
Masa remaja merupakan masa- masa yang paling berat bagi seorang anak laki- laki karena masa tersebut merupakan masa transisi dari anak laki- laki berubah menjadi laki- laki dewasa. Sehingga jika masa remaja seorang anak laki- laki tidak diberi arah dan bimbingan yang tepat maka ia akan menjadi laki- laki dewasa yang akan gagal menuju kedewasaannya.
Masa remaja memang masih penuh dengan perilaku main- main seperti anak kecil, tapi kadang cara mereka bermain terkadang terlalu berlebihan. Begitupun dengan Erlangga remaja, ia tumbuh menjadi seorang ABG yang memiliki perilaku diluar kendali. Erlangga remaja tidak hanya nakal namun juga paling gemar berkelahi dan suka mencari masalah dengan orang lain.
Seperti hari ini, Erlangga dan dua sahabatnya sedang bolos sekolah dan berkeliaran di sekitar sekolahnya.
"Hei,,,!" Panggil Angga.
Angga memanggil beberapa pelajar yang sedang membolos diwarung dekat sekolahnya.
"Apa,,,? Kenapa loe,,,?" Jawab salah satu pelajar.
"Lagi ngapain loe disini,,,? Nggak masuk sekolah loe ya,,,!" Tanya Angga lagi.
"Bukan urusan loe,,,! Loe pergi sana. Gue nggak ada urusan sama loe" Jawab pelajar lain.
Angga melirik kedua sahabatnya sambil tersenyum.
"Ada mangsa nih,,,! Ayo kita kerjain" bisik Angga.
"Hei,,,,! Asal kalian tahu ya. Kami dari pengurus OSIS tidak mengizinkan kalau ada siswa yang bolos masuk sekolah dan nongkrong di warung sambil m******k".
Angga mendekat dan berbisik sambil menunjukkan ponselnya.
"Kalau kalian nggak mau nurut, kalian semua bisa kena masalah".
"Maksud loe apa,,,? Ngapain loe pake ngancem- ngancem kita,,,? Emang loe siapa,,,? Loe juga sedang boloskan,,,,?" Seorang pelajar berdiri menantang Angga.
"Wah,,, berani nie anak,,,! Loe nggak tahu siapa gue,,,?" Angga berbalik sambil tersenyum.
"Perlu dikasih pelajaran nih,,,?".
Angga melayangkan sebuah pukulan dan mengenai wajah pelajar tersebut hingga membuatnya tersungkur ditanah.
"Kalau ada orang yang lagi bicara kalian harus dengerin jangan suka membantah" Ucap Angga.
Dan pertengkaranpun tidak dapat dihindari, mereka saling memberi dan membalas pukulan hingga seorang petugas keamanan sekolah menghentikan mereka. Karena tidak ada yang mau mengakui siapa yang memulai pertengkaran akhirnya mereka dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa dengan wajah yang sudah babak belur.
"Siapa yang memulai perkelahian,,,?" Tanya pak polisi.
Para pelajar itu saling menyalahkan satu sama lain.
"Dia pak,,,!" Tunjuk seorang pelajar
"Dia tu pak,,,!" Angga tidak mau kalah
"Enak aja, loe yang mulai,,,!" Pelajar lain ikut menjawab
"Loe yang nonjok gue duluan,,,!"
"Jangan nuduh sembarangan ya,,,!" Angga tidak mengakui perbuatannya.
"Loe nggak lihat muka gue yang paling parah,,,!"
"Luka dikit begitu udah ngadu, cemen loe,,,?" Ejek Angga.
"Apa,,,! Loe ngomong apa tadi,,,,?"
"Cemen,,,?" Angga tetap mengejek
"Dasar,,,!"
Mereka kembali bertengkar hingga petugas polisi kesulitan untuk melerai mereka. Karena tidak ada yang mau mengakui kesalahannya, akhirnya mereka di tahan di kantor polisi. Pihak kepolisian kemudian menghubungi keluarga para pelajar tersebut selaku wali untuk menjemput mereka serta membuat laporan pertanggung jawaban. Dan orang tua Erlangga ikut dipanggil oleh polisi.
"Mas,,,! ayo mas,,,!" Ajak bu Lesti.
"Apa sih bu,,,? Ibu tidak lihat ayah lagi sibuk" Jawab pak Fahmi.
"Mas, kasihan Angga mas,,,! Ayo kita jemput dia. Masa mas tega membiarkan Angga tidur di kantor polisi malam ini" Bujuk bu Lesti.
"Biarkan saja bu,,,! Biarkan dia merasakan dinginnya udara di dalan penjara. Anak itu memang sudah keterlaluan, jadi biarkan saja dia menanggungnya sendiri".
"Mas kenapa bicara seperti itu,,,! Apa mas tidak sayang sama anak sendiri. Angga putra kita satu- satunya mas. Ibu tidak bisa membiarkan Angga semalaman di kantor polisi".
Pak Fahmi menghentikan pekerjaannya dan duduk disamping istrinya itu.
"Angga sudah keterlaluan bu,,,! Sikapnya sudah diluar batas. Jadi biarkan kali ini dia menanggung sendiri hukumannya atas perbuatan yang telah dia lakukan".
"Tapi bukan begini cara menghukum anak mas,,,! Kita bisa membicarakannya baik- baik. Angga pasti akan mengerti".
"Bagaimana lagi caranya bu,,,? Ayah sudah mengingatkan Angga, Ayah juga sudah memberi hukuman untuk Angga tapi ibu lihatkan,,,, Angga tidak berubah sama sekali. Dia malah semakin nakal dan semakin sulit diatur" Pak Fahmi menggelengkan kepalanya.
"Mas,,,! Anak- anak usia remaja seperti Angga memang menjadi tantangan sendiri bagi kita selaku orang tua. Jadi kita harus bersabar menhadapi kelakuan anak kita".
"Ayah tahu bu,,,! Tapi kali ini biarkan Angga menerima hukumannya sendiri. Biarkan dia berpikir apa yang telah dia lakukan hingga harus dihukum seperti itu" Ucap pak Fahmi tegas.
"Tidak mas,,,! Ibu tidak bisa membiarkan itu. Ibu tidak mau Angga bermalam di kantor polisi. Kalau mas tidak mau menjemput Angga, biar ibu saja yang pergi".
Bu Lesti masuk kedalam kamar dan berganti pakaian kemudian keluar kembali.
Pak Fahmi menarik nafas melihat istrinya yang tetap nekat ingin menjemput Angga.
"Bu, tunggu dulu bu,,,?" Pak Fahmi menghentikan istrinya.
"Bapak yang antar ya,,,!".
Pak Fahmi mengambil jaketnya dan keluar bersama istrinya, namun langkah kaki mereka terhenti karena cuaca sedang hujan.
"Hujannya sangat deras bu, kita tunggu sampai sedikit reda ya,,,!" Ucap pak Fahmi.
"Kalau kita tunggu hujan reda, nanti semakin larut malam mas,,,! Kasihan Angga. Dia pasti sedang menunggu kita jemput" Bu Lesti makin mengkhawatirkan Angga.
"Iya, tapi hujan semakin deras bu. Ini juga sudah malam, jalanan gelap dan pasti licin. Bahaya kalau kita pergi dengan keadaan seperti ini".
Pak Fahmi terus membujuk istrinya untuk menunggu hingga hujan sedikit reda.
"Tidak apa- apa mas,,,! Kita bisa pakai jas hujan dan kita bawa motornya pelan- pelan saja".
"Ibu ini kalau ayah bilangin selalu tidak mau di dengar. Ya sudah tunggu disini. Ayah mau ambil jas hujan dulu".
Pak Fahmi mengambil jas hujan dan memberikan satu untuk istrinya dan yang satu lagi dipakai oleh dirinya sendiri.
Akhirnya mereka pun berangkat ke kantor polisi untuk menjemput Angga.
Pak Fahmi mengendarai motornya dengan pelan karena jalanan yang memang sangat licin.
Disaat yang sama sebuah mobil Alphard bewarna hitam melaju dengan kecepatan sedang menerobos derasnya hujan.
"Aku tidak bisa memaafkan Yudis,,,! Aku harus memberinya pelajaran" Pak Bima meremas sebuah map sedang berada di tangganya.
"Maafkan saya Direktur,,! Saya kecolongan. Saya tidak pernah menduga kalau pak Yudis membelok dari pihak kita" Ucap Indra
"Bagaimana mungkin kamu bisa kecolongan seperti ini, Indra,,,! Berapa kali aku perintahkan kamu untuk mengawasi orang- orang yang tidak memihak kepada kita".
Wajah pak Bima murka.
"Kamu sudah tidak sehebat dulu lagi Indra, mengurus masalah ini saja kamu tidak becus".
"Maafkan saya Direktur,,,! Saya akan mengurus masalah ini" Ucap Indra.
"Baguslah kalau kamu sadar kesalahan kamu" Balas pak Bima.
Suasana gelap malam hari ditambah cuaca sedang hujan deras membuat pandangan sedikit terganggu. Pak Handoko sedang fokus mengemudikan mobilnya dengan hati- hati serta beberapa kali melirik kaca spion seperti merasakan sesuatu yang aneh.
"Aneh,,,! Kenapa mobil- mobil itu terus mengikuti mobil direktur. Apa yang mereka inginkan,,,?" Batin pak Handoko.
Pak Fahmi mengendarai motornya dengan sangat pelan dan hati- hati.
"Mas, cepat sedikit dong,,,! Kasihan Angga sudah lama menunggu kita" Ucap bu Lesti.
"Sabar bu,,,! Ini juga sudah cepat. Jalannya licin bu, bahaya kalau ayah harus tambah kecepatan lagi" Ujar pak Fahmi.
Pak Fahmi tetap fokus dengan motornya, beliau melihat beberapa mobil hitam sedang berada tepat didepannya dengan kecepatan sedang. Karena desakan sang istri yang terus menyuruh beliau untuk lebih cepat lagi, akhirnya pak Fahmi mencoba menyalip mobil- mobil didepannya satu persatu. Pak Fahmi tidak menyadari kalau beliau berada diantara orang- orang yang memiliki niat jahat dan bahaya sedang menyertainya.
Entah apa yang terjadi tiba- tiba sebuah mobil yang berada dibelakang melaju dengan cepat hingga menyerempet motor pak Fahmi dan menyebabkan motor tersebut hilang kendali dan berbelok kepinggir jalan dan terjun ke dalam jurang. Pak Fahmi dan istrinya ikut terjatuh bersama motor mereka kedalam jurang.
Mobil tersebut berhenti sebentar namun kemudian kembali melaju pergi meninggalkan pasangan suami istri itu yang terjatuh kejurang.
Peristiwa tragis yang terjadi kepada kedua orang tua Erlangga menjadi pukulan yang sangat berat dalam hidupnya dan kehidupannya pun berubah mulai saat itu.
Bersambung,,,!!!
Like
Comment
Vote
Share
🙏