
"El, kau tunggu disini. Aku tidak akan lama, dalam waktu 30 menit aku kembali." ucap Lucas menggiring Elle untuk duduk dikursi sebuah caffe, yang tempatnya bersebrangan dengan rumah sakit, dimana ibunya dirawat.
"Duduklah sebentar, kita sarapan dulu bersama.." pinta Elle lirih menarik tangan Lucas agar duduk disampingnya.
"Aku tidak lapar, kau saja yang makan." ucap Lucas mengusap lembut rambut Elle, seraya mencondongkan tubuhnya sejajar dengan gadis yang tengah memasang wajah berengutnya.
"Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Elle bersungut kesal.
"Bukan tidak boleh. Ini pertemuan pertama kami setelah tujuh tahun, aku masih bingung harus menunjukan sikap seperti apa padanya. Terlebih jika kau ada, aku--" jawab Lucas merenung.
"Aku hanya ingin melihat keadaan ibu mu," ucapnya menundukan kepala.
"Tapi, aku sangat paham kondisi mu saat ini. Jadi, pergilah ! Aku akan menunggu." senyum Elle menyemangati. Dan Lucas pun keluar dari caffe dengan perasaan bimbang. Sesekali ia menoleh menatap Elle yang berada dibalik kaca, dan gadis itu hanya membalas dengan mengibaskan telapak tangannya sembari tersenyum, seakan memberi kekuatan. Hingga bayangan Lucas menghilang disebrang jalan memasuki halaman rumah sakit.
Gugup. Itulah perasaan yang tengah mendera dihati seorang Lucas. Tak pernah sekali pun dihidupnya ia merasakan kegugupan sebesar yang ia rasakan kini, hati dan pikirannya saling bersautan.
"Haruskah aku menemuinya? Bagaimana jika ia tidak mau bertemu dengan ku? Dan, bagai mana jika yang diucapkan Sam itu bohong? Apa benar, jika ibu benar-benar menyayangiku. Sama seperti ia menyayangi Liam yang notabene nya anak kandung?"
Seorang pria berkaca mata, dengan tatanan rambut belah pinggir tersisir rapih, tengah mengawasi Lucas dibalik pilar lobby rumah sakit.
"Tuan, Nyonya sudah menunggu anda." suara pria berusia dibawah 40 tahunan, menghampirinya setelah beberapa saat mengamati. Menyadarkan Lucas dari gejolak batinnya, yang kini tengah berdiri tepat ditempat resepsionis. Lucas membalikan badan mencari asal suara yang tidak asing ditelinganya.
"Apa Liam yang memberitahu aku akan datang? Tapi aku sama sekali tidak memberi tahu dia kapan waktunya." tanya Lucas heran pada orang kepercayaan ibunya yang bernama Billy.
"Tidak, tuan Liam sama sekali tidak mengatakan apa-apa." tutur Billy, berjalan memandu Lucas menuju ruang inap dimana ibunya dirawat.
"Lantas..?" raut wajah Lucas penuh dengan rasa penasaran.
Billy pun menghentikan langkah kaki, dan berbalik menghadapkan tubuhnya didepan Lucas seraya tersenyum.
"Nyonya sudah sangat lama menunggu anda, tepatnya. Beliau menunggu kepulangan anda selama tujuh tahun kebelakang." tegasnya, dan melanjutkan kembali langkahnya yang di ikuti Lucas dibelakang, menyusuri beberapa lorong rumah sakit. Yang menghantarkannya didepan pintu sebuah ruangan.
"Selama ini, saya yang menjadi mata dan telinga nyonya untuk mengawasi anda dari jauh. Lebih tepatnya, memperhatikan anda." ucap Billy dengan raut wajah penuh keseriusan .
Deg..
"Benarkah, ibu mengharapkan kepulanganku..?" gumam Lucas dalam hati.
"Dan ini tentu saja rahasia diantara kita berdua.." ucap Billy tersenyum jenaka menyentuh bahu Lucas, menyadarkannya dari lamunan. Karena kini mereka berdiri tepat disebuah ruangan Presidential Suite.
Sedikit rasa ragu, Lucas masih memegang kenop pintu. Batinnya merutuki diri sendiri yang selalu bersikap pengecut, jika bersangkutan dengan ibunya.
Ckleek
Manik matanya yang teduh, meneliti setiap sudut ruangan, dengan segala fasilitas mewah yang tersedia. Namun sosok yang ia cari tak tertangkap oleh matanya.
"Bil, kau kah itu..?" tanya seorang wanita yang nyaris berusia setengah abad berbalut piyama rumah sakit, terlihat keluar dari kamar mandi, dengan salah satu tangannya menenteng infus sedang pandangannya tertunduk, tengah berusaha memasang kembali slipper berlogo rumah sakit yang dihuninya.
Lucas segera menghampiri, dan berjongkok membungkukan badannya, meraih slipper dan memasangkan pada kaki ibunya.
"Terimakasih Bil--" ucapnya lemah.
Saat Lucas mendongakan wajahnya, seketika atmosfer di ruangan berubah ketika keduanya bersitatap. Manik keduanya saling bertemu menyapa dalam diam, Lucas dengan wajah yang menggenang menatap Lekat wajah sang ibu. Wajahnya yang pucat, mempertegas lingkaran hitam dibawah mata, dengan keriputan halus dibeberapa titik bagian wajah. Namun tak menyurutkan aura cantiknya.
Karena keterkejutannya, nyonya Martha nyaris limbung. Dengan sigap, Lucas beranjak menopang tubuh ibunya agar tidak terjatuh ke lantai. Lalu ia menggendong tubuh wanita yang selalu ia rindukan menuju tempat tidur, dan membaringkannya dengan hati-hati.
"Istirahatlah, aku akan memanggil suster dan menelpon Liam untuk berjaga." ucap Lucas seraya menyelimuti setengah tubuh ibunya.
"Tolong nyanyikan Nina-bobo untuk ku!" pinta nyonya Martha pelan, dengan mata yang terpejam. Lucas masih bergeming ditempatnya, menatap lekat wajah sang ibu.
"Semalaman aku terjaga, mataku sangat lelah aku ingin tidur. Namun dalam tidur ku, aku tidak pernah benar-benar terlelap." ucapnya lirih, seraya menggeserkan tubuh memberi ruang agar Lucas mau berbaring disampingnya.
"Hemm." Lucas membaringkan badannya berhadapan dengan sang ibu, mengusap lembut pundak ringkihnya.
Just close your eyes
you'll be alright
come morning light.
You and I'll be safe and sound...
Getar dalam nada suara nyanyiannya menyiratkan kerinduan. Dadanya teramat sesak, dengan suara yang sudah parau, ia berusaha melanjutkan nyanyiannya.
Ohh.. Ohh.. Laa.. Laa.. Laa..
~ Wulania ~