Elle

Elle
BAB 21 . BLANKET MAN



"El, kau tunggu disini aku pergi ke toilet dulu."


"Iya, jangan lama-lama."


"Hmm..." Lucas melambaikan tangan tanpa menengok.


Elle memasuki toko mainan, yang sangat berbeda dari toko mainan pada umumnya. Ruangan dengan warna Monocrom dan menjadikan warna hitam yang dominan, disertai Wall Art yang diperuntukkan pria dewasa. Tak ada sedikit pun nuansa berbau anak-anak.


Tak banyak mainan yang terpajang, dan jenisnya pun hanya beberapa, seperti Gundam, Lego, Action Figure Avangers, Star Wars dan Justice League .


Elle menyusuri jalan yang tak asing baginya.


"Tuan, apa toko ini baru saja di renovasi?" tanya Elle pada penjaga toko yang usinya diatas 40 tahun.


"Beberapa waktu lalu, disini ada pintu menuju sebuah ruangan." sambung Elle mengingat kembali memorinya.


"Iya Nona, kami baru selesai merenovasi." jelas pelayan tersebut.


"Oh, baiklah tuan. Saya ingin membeli Lego City ." unjuknya kearah rak dengan deretan Lego.


Setelah selesai memilah milih Elle menuju kasir untuk membayar.


Tangannya merogoh tas yang tersampir dilengannya, berkali-kali ia memeriksa namun tak jua ia temukan yang dicari.


"M-maaf, tuan dompet saya tertinggal, lain waktu saya akan kembali." ucapnya dengan rasa tak enak hati pada penjaga toko.


Drrrrrttt


"Nona, silahkan ambil saja mainannya. Tuan saya bilang itu hadiah untuk Nona." ucap penjaga toko yang baru saja menerima panggilan dari Bosnya.


"Tidak perlu tuan, nanti saya akan kembali lagi untuk membelinya.."


"Tolong diterima Nona, karena Nona adalah pelanggan pertama kami."


"Hah..??"


Elle baru menyadari, selalu ada tanda Close yang dipampang dipintu kaca. Karena merasa tidak enak hati pada penjaga toko ia pun menerimanya, dan berjanji akan kembali lagi besok.


~


"Kau dari mana saja, aku mencari mu?" tanya Lucas setengah berlari menghampiri, terdengar deru nafas yang berat.


"Kenapa kau berkeringat?" ucap polosnya.


"Tentu saja berlari mencari mu." kesal Lucas, seraya mencondongkan badannya kedepan hingga membentuk sudut 90 derajat, dengan kedua tangan bertumpuan pada lutut.


"Banyak sekali mainan yang kau beli..?!" tanya Lucas bangun dari posisinya.


"Penjaga toko memaksa ku untuk menerimanya, tapi besok aku akan kembali untuk membayarnya. Karena aku lupa tidak membawa dompet." ucapnya tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya.


"Dasar bodoh, dimana tokonya? Cepat kita bayar sekarang!" Lucas menarik tangan Elle untuk menunjukan arah tokonya.


"Jangan, aku tidak enak hati jika harus kembali lagi sekarang, biar besok saja aku kembali ketokonya." tolak Elle.


"Huft... Kau ini." Lucas berdengus kesal atas kecerobohan Elle yang lupa membawa dompet.


~


"El, besok aku akan mengajak mu kesuatu tempat. Sekarang istirahatlah.. Selamat malam." Lucas kembali mencium bibir Elle. Yang membuat darah gadis itu berdesir merangkak naik ke wajahnya yang memerah.


"Dia berhasil mencuri ciuman ku lagi, sialnya. Kenapa begitu singkat....!!" dengusnya seraya menutup mulut dan memukuli kepalanya pelan merutuki pikiran kotornya.


***


"Kita ada dimana?" tanya Elle penasaran, matanya meneliti setiap sudut ruangan.


"Duduklah, kau sedang berada di Markas Voler . Aku akan mengenalkan mu pada yang lain." ucap Lucas menarik kursi bulat menggiring Elle untuk duduk.


Seseorang menghampiri mereka dari arah pintu, dan-


Buuugghh...


Lucas tersungkur kelantai, berkali-kali pria itu melayangkan pukulannya yang sama sekali tidak mendapat perlawanan dari Lucas.


"Shit..., Sudah aku katakan berhenti membuatnya khawatir."


"Cih, apa perdulinya..?!"


Ketika pria itu hendak melayangkan pukulannya kembali, ia terlebih dahulu menerima pukulan dari sepatu Elle. Pria itu pun dengan geramnya membalik badan, seketika aura membunuhnya melebur dengan tatapan yang mengunci manik mata indah milik Elle.


"Nona, kenapa kau memukul ku?" tanya pria itu bingung seraya meringis.


Tentu saja Elle terkesiap dengan perubahan pria dihadapannya. Sesaat lalu dengan bringasnya menghantam tinjuan pada Lucas bertubi-tubi, dan kini ia bertanya pada Elle dengan sedikit ramah tanpa ada tatapan membunuh.


Alih-alih menjawab pertanyaan yang dilayangkan pria asing itu, Elle menghambur ke arah Lucas.


"Dasar Blanket Man (Manusia Selimut) . Kau ini bodoh kenapa tidak melawan,..?!" dengus Elle pada Lucas yang pasrah menerima pukulan dari pria asing, dan membantunya untuk bangun.


"Apa kau mengenalnya..?" tanya Elle kembali yang dibalas gelengan oleh Lucas.


"Tunggu, Blanket Man . Kenapa kau memanggilnya seperti itu..? Apa dia terlihat sepertiTunawisma dimata mu?" tanya pria itu kesal.


"Hei, disini aku yang membutuhkan penjelasan dari mu, kau orang asing yang tiba-tiba masuk menghajar orang lain habis-habisan." ucap Elle tak kalah kesalnya.


"Karena dia pantas mendapatkannya, anak kurang ajar seperti dia tak perlu dikasihani.." tukas pria itu meluapkan kekasalannya. Dan sedikit membuat Elle bingung.


"Sekarang jawab pertanyaan ku, kenapa kau memanggilnya seperti itu..? Apa dia terlihat seperti Tunawisma?" tanya pria itu penasaran dan dibalas anggukan oleh Elle.


"Jadi, selama ini kau anggap aku ini gelandangan..??" tanya Lucas dengan penuh keterkejutan.


"Bukan gelandangan, hanya aku berpikir kau ini sedikit Miskin ." jawabnya dengan enteng.


"Oo God . Jika aku gelandangan, aku tidak akan mampu mengajak mu dinner semalam di restaurant mewah, dan gaun yang semalam kau kenakan aku tidak akan mampu membelinya." ucap Lucas mengkasak rambutnya dengan kasar.


"Bukankah itu, semua pemberian Sam..??" tanya gadis itu seraya mengernyitkan dahi.


Hahhhhaa


Semua orang yang tidak diketahui masuknya oleh mereka bertiga, keberadaannya sudah ada didalam ruangan. Mereka pun tertawa dengan puasnya termasuk Sam yang ada diantara kerumunan banyak orang.


Tak lupa juga dengan gelak tawa pria asing itu. Berbeda halnya dengan wajah masam Lucas, yang tak percaya dengan pikiran gadis yang dicintainya.


^^^NB . *Blanket Man, dibeberapa negara termasuk Selandia Baru sering diartikan sama dengan Tunawisma*^^^


~ Wulania ~