ERLANGGA

ERLANGGA
Bertemu kembali #2



Suasana didalam kantor Sofian Otomotif terlihat sedikit mencengkram. Erlangga duduk dikursi bersama dengan Panji sedangkan Alexa dan Naora berbagi satu sofa berdua. Naora menatap Erlangga dengan pandangan tajam dan penuh tanda tanya sementara itu Alexa hanya tersenyum santai tidak memahani situasi saat itu.


Alexa mulai jengah hanya duduk terdiam tanpa ada yang bersuara.


"Hem,,, Heemmm,,,!" Alexa berdehem seolah tenggorokannya kering.


"Nggak ada air ya,,,!".


Panji bangun mengambilkan sebotol air untuk Alexa.


"Makasih,,,,!" Alexa menerima air tersebut dan langsung meminunya.


"Terus mobilku bagaimana,,,? Bisa diperbaikikan,,,?".


"Bisa,,,!"Jawab Panji.


"Tapi sebaiknya kamu bawa mobil itu ke bengkel resminya. Kami tidak bisa memperbaikinya disini".


"Memangnya kenapa,,,? Ini bengkel mobil juga kan,,,? Kenapa tidak bisa diperbaiki disini saja,,,?" Tanya Alexa.


"Karena bengkel kami bukan bengkel resmi untuk mobil itu,,,?" Jelas Panji.


"Emang apa bedanya,,,! Sama- sama bengkel kan,,,! Dimana- mana yang namanya bengkel semuanya sama,,,!" Ujar Alexa lagi.


"Lagipula tadi kalian bilang mobil aku bisa diperbaikikan,,,! Kenapa nggak diperbaiki saja disini saja. Apa masalahnya,,,?".


Naora yang tadinya hanya terdiam akhirnya ikut berkomentar.


"Kamu itu keras kepala banget sih,,,,! Kalau mereka menyuruh kamu membawa mobil itu kebengkel lain, itu artinya kamu memang harus membawanya pergi,,,!".


"Memang harus seperti itu,,,? Kenapa begitu,,,?" Tanya Alexa.


"Karena memang itu aturannya, dan aturan itu harus diikuti,,,!" Ucap Naora.


"Aturan apa,,,! Siapa yang membuat aturan aneh seperti itu,,,! Nggak masuk akal banget" Alexa tetap tidak mau mengalah.


"Kamu itu emang nggak bisa dibilangin ya,,,! Kenapa sih kamu nggak mau dengar ucapan kami,,,!" Naora mulai emosi.


"Loh,,, Kenapa jadi Loe yang marah- marah,,,! Mereka yang punya bengkel saja nggak marah. Emang loe siapa sih, main ikut campur aja,,,!".


"Aku pemilik bengkel ini,,,!" Ucap Naora bangga.


"Apa,,,! Hahahaha,,,! Masa sih,,,!" Alexa tidak percaya.


"Kamu nggak percaya,,,! Kamu bisa tanya sama mereka. Siapa pemilik bengkel ini,,,!" Ucap Naora.


"Jadi kamu memang pemilik bengkel ini,,,! Masa,,,! Kok gue nggak yakin ya,,,! Emang iya,,,!".


Alexa menatap Panji dan Erlangga ingin mengetahui kebenaran dan mereka berdua mengangguk pelan.


Sementara itu Dedi, Leon dan Abeng sedang mengintip dari luar, mereka penasaran apa yang terjadi didalam kantor.


"Mereka lagi bicara apa sih,,,?" Dedi menempelkan telinganya dijendela.


"Nggak tahu, aku nggak bisa dengar apa- apa,,,?" Abeng melakukan hal yang sama dengan Dedi.


"Eh kira- kira bos Angga kenal sama mbak yang tadi itu dimana ya,,,?" Leon masih penasaran.


"Mana gue tahu,,,! Bos Angga kan nggak ngomong apa- apa,,,!" Ucap Dedi.


"Loe masuk kedalam sana, tanyain langsung sama bos Angga".


"Ya nggak mungkin sekarang juga kali mas, yang ada aku kenal jitak lagi sana bos Angga" Jawab Leon.


Dedi cs kembali melihat kedalam dan semakin penasaran.


Alexa sedikit kaget namun ia dapat menguasai situasi kembali.


"Ooo jadi emang benar ya,,,! Kok gue nggak yakin ya,,,!".


"Hahahaha,,,! Ooo jadi benar. Masa sih,,,! Jadi loe beneran pemilik bengkel ini,,,! Jadi gitu ya,,,,! Tapi Kok nggak cocok ya,,,!".


"Apa,,,! Loe bilang apa,,,?" Naora semakin emosi.


"Maksud loe apa dengan kata nggak cocok itu,,,!".


Alexa ingin melanjutkan ucapannya namun langsung dipotong oleh Erlangga.


"Naora sudah,,, Cukup,,,! Kamu juga,,,!" Erlangga menatap Naora dan Alexa bergantian.


"Kamu,,,,! Kak Angga memanggil cewe ini 'kamu'. Kenapa,,,! Apa sebenarnya hubungan diantara mereka. Apa mereka sedekat itu,,,?" Naora cemburu.


"Sudah cukup,,,! Kalian nggak perlu berdebat lagi" Erlangga kembali berkata:


"Dan kamu dengar ya,,,!" Ucapan Erlangga dipotong Alexa.


"Kamu,,,! Panggilan apa itu,,,! Gue nggak suka panggilan itu. Gue punya nama ya,,! Nama gue Alexa,,,! A L E X A ,,,,! Jadi berhenti memanggil gue 'kamu',,,!".


"Ok,,, Alexa sorry,,,! Sorry karena telah membuat kamu tidak nyaman.


Jadi begini, apa yang dikatakan teman saya Panji itu benar, kami tidak bisa memperbaiki mobil kamu. Kami hanya bengkel biasa bukanlah bengkel resmi, jadi kami tidak diperkenankan untuk menyentuh mobil itu".


"Ok,,,! Kalian dari tadi terus mengatakan tidak bisa, tidak bisa dan tidak bisa,,,!


But,,, why,,,!!! Why,,,!" Alexa mulai tidak menyukai alasan yang mereka berikan. "Kenapa tidak bisa,,,! Kenapa,,,! Gue harus tahu dong alasannya, kenapa mobil gue hanya boleh kebengkel resmi itu dan nggak boleh kebengkel lain".


"Karena kamu harus membayar biaya servis dan perawatannya,,,! Ucap Panji.


"Apa,,,! Hahahahah,,,!" Alexa tertawa.


"Kalian lucu banget sih,,,! Dimana- mana orang kalau kebengkel ya pasti harus bayar. Mana ada yang gratis,,,! Emang kalian pikir aku nggak bisa bayar,,,! Hah,,,!".


"B,, b,, bukan, bukan seperti itu,,,!" Panji kelabakan.


"Kalau dibengkel resmi kamu tidak perlu bayar karena memang sudah termasuk servis rutin yang diberikan oleh perusahaan, jadi gratis. Tapi kalau disini kamu harus membayar semua perawatan tersebut".


"Ooo,,, Jadi dari tadi itu maksud kalian,,,! Kenapa nggak bilang langsung sih,,,! Hahahaha,,,! Bikin pusing tahu nggak,,,!".


Alexa membuka tasnya dan mengeluarkan dompet.


"Jadi berapa,,,? Aku harus bayar berapa,,,? Disini bisa pakai kartu kredit,,,! Limit,,,! Atau harus Cash,,,?".


"Tunggu,,,! Tunggu dulu,,,,!" Erlangga menghentikan Alexa yang mulai mengeluarkan beberapa kartu dan juga uang.


"Kamu tidak perlu membayarnya sekarang, Kamu bisa membayarnya setelah kami memperbaikinya terlebih dahulu".


"Ok,,,!" Alexa memasukan uangnya kembali sambil tersenyum.


Suasana kembali hening.


"Oh iya,,,! Nama kamu siapa,,,?" Alexa menatap Erlangga.


Erlangga kaget mendapat pertanyaan yang tidak terduga seperti itu, sementara Panji dan Naora juga ikut menatap Erlangga.


"Kenapa diam,,,! Kamu punya nama kan,,,?" Tanya Alexa kembali.


"Kamu masih ingat sama aku kan,,,? Aku yakin kamu masih ingat, nggak mungkin kamu bisa lupa sama aku".


Naora menatap Alexa dengan kesal kemudian menatap Erlangga tajam sambil menyebut namanya


"Erlangga,,,! Namanya Erlangga,,,!".


"Ooo,,, Erlangga,,,! Eeemmm,,,! Nama yang keren, sekeren orangnya" Ucap Alexa.


"Erlangga,,,! Jadi kamu dipanggil dengan nama apa,,,? Eeeemmm,,,! Er,,,! Erlang,,,! Angga,,,! Atau Elang,,,?".


Erlangga masih terdiam.


"Hei,,,!" Naora berteriak kesal.


"Siapa kamu berani- beraninya memanggil kak Angga dengan nama yang aneh seperti itu,,,!".


"Loh,,,! Kenapa,,,! Kan keren,,,! Orang keren harus punya nama panggilan yang keren juga dong. Iya kan,,,,?" Alexa berucap santai.


"Oh iya, terima kasih ya karena kamu sudah menolongku waktu itu. Kamu hadir disaat yang tepat, disaat aku begitu membutuhkan kamu,,,!" Alexa segaja mengatakan hal itu karena ia tahu gadis disampingnya sangat kesal kepadanya.


Semua terkejut mendengar ucapan Alexa yang seolah- olah terdengar seperti ucapan terima kasih dari seorang kekasih.


Naora tidak bisa memendam kekesalannya kepada Alexa. Ia sama sekali tidak suka ada orang yang memuji Angga didepannya, apalagi orang itu adalah Alexa.


"Kamu,,,!".


"Naora,,,! Sudah cukup. Kenapa kalian terus memperdebatkan hal- hal yang tidak masuk akal" Ucap Erlangga akhirnya.


Erlangga melihat Alexa dan berkata :


"Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai. Kamu bisa tinggalkan mobil itu disini, nanti kami akan menghubungi kamu kalau mobilnya sudah selesai diperbaiki".


"Ok,,,! Baiklah kalau begitu. Aku titip mobil aku sama kamu" Alexa mengeluarkan selembar kartu nama dan menyerahkannya kepada Erlangga.


"Ini,,,! Kamu bisa menghubungi aku melalui nomer itu. Next, kita bahas lagi masalah tadi ok,,,!".


Erlangga meraih kartu nama yang diberikan Alexa.


"Ok,,,! Baiklah,,,!".


"Ok,,,! Kalau tidak ada yang harus dibicarakan lagi, aku mau pergi dulu" Ucap Alexa.


"Iya benar, kamu pergi sana,,,! Nggak ada harus dibicarakan lagi. Lebih cepat kamu pergi lebih baik,,,!" Naora mengusir Alexa.


Alexa tersenyum sinis mendengar ucapan Naora sambil keluar dari kantor Erlangga. Sementara itu Naora masih menatap Erlangga dengan perasaan kesal.


Bersambung,,,,