
Erlangga melangkah menghampiri Panji yang sedang memperbaiki mobil.
"Gimana Ji,,,,! Bisa,,,?" Erlangga jongkok mengintip Panji yang sedang berada di kolong mobil.
"Perlu kita bongkar lagi apa nggak,,,?".
Panji keluar dari kolong mobil kemudian duduk sejajar dengan Erlangga.
"Bisa sih,,,! Tapi mungkin akan memakan banyak waktu".
Erlangga terdiam.
"Kalau kita ganti aja gimana,,,? Pasti akan lebih efisien dari pada kita perbaiki. Lagi pula walaupun kita perbaiki namun ini tidak akan bisa menjamin kalau mobil ini tidak akan mogok lagi" Ucap Panji.
"Iya sih,,,,! Apa yang loe bilang barusan emang benar, tapi itu memerlukan budget yang lebih besar. Pemiliknya mungkin tidak akan sanggup untuk membayar lebih" Ucap Erlangga.
"Loe benar Ga,,,! Sorry gue nggak mikir sampai kesana".
"Loe coba perbaiki lagi, paling tidak mobil ini harus bisa jalan lagi walaupun kita nggak bisa jamin akan bertahan berapa lama" Erlangga menepuk pundak Panji.
"Loe coba lagi ya,,,! Gue yakin loe pasti bisa".
"Ok siap bos,,,! Gue bakal coba lagi" Panji kembali masuk kolong mobil untuk memperbaiki mobil itu lagi.
Erlangga bangkit menghampiri Dedi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Masih belum kelar,,,?" Tanya Erlangga.
"Loe ngapain aja sih,,,? Sudah seharian kenapa belum kelar- kelar juga,,,?".
"Sorry bos,,,! Bukannya belum kelar, tapi penyakitnya (menunjuk kearah motor) parah banget. Bos lihat saja sendiri".
Dedi menunjukkan beberapa bagian motor yang sudah ia bongkar.
"Semua ini harus dibersihkan dulu baru bisa dipasang lagi, kalau nggak ini motor nggak bakalan sembuh- sembuh".
"Mmm,,,! Loe memang paling bisa kalau ngeles. Sudah kerjakan lagi. Sore ini harus siap, besok pagi pemiliknya akan ambil" Ucap Erlangga.
"Siap bos,,,!" Jawab Dedi.
Erlangga meninggalkan Dedi dan masuk kedalam kantor.
Sebuah motor skuter masuk kedalam bengkel kemudian berhenti tepat dihadapan Dedi sambil membunyikan klakson hingga membuat Dedi kaget.
"Weis,,,! Bro,,,!!! Lihat- lihat dong,,,!" Dedi kaget karena skuter tersebut berhenti tepat didepannya.
"Loe nggak bisa lihat gue segede ini".
Ojan membuka helmnya sambil senyum cengegesan.
Dedi melemparkan sesuatu kearah Ojan
"Cengegesan lagi loe,,,!".
"Hehehe,,,! Sabar mas Bro, jangan main lempar- lepar barang begitu" Ojan turun dari motornya kemudian menghampiri Dedi.
"Kayaknya ini motor sayang banget deh sama mas bro, ya kan,,,! Sering banget nyamperin mas Dedi disini,,,! Hehehe,,,!"
Ojan tertawa karena memang benar motor tersebut sudah terlalu sering mampir ke bengkel dan Dedi yang selalu bertugas memeriksanya.
"Sialan loe,,,! Loe ngetawain gue,,,! Berani macem- macem loe ya,,,?".
Dedi melangkah maju kearah Ojan sambil meremaskan tangannya seolah- olah ingin memukul Ojan.
"Berani loe ya,,,! Nggak tahu apa kalau gue senior disini. Berani macem- macem loe sama gue,,,!" Dedi memukul Ojan (Bercanda).
"Ampun bro senior,,, ampun,,,,! Saya minta maaf. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi".
Dedi berhenti memukul Ojan, namun ternyata Ojan mengerjainya.
Ojan tersenyum dan meledek Dedi.
"Tapi boong,,,! Hehehehe,,,!".
Ojan berlari menjauhi Dedi yang sedang kesal.
"Kurang ajar loe ya,,,! Jan,,, Ojan,,,! Sini loe,,,! Ojan,,,!" Dedi berteriak memanggil Ojan.
Leon dan Abeng tertawa bersamaan melihat pertengkaran antara Dedi dan Ojan.
Tiba- tiba segerombolan motor gede masuk kedalam bengkel dan berhenti dihadapan Dedi cs. Ternyata itu adalah kelompok Ramon and the geng.
Ramon turun dari motor yang kemudian di ikuti oleh anak buahnya.
"Itu kan Ramon,,,! Mo ngapain dia datang kesini,,,?" Batin Leon.
"Itu kan Ramon,,,?" Tanya Leon kepada Abeng.
"Iya, loe benar. Itu Ramon cs,,,!" Jawab Abeng.
"Gimana nie,,,,! Gue panggil bos Angga ya,,,!".
Loen berlari masuk kedalam kantor untuk memberitahuankan kepada Erlangga kalau Ramon datang. Ramon cs pernah terlibat masalah dengan Erlangga hingga membuat hubungan mereka memanas.
Abeng berjalan menghampiri Dedi yang sudah memasang kuda- kuda.
"Mau ngapain loe kesini,,,? Loe mau cari gara- gara lagi,,,?" Tanya Dedi dengan sikap siaga satu.
"Panggil Erlangga, gue masih punya urusan sama dia" Ucap Ramon sambil melangkah ke sebuah kursi dan duduk disana.
"Bos Angga tidak ada, kalau loe punya pesan loe bisa bilang sama gue,,,!" Ucap Dedi tegas.
"Loe ngomong apa sih,,,! Loe mau cari masalah sama mereka,,,?" Bisik Abeng.
"Loe diem aja, gue lagi bernegosiasi" Jawab Dedi.
"Ini bukan negosiasi namanya, tapi cari ma*i,,,,!" Bisik Abeng kembali.
"Udah loe diem aja, biar gue yang urus" Dedi menatap Ramon seakan ingin menantangnya.
"Masalah bos Angga adalah masalah kami juga, jadi kalau loe mau ketemu bos Angga loe harus langkahi kami dulu".
"Kok loe ikut bawa- bawa gue sih Ded,,,? Gue nggak mau ikut campur campur".
"Loe diem aja Beng- beng,,,! Nggak usah bawel, Loe berdiri dibelakang gue aja".
"Gue nggak punya urusan sama loe- loe berdua. Sekarang loe panggil Erlangga kemari, gue nggak punya banyak waktu" Perintah Ramon.
"Nggak bisa,,,! Loe nggak bisa ketemu dengan bos Angga". Dedi tetap membantah.
"Loe ngomong apa barusan,,,,? Loe nantangi gue,,,! Loe berani sama gue,,,?" Ramon tertawa geli mendengar ucapan Dedi.
"Loe berani sama gue,,,! Loe mau ma*i,,,!".
Ramon menjentikkan jarinya sebagai sebuah kode.
Seorang anak buah Ramon yang berbadan kekar melangkah maju membuat Dedi dan Abenk menelan ludah karena panik.
"Gue bilang juga apa,,,! Loe sih sok jagoan,,,!" Ucap Abeng.
"Udah loe diem aja Benk,,,! Bukannya belain malah bikin gue tambah panik.
Dedi memasang kuda- kuda.
"Jadi loe mau pake kekerasan,,,! Ok,,,! Sini loe maju,,,!".
Anak buah Ramon melangkah maju dan Dedi juga ikut maju, akhirnya perkelahian itu tidak bisa dihindari. Mereka saling memberi pukulan dan juga menerima pukulan. Dedi memang punya bakat bela diri, namun dengan postur tubuh yang kalah tinggi dan besar membuat ia kewalahan menghadapi anak buah Ramon sendirian. Abenk yang menyadari hal itu akhirnya ikut maju untuk membantu Dedi, hingga terjadilah pertempuran dua lawan satu.
Leon masuk kedalam kantor dengan wajah panik dan nafas yang tersengal- sengal sambil memanggil nama Angga.
"Bos,,,,! Bos Angga,,,!".
Erlangga yang sedang berbicara dengan pak Ferry memandang Leon yang datang dengan wajah panik.
"Ada apa,,,? Kenapa kamu sepanik itu,,," Tanya Erlangga.
Panji yang juga melihat kedatangan Leon juga penasaran.
"Ada apa Leon,,,? Kenapa kamu lari seperti itu,,,?".
"Itu bos,,,,! Anu,,,! itu,,,,!" Leon terbata- bata.
Panji mendekati Leon.
"Hei,,,,! Tenang,,,! Loe kenapa,,,? Ada masalah,,,?".
"Itu bos, Ramon,,,,?" Ucapan Leon terhenti.
Panji kaget mendengar nama Ramon.
"Ramon,,,! Apa yang terjadi,,,,?".
"Ramon ada didepan bos,,,! Dia datang bersama beberapa anak buahnya. Mas Dedi dan Abenk sedang menghadapi mereka" Wajah Leon semakin panik.
"Apa,,,,! Mau ngapain Ramon datang kesini,,,?" Panji mulai emosi.
Erlangga menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar Ramon cs datang ingin menemuinya.
"Loe mau apa lagi sih Mon,,,,?"
"Saya juga nggak bos,,,?" Leon gugup.
"Tapi sepertinya ingin menemui bos Angga".
"Kurang ajar,,,! Beraninya mereka datang kesini,,,!" Panji mencengkram tanggannya.
"Loe tunggu disini Ga, loe jangan keluar. Biar gue yang ngadepin dia".
Panji hendak melangkah namun pak Ferry menghentikannya.
"Tunggu Panji,,,!" Pak Ferry menghentikan Panji. "Kamu jangan gegabah seperti ini. Kita harus tenang. Kita harus memikirkan jalan keluar yang terbaik".
"Kita tidak bisa diam begini paman, Ramon sudah berani datang kemari berarti dia pasti punya maksud dan rencana yang buruk kepada Erlangga" Ucap Panji.
"Iya paman tahu, paman mengerti apa yang kamu khawatirkan. Tapi kita harus tetap tenang untuk bisa menghadapi Ramon. Kalau kamu menemui Ramon dengan perasaan emosi dan kesal begini, yang ada bukan menyelesaikan masalah tapi malah tambah masalah baru".
Pak Ferry terdiam sejenak kemudian kembali berkata :
"Ramon datang kesini pasti punya niat sesuatu, dan kita belum tahu apa niatnya tersebut. Jadi kita harus tetap tenang, agar dapat mengatasi masalah ini. Bukankah begitu Angga,,,,!" Pak Ferry menatap Angga yang dari tadi hanya terdiam.
"Iya,,,, paman benar" Akhirnya Erlangga bersuara.
"Ucapan paman benar Ji, kamu jangan emosi dulu.
Erlangga berdiri dan menatap Panji.
"Kamu tenang dulu Ji,,,! Kamu nggak perlu emosi. Aku akan keluar dan menemui Ramon secara langsung. Biar aku yang bicara dengan Ramon".
Panji terkejut mendengar ucapan Erlangga.
"Apa,,,! Loe ngomong apa,,,,! Loe mau keluar dan menemui baj***n itu,,,? Nggak Ga,,,! Gue nggak setuju. Gue nggak akan ngebiarin Ramon yakitin loe. Loe nggak perlu nemui dia. Biar gue yang menghadapinya,,,!".
Erlangga tersenyum kemudian melangkah maju sambil menepuk pundak Panji.
"Loe tenang aja,,,! Gue bisa mengendalikan keadaan ini,,,!" Loe percaya sama gue kan,,,?".
Panji menatap Erlangga penuh tanya.
"Apa yang kamu rencanakan,,,,?".
**Bersambung,,,!!!
Like
Comment
Share
Vote
Tq**,,,