
Just close your eyes,
you'll be alright
come morning light.
You and I'll be safe and sound...
Getar dalam nada suara nyanyiannya menyiratkan kerinduan. Dadanya teramat sesak, dengan suara yang sudah parau, ia berusaha melanjutkan nyanyiannya.
Ohh.. Ohh.. Laa.. Laa.. Laa..
"Liam bilang itu lagu yang sering ibu nyanyikan untuk ku ketika bayi. Ma-maaf, aku tidak mengingatnya bu.." isak Lucas tertahan dalam pelukan sang ibu.
"Bodoh, tentu saja kau tak akan mengingatnya. Memangnya kau bayi Hyperthymesia (Sindrom yang memiliki ingatan super tajam)." balas sang ibu terkekeh meremas jaket yang dikenakan Lucas, lalu mendekap erat putra yang selalu ia rindukan.
Luruh sudah kerinduan ibu dan anak selama bertahun-tahun, melebur bersama tangisan keduanya. Mereka menangis sejadi-jadinya menggema dalam ruangan.
Dua pasang mata, tengah mengintip dibalik pintu kaca. merasakan haru biru ibu dan anak.
Senyuman tipis tersungging dikeduanya dan kelegaan yang sudah pasti mereka rasakan.
"Bil, jangan lupa kau seka ingus mu...! Aku pergi." candaan dilontarkan Liam sembari menyeka ujung matanya, lalu ia beranjak pergi seraya melambaikan tangan dibelakang kepalanya.
"Hehh, lelucon anda selalu garing tuan." tawa paksa dipasang Billy, yang ikut melambaikan tangan.
Drrrttt
"Luce, ini sudah lebih dari 30 menit. Hati ku mengatakan, kau dan ibu mu sudah berbaikan. Aku tidak mau mengganggu, dan kau tak perlu mengkhawatirkan ku, aku pulang naik taksi. Selamat bersenang-senang..."
~ Elle ~
Lucas tersenyum tipis membaca pesan dari Elle, dan meletakan kembali handphone nya kedalam kantong celana.
Matanya kembali menatap wajah ayu sang ibu, sesekali merapihkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah senjanya. Deruan nafas yang teratur, menandakan terlelapnya ia tidur. Lucas semakin mengeratkan pelukannya dan ikut terlelap kealam mimpi. Karena semalaman ia pun terjaga, menunggu dengan was-was momen yang tengah ia rasakan saat ini.
***
Ditempat lain..
"VIP sudah kirimkan foto target, jadi siapa yang akan kau tunjuk untuk mengawasi?" tanya seseorang pada pria yang tengah menjajal sebuah senjata api.
Tak ada sahutan dari pria yang tengah menatap fokus pada Shooting Target (Sasaran tembak). Ia berdiri dengan kaki kiri condong kedepan, dan kaki kanan membentuk diagonal dibelakang kiri pada jarak bahu. Ditariknya tangan kanan yang memegang gagang pistol lurus kedepan, sedang tangan kiri ditekuk membentuk sudut 120 derajat.
Tatapannya mengunci target pada jarak 25 meter jauhnya. Dengan sekali tarikan napas.
Satu tembakan melesat tepat pada sasaran, menyisakan selongsong peluru terjatuh dilantai.
"Suruh saja Bryan yang mengawasinya!" jawab pria itu setelah beberapa saat, seraya merapihkan senjata api nya.
"Baiklah."
"Tunggu!" ekor matanya tak sengaja menatap sosok yang ada difoto, matanya membulat sempurna ketika wajah yang tak asing baginya ditandai sebagai target.
"Biar aku saja yang mengawasi..!" ucap pria itu menyaut foto dari tangan temannya.
"Niel, sebaiknya tugas pengintaian kau serahkan saja pada Bryan. Kau cukup fokus pada eksekusi!" timpal pria yang bernama Leon.
Tatapan tajam lolos dari matanya, menatap dingin ke arah Leon. Dari raut wajahnya Leon paham, bahwa perintahnya tak bisa dibantah.
"Sebelum ada perintah dariku, kalian semua dilarang untuk bertindak. Termasuk itu perintah dari VIP' sekalipun!" ultimatum dicetuskan oleh ketua kelompok pembunuh bayaran yang menamai kelompoknya i-Vagos. Pimpinan itu bernama Daniel, yang tak lain adalah ketua club motor Dangerous terdahulu.
i-Vagos bukanlah geng Mafia yang terkenal dihalayak umum, mereka hanya sekumpulan orang-orang yang merasa bosan dikeseharian hidupnya. Dan anggota mereka tidak banyak hanya terdiri dari 12 orang saja, diantara mereka ada yang berprofesi sebagai guru, penjaga toko, musisi jalanan bahkan anak seorang konglomerat. Berbeda dengan Daniel, pria dingin nan misterius itu memiliki masa lalu kelam. Yang dimana seluruh keluarganya terbunuh oleh perampok, dan menyisakannya seorang diri.
Daniel menanggalkan perhalatan yang melekat ditubuhnya, lalu pergi memasuki ruangan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat anak buahnya berkumpul.
Sesampainya ia mendaratkan tubuh kekarnya di tepian sofa, matanya terus menatap sosok gadis dalam foto yang akan menjadi target eksekusinya. Tak lama kemudian ia menerima panggilan suara dari sang klien, atau yang biasa disebut VIP.
"Kali ini kau hanya perlu mengawasi, pastikan gadis itu selalu dalam pengawasan mu jangan sampai lengah!" perintah seseorang dibalik telpon.
"Kenapa ia menjadi target?" pertanyaan yang dilontarkan Daniel membuat seseorang diseberang telpon keheranan.
"Ck, sejak kapan kau peduli dengan target mu?"
"Baiklah, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan." sambungan telpon terputus, didahului oleh Daniel. Membuat seseorang dibalik telpon geram.
Daniel beranjak meninggalkan markas i-Vagos dan menuju mobil sport berwarna hitam metalic yang terparkir dibibir jalan. Tiba-tiba saja ia mengurungkan tangannya yg hendak membuka pintu mobil, ketika tak sengaja netranya menangkap sosok gadis bertubuh mungil berjalan ditrotoar. Dan dari arah berlawanan ia melihat mobil sedan yang oleng dengan laju kecepatan tinggi mengarah ke trotoar.
Beberapa saat kemudian terdengar suara decitan ban mobil diaspal, yang memekik telinga pengguna jalan, dengan gerak laju mobil berputar yang berakhir menabrak trotoar dimana sang gadis berjalan.
Namun sebelum tabrakan itu terjadi Daniel lebih dulu menarik tubuh gadis pengguna jalan itu kedalam dekapannya, yang berakhir tubuh keduanya bergulingan diaspal.
Deruan nafas kasar silih berasahutan dikeduanya, dengan detak jantung berirama cepat yang memompa adrenalin. Daniel masih memerhatikan wajah wanita yang tengah berada diatas tubuhnya, seketika raut wajahnya berubah dan pandangan keduanya saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat, hanya terpaut beberapa inci saja.
"Tuan Lego...?" pekik gadis itu yang tak lain adalah Elle.
~ Wulania ~