengambil jaket serta helmnya dan berjalan menuju motornya. Panji melihat Erlangga masih sibuk dengan mobil Alexa hingga ia menghampirinya.
"Loe belum pulang Ga,,,?" Tanya Panji.
"Belum, mungkin bentar lagi. Kenapa,,,! Loe mau pulang sekarang,,,,?" Jawab Erlangga sambil tetap fokus dengan pekerjaannya.
" Iya, gue mau balik sekarang. Loe butuh teman,,,,? Mau gue temani,,,?".
Erlangga melirik Panji
"Bukannya tadi loe sendiri yang bilang kalau loe mau mengunjungi bibi malam ini. Emang nggak jadi,,,?".
"Iya sih maunya begitu. Loe tahu sendirikan kalau gue udah lama nggak ketemu sama ibu. Gue juga kangen sama adik- adik gue".
Panji meletakkan helmnya dan berdiri disamping Erlangga.
"Tapi nggak apa- apa kok,,,! Gue bisa mengunjungi mereka lagi besok. Kalau loe butuh teman, gue bisa nemani loe malam ini".
Erlangga menepuk pundak Panji sambil berkata :
"Loe emang sahabat gue yang paling baik dan paling ngertiin gue. Kebetulan gue lagi pengen nongkrong malam ini, jadi loe harus temani gue, ok,,,!".
"Siipp,,,! Gue bakal temani loe sampai pagi" Jawab Panji.
"Ok,,,,! Gue beresin ini dulu ya,,,!".
Erlangga menutup pintu mobil Alexa kemudian membereskan peralatan setelah itu pergi membersihkan diri.
Panji menunggu kedatangan Erlangga sambil mengamati mobil Alexa.
"Nih mobil emang keren banget, kalau dimodif lagi pasti bakal lebih keren.
Panji melihat Erlangga berjalan kearahnya dan muncul tanya tanya besar didalam hatinya :
"Sejak kapan Angga kenal dengan Alexa,,,! Kenapa dia bisa sesantai itu dengan seorang wanita, padahal dia tidak seperti itu sebelumnya. Alexa,,,! Bisakah kamu mengendalikan Angga".
"Lihat apa loe,,,!" Erlangga mengusap wajah Panji yang sedang bengong.
"Ayo kita jalan,,,!".
Panji mengikuti Erlangga menaiki motornya dan merekapun langsung pergi dengan motor mereka menembus dinginnya udara malam.
Erlangga dan Panji duduk dihamparan rumput sambil menikmati keindahan malam yang ditemani sebungkus gorengan, ayam goreng dan juga minuman soda. Mereka sedang duduk santai disebuah bukit yang tinggi dipinggiran kota, bukit yang menjadi tempat nongkrong paling faforit di kalangan anak muda saat ini. Bukit itu mengarah kearah kekota hingga ketika malam hari lampu- lampu yang menyala dikota terlihat seperti bintang-bintang diatas langit.
"Wah,,,! Lihat lah lampu- lampu itu, tampak seperti bintang- bintang dilangit".
Panji terkagum dengan pemandangan yang sedang dilihatnya.
"Gue aja yang cowo suka banget melihat pemandangan dari atas bukit ini, apalagi kalau cewe ya,,,! Para cewe- cewe pasti menggila kalau mereka melihat ini secara langsung".
"Loe benar,,,! Tempat ini memang sangat indah apalagi kalau dimalam hari. Nggak ada cewe yang nggak suka kalau melihat pemandangan ini".
Erlangga melirik Panji
"Lain kali loe ajak cewe loe kemari,,,! Dia pasti akan sangat senang. Bukankah tempat ini adalah tempat yang sangat asyik untuk pacaran".
Erlangga tersenyum mengisyaratkan sesuatu yang licik.
Panji ikut melirik Erlangga.
"Asyik,,,! Asyik kenapa,,,! Karena bisa bermesraan dengan gampang tanpa ada yang gangguin. Dasar,,,! Sejak kapan pikiran loe jadi mesum begini,,,?".
"Hahahahha,,,,!" Erlangga tertawa kencang. "Emang Loe baru tahu,,,! Pikiran licik dan mesum itu memang bakat lahiriah seorang laki- laki, jadi loe nggak perlu kaget. Semua laki- laki pasti punya pikiran seperti itu, termasuk loe. Iya kan,,,?".
"Dasar loe,,,!" Panji Kaget mengetahui Erlangga juga punya pikiran seperti itu.
"Pikiran itu hanya ada pada laki- laki yang sudah mempunyai pasangan dan itu wajar bagi mereka, tapi tidak untuk kita. Kalau kita kan belum punya pasangan, jadi tidak pantas memikirkan hal itu".
Erlangga kembali menatap kedepan dan masih tersenyum.
"Hubungan loe dengan Naora bagaimana,,,? Apa loe akan terus menghindari dia,,,? Tanya Panji.
Erlangga menghela nafas panjang seperti ada beban dihatinya.
"Hubungan apa,,,! Kami hanya berteman dan kami tidak punya hubungan apa- apa,,,!".
"Loe yakin kalau loe nggak punya hubungan apa- apa sama Naora,,,,?" Panji kembali bertanya.
"Ya gue yakin,,,! Jadi loe jangan berpikir yang aneh- aneh. Hubungan kami nggak seperti yang loe pikirin".
Panji terdiam sejenak.
"Gue yakin loe pasti tahu bagaimana perasaan Naora yang sebenarnya sama loe,,,! Tapi loe berpura- pura tidak tahukan,,,,!".
Erlangga tetap terdiam.
"Kenapa loe harus berpura- pura Ga,,,? Kenapa loe terus menggantungkan hubungan kalian,,,! Kenapa loe nggak bisa memberi kepastian kepada Naora,,,?".
"Gue rasa loe salah paham Ji,,,! Gue nggak pernah memberi harapan apapun kepada Naora. Nggak dulu nggak juga sekarang".
"Harus berapa kali gue bilang, gue nggak pernah bermaksud mengantungkan perasaan Naora,,,! Gue nggak pernah punya niat seperti itu,,,!".
"Kalau begitu loe harus kasih kejelasan padanya. Naora akan tetap salah paham Ga, kalau loe masih bersikap terlalu baik padanya,,,".
"Terus gue harus bagaimana,,,? Gue sudah memberi tahukan kepada Naora yang sebenarnya dan gue juga sudah berusaha untuk menjauhinya. Tapi Naora tidak mau tahu akan hal itu,,,!".
Erlangga mengacak- ngacak rambutnya.
"Jujur gue bingung Ji,,,! Gue bingung harus gimana lagi caranya menjelaskan kepada Naora. Sikap Naora yang nggak mau tahu itu membuat gue frustasi".
Erlangga melanjutkan kembali ucapannya :
"Loe pasti sudah tahu bagaimana hubungan gue dengan paman Ferry dan juga keluarganya. Keluarga paman Ferry sudah menjadi keluarga gue sendiri, keluarga baru yang selalu ada disisi gue ketika gue terpuruk dan hancur.
Panji menepuk pundak Erlangga, ia telah tahu bagaimana cerita tentang masa lalu Erlangga dan hubungannya dengan keluarga pak Ferry.
"Loe tahu apa mimpi gue saat ini,,,!"
"Gue ingin paman Ferry dan keluarganya bahagia, termasuk Nauval dan Naora. Kebahagiaan mereka menjadi prioritas gue saat ini".
"Gue tahu itu Ga,,,! Gue tahu semua itu,,,!" Ucap Panji.
"Tapi sayangnya gue nggak bisa memberikan kebahagian yang seperti Naora inginkan. Gue nggak bisa menerima perasaan Naora kepada gue. Naora sudah gue anggap sebagai adik gue sendiri dan itu nggak mungkin bisa berubah".
Erlangga menatap Panji.
"Jadi menurut loe apa yang harus gue lakukan sekarang,,,?".
Panji membalas tatapan mata Erlangga
"Loe mau tahu apa yang harus loe lakuin sekarang,,,?" Panji tersenyum
"Cari pacar,,,! Loe harus cari pacar lain agar Naora mau menjauhi dan melupakan perasaannya sama loe".
Erlangga tertawa
"Hahahaha,,,! Dasar g*** loe,,,! Ide loe itu nggak masuk akal tahu nggak. Emang loe pikir Naora akan percaya dan menerima itu,,,?".
"Loe belum tahu kalau loe belum mencobanyakan,,,!" Ucap Panji kembali.
"Loe harus coba dulu baru loe akan tahu hasilnya. Nggak ada salahnya untuk mencoba Ga,,,!".
"Nggak,,,! Itu ide gila,,,! Gue nggak mau melakukan itu, gue nggak bisa,,,!".
"Kenapa nggak bisa,,,! Loe pasti bisa, gue yakin itu. Lagi pula loe kan sudah punya calonnya,,,!".
"Calon,,,! Calon apaan sih,,,!".
"Ya calon pacarlah,,,!".
Erlangga menjitak kepala Panji
"Dasar S*****g,,,,! Calon pacar apaan,,,! Siapa calon pacar,,,? Jangan asal ngomong loe,,,?".
"Awww,,, Sakit Ga,,,!" Panji mengelus kepalanya.
"Biarin. Biar loe sadar,,,! Ucapan loe udah mulai nggak benar, udah kayak orang mabuk. Loe mabuk soda,,,?".
Panji menatap Erlangga kemudian tersenyum.
"Alexa,,,! Loe bisa jadiin Alexa calon pacar loe,,,! Gimana,,,?".
"Apa,,,! Ngomong apa loe tadi,,,! Minta dijitak lagi ya,,,! Ya,,,,? Sini loe,,,! Kenapa lari,,,!".
Erlangga bangun kemudian mengejar Panji yang sudah terlebih dahulu bangun dan berlari menjauh dari Erlangga yang sedang mengamuk.
Bersambung,,,,!!!!