ERLANGGA

ERLANGGA
Terluka



Erlangga melajukan motornya dengan kecepatan sedang dan ia mengarahkan motornya memasuki kawasan pertokoan yang menjual berbagai jenis makanan, mulai dari makanan kecil hingga makanan berat. Perlahan Erlangga menghentikan laju motornya dan berhenti tepat didepan sebuah toko roti yang terkenal dengan aneka rasanya yang enak.


Erlangga turun dari motornya dan bergegas melangkah masuk kedalam toko yang dipenuhi oleh para pembeli. Toko roti itu memang selalu ramai dikunjungi oleh pelangannya, selain dengan rasa rotinya yang enak, lokasinya juga sangat trategis dan mudah dijangkau oleh siapa saja. Walaupun suasana sudah malam hari namun minat pembeli tidak luntur, mereka tetap mau mengantri meski harus berdesak- desakan.


Dengan penuh ketelitian Erlangga mencoba memilih beberapa jenis roti yang disukai oleh rekan- rekan kerjanya. Sebagian dari mereka lebih menyukai roti dengan rasa jadul daripada roti khas masa kini.


"Mereka benar- benar sudah ketinggalan jaman. Masa dijaman milenial seperti ini masih suka sama roti- roti jadul padahal begitu banyak roti kekinian yang rasanya tidak kalah enak dari roti- roti ini. Haha,,,! Kasian mereka" Gumam Erlangga.


Erlangga membeli banyak roti untuk para rekan- rekannya dibengkel karena malam ini ia dan rekannya yang lain harus lembur untuk menyelesaikan mereka. Setelah merasa pilihannya sudah cukup banyak, Erlangga menuju kearah kasir untuk membayar belanjaannya dan tidak butuh waktu lama iapun telah selesai membayarkannya kemudian bergegas melangkah pergi.


Sementara itu dilokasi yang sama tapi disudut yang berbeda Alexa terlihat sedang ribet dengan barang- barang bawaannya. Alexa baru saja selesai meeting dengan kliennya dan ia tidak mengajak asistennya sehingga ia harus membawa begitu banyak barang seorang diri.


"Aduh, kalau gue tahu barang- barang examplenya sebanyak ini, gue pasti sudah mengajak Mayang untuk ikut. Ah, nyesel gue nggak ngajak si Mayang" Alexa bergumam kesal.


Alexa terus berjalan perlahan mendekati mobilnya yang terparkir tidak jauh dari posisinya saat ini. Begitu sampai dimobil Alexa langsung membuka pintu belakang mobil dan meletakkan barang- barang itu didalam sana kemudian menutupnya kembali.


"Akhirnya gue berhasil membawa barang- barang itu dengan aman. Ah,,,! Lega banget. Tapi kok pinggang gue jadi sakit sebelah sih,,,!" Alexa memijit- mijit pinggangnya yang terasa pegal.


"Kayaknya gue harus pergi ke Spa deh. Sudah lama badan gue nggak dipijit. Aduh,,,! Tubuh gue rasanya sudah remuk semua".


Alexa membuka pintu mobilnya dan bergegas ingin masuk namun suara ponselnya yang berdering membuat langkah kakinya terhenti. Alexa mengeluarkan ponselnya dari tas dan langsung menjawab panggilan itu.


"Hallo,,,!" Sapa Alexa.


"Hallo, Lexa,,,! Kamu dimana,,,? Kamu sudah balik kekantor,,,? Sebaiknya kamu jangan balik kekantor dulu ya. Kamu muter- muter aja dulu" Ucap Mayang dari seberang.


"Hai, Loe kalau mau ngasih pertanyaan satu- satu. Gue bingung nih mau jawab apa. Udah gitu pertanyaan loe banyak banget lagi. Guekan jadi pusing,,,!" Oceh Alexa.


"Pokoknya loe jangan balik dulu kekantor, bahaya,,,!" Ucap Mayang.


"Ada apa,,,! Bahaya kenapa,,,?" Alexa tidak mengerti ucapan Mayang.


"Niko lex,,,! Niko sekarang ada didalam ruangan loe" Ucap Mayang lagi.


"Apa,,,? Ngapain lagi itu cowo datang kekantor gue. Nggak ada kapok- kapoknya tu orang" Gumam Alexa.


"Loe juga, ngapain loe ijinin Niko masuk kedalam ruang kerja gue. Loe emang nggak bisa,,,!".


Ucapan Alexa terhenti ketika tiba- tiba dua orang pria mendekatinya dan berusaha menarik tas selempang dibahunya.


"Hai,,,! Apa- apaan ini,,,! Kalian siapa,,,?" Alexa menahan tasnya dengan kuat.


"Lepas,,,! Lepaskan,,,!" Ucap salah satu pria berwajah garang.


"Nggak mau,,,! Ini tas gue, kenapa gue yang harus lepas. Loe yang harusnya lepasin tas gue" Alexa tidak takut sedikitpun.


"Lepasin nggak,,,?" Pria lainnya mendekat sambil mengeluarkan pisau.


Alexa kaget melihat sembilah pisau diarahkan kepadanya. Suasana yang sepi membuat para perampok itu lebih leluasa untuk melakukan aksi mereka. Dengan spontan Alexa berteriak dengan sangat kencang hingga terdengar oleh semua orang yang berada disekitarnya.


"Aaaaa,,, Tolong,,,! Ada copet,,,! Tolong,,,!" Alexa berteriak dengan kencang seakan tidak takut dengan laki- laki itu.


Suara Alexa terdengar cukup kencang hingga sampai ditelinga Erlangga yang pada saat itu baru keluar dari toko roti dan sedang berjalan menuju motornya.


'Tolong,,,!' Erlangga masih mendengar suara itu dan ia penasaran apa yang terjadi. Dengan cepat Erlangga berlari kesumber suara tersebut.


"Eh, diam loe. Atau loe mau gue tusuk,,,?" Ancam pria berpisau itu.


"Loe pikir gue takut,,,! Loe mau tusuk gue, ayo tusuk,,,! Gue nggak takut sama loe. Gue nggak akan mati hanya karena pisau kecil seperti" Alexa mencoba menantang walaupun sebenarnya ia merasa sedikit ketakutan.


"Kok sepi banget sih, apa nggak ada seorangpun disekitar sini. Apa tidak ada yang mendengar teriakan gue,,,?" Alexa mulai gelisah.


"Loe berani nantangin gue,,,?" Pria itu hendak melangkah maju.


"Eh tunggu,,,! Tunggu dulu,,,! Lepasin tas gue dulu. Ini barang mahal, kalau jatuh bisa rusak. Loe mau rugi dan nggak dapat apa- apa,,,!" Alexa mencoba bernegosiasi.


"Banyak bacot loe,,,!".


Pria itu mulai emosi dan perlahan mulai melangkah maju sambil mengayunkan pisaunya namun belum sempat ia mendekati Alexa tiba- tiba sebuah tendangan mendarat ditangan pria itu hingga membuat pisau itu terjatuh ditanah.


Para perampok itu kaget ketika melihat seorang pria datang dan berdiri dihadapan mereka hingga membuat mereka melangkah mundur beberapa langkah kebelakang.


"Angga,,,!" Alexa tersenyum senang melihat Erlangga yang datang menolongnya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Erlangga disituasi seperti ini.


"Kamu tidak apa- apa,,,?" Tanya Erlangga sambil melirik Alexa sekilas.


"Aku nggak apa- apa,,,!" Jawab Alexa.


"Kamu mundur,,,!" Perintah Erlangga.


Alexa mengikuti perintah Erlangga dan iapun mundur menjauh.


"Serahkan tas itu dan kalian boleh pergi" Ucap Erlangga.


"Heh,,,! Tidak semudah itu teman. Apa yang sudah menjadi milik kami tidak akan bisa dimiliki oleh orang lain".


Kedua pria itu saling berbisik seperti sedang merencanakan sesuatu, mereka sepertinya sedang menyusun siasat untuk mengalihkan perhatian Erlangga dan berusaha untuk melarikan diri.


Seorang pria yang memengang pisau melangkah maju dan langsung menyerah Erlangga, ia berusaha untuk mengalihkan perhatian Erlangga. Sedangkan pria yang satunya lagi membawa tas Alexa bersamanya dan bersiap diatas motornya.


Erlangga berusaha menangkis serangan yang diberikan oleh lawannya dengan hati- hati, walaupun ia menguasai ilmu beladiri tapi ia harus tetap berhati- hati karena lawannya adalah seorang perampok profesional yang menggunakan senjata tajam.


Setelah bertarung cukup lama dan tenaga lawan mulai terkuras habis, pria itu melancarkan serangan terakhirnya kepada Erlangga. Dengan gerakan cepat ia menendangkan kakinya mengarah kewajah Erlangga namun tendangan itu berhasil ditangkis dengan tangan Erlangga tapi sayangnya ia tidak menyadari kalau mata pisau mengarah kearahnya hingga melukai lengannya.


Erlangga terkejut ketika merasakan sengatan pisau dilengannya, iapun melangkah mundur. Alexa ikut kaget melihat lengan Erlangga yang mengeluarkan darah, dengan cepat ia mengambil sapu tangannya yang berada didalam mobil dan langsung membalut luka dilengan Erlangga.


"Angga,,,! Tanganmu terluka" Alexa melihat luka dilengan Erlangga dan langsung membalutnya.


"Kita harus kerumah sakit".


"Aku tidak apa- apa,,,!" Ucap Erlangga.


"Tidak apa- apa bagaimana, lenganmu berdarah" Ucap Alexa panik.


Kedua perampok yang melihat situasi itu mengambil kesempatan dan berusaha untuk kabur. Mereka menghidupkan mesin motor dan memilih untuk langsung kabur. Alexa tampak sangat kecewa karena tasnya berhasil mereka bawa kabur.


Bersambung,,,,!!!


Jangan lupa like, comment, vote dan Share


Terima kasih