ERLANGGA

ERLANGGA
Aku ikut Kamu



Erlangga sedang berbicara serius dengan seseorang diseberang sana melalui ponselnya. Wajahnya terlihat tegang sekaligus kesal.


"Loe serius,,,?" Erlangga terlihat kesal.


"Loe nggak percaya sama gue,,,! Sejak kapan gue bohong sama loe,,,!" Ucap Ramon.


"Kalau begitu loe tunggu gue. Gue kesana sekarang,,,!".


Erlangga mematikan ponselnya dengan perasaan kesal setelah mendengar berita dari Ramon. Ia kemudian membereskan meja kerjanya setelah itu meraih jaket dan langsung memakainya. Bersamaan dengan itu Panji masuk kedalam kantor yang diikuti oleh Alexa.


"Loe mau kemana Ga,,,? Kok buru- buru banget,,,!" Tanya Panji ketika melihat yang sedang memakai jaket.


"Gue mau keluar sebentar, loe jaga bengkel. Ok,,,!" Ucap Erlangga.


"Terus masalah ini bagaimana,,,?" Panji menunjuk kearah Alexa yang sedang berdiri disampingnya.


"Kenapa,,,? Ada masalah apa,,,? Kan mobilnya sudah beres,,,,!" Erlangga melirik Alexa sekilas kemudian kembali menatap Panji.


"Nona Alexa mau menyelesaikan ADM mobilnya" Ucap Panji.


"Ya udah, loe urus aja,,,! Gue lagi buru- buru" Erlangga berjalan cepat menuju pintu keluar namun langkahnya terhenti karena Alexa menghalangi jalannya.


"Tunggu,,,!" Alexa berdiri didepan Erlangga sambil merentangkan tangannya.


"Aku ikut kamu,,,!".


"Apa,,,!" Erlangga kaget.


Panji juga tidak kalah kaget dengan Erlangga ketika melihat apa yang sedang dilakukan Alexa.


"Kamu sedang apa,,,? Minggir,,,!" Erlangga menyuruh Alexa pergi.


"Kamu mau pergikan,,,! Aku ikut sama kamu,,,! Ya,,,!" Ucap Alexa lagi.


"Kamu bicara apa,,,? Untuk apa kamu ikut dengan aku,,,?" Erlangga menatap Alexa dengan tajam.


"Aku sedang buru- buru, jadi aku minta kamu minggir sekarang,,,!".


"Nggak mau,,,! Aku mau minggir kalau kamu mengizinkan aku untuk ikut bersama denganmu,,,!".


Alexa sebenarnya mulai ketakutan dan nyali mulai menciut melihat tatapan Erlangga yang begitu tajam kepadanya, namun suara hatinya menyakinkannya untuk tetap bertahan.


Erlangga mengusap kepalanya kesal, ia kesal dengan situasi yang sedang dihadapinya saat ini.


"Panji,,,!" Erlangga melirik Panji.


"Iya Ga,,,!" Panji menghampiri Erlangga.


"Ada apa,,,?".


"Kamu urus dia,,,!" Erlangga mendorong tubuh Alexa kesamping dan kemudian langsung berjalan keluar.


"Eh tunggu dulu,,,!" Alexa masih tetap ingin ikut dengan Erlangga.


"Nona Alexa mau kemana,,,?" Panji meraih tangan Alexa untuk menghentikannya.


"Urusan kita belum selesai,,,!".


Alexa menghempaskan tangannya hingga tangan Panji ikut terlepas.


"Urusan kita,,,!" Alexa menunjuk wajahnya dan wajah Panji bersamaan.


"Kita lanjutkan lagi kali,,,! Ok,,,!".


Alexa berlari keluar dan menyusul Erlangga.


"Aduh,,,! Gawat ini,,,! Gue bakal dimarahi lagi sama Angga. Sialan,,,! Sial banget sih gue hari ini,,,!" Panji terus mengoceh sendirian.


Erlangga meraih helm kemudian langsung naik keatas motornya. Alexa yang melihat Erlangga sudah naik keatas motor semakin mempercepat langkahnya tidak ingin ditinggal.


"Hei tunggu dulu,,,!" Alexa menarik jaket Erlangga.


"Kenapa kamu ningglin aku,,,!".


Erlangga terkejut ketika Alexa menarik jaketnya.


"Kamu mau apa lagi,,,? Aku tidak punya waktu untuk bercanda. Aku sedang buru- buru" Erlangga menatap Alexa.


"Siapa yang sedang bercanda,,,!" Alexa juga menatap Erlangga.


Erlangga dan Alexa saling bertatap mata hingga beberapa saat.


Sementara itu Dedi Cs bengong melihat adegan saling bertatap mata yang sedang berlangsung didepan mata mereka.


"Bos Angga lagi ngapain sama cewe itu,,,?" Ojan memulai percakapan.


"Mereka lagi berantem atau lagi melakukan apa sih,,,?" Abeng ikut berkomentar.


Leon hanya terdiam menatap tanpa ingin berkomentar apa- apa. Sementara itu Dedi semakin penasaran dan ia ingin melangkah mendekat kearah Erlangga dan Alexa. Dedi mulai berjalan perlahan namun Leon dan Ojan menarik lengannya hingga langkahnya terhenti.


"Mas Dedi mau kemana,,,?" Tanya Leon.


"Iya,,,! Mas bro mau kemana,,,?" Lanjut Ojan.


"Kalian apaan sih,,,! Lepasin nggak,,,?" Dedi menatap Leon dan Ojan.


"Gue mau menjalankan sebuah misi penting ini".


Leon dan Ojan melepaskan tangan Dedi


"Misi apa mas,,," Leon penasaran


Dedi tersenyum sinis


"Misi pengintaian,,,!".


"Mas Dedi mau mengintai siapa,,,?" Ojan masih bingung.


"Dasar ****,,,!" Dedi menjitak kepala Ojan.


"Ya mengintai bos Angga lah,,,! Emang siapa lagi. Kalian lihat itu,,,!" Dedi menunjuk kearah Erlangga dan Alexa.


"Mereka saling memandang satu sama lain. Dan gue yakin kalau dugaan gue pasti tidak salah lagi, kalau mereka itu,,,?".


"Mereka kenapa Mas,,,? Bos Angga kenapa,,,?" Abeng mulai khawatir.


Dedi melanjutkan ucapannya kembali


"Mereka pasti terlibat dalam satu hubungan".


"Hubungan apa mas,,,?" Tanya Ojan.


Leon yang tadinya penasaran dengan ucapan Dedi mulai paham kemana arah dan tujuan Dedi sesungguhnya yaitu sebuah praduga yang keliru dari kenyataan yang sebenarnya. Dedi memang selalu salah dan selalu sok tahu dalam membaca situasi dan yang lebih parahnya lagi Ojan dan Abeng kembali menjadi korban dari praduga Dedi yang keliru tersebut.


"Hubungan hutang piutang,,,!" Ucap Dedi akhirnya.


"Apa,,,!" Ojan dan Abeng kaget berbarengan.


Sementara itu Leon hanya menggeleng- gelengkan kepalanya sambil menahan tawa.


"Apa mas, hutang,,,? Siapa,,,? Siapa yang berhutang,,,?" Tanya Ojan.


"Loe itu memang **** ya,,,!" Dedi melirik Ojan.


"Loe nggak lihat cewe itu tadi mengejar- ngejar bos Angga. Ya pasti bos Angga lah yang punya hutang sama cewe itu,,,!" Ucap Dedi penuh percaya diri seolah- olah ia tahu segalanya.


"Apa,,,! Bos Angga punya hutang sama cewe itu,,,!" Ojan mulai bersedih.


"Kasihan bos Angga,,,! Hidup bos Angga selalu dalam masalah".


"Iya, kasihan bos Angga" Sambung Abeng.


"Kita harus membantu bos Angga menyelesaikan hutangnya".


"Iya,,,! Aku setuju,,,!" Ucap Ojan bersemangat.


Leon benar- benar tidak sanggup menahan tawanya lagi hingga akhirnya suaranya terdengar ngakak


"Hahahahahha,,,!".


Dedi, Ojang dan Abeng menatap Leon yang sedang tertawa terbahak- bahak.


"Loe kenapa Leon,,,? Kesambet loe,,,!" Tanya Dedi.


Leon masih tertawa ngakak hingga tidak sanggup untuk berucap apa- apa.


Ojan dan Abeng menuntun Leon yang masih tertawa ngakak memikirkan rekan- rekannya yang menderita Telmi (Telat Mikir) parah.


Dedi mengikuti mereka dari belakang dengan mulut yang terus mengoceh tidak jelas.


"Leon,,,! Leon,,,! Kasihan kamu Leon,,,! Sebegitu beratkah beban hidupmu hingga kamu tidak sanggup untuk menangis lagi" Dedi menepuk- nepuk pundak Leon.


"Kasihan kamu Leon,,,!".


#Apa ada ya orang yang kayak Dedi Cs,,,?


Erlangga dan Alexa masih saling menatap hingga akhirnya Erlangga mengalah karena ia tidak punya waktu untuk berdebat dengan Alexa.


"Baiklah,,,!" Erlangga mengalah.


"Sekarang katakan, kamu mau apa,,,?".


"Aku kan sudah bilang dari tadi kalau aku mau ikut sama kamu,,,!" Alexa mengulangi ucapannya.


"Kamu mau ikut kemana,,,? Mau ikut sama aku,,,? Nggak boleh. Kamu nggak boleh ikut dengan aku,,,! Bahaya,,,!" Tegas Erlangga.


"Bahaya kenapa,,,? Aku kan cuma mau ikut nebeng sama kamu bukannya mau ngikuti kemana kamu pergi" Ucap Alexa.


Erlangga menghela nafas panjang, ia tidak tahu harus berkata apalagi.


"Ya udah cepat naik,,,! Aku buru- buru,,,!".


Erlangga menyerahkan sebuah helm kepada Alexa dan Alexa langsung memakainya sambil tersenyum setelah itu ia naik keatas motor.


"Kamu mau kemana,,,?" Tanya Erlangga.


"Anterin aku ke alamat yang waktu itu" Ucap Alexa.


"Alamat apa,,,?" Erlangga lupa.


"Ih masa lupa sih,,,!". Alexa kesal


"Jalan Tulip,,,!".


"Oh,,,! Ok,,,!" Erlangga mengangguk.


Erlangga melajukan motor dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga Alexa mulai merasa gugup dan takut. Perlahan Alexa melingkarkan tangannya dipinggang Erlangga. Erlangga dapat merasakan lingkaran tangan Alexa yang begitu kuat dipinggangnya.


"Kalau takut naik motor kenapa tetap bersikeras ingin ikut,,,! Dasar cewe aneh,,,!".


Motor Erlangga terus melaju dengan cepat hingga beberapa saat kemudian mereka sampai ditempat Alexa. Motor telah berhenti namun Alexa masih belum turun, ia masih mengumpulkan nyawanya yang sempat hilang disepanjang perjalanan untuk kembali kedalam tubuhnya.


"Kamu tidak mau turun,,,?" Ucap Erlangga.


"Ini alamat yang kamu berikankan,,,?".


Erlangga melirik kebelakang dan melihat Alexa yang masih menundukkan kepalanya dibelakang punggung Erlangga. Erlangga mulai khawatir karena Alexa tidak menjawab pertanyaannya.


"Hei,,,! Kamu baik- baik sajakan,,,?" Tanya Erlangga.


Alexa mengangkat kepalanya sambil melihat kesekelilingnya kemudian turun dari motor Erlangga. Erlangga kaget melihat wajah Alexa yang sangat pucat.


"Kamu tidak apa- apa,,,?" Suara Erlangga terdengar cukup pelan.


Alexa menarik nafas perlahan.


"Aku nggak apa- apa,,,! Aku baik- baik saja,,,!" Ucap Alexa sambil menyisir rambutnya yang kusut diterpa angin.


"Kalau kamu takut naik motor kenapa tetap memaksa ingin ikut,,,! Kamu mau pamer sama siapa,,,?" Erlangga memandang Alexa yang sedang sibuk dengan rambutnya.


Erlangga melihat ada daun yang tersangkut dirambut Alexa.


"Kemari,,,!" Erlangga menggerakkan jemarinya menyuruh Alexa mendekat.


"Apa,,,?" Alexa bingung tidak mengerti maksud Erlangga.


"Kamu mendekat kemari,,,!" Erlangga mengulang hal yang sama.


Alexa paham dan mulai berjalan mendekat kearah Erlangga. Erlangga mengulurkan tangannya dan mengambil daun yang tersangkut dirambut Alexa.


"Lain kali jangan ngotot minta ikut naik motor kalau kamu memang takut. Bahaya tahu nggak,,,!" Ucap Erlangga.


"Siapa yang takut,,,! Aku nggak takut kok. Kamu aja yang mengendarai motor udah kayak orang gila" Mata Alexa melotot kepada Erlangga.


Erlangga tidak ingin terus berdebat dengan Alexa karena ia tahu bahwa laki- laki tidak akan pernah bisa menang berdebat dengan wanita. Erlangga tersenyum kecil sambil melirik kearah Alexa.


"Alexa,,,!".


Sebuah suara terdengar dari belakang membuat Erlangga dan Alexa melirik secara bersamaan.


"Niko,,,!" Alexa terkejut melihat Niko yang sedang berjalan kearahnya.


"Mau ngapain kamu datang kesini,,,?".


"Aku yang seharusnya bertanya, sedang apa kamu disini dengan laki- laki ini,,,?" Niko menatap Erlangga.


"Siapa dia,,,?"


"Bukan urusan kamu,,,?" Alexa berbalik tidak ingin menjawab pertanyaan Niko.


Niko mengejar Alexa


"Tunggu Alexa,,,! Kamu harus menjelaskan dulu siapa laki- laki itu,,,!".


"Aku kan sudah bilang, itu bukan urusan kamu,,,!" Alexa menunjuk dada Niko.


Alexa kembali berjalan namun Niko meraih tangannya dan digenggam dengan erat hingga Alexa merasa kesakitan.


Erlangga yang tadinya ingin meneruskan perjalanan akhirnya menyusul Alexa karena ia tidak bisa tinggal diam melihat Alexa dan Niko yang sedang bertengkar.


"Lepasin Niko,,,! Lepasin tangan aku. Sakit Niko,,,!" Alexa merintih kesakitan.


Niko tidak menghiraukan ucapan Alexa dan semakin mengeratkan genggaman tanganya namun tiba- tiba tangan Erlangga menepis tangan Niko hingga tangan Alexa terlepas.


"Kamu tidak apa- apa,,,?" Erlangga mendekat kearah Alexa.


Alexa mengelus lengannya yang masih terasa sakit.


"Tidak,,,! Aku tidak apa- apa,,,!".


"Apa- apaan loe,,,!" Niko mulai kesal.


"Loe siapa,,,? Berani- beraninya ikut campur urusan gue sama Alexa,,,!".


Erlangga menyembunyikan Alexa dibalik punggungnya dan kemudian menatap Niko yang terlihat mulai emosi.


"Gue memang bukan siapa- siapa,,,! Tapi gue tidak suka melihat laki- laki yang berbuat kasar kepada seorang wanita" Ucap Erlangga.


"Loe nggak usah ikut campur,,,!" Niko semakin meradang.


"Asal loe tahu ya,,,! Wanita ini adalah calon istri gue. Jadi gue berhak melakukan apapun kepadanya dan loe nggak punya hak untuk ikut campur".


Erlangga terkejut mendengar ucapan Niko, ia sedikit menyesal karena terlanjur ikut campur urusan orang lain. Erlangga melirik Alexa yang masih berada dibelakangnya dan Alexa menggelengkan kepala kepada Erlangga sebagai pertanda kalau ucapan Niko tadi tidak benar.


"Kamu jangan bicara sembarangan Niko,,,!" Alexa mulai muak dengan kelakuan Niko.


"Apa kamu sudah lupa apa yang sudah terjadi dengan hubungan kita,,,! Aku bukan tunangan kamu lagi,,,! Kita sudah putus,,,! Ingat itu,,,!".


Alexa menatap Erlangga sambil berkata :


"Kamu pergi saja Ga,,,! Kamu tidak usah mendengarkan ucapan laki- laki gila itu. Aku sudah tidak apa- apa".


"Kamu yakin,,,!" Entah kenapa Erlangga masih merasa khawatir kepada Alexa.


"Iya, aku yakin. Aku sudah nggak apa- apa. Kamu pergi saja" Ucap Alexa.


"Terima kasih ya,,,!".


Alexa tersenyum kepada Erlangga dan Erlangga membalasnya dengan sebuah anggukan pelan.


Alexa berjalan cepat masuk kedalam kantornya dan tidak ingin berurusan dengan Niko lagi. Sementara itu Erlangga juga kembali berjalan kearah motornya sambil melirik Niko yang menatapnya tajam


"Awas loe ya,,,!" Ancam Niko.


Erlangga tidak pernah menyangka kalau ia akan terlibat dalam masalah ini. Masalah awal yang akan membawanya kepada masalah- masalah lain yang pelik dan berbahaya.


Bersambung,,,!!!