
"Perkenalkan nama ku Liam Dane Houston dan kau..??" tanya pria asing itu yang diketahui bernama Liam, menjulurkan tangan yang dibalas oleh Elle.
"Elle..!" jawab Elle masih merasa bingung dengan sosok pria asing, yang memiliki tubuh tinggi tegap, dengan garis rahang tegas dipenuhi bulu-bulu tipis, serta hidungnya yang mancung, melukiskan ketampanan wajah pria asing yang masih setia menatapnya. Dan yang menarik perhatiannya, pria itu memiliki mata yang sama seperti Lucas. Mata yang teduh.
"Kau siapanya Lucas?" tanya Liam.
"Kekasih..!!" Lucas.
"Teman..!!" Elle.
Jawab mereka bersamaan.
"Sejak kapan aku kekasih mu?" Elle menautkan kedua alisnya.
"Apa dua kali berciuman tidak berarti buat mu..?" tanya Lucas menohok.
"Kau mencurinya!!" cetusnya.
"Lagi pula itu bukan ciuman, itu hanya kecupan.." sambung Elle lirih bernada kekecewaan.
"Jadi kita bisa melakukannya lagi, bahkan jika aku menginginkan lebih..??" ucap Lucas tersenyum dengan jenaka.
Plaaaak
Satu pukulan mendarat dibelakang kepala Lucas, mendahului kepalan tangan Elle yang hendak melayang ke arahnya.
"Bicarakan itu ditempat lain." ucap Liam mengingatkan, menunjuk dengan ekor matanya pada sekumpulan manusia, yang tengah menatap canggung kearah mereka.
"Sekarang kau harus ikut aku, karena ulah mu tempo hari. Kondisi Nyonya Martha menurun." lanjutnya.
"Ck, itu bukan urusan ku." Lucas memberi seringai miring, dan beranjak dari posisinya, seraya menyeka darah disudut bibirnya.
Kali ini bukan pukulan atau tendangan yang dilayangkan Liam, namun tatapan tajamnya yang ia hunuskan tepat kedalam mata Lucas.
"Dia ibu mu." tegasnya.
"Dia tidak melahirkan ku, dia hanya melahirkan mu. Jadi dia ibu mu." jawab Lucas dengan tatapan sendunya.
"Ibu ku sekarat, tapi tentunya kau tidak akan perduli. Karena dia bukan ibu mu." sarkas Liam dengan tatapan menyala, meninggalkan Lucas dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
"Pergilah ketempat dimana ibu ku tidak bisa menjangkau atau pun mengawasi mu, dengan begitu kau bisa hidup sebebas angin membawa. Tanpa harus menoreh ke khawatiran pada ibu ku. Kau tahu? Ketika ia mendengar kau kembali balapan, seketika kondisinya menurun. Ingatan tentang mu yang sekarat 5 tahun lalu masih membekas, jadi. Enyahlah..!" sambungnya diambang pintu, seraya berlalu menyisakan kebekuan Lucas.
Perkataan Liam sungguh mengkoyak hatinya, seakan ribuan jarum menghunus jantungnya.
Lucas masih terdiam diposisinya, pikirannya membawa ia pada kenangan, dimana ketidak adilan seorang ibu bersikap pada kedua anaknya, seorang anak dengan segala kenakalannya hanya untuk menarik perhatian ibunya. Namun pelukan dan tatapan teduh itu tak pernah ia dapatkan dari wanita yang selalu ia panggil ibu.
Hingga kenyataan membawanya pada kesimpulan, kenapa ibunya bersikap acuh padanya dan selalu hangat pada Liam. Karena ia bukan anak kandungnya melainkan anak hasil perselingkuhan suaminya. Lucas baru mengetahuinya ketika usia 17 tahun, sebab itu ia memutuskan keluar dari rumah.
"Aku tahu, kau pun mengkhawatirkannya. Aku akan menemani mu!" ucap Elle, menarik Lucas dari kenangan masa lalunya.
"Luce, sepertinya aku harus jujur pada mu." ucap Sam, mengundang rasa penasaran Lucas.
"Jujur untuk apa?" Lucas memicingkan matanya seraya menajamkan pendengarannya.
"Sebenarnya tempat yang kita tempati itu bukan ayah ku yang membelinya. Eum.., melainkan ibu mu yang mengatas namakan keluarga ku." ungkap Sam.
Mata Lucas membulat dengan sempurnanya, terkejut dan sedikit tidak percaya, ibunya yang dingin akan melakukan semua itu untuknya.
"Dan lagi... Eum, motor mu itu bukan aku yang membelinya. Hehhe gila saja aku memberikan mu motor dengan harga fantastis secara cuma-cuma." sambungnya dengan memaksakan tawa, seraya melingkarkan tangan ditengkuk lehernya.
"Apa kata mu, cuma-cuma? Kau lupa selama setahun aku jadi kacung mu. Bahkan aku pura-pura jadi diri mu, ketika para brengsek yang kau kencani wanitanya menghajarku habis-habisan." geram Lucas berkali-kali menoyor menendang pada sahabatnya itu, tentu saja Sam tidak diam, ia berusaha mencari perlindungan ditubuh mungil Elle.
"Aku hanya memanfaatkan kesempatan yang datang sebaik mungkin, sangat sayang jika dilewatkan." ucap Sam kembali mengundang geraman sahabatnya itu.
"Huhhh, tapi Luce. Sudah saatnya kau menemui ibu mu. Sebelum penyesalan yang akan menjalar dihati mu." sambung Sam kembali dengan nafas terengah-engah, yang didukung oleh tatapan nanar Elle.
Lucas masih bergeming diposisinya, dengan tatapan kosongnya. Entah kemana pikiran membawanya, yang jelas hatinya merasa sakit mendengar keadaan ibunya yang tengah sekarat. Namun egonya berusaha menahan gejolak, bahwa ia sendiri pun merindukan wanita yang telah mengurusnya sedari kecil.
"Cepatlah, sebelum kau menyesal." ucap Elle menarik Lucas keluar ruangan.
~ Wulania ~