ERLANGGA

ERLANGGA
Ramon cs #2



Erlangga berdiri sambil menatap Panji


"Loe tenang saja Ji, gue tahu apa harus gue lakuin. Ramon datang karena dia hanya ingin bertemu sama gue. Jadi biarin gue yang menemui Ramon secara langsung. Loe nggak perlu cemas".


"Gimana gue nggak cemas, emang loe udah lupa apa yang sudah Ramon lakukan sama loe,,,!" Panji menghela nafas.


"Ramon pasti ingin balas dendam Ga,,,!".


"Hahahaha,,,,! Santai dong Ji,,,! Loe tenang dulu" Erlangga menepuk pundak Panji.


"Semua akan baik- baik saja, gue janji. Percaya sama gue, Ok👌 ,,,!".


Erlangga melangkah keluar yang diikuti Leon dan pak Ferry, sementara itu Panji yang masih berdiri penuh emosi berusaha untuk tenang dan akhirnya ikut keluar mengikuti Erlangga. Begitu sampai diluar Erlangga langsung melihat Dedi dan Abeng sedang adu jontos hingga wajah mereka memar.


Dedi dan Abeng mendapat pukulan maut hingga mereka terkapar dilantai. Dedi berusaha bangkit dan ingin membalas kembali namun tiba- tiba tangan Erlangga menepuk pundak Dedi membuat ia kaget dan langsung berpaling kebelakang.


"Bos,,,!" Dedi memanggil nama Angga.


"Bos Angga kenapa keluar sih,,,? Bos masuk aja lagi biar masalah ini kami yang urus".


Ramon yang tadinya sedang duduk kini telah berdiri kembali melihat kedatangan Erlangga.


"Akhirnya loe keluar juga, bos Erlangga yang hebat. Gimana kita lanjutin urusan kita yang tertunda kemaren,,,! Hahhahaha,,,,!"


Erlangga menatap Ramon sambil tersenyum.


"Cukup Ded,,,! Loe mundur. Ini bukan urusan eloe,,,!"


"Tapi bos,,,,! Ini bahaya,,,! Bos bisa celaka,,,!" Ucap Dedi.


"Benar Ga,,,! Loe pergi saja. Loe nggak perlu ngeladenin Ramon. Biar kami yang urus masalah ini" Ucap Panji lagi.


"Kalian tetap disini dan tenang saja. Masalah ini cuma aku yang bisa selesaikan" Erlangga melangkah maju kearah Ramon.


Erlangga dan Ramon kini telah berdiri saling berhadapan, mereka saling tersenyum sinis dengan gayanya masing- masing.


"Kenapa begitu lama,,,?" Tanya Ramon.


"Maaf sudah membuat anda menunggu,,,?" Balas Erlangga.


"It's ok,,,! Tapi sambutan dari rekan- rekanmu tidak begitu menyenangkan. Mereka terlalu kaku".


Ramon membuang permennya kemudian kembali berkata :


"Gimana ya,,,! Bukan Style- nya Ramon".


"Hah,,,! Jadi anda menginginkan penyambutan ulang,,,!" Erlangga menggulungkan baju kemejanya hingga sampai siku.


"Boleh,,,! Jika anda tidak keberatan" Ramon menyingir.


Tanpa aba- aba Erlangga dan Ramon langsung maju dan saling serang menyerang. Mereka melakukan berbagai gerakan fighting. Erlangga menghindari serangan Ramon dengan gerakan cepat mulai dari menghindar ke samping kiri dan samping kanan kemudian mundur hingga akhirnya sebuah pukulan Erlangga mengenai perut Ramon membuat tubuh Ramon terhempas mundur kebelakang.


"Boleh juga,,,!" Ucap Ramon.


"Baru tahu,,,?" Balas Erlangga.


Ramon kembali maju dan siap untuk membalaskan serangan dari Erlangga. Mereka benar- benar terlibat pertarungan sengit.


Panji cs menyaksikan pertempuran itu tanpa tahu harus berbuat apa. Mereka tidak bisa mencegah maupun menghentikan aksi tersebut.


"Wah,,,! Mas bro lihat gerakan bos Angga tadi, benar- benar luar biasa. Bos Angga memang hebat ya,,,!" Bisik Leon kepada Dedi.


"Alah,,,! Itu gerakan biasa. Gue juga bisa melakukan gerakan seperti itu,,,!" Jawab Dedi sambil mengelus pipinya yang memar.


"Serius,,,!" Leon seolah tidak percaya dengan ucapan Dedi.


"Mas Dedi bisa seperti bos Angga,,,? Terus kenapa wajah mas bro bisa sampai bonyok begitu,,,? Lawan mas bro terlalu kuat ya,,,!".


"Loe nggak ngerti ya perbedaan antara kalah sama mengalah,,,! Gue bukannya kalah, gue cuma sedikit mengalah. Loe tahu untuk apa,,,! Ya untuk mengecoh lawan. Begitu lawan terkecoh, gue bisa langsung memberikan serangan yang dapat mematikan" Dedi tetap mempertahankan gengsinya.


"Oh,,,! Jadi mas Dedi tadi mengalah dari pria berotot besi itu,,,! Tapi kenapa perasaan saya lebih yakin kalau mas Dedi itu memang kalah bukannya mengalah" Leon terus mengejek Dedi.


"Dasar kurang ajar,,,! Berani- beraninya loe ngomong kayak begitu sama gue. Minta di tabok loe ya,,,,!".


"Eh,,, tenang mas bro,,,! Santai, Releks,,,! Pertempuran bos Angga makin seru tuh,,,!" Leon mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin jadi bulan- bulanan Dedi.


Erlangga dan Ramon masih terus terlibat dalam pertempuran itu hingga sebuah pukulan mengarah kewajah Erlangga, Erlangga berusaha menghindari serangan itu namun ia gagal karena pukulan itu mengenai tepat di wajahnya. Walau bukan pukulan yang keras namun serangan itu masih tetap membuat Erlangga merasakan kesakitan.


Panji cs terkejut melihat bibir Erlangga merah "Angga,,,!".


Erlangga mengusap bibirnya sambil tersenyum


"Bukankah ini tidak cukup adil,,,!".


"Oh ya,,,! Begitukah,,,!".


Ramon kembali maju, ia benar-benar ingin menuntaskannya kali ini. Erlangga sendiri juga telah siap untuk mengakhiri pertempuran itu. Ramon melayangkan sebuah serangan kembali namun dengan gerak cepat Erlangga dapat menghindari serangan itu dan langsung memberikan serangan balasan. Kini pukulan dari Erlangga tepat mengenai tubuh Ramon hingga membuatnya terjatuh di lantai.


Erlangga mendekati Ramon yang terkapar dilantai kemudian mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


"Sudah cukup bro,,,! Kalau kita tetal teruskan, mungkin sebentar lagi mobil polisi yang akan datang kemari" Ucap Erlangga.


Ramon meraih tangan Erlangga hingga kini ia telah berdiri kembali.


"Dua kali,,,! Cukup dua kali loe membuat gue jatuh. Gue tidak akan membiarkannya untuk yang ketiga kalinya" Ucap Ramon.


"Tenang,,,! Tidak akan ada yang ketiga kali. Gue tidak akan membiarkan itu terjadi".


Erlangga tersenyum membuat Ramon juga ikut tersenyum, kemudian mereka melakukan sebuah gerakan, Erlangga mengulurkan tangannya yang di genggam kearah Ramon dan Ramon menyambutnya sama seperti tangan Erlangga tadi dan,,,


"Tos,,,!!!".


Erlangga dan Ramon saling tertawa bersama.


Panji dan yang lain terkejut melihat adengan yang baru saja mereka lihat dan terjadi dihadapan mereka.


"Apa yang terjadi Ga,,,? Apa yang barusan kalian lakukan".


"Apa yang terjadi,,,? Gue nggak salah lihat kan,,,?" Dedi mengucek- ngucek matanya.


"Ini bukan mimpikan,,,! Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi,,,?" Leon ikut berkomentar.


"Ini bukan mimpi, bos Angga dan Ramon,,,!" Abeng terdiam sejenak.


"Bos Angga dan Ramon, mereka telah berbaikan,,,!"


"Apa,,,!" Dedi, Leon dan Panji kaget mendengar ucapan Abenk dan mereka saling menatap secara bersamaan.


"Baikan,,,!".


Dugaan mereka ternyata benar Erlangga dan Ramon terlihat tertawa bersama sambil memberikan pelukan. Erlangga merangkul pundak Ramon dan membawanya menemui Panji cs.


"Apa yang sebenarnya terjadi,,,?" Tanya Panji bingung.


Erlangga tertawa melihat ekspresi rekan- rekannya yang begitu kaget.


"Sorry,,,! Telah membuat kalian kaget. Gue nggak nyangka kalian akan se-shock ini".


"Maksud loe apa Ga,,,?" Tanya Panji lagi.


"Eemmm,,,! Jadi,,, Gue dan Ramon sudah berbaikan. Kami memutuskan untuk mengakhiri permusuhan dan melakukan gencatan senjata. Mulai saat ini Ramon menjadi bagian dari keluarga kita".


Erlangga menepuk pundak Ramon sambil berkata :


"Selamat datang kawan,,,! Selamat bergabung bersama kami".


"Apa,,,!" Panji cs melotot kearah Erlangga.


Bersambung,,,!!!