
Ramon membawakan beberapa botol minuman soda dan memberikannya kepada Erlangga yang sedang duduk diatas motornya. Erlangga menerima minuman itu dan langsung meneguknya hingga hampir habis. Ramon menggelengkan kepalanya melihat sikap Erlangga yang seperti itu.
"Pelan- pelan Bro,,,! Nggak ada yang akan merebut minuman itu dari loe" Ucap Ramon.
"Dan ini,,,!" Ramon menunjukkan beberapa botol yang masih berada ditangannya kepada Erlangga.
"Gue masih punya banyak, jadi loe nggak perlu khawatir, loe bisa menikmati semua ini sepuas loe. Dan kalau loe butuh yang lain, loe tinggal bilang sama gue. Gue akan siapkan buat loe".
"Gaya loe,,,! Kalau gue minta Bir gimana, Loe mau bawain buat gue,,,?" Erlangga melirik Ramon sekilas sambil menyingirkan bibirnya.
"Serius,,,! Loe butuh Bir,,,? Gua bisa bawain buat loe" Ucap Ramon.
"Nggak,,,! Nggak usah. Ini udah lebih cukup buat gue" Erlangga kembali meneguk minumannya hingga habis tak bersisa.
Ramon melirik kearah Erlangga.
"Ah,,,!" Erlangga merasakan kesegaran mengalir diseluruh tubuhnya.
"Hah,,,! Sudah puas loe,,,!" Nyingir Ramon.
"Gimana perasaan loe,,,? Udah tenang apa belum,,,?".
"Menurut loe,,,?".
Erlangga mengambil botol minuman yang kedua.
Ramon membuka botol minuman dan ikut meneguknya beberapa tegukan.
"Gua tahu masalah ini memang bukan masalah yang sepele. Masalah ini rumit Ga,,,! Rumit banget. Kalau sampai loe salah dalam mengambil keputusan maka banyak pihak yang akan dirugikan, termasuk loe dan orang- orang disekitar loe".
Erlangga terdiam sambil menikmati minumannya.
"Gua yakin banget loe pasti merasa sangat marah dan kecewa banget setelah mengetahui rahasia yang selama ini Paman Ferry sembunyikan dari loe. Tapi gue minta loe nggak boleh emosi dulu, loe harus mendengarkan penjelasannya langsung dari Paman loe" Ujar Ramon.
Erlangga menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kencang.
"Loe pasti tahulah apa yang gue rasakan saat ini. Ya, gue memang marah,,,! Gue sangat marah dan gue juga kecewa banget sama Paman Ferry. Gue nggak nyangka beliau bisa menutupi masalah ini dari gue".
"Tapi loe tahu apa yang membuat gue semakin marah,,,?" Erlangga menatap Ramon tajam sambil memukul dadanya sendiri.
"Gue, Mon,,,! Gue marah sama diri gue sendiri. Gue kesal dan gue merasa sangat kecewa. Bagaimana bisa gue nggak menyadari hal itu sebelumnya, padahal gue sempat merasakan gelagat yang aneh dari sikap Paman Ferry tapi kenapa gue nggak menaruh curiga sama sekali akan hal itu".
Ramon melirik Erlangga seraya menepuk pundaknya.
"Sabar Bro,,,! Iya, gue paham betul apa yang sedang loe rasain saat ini. Masalah ini pasti menjadi pukulan terberat buat eloe".
"Tapi loe tenang aja, ada gue disini. Gue bakal bantuin loe nyelesaiin masalah ini" Hibur Ramon.
Hubungan Erlangga dan Ramon saat ini terjalin dengan cukup baik dan mereka menjadi semakin akrab satu sama lain belakangan ini. Erlangga merasa menjadi orang yang sangat beruntung, bagaimana tidak, semenjak persaingan pribadi yang terjadi antara dirinya dan Ramon berakhir hubungan mereka menjadi lebih dekat dan Ramon selalu membantunya ketika ia menghadapi masalah.
Seperti yang terjadi saat ini, tanpa sengaja Ramon mengetahui sebuah rahasia yang Pak Ferry sembunyikan dari Erlangga. Pak Ferry terikat kontrak perjanjian hutang piutang dengan Johan yang merupakan seorang kreditor ilegal yang terkenal dengan kelicikannya.
Berkat informasi yang diberikan oleh Ramon, Erlangga akhirnya mengetahui kalau Pak Ferry ternyata memiliki hutang yang cukup besar kepada seorang rentenir. Dan yang paling mengecewakan adalah kredit tersebut diberikan atas nama Pak Ferry dengan jaminan bengkel Sofian Otomotif, bengkel yang selama ini telah Erlangga jaga dengan sepenuh hati.
"Seandainya saja gue mengetahui masalah ini lebih awal, pasti gue bisa mencegahnya. Gue pasti bisa membujuk Paman agar tidak menerima pinjaman itu" Ujar Erlangga.
"Jadi apa yang akan loe lakukan sekarang,,,?" Tanya Ramon.
"Yang pasti gue harus mencari cara untuk membayar hutang itu dan menebus bengkel kembali" Jawab Erlangga.
"Gue nggak mau kehilangan bengkel itu. Gue akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya".
"Itu nggak mungkin Bro,,,! Loe nggak akan mungkin bisa membayar hutang- hutang itu dengan mudah. Johan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi" Ramon sangat mengenal siapa sosok Johan itu yang sebenarnya.
"Kalau dilihat dari jumlahnya, saat ini loe nggak akan sanggup untuk melunasi itu semua terlebih lagi loe juga harus membayar bunga yang mungkin bisa dua kali lipat dari pinjaman awal. Loe pasti tahukan gimana cara kerja para rentenir itu, mereka nggak akan pernah membiarkan mangsanya lepas begitu saja".
"Loe benar, gue memang tidak akan mungkin sanggup untuk membayar pinjaman itu sekarang tapi gue nggak boleh nyerah, gue akan tetap berusaha semampu gue. Gue akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini, bahkan kalau perlu gue akan bertemu langsung dengan Johan dan melakukan negosiasi dengannya" Ucap Erlangga.
"Kalau memang itu satu- satunya cara yang tersedia maka gue harus melakukannya, gue akan bicara dengan Johan secara langsung" Ucap Erlangga mantap.
"Bukankah gue harus tetap mencoba segala cara. Kita nggak akan pernah tahu kalau nggak mencobanya".
"Iya, ucapan loe ada benarnya juga, kita memang nggak boleh menyerah. Selama ada jalan maka kita harus mencobanya, walaupun mungkin peluangnya itu kecil".
Ramon menepuk pundak Erlangga seraya berkata :
"Loe nggak usah khawatir Ga, gue akan selalu mendukung loe dan gue akan membantu memikirkan solusi untuk masalah ini. Loe tenang aja, ok,,,!".
"Thank's Bro,,,! Loe telah banyak membantu gue dan juga bengkel. Kalau loe nggak menceritakan masalah ini sama gue maka gue nggak akan pernah mengetahuinya. Dan gue pasti akan sangat menyesal bila harus kehilangan semuanya".
Erlangga tersenyum kepada Ramon, ia benar- benar sangat berterima kasih atas informasi yang disampaikan oleh Ramon kepadanya.
"Tapi informasi ini tidak gratis Bro, suatu saat nanti gue akan minta bayaran dari loe" Canda Ramon.
"Loe tenang aja, gue tahu diri kok,,,! Gue orang yang tahu balas budi" Ucap Erlangga.
Ramon tertawa senang mendengar ucapan Erlangga, ia merasa sangat menyenangkan bisa bocara panjang lebar dengannya. Semenjak mengenal Erlangga, Ramon telah berubah dari pria kasar dan kejam menjadi pria yang lebih sabar dan tenang dalam menghadapi masalah yang menderanya.
Erlangga dan Ramon memandang kedepan sambil menikmati keindahan danau buatan ditengah kota. Danau yang menjadi tempat faforit bagi orang- orang menghabiskan waktu untuk bersantai dan menghibur diri.
"Oh iya Bro,,,! Loe masih ingat nggak tentang bengkel The Cars Otomotif yang pernah loe ceritain ke gue,,,?" Tanya Ramon.
Erlangga mencoba mengingat
"Iya, gue ingat. Ada apa,,,? Loe punya informasi apa,,,?".
"Bengkel itu memang cabang dari salah satu perusahan Otomotif terbesar dinegeri ini yaitu Sulthan Otomotif" Ujar Ramon.
"Terus,,,!" Erlangga mulai penasaran.
"Dari informasi yang gue dapatkan, perusahaan Sulthan Otomotif itu bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar sebagai rekan kerja dalam bidang Otomotif, mereka terikat kontrak dengan perusahaan itu sebagai supplier kendaraan dinas dan juga penyedia jasa servis resmi" Jelas Ramon panjang lebar.
"Berarti bengkel itu cabang dari perusahaan Sulthan Otomotif. Bukankah perusahaan itu perusahaan besar, tapi mengapa mereka melakukan pekerjaan kotor seperti itu,,,?" Erlangga masih belum paham.
"Loe itu bodoh atau pura- pura ****,,,! Loe udah berapa lama sih kerja dibidang perbengkelan,,,? Masa masalah seperti ini loe nggak tahu" Ejek Ramon.
"Sialan loe, loe ngeremehi kemampuan gue,,,!" Erlangga meninju lengan Ramon.
"Gue tahu maksud loe itu apa. Gue tahu ada permainan kotor dilingkungan itu, tapi yang bikin gue bingung adalah bagaimana mereka bisa melakukan itu. Apa tidak ada seorangpun yang tahu,,,?".
"Permainan ini tidak dimainkan oleh satu atau dua orang aja bro, tapi banyak pihak yang terlibat didalamnya. Mungkin orang- orang yang berada didalam perusahaan itu sendiri juga ikut terlibat. siapa yang tahukan,,,!" Ucap Ramon.
"Hah,,,! Gue nggak percaya mereka berani menjalankan bisnis seperti itu, mereka benar- benar nekat" Erlangga menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Tapi kenapa tiba- tiba loe tertarik dengan masalah orang lain,,,? Nggak biasa- biasanya loe seperti ini. Ada apa,,,? Loe punya masalah yang tidak gue ketahui,,,?" Ramon menelisik curiga.
"Yah,,,! Bukan apa- apa. Gue hanya penasaran dan ingin tahu saja" Jawab Erlangga sambil tersenyum.
"Yakin,,,! Loe nggak menyembunyikan masalah lain dari guekan,,,?" Ramon sedikit curiga.
"Hm,,,! Nanti loe juga pasti akan tahu sendiri" Jawab Erlangga santai.
"Gue hanya penasaran dengan hal- hal yang berada disekelilingnya dan hal itu membuat gue terganggu" Batin Erlangga.
Awalnya Erlangga tidak ingin ikut campur dan terlibat dalam masalah yang berhubungan dengan Alexa, namun kini ia perlahan mulai tertarik dan ingin tahu lebih banyak tentang sosok gadis yang mulai mengganggu pikirannya tersebut.
Bersambung,,,,!!!
Jangan lupa like, comment, vote dan share.
Terima kasih