
Erlangga terkejut ketika merasakan sengatan pisau yang begitu ngilu dilengannya, iapun akhirnya melangkah mundur dan menutup luka itu dengan tanggannya. Alexa juga ikut kaget melihat lengan Erlangga yang tiba- tiba mengeluarkan darah, dengan cepat ia mengambil sapu tangannya yang berada didalam mobil dan langsung membalut luka dilengan Erlangga.
"Angga,,,! Tanganmu terluka".
Alexa meraih tangan Erlangga untuk melihat luka dilengannya dan langsung membalut luka itu dengan saputangannya.
"Kita harus kerumah sakit. Lukamu harus diobati".
"Aku tidak apa- apa,,,!" Ucap Erlangga.
"Ini hanya luka kecil".
"Tidak apa- apa bagaimana, lenganmu berdarah. Kalau tidak cepat- cepat diobati nanti bisa infeksi" Ucap Alexa panik.
Kedua perampok yang melihat situasi itu memanfaatkan kesempatan dan berusaha untuk kabur. Mereka menghidupkan mesin motor dan memilih untuk langsung kabur meninggalkan Alexa dan Erlangga.
Alexa menatap kepergian kedua pria jahat itu yang kabur dengan membawa tas miliknya.
"Tasku,,,!" Alexa kecewa karena tasnya berhasil dibawa kabur.
"Apa isi tas itu,,,?" Tanya Erlangga.
"Bukan apa- apa, hanya beberapa dokumen dan kontrak kerja dengan klien" Jawab Alexa lesu.
Bagaimana Alexa tidak lesu, kontrak itu ia dapatkan dengan susah payah dan penuh perjuangan. Ia harus bersabar menghadapi ocehan dan omelan para klienya hanya untuk selembar kontrak kerja itu. Dan sekarang ia tidak bisa membayangkannya kalau harus kehilangan kontrak- kontrak itu.
Erlangga bisa melihat dengan jelas kekecewaan diwajah Alexa, iapun akhirnya memutuskan untuk mengejar para perampok itu.
"Ayo masuk,,,!" Erlangga bergerak cepat masuk kedalam mobil Alexa dan Alexa juga ikut masuk walaupun ia tidak mengerti apa tujuan Erlangga.
"Ada apa,,,! Apa yang akan kamu lakukan,,,?" Tanya Alexa bingung.
"Kita akan mengejar mereka" Jawab Erlangga.
"Apa,,,! Tapi tanganmu sedang terluka. Kita tidak mungkin bisa mengejar mereka disaat kamu terluka begini. Lebih baik kita kerumah sakit saja. Lupakan mereka" Ucap Alexa.
"Aku tidak apa- apa,,,! Kamu tidak perlu cemas. Sekarang pasang sabuk pengamanmu" Perintah Erlangga.
"Kenapa kamu bicara seperti itu. Tentu saja aku cemas. Bagaimana aku tidak cemas kalau kamu sendiri sedang terluka seperti ini,,,!" Batin Alexa.
"Kamu benar- benar keras kepala" Ucap Alexa kesal.
Erlangga tidak menghiraukan ucapan Alexa, ia menghidupkan mesin mobil dan langsung tancap gas untuk mengejar para perampok itu. Dengan susah payah Erlangga berusaha melacak dan mencari keberadaan motor para perampok itu walaupun harus menahan sakit yang ia rasakan. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh akhirnya Erlangga berhasil menemukan motor yang ia cari.
Sungguh beruntung mereka berhasil menemukan para penjahat itu hingga mereka tidak kehilangan jejak. Erlangga terus mengikuti motor para perampok itu dari belakang, ia tidak dapat menyalip karena kondisi lalu lintas yang sangat padat saat itu.
Erlangga fokus menatap kedepan, ia tidak ingin kehilangan jejak sedangkan Alexa menatap Erlangga dengan raut wajah yang begitu khawatir terhadap luka ditangan Erlangga. Saputangan yang ia gunakan untuk membalut luka Erlangga telah berubah warna hal itu menunjukkan kalau pendarahan dilengan Erlangga belum berhenti
"Saputangan ini tidak akan bisa menghentikan pendarahannya. Kalau begini terus dia bisa drop,,,!" Batin Alexa.
Seorang pria yang dibonceng paling belakang menyadari kalau mereka sedang diikuti, ia terlihat berbisik kepada temannya dan tidak lama kemudian sang pengemudi menambah kecepatan laju motornya untuk menghindari kejaran.
"Sepertinya mereka sudah sadar kalau mereka sedang kita ikuti" Ucap Erlangga.
"Apa tidak terlalu berbahaya kalau kita terus mengikuti mereka Ga,,,! Kamu sendiri sedang terluka. Kamu pasti tidak akan bisa menghadapi mereka sendirian" Alexa makin khawatir.
"Masalah itu kita pikirkan nanti, yang penting saat ini kita harus bisa mengejar dan menghentikan motor itu" Ucap Erlangga tenang.
"Lantas apa yang akan kamu lakukan nanti,,,! Apa kamu pikir kamu bisa melawan mereka seorang diri" Ucap Alexa dengan nada tinggi.
Erlangga melirik kearah Alexa sekilas seraya berkata :
"Mau bagaimana lagi kita sudah telanjur mengejar mereka. Jadi kita harus melanjutkannya sampai akhir".
Alexa menggelengkan kepalanya.
Satu jam berlalu dan adegan saling kejar mengejar itu masih terus berlangsung. Para perampok itu dengan sengaja melewati jalanan yang sepi dan terpelosok agar memudahkan mereka untuk kabur. Mereka berpikir kalau mereka pasti bisa kabur jika memasuki daerah perdesaan yabg gelap dan sepi.
Sementara itu Erlangga dan Alexa terus menatap kedepan dan hanya terfokus pada motor perampok itu hingga tanpa menyadari kalau mereka telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari ibu kota dan kini telah memasuki daerah perdesaan.
Suasana perdesaan yang gelap gulita dimalam hari membuat pandangan mata sedikit terhambat dan mereka hanya memiliki jarak pandangan yang terbatas.
Hal itu membuat Erlangga mulai kesulitan untuk melajukan mobilnya hingga akhirnya ia kehilangan jejak para perampok itu.
"Ini dimana Ga,,,? Kenapa gelap sekali,,,?" Alexa mulai takut.
"Sepertinya kita kehilangan jejak mereka" Ucap Erlangga.
"Mereka sengaja mengiring kita kesini agar mereka bisa leluasa untuk kabur".
"Terus bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan,,,? Kita telah pergi terlalu jauh". Alexa melihat kearah luar namun tidak dapat melihat apapun selain hutan yang dipenuhi pepohonan.
"Sebenarnya saat ini kita berada dimana,,,? Apa kita sedang berada ditengah hutan,,,?" Alexa menatap Erlangga.
"Entahlah,,,! Aku tidak bisa memastikannya" Jawab Erlangga.
Alexa mengeluarkan ponselnya dan berusaha melacak posisi mereka saat ini, namun sayangnya aplikasi itu tidak bisa bekerja.
"Ah sial,,,! Disini tidak dapat menangkap sinyal" Alexa menggoyang- goyangkan ponselnya untuk mencari sinyal.
Erlangga menahan tangan Alexa agar ia berhenti mengoyangkan ponselnya.
"Sudah hentikan, kamu tidak akan mendapatkan sinyal dengan cara itu".
"Jadi sekarang kita harus bagaimana,,,?" Alexa mencoba memikirkan sesuatu.
"Apa tidak sebaiknya kita putar balik saja, kita pasti bisa kembali kalau kita putar balik. Iyakan,,,?".
Erlangga menatap Alexa sambil mengangguk.
"Iya, baiklah" Ucap Erlangga.
"Tapi kita tidak bisa putar balik disini karena jalannya sangat sempit. Sepertinya kita harus jalan kedepan sebentar lagi, mungkin ada tempat untuk kita bisa putar balik".
Alexa mengangguk setuju dan Erlangga melajukan mobil kembali. Suasana malam yang gelap gulita membuat mereka kesulitan untuk menemukan arah jalan. Entah mengapa perjalanan itu terasa sangat panjang, bahkan sepertinya tidak akan ada ujungnya.
Alexa menatap kedepan dengan perasaan yang mulai gelisah, ia tidak henti- hentinya memainkan jari jemarinya. Erlangga melirik kesampingnya dan melihat perilaku Alexa yang mulai tidak wajar. Erlangga mengulurkan tangan kirinya mencoba menggenggam tangan Alexa sambil membelai lembut.
Kedua tangan Alexa terlihat begitu kecil ketika berada didalam genggaman tangan Erlangga. Alexa tersenyum melihat tangannya yang menghilang tertutupi oleh genggaman Erlangga.
"Kita nyasar Ga,,,! Sepertinya saat ini kita benar- benar nyasar" Ucap Alexa.
"Iya aku tahu. Tapi kamu tidak usah khawatir" Erlangga menatap Alexa.
"Kita akan menemukan jalan keluar".
Alexa tersenyum dan kini perasaannya mulai sedikit tenang.
"Aku tidak akan pernah khawatir selama kamu ada disampingku. Aku bahkan tidak keberatan walaupun harus nyasar keujung dunia sekalipun asalkan itu bersama denganmu, aku rela,,,!".
Alexa tertawa geli menyadari khayalannya yang mulai menggila itu. Bagaimana mungkin ia memiliki pikiran gila itu disaat situasi yang sedang kacau begini.
Bersambung,,,!!!
Terima kasih bagi teman2 yang masih setia mengikuti cerita ini.
Jangan bosan2 untuk terus mampir ya
Mohon berkenan untuk meninggalkan jejak kalian dengan Like, comment, vote dan share