ERLANGGA

ERLANGGA
Naora vs Diaz



Panji masuk kedalam kantor untuk menemui Pak Ferry yang sebelumnya memanggil dirinya. Panji mengetuk pintu kemudian langsung masuk kedalam kantor.


Pak Ferry terlihat sedang berbicara dengan Naora.


"Paman memanggil saya,,,?" Tanya Panji ketika telah berdiri didepan Pak Ferry.


"Iya" Jawab Pak Ferry.


"Kamu duduk dulu".


Panji mengangguk dan langsung duduk disamping meja Pak Ferry. Sementara itu Pak Ferry kembali berbicara dengan Naora.


"Kamu lebih baik pulang dulu, nanti kita bicarakan lagi dirumah" Ucap Pak Ferry.


"Sampai kapan Ayah akan menghindari aku terus, aku butuh kepastian Yah,,,!" Naora berbicara dengan nada meninggi.


"Iya, Ayah tahu. Tapi kamu kasih Ayah waktu, Ayah harus memikirkannya dengan baik- baik".


"Tapi sampai kapan,,,? Sampai kapan aku harus menunggu,,,!".


Panji bingung melihat situasi yang sedang terjadi saat ini. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang diperdebatkan Pak Ferry dan Naora.


"Ada masalah apa ini,,,?" Batin Panji


"Aku tidak menunggu terlalu lama lagi Ayah, kalau Ayah tidak bisa bicara dengan kak Angga maka aku yang akan bicara sendiri" Ucap Naora.


"Baiklah, Ayah akan cari waktu yang tepat untuk bicara dengan Angga. Tapi tidak sekarang, saat ini kepala Ayah sedang pusing memikirkan permasalahan bengkel. Ayah harap kamu bisa mengerti" Jelas Pak Ferry.


Naora berdiri sambil melihat kearah Pak Ferry.


"Sebaiknya Ayah menyelesaikan masalah ini secepatnya, aku tidak bisa menunggu lama" Naora melangkah meninggalkan Pak Ferry dan Panji.


Panji memandangi kepergian Naora dengan hati yang bertanya- tanya.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi,,,? Kenapa nama Erlangga ikut disebut- sebut,,,!".


Pak Ferry memijit kepalanya yang terasa sakit, terlalu banyak beban yang memenuhi pikirannya itu.


Sementara itu aktivitas diluar kantor terlihat sedang sibuk- sibuknya, begitu banyak kendaraan yang harus mereka tangani dengan segera. Satu orang bertugas menangani satu kendaraan hingga mereka tidak punya waktu untuk saling membantu satu sama lain, setiap orang memiliki tanggung jawab tersendiri.


Erlangga bertindak sebagai pengontrol para karyawan yang lain, ia akan turun tangan ketika ada masalah yang tidak bisa diatasi oleh karyawannya.


"Bos Angga,,,?" Leon memanggil Erlangga yang sedang memeriksa pekerjaan Ojan.


Erlangga melihat Leon sambil mengangguk.


"Kamu lanjutin lagi" Ucap Erlangga kepada Ojan.


"Baik" Jawab Ojan.


Erlangga berjalan menuju Leon


"Ada apa,,,?" Tanya Erlangga.


"Ini nggak bisa,,,!" Leon menunjukkan kesulitannya kepada Erlangga.


Erlangga memeriksa bagian yang bermasalah


"Ini susah tidak bisa digunakan lagi, kamu ambil yang baru,,,!" Perintah Erlangga.


"Baik" Leon pergi mengambil barang ia perlukan.


Erlangga kembali melihat bagian kendaraan yang bermasalah itu dengan fokus namun sebuah suara mengangetkannya.


"Angga,,,!" Sebuah suara memanggil Erlangga.


Erlangga melihat kearah sumber suara itu.


"Diaz,,,!".


Diaz berjalan mendekat.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telfon aku,,,?" Tanya Diaz.


Erlanggan tidak menjawab.


"Aku menghubungi kamu berkali- kali tapi kamu tidak pernah menjawabnya. Apa kamu tidak suka kalau aku menelfonmu,,,?" Tanya Diaz lagi.


"Maaf, aku tidak tahu kamu menghubungiku" Jawab Erlangga.


"Kamu bohong, kamu pasti bohongkan,,,! Tidak mungkin kamu tidak tahu kalau aku menelfonmu. Kamu segajakan,,,?".


"Seperti yang kamu lihat aku sedang sibuk, aku tidak punya waktu untuk menjawab telfon kamu" Jawab Erlangga.


"Alasan,,,! Itu cuma alasan kamukan,,,?" Diaz terlihat marah.


Diaz hanya menatap terdiam.


"Kalau kedatangan kamu kesini hanya ingin berbicara sesuatu yang tidak penting, lebih baik kamu pulang. Aku tidak punya waktu untuk melandeni kamu saat ini" Tegas Erlangga.


"Kenapa kamu bicara setega itu,,,? Apa kamu tidak mengerti perasaanku,,,?".


Erlangga tidak tahu harus bicara apa agar Diaz bisa mengerti maksudnya.


"Diaz,,,! Aku sudah pusing dengan pekerjaanku saat ini, lebih baik kamu pergi,,,!".


Diaz tidak mungkin mau pergi begitu saja, susah payah ia berusaha untuk bertemu dengan Erlangga.


"Kalau begitu aku akan menunggu sampai kamu selesai bekerja. Aku akan menunggu disini, bolehkan,,,?" Diaz tetap tidak mau pergi.


"Nggak boleh,,,?" Jawab Naora.


Naora tidak suka melihat ada perempuan lain yang mendekati Erlangga.


"Kamu nggak boleh menunggu disini, Kak Angga sedang sibuk" Ucap Naora.


"Kamu siapa,,,?" Tanya Diaz.


"Apa hak kamu melarang aku".


"Aku pemilik bengkel ini. Jadi aku tidak suka ada orang yang mengganggu pekerjaan karyawanku" Jelas Naora.


Diaz memandangi Naora dengan teliti, ia tidak percaya apa yang diucapkan Naora.


Erlangga tidak ingin terlibat dalam perdebatan antara Naora dan Diaz, ia memilih untuk pergi. Erlangga berjalan menemui Dedi Cs yang sedang memandangi Naora dan Diaz.


"Apa yang kalian lihat,,,?" Tanya Erlangga.


"Eh Bos Angga,,,!" Abeng menunduk malu.


"Anu Bos,,,!".


"Nggak lihat apa- apa kok Bos,,,!" Jawab Ojan.


"Nggak usah bohong,,,!" Dedi memukul lengan Ojan.


"Emang Bos Angga nggak tahu kalau kita sedang melihat Nona Naora dan cewek itu pertengkar".


Ojan mengelus lengannya yang sedikit sakit.


"Sudah cukup. Aku tidak suka kalian ikut campur urusan orang lain" Ucap Erlangga.


"Sekarang lanjutkan saja pekerjaan kalian, tidak perlu kepo dengan urusan orang lain".


"Apa kita akan membiarkan mereka terus bertengkar seperti itu Bos,,,? Kalau mereka main jambak- jambakan gimana,,,?" Ucap Dedi.


"Iya Bos,,,! Bisa bahaya kalau mereka sampai berperang disini,,,!" Sambung Ojan.


Ucapan Dedi terdengar masuk akal, Naora dan Diaz sama- sama keras. Mereka bisa saja melakukan hal- hal yang konyol.


"Kalau Pak Ferry tahu bagaimana Bos,,,! Beliau pasti akan sangat marah nantinya" Leon terlihat Khawatir.


"Apakah kita harus meleraikan mereka,,,? Nanti kalau terjadi apa- apa dengan Nona Naora bagaimana,,,?" Sambung Ojan.


Erlangga tertawa geli mendengar ucapan Ojan dan Leon, para karyawannya itu tampak khawatir melihat Naora dan Diaz berdebat.


"Biarkan saja mereka seperti itu. Nanti mereka juga akan berhenti sendiri. Toh mereka bukan anak kecil lagi,,,!" Ucap Erlangga santai.


"Tapi sepertinya sebentar lagi akan terjadi peperang besar Bos,,,!" Dedi menunjuk kearah sebuah mobil yang baru saja memasuki area bengkel.


Erlangga melihat kearah mobil tersebut, raut wajahnya mulai berubah. Erlanga sangat mengenal pemilik mobil itu.


"Itu mobil Nona Alexa,,,!" Ucap Leon.


Mobil itu berhenti tepat dihadapan Erlangga dan karyawannya. Perlahan pintu mobil terbuka dan Alexa keluar dari mobil dengan wajah yang tersenyum manis.


"Hai,,,!" Sapa Alexa.


Erlangga menarik nafas panjang memikirkan apa yang akan terjadi ditempat itu. Kehadiran Naora dan Diaz saat ini sudah membuatnya kepalanya pusing apalagi ditambah dengan kedatangan Alexa yang pasti akan membuat situasi akan semakin bertambah rumit.


Siapa yang bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila tiga wanita yang sama- sama bar- bar berada di satu tempat yang sama dan mereka memperebutkan seorang laki- laki yang sama. Peperangan besar akan segera terjadi antara Alexa, Diaz dan Naora.


**Bersambung,,,!


Apakah perang benar- benar akan terjadi,,,?


Apa yang akan dilakukan Erlangga selanjutnya,,,?


Nantikan Next eps**