Elle

Elle
BAB 9 . LUCAS PART 3



Lucas tengah berada diperkebunan, matanya terpuaskan oleh suguhan alam begitu pun dengan jiwanya . Ia merasa berada di rumah, sedangkan rumah sesungguhnya tidak pernah benar-benar menjadi rumah .


"Masuklah, sarapannya sudah siap..!!" suara Elle yang berasal dari dalam membuyarkan lamunannya .


Beberapa saat kemudian mereka sudah berada diruang makan . Elle meletakan beberapa pie kepiring Lucas serta menuangkan jus apel segar kegelas pria yang tengah menatapnya . Lucas tertegun dengan perhatian Elle, karena untuk pertamakalinya ia merasa memiliki keluarga, sedang bagi Elle itu hanyalah hal biasa, yang biasa ia lakukan bersama ibunya .


"Kenapa kau menatap ku seperti itu..?!" tanya Elle risih mendapati tatapan aneh Lucas .


"Ah, tidak ! Pie nya enak sekali..." jawab Lucas gelagapan .


"Bagaimana kau tahu, pie nya saja belum kau makan ?!" ucap Elle seraya memasukan makanan kedalam mulutnya . Sedang mulut pria dihadapannya, tengah melengkung membentuk senyuman .


"Kenapa kau tersenyum..?? dahinya mengerut .


"Berhenti bicara, habiskan dulu makanan dimulut mu !!" ucap Lucas menahan tawa melihat pipi Elle yang mengembang penuh dengan makanan, mirip sekali dengan Pucca (Nama tokoh kartun) .


"Emm.., nanti setelah sarapan bantu aku memetik beberapa apel yaa, untuk dikirim ke panti" pinta Elle tersenyum, Lucas yang menerima senyuman tulus Elle terpaku, untuk pertama kalinya Elle tersenyum lebar padanya .


"Baiklah, tapi apa imbalannya untuk ku??" jawab Lucas menyeringai tipis .


"Aishh, kau ini sungguh menyebalkan, sudah diberi tumpangan diberi makan pula, masih mengharapkan imbalan..!!" kesal Elle yang dibalas tawa Lucas, karena beberapa detik yang lalu ia sempat terpesona oleh senyuman Elle yang kini berubah dengan cemberutan diwajahnya .


"Hahha, aku hanya menggoda mu, begitu saja marah.." tawa Lepas Lucas yang dibalas cemberutan Elle .


Tak ada lagi suara perdebatan diantara mereka, hanya suara dentingan pisau dan garpuh yang terdengar dimeja makan .


****


Kini mereka telah berada diperkebunan, dan memulai kegiatan mereka memetik apel dan memasukannya kedalam keranjang . Sesekali Elle memerhatikan Lucas yang tengah meringis kesakitan.


"Istirahatlah, aku akan memeriksa luka mu !! Apa perbannya sudah diganti ?" tanya Elle khawatir yang dibalas gelengan oleh Lucas .


"Kau ini, kenapa tidak diganti ??" tanya Elle setengah melotot .


"Aku tidak bisa melakukannya sendiri" dengan wajah memelas Lucas menatap Elle .


"Tapi kau kan bisa meminta bantuan ku" tukas Elle menginterupsi .


"Baiklah jika tidak merepotkan mu.." ucapnya dengan mata berbinar, lalu ia mulai melepas kaos yang melekat ditubuhnya . Elle yang melihat aksi telanjang Lucas, dengan cepat memalingkan wajahnya kesembarang, sebaliknya pria yang dihadapannya tersenyum puas melihat wajah merona Elle .


"S-siapa bilang tidak merepotkan?! Tentu saja ini merepotkan, tapi karena aku ini gadis cantik yang baik hati, bersyukurlah kau menemukan penyelamat seperti ku !!" ucap Elle membanggakan diri untuk menenangkan debaran dihatinya . Berbeda dengan Lucas yang belum puas mengerjai Elle, ia hendak melepaskan celananya dengan tersenyum jahil .


"K-kau mau apaa..??" Elle terkejut melihat aksi Lucas yang akan bertelanjang badan dihadapannya .


"Tentu saja untuk melepas celana ku, emm maksudnya celana milik paman Jorge" senyum Lucas yang menggoda .


"Iya, tapi untuk apa kau melepasnya dihadapan ku..?!" kesal Elle yang masih menutup kedua mata dengan tangannya .


"Agar kau lebih leluasa mengobati luka dibagian bawah ku..!!" ucap Lucas yang terus memasang tawa menggodannya .


"Aishh..,"


"Pletaaak..!!"


Elle mendengus kesal seraya melompat dan melayangkan pukulan dikepala Lucas .


"Paling tidak, bantu aku mengganti perban yang diperut ?!" ucap Lucas memohon yang berhasil menyaut tangan Elle sebelum berlalu .


"Baiklah, aku akan mengambil perban yang baru . Asalkan kau, berhenti menggodaku..!!" tegas Elle kesal, dan dibalas anggukan oleh Lucas . Setelah Elle selesai mengganti perban Lucas, mereka melanjutkan kembali kegiatan memetik apel nya .


Waktu menunjukan sore hari dan mereka kembali masuk kedalam rumah .


"Ini alamat panti..!" Elle menyodorkan selembar kertas pada Lucas .


"Kenapa tidak kau saja yang antar, atau kita pergi bersama ?!" ucap Lucas .


****


Tidak terasa sudah seminggu Lucas tinggal bersama Elle, keduanya pun sudah terbiasa satu sama lain . Elle yang selama ini tidak memiliki teman, ia cukup merasa bahagia dengan kehadiran Lucas . Apa lagi satu bulan kebelakang ia selalu sedih merindukan ibunya yang pergi tanpa memberi kabar .


Mereka tengah duduk di halaman belakang, menikmati matahari terbenam, tak ada satu kata pun yang terucap dimulut keduanya .


"Kau akan datang dan pergi diwaktu yang sama, dan aku masih bisa menikmati elok mu, tapi dengannya . Mungkin ini yang pertama dan terakhir .


Senja , indah mu sungguh menggoda !!" gumam Elle lirih dalam hati, seraya menatap pria disampingnya .


"Kau kenapa..??" tanya Lucas heran .


"Emm, apa kau punya uang ??" tanya Elle asal, karena malu aksinya tertangkap oleh Lucas .


"Tidak, dompet dan handphone ku terjatuh" jawab Lucas .


"Payah, ternyata kau miskin" cibir Elle pada Lucas .


"Mulut mu rasanya ingin aku sobek..!!" decak Lucas kesal . Karena sebenarnya ia tengah mempersiapkan akan menjual jam tangnnya walau pun tidak terlalu mahal namun cukup untuk bekal ia pulang ke Ottawa dan hasil dari penjualannya akan ia bagi dua dengan Elle .


"Kau sendiri memiliki uang..??" Lucas bertanya balik pada Elle .


"Ada !!"


"Berapa banyak..??"


"10 CAD . (CAD~ Canadian Dollar / Dolar Kanada) "


*** (10 CAD setara kurang lebih Rp. 110.000) .


"Hahhhaa.., kau sama miskinnya dengan ku !!" Lucas tertawa terbahak, dan Elle bergegas setengah berlari menuju kamar ibunya .


"Tapi aku punya ini..!!" Elle menjulurkan dua buah kartu kewajah Lucas yang langsung disaut tangan Lucas, sebuah kartu kredit berwarna hitam bertuliskan VISA INFINITE dan yang satunya lagi berwarna light grey bertuliskan AMERICAN EXPRESS .


Lucas terdiam kaku menatap kedua kartu bergantian menatap Elle . Bagaimana mungkin seorang gadis biasa yang tinggal diperkebunan, memiliki dua kartu kredit terkenal dunia . Karena kartu-kartu ini biasanya hanya dimiliki oleh kalangan atas dunia, sekelas Donald Trump misalnya . Atau mungkin Mark Zuckerberg sipendiri Facebook, iya walaupun kita tau Mark merupakan manusia yang Humble .


"Aku hanya punya dua kartu itu dan uang 10 CAD saja" ucap Elle membuyarkan lamunan Lucas .


"Kau memiliki kartu ini dari mana..?!" tanya Lucas menerawang .


"Itu milik ibu ku" jawab Elle santai .


"Boleh aku memeriksa barang milik ibu mu??" pinta Lucas .


"Untuk apa..?" jawab Elle bingung .


"Tentu saja untuk mencari tahu keberadaan ibu mu, siapa tau dengan memeriksa barangnya kita akan mendapatkan sebuah petunjuk" Lucas beralasan . Tentu saja, karena ia ingin tahu kenapa orang biasa seperti Elle dan ibunya bisa memiliki sebuah kartu kredit kelas dunia .


Mereka pun menuju kamar Lucy, Lucas membuka berkas-berkas yang ada didalam lemari, Lucas terperangah betapa terkejutnya berkas yang ia pegang merupakan kepemilikan pemegang saham terbesar disebuah perusahaan E&C Holdings, yang merupakan perusahaan Real Estate terbesar di Ottawa, dengan anak-anak perusahaan diberbagai kota besar di Kanada bahkan luar negri . Dan jelas dikertas itu tertulis nama Lucy Monteno sebagai pemilik dan pemegang saham terbesar E&C Holdings .


"Apa Lucy Monteno itu nama ibu mu ?!" tanya Lucas penasaran .


"Iya, itu nama ibu ku" jawab Elle mengangguk .


"Kau tau ibu mu di Ottawa bekerja dimana dan sebagai apa..??" ucap Lucas meneliti .


"Tentu saja, ibu pergi ke Ottawa untuk mengurus perusahaan milik kami, nama perusahaannya E&C Holdings" jawab Elle seraya merapihkan berkas-berkas yang berserakan . Tiba-tiba saja bulu kuduk Elle berdiri seolah ada aura jahat yang akan menelannya hidup-hidup .


"K-kau...kau kenapa..??!"


****


~ Wulania ~