Elle

Elle
BAB 5 . PESTA ULANG TAHUN



Delapan tahun kemudian ***


PRAAAAANG !!


Pecahan piring yang berhamburan dilantai menyatu dengan pernak-pernik pesta . Kue ulang tahun yang semula bertengger indah dengan karakter Snow White ditengahnya, serta lilin berbentuk angka 8 yang merujuk pada usianya tahun ini . Hancur ! Tertera jelas nama si anak yang berulang tahun, Brianna . Yang tertulis pada Banner yang dipasang indah di dinding .


"Hiks...hiks.." isakan tangis seorang gadis kecil berada disudut ruangan . Membenamkan wajah pada tangan yang berpangkuan pada lututnya, terlihat semua mata memandang tajam pada tubuh ringkihnya .


"Aku menyesal mengundang anak aneh itu..!!" geram seorang wanita yang usianya diawal 30 tahunan, wanita itu tengah menenangkan tangisan seorang gadis yang berada dalam pelukannya, yang tak lain adalah Brianna gadis yang berulang tahun .


Sedang diluar rumah terdengar suara mobil menabrak pagar, terlihat seorang wanita bergegas melangkah masuk kedalam sebuah rumah, dibiarkannya pintu mobil terbuka dengan mesin mobil yang masih menyala . Kini ia sudah berada di dalam sebuah rumah, wanita itu tak lain adalah Lucy . Sepasang mata bermanik coklat menyapu bersih semua ruangan, mencari sosok yang ia khwatirkan . Kini pandangannya tertuju pada gadis yang berada disudut ruangan, Lucy menghampiri setengah berlari .


"Elle sayaang tenanglah ini ibu nak..!!" ia berusaha menenangkan tangisan putrinya, dirasakannya tubuh yang bergetar serta nafas yang tersengal-sengal dari sang gadis . Lucy meletakan kedua tangan pada telinga putrinya .


"Dengarkan ibu, kau hanya boleh fokus pada suara ibu sajaa.., bernafaslah secara perlahan dan tatap mata ibu !!" suara lirih Lucy .


"Elle..tolonglah buka mata mu , lihatlah ini ibu..!!?" suaranya terdengar parau ia menggoyangkan tubuh Elle berusaha agar putrinya mau membuka mata .


"Bu, banyak sekali suara . Bahkan aku bisa mendengar suara burung yang jaraknya puluhan meter dari sini, sayap burung itu terluka.." ucap Elle gemetar yang masih memejamkan mata seraya menyisakan isakannya .


"Sayaaang , cukup fokus pada suara ibu sajaa !! Emm...Okay ?!!" Lucy menenangkan, berusaha agar tangisnya tidak pecah .


"Sekarang ibu tanya, suara siapa yang paling merdu di dunia ??"


"Tentu saja suara ibu, lebih tepatnya omelan ibu..!! ucap Elle yang masih setia dengan posisinya .


"Itu kau tau..!! Bahkan penyanyi dunia pun kalah dengan omelan merdu ibu" Lucy terkekeh mencoba tertawa .


Sedang semua mata yang ada diruangan tertuju pada mereka .


"Dasaar manusia aneh, ibu dan anak sama saja !" cibiran salah seorang wanita menatap tak suka .


"Tarik nafas.., dan hembuskan perlahan..! Cukup dengar dan lihat ibu, bayangkan hanya ada kau dan ibu diruangan ini !!" perlahan Elle mengerjapkan matanya, mata birunya menatap kedalam mata coklat Lucy, Lalu ia menghambur kedalam pelukan ibunya . Lucy menggendong putrinya, salah satu tangannya menopang tubuh mungil Elle sedang tangan yang lainnya menepuk lembut punggung putrinya .


"Akan ku ganti semua kerusakan 10 kali lipat, bahkan lebih !!" ucap Lucy pada wanita yang sedari tadi menatapnya .


"Uang mu tidak akan bisa mengganti hari istimewa putriku, yang dihancurkan oleh anak aneh mu !" geram ibu Brianna menatap Lucy sinis .


"Anak ku tidak aneh, tetapi ia terlalu istimewa untuk bergaul dengan anak-anak perundung seperti anak mu !!" Lucy menjawab tanpa menoleh pada lawan bicaranya, dan segera melajukan langkah menuju mobil .


"K-kauu..!!" wanita itu mengepalkan kedua tangan menahan amarahnya, sedang tubuhnya ditahan oleh tangan suaminya .


"Tenanglah, kau tidak tahu dia itu siapa??" bisik pria itu ditelinga istrinya .


"Memang siapa..??" ketus wanita yang menurutnya itu tidak penting .


****


Sebuah mobil terlihat memasuki halaman, dengan rumah sederhana terbuat dari kayu dengan cat berwarna putih yang memiliki teras cukup luas . Disebelah kanan terdapat dua kursi saling menghadap dengan meja bulat ditengahnya, sedang teras di sebelah kiri terdapat ayunan terbuat dari besi . Sekeliling rumah dipenuhi tanaman, hingga menciptakan rumah yang asri . Lucy turun dari mobil dengan Elle yang berada dalam gendongannya, ia perlahan menaiki tangga dan salah satu tangannya merogoh isi tas untuk mengambil kunci . Kini mereka sudah berada dalam rumah, Lucy melempar sembarang tasnya dan menaiki tangga menuju kamar Elle yang berada dilantai dua . Ia menidurkan Elle diatas tempat tidur .


"Cup.., selamat malam putri kecilku" kecupan hangat mendarat pelan dikening Elle .


"Mereka bilang ayah tidak mati, tapi ayah sengaja menelantarkan kita karena memiliki anak aneh seperti ku" lirih Elle yang masih memejamkan mata .


"Tentu saja ayah mu masih hidup ! Ia hidup didalam hati kita, dan ayah tidak pernah menelantarkan mu !!" ucap Lucy menghampiri Elle .


"Ibu...seperti apa wajah ayah ??" tanya Elle seraya mendudukan tubuhnya .


"Dia seperti mu ! Hidung ini, rambut ini, bibir ini dan..., tidak dengan mata ini !!" tunjuk Lucy pada bagian wajah milik Elle .


"Mataku tidak seperti ibu juga, jadi mata ku mirip siapa..?!" Elle merajuk sembari memanyunkan bibir mungilnya, menambah keimutan wajahnya berkali-kali lipat yang mengundang tawa ibunya .


"Matamu mirip dia..."


"Dia ! Dia siapa ??" dahinya mengerut dengan wajah penasaran .


"Tentu sajaa ayah mu..!! Hehhee ibu hanya menggoda mu" jawab Lucy mencubit pipi embul Elle yang menciptakan gelak tawa keduanya .


"Mata indahmu mirip dengannya . Milik Cherelia ibu mu..." gumam Lucy dalam hati dengan mata menerawang membayangkan wajah Cherelia .


"Lantas, kenapa kita tidak memiliki foto ayah atau pun keluarga lainnya ??" tanya Elle penasaran .


"Karena semua barang-barang kita dulu ikut terbakar dirumah yang lama, dan ayah mu sama seperti ibu yatim piatu tidak memiliki sanak saudara"


"Dan..."


"Dan sekarang kita tidur..!!" ucap Lucy seraya memeluk dan menyelimuti tubuh keduanya .


Lucy kembali kekamarnya, selepas memastikan Elle tertidur dengan pulasnya . Kini Lucy telah berada dalam kamarnya, ia duduk ditepian tempat tidur .


Pikirannya melayang mengingat kembali percakapannya dengan Cherelia . Ia tengah menangis teringat tentang Malaikat Pelindungnya yaitu Ellias yang biasa ia panggil dengan sebutan paman .


Ia pikir dirinya benar-benar terlupakan, hingga tragedi naas itu menghampirinya .


****


~ Wulania ~