Elle

Elle
BAB 4 . GADIS TEBING



Seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang masih mengenakan baju tidurnya, dengan dress berwarna putih sebawah lutut berhiaskan renda . Rambut panjang hitam legam yang dibiarkan tergerai mengalun dengan angin malam .


"Tak perlu melompat, hanya untuk mencari kedamaian . Kau tak akan memperoleh kedamaian disana, karena jiwa mu tidak akan mendapat tempat pulang !!" suara dari seorang wanita menghentikan langkah kaki gadis itu yang hendak melompat diatas tebing .


Gadis itu pun menoleh, manik matanya yang indah berwarna coklat menatap sendu pada sang pemilik suara . Setelah ia mengetahui sumber suara itu berasal dari wanita asing, ia pun berbalik memunggungi wanita itu . Lalu ia melihat disekelilingnya tempat dimana ia tengah berdiri, jauh mata memandang terlihat kerlap-kerlip lampu yang menandakan adanya sebuah kehidupan . Karena kini ia berdiri tepat diatas tebing sebuah bukit, dipandangnya dari jauh kota yang memancarkan keindahannya dimalam hari, namun teramat gersang untuk ia tinggali seorang diri .


"Luasnya tanah yang membentang, dengan berjejer pohon-pohon rindang serta hingar bingarnya sebuah kota . Tak ada tempat yang dapat aku jadikan tempat pulang.., karena itu aku ingin melompat agar aku bisa pulang !!" ucap sang gadis, disetiap bait perkataannya bagaikan terdapat sembiluh yang menyayat hati .


Wanita yang berdiri 3 meter dibelakangnya, menjulurkan salah satu tangan sebagai isyarat agar ia menghampirinya "Keadaanku sudah lemah, tak mampuh lagi berjalan untuk menghampiri mu !!" seru sang wanita agar gadis itu mau berjalan kearahnya .


"Eeaaa..eeaaa..." tangisan bayi memecah keheningan malam .


Gadis itu membelalakan kedua matanya diperhatikan seksama keadaan wanita yang kini tepat dihadapannya . Begitu banyak luka disekujur tubuh wanita yang tengah mendekap seorang bayi, ditambah dengan apa yang dikenakan sang wanita . Cara berpakaiannya seperti wanita pada jaman kekerajaan, tiara cantik berukuran kecil melingkari rambutnya, terdapat juga kalung berliontinkan berlian berwarna maroon yang melingkar dileher jenjangnya . Gaun berbahan sutra yang dihiasi manik-manik berkilau dari emas .


"Sepertinya bayimu lapar ?!" ucap gadis itu .


"Namanya Elijah Cherelia..!!" tutur sang wanita menatap kedalam manik mata coklat sang gadis .


"Jadilah ibu, ayah, kakak serta teman untuknya...!!" lanjut wanita itu berkata, wanita yang tak lain adalah Cherelia .


Sontak saja sang gadis terkejut mendengar ucapan dari lawan bicaranya, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Gadis itu masih diam membisu, pikirannya bergelayut bagaimana bisa ia mengurus seorang bayi, sedang ia tak lagi memiliki semangat untuk hidup .


"Lucy... Waktu ku tidak banyak, aku mohon tolong rawat Elijah !!" Cherelia berusaha mengatur pernafasannya yang mulai terasa sesak didada, sedang gadis dihadapannya dibuat terkejut olehnya .


"Ba-bagai-mana.., kau tau nama ku Lucy ??!" Lucy melempar pertanyaan dengan wajah terkejutnya .


"Aku tau tentang mu, Ellias selalu memperhatikan mu..!!" jawab Cherelia setengah meringis menahan rasa sakit ditubuhnya .


"Siapa itu Ellias ??" tanya Lucy penasaran .


"Ellias suamiku, ayah dari Elijah... Lucy jadilah ibu untuk Elijah !!" permohonan itu diucapkan kembali oleh Cherelia kepada gadis remaja yang bernama Lucy .


Lucy masih terdiam, memorinya kembali menjelajah ke masa lalu . Ia teringat pada sosok Malaikat pelindungnya, lalu ia menatap kembali pada Cherelia, tatapannya begitu dalam . Lalu ia beralih menatap Elijah bayi dan menyautnya dari dekapan Cherelia, diperhatikannya wajah mungil Elijah yang kini mulai tenang digendongan Lucy . Sorot mata Elijah yang terang seakan penawar dari keputus asaannya, dengan lembut ia menyentuh wajah Elijah, untuk pertama kalinya ia merasa dibutuhkan .


Namun hatinya merasa bimbang, bukan perkara mudah mengurus seorang bayi dengan kondisinya sekarang . Ia hanya gadis remaja yang tak memiliki apa pun, bagimana bisa ia mengurus seorang bayi sedang mengurus dirinya sendiri pun ia tidak bisa .


"Apa ia tidak paham, aku gadis yang nyaris mati . Bagaimana bisa ia mempercayakan bayinya pada ku" gumam Lucy dalam hati .


"Ambilah ini..!" Cherelia memberikan kalungnya kepada Lucy .


"Jika saja Arael tidak mengikuti ku kemari, aku yang akan mengurus dan melindungi kalian berdua !!"


Cherelia berlalu membawa tubuh ringkihnya, ia berjalan diantara pepohonan dengan cahaya temaram dari sinar bulan .


Ellias


Ada gadis kecil bernama Lucy kala itu usianya 10 tahun, sudah sejak lama aku memperhatikannya . Berawal ketika aku datang keruangan ini aku mendengar suara, mungkin lebih tepatnya sebuah harapan yang dipanjatkan seseorang, dan entah kenapa suara itu menuntunku menuju alam manusia . Pada saat itu aku tidak menyadari bahwa aku telah berada di alam manusia, kulihat disekelilingku banyak pepohonan dengan akar-akar menjulang tinggi, suara burung terdengar merdu menggema dipepohonan, terdapat aliran air kecil yang keluar dari serapan bebatuan . Aku tidak menyadari sudah sejak lama sepasang mata memerhatikan gerak-gerik ku . Ketika pandangan kami beradu, ia tersenyum tanpa ada rasa takut bertemu orang asing, lalu ia menghampiriku .


"Paman, apa kau Malaikat yang akan mengabulkan permohonanku..??" pertanyaannya membuat aku tertegun, bagaimana bisa ia beranggapan demikian, pikirku ! Namun lagi-lagi tatapan binarnya menyelusup masuk kedalam jiwaku . Senyumannya seolah memaksa agar aku mempertunjukan sebuah trik . Ku hampiri ia dan kubalas senyumannya dengan anggukan .


"Benarkah itu..?!!" tanyanya lagi dengan mata membulat .


"Apa permohonan mu??" tanyaku .


"Aku ingin, disekitaran sini dipenuhi makanan . Agar mereka tidak bersusah payah mencari jauh dari sarangnya..!!" ia menunjuk pada sekumpulan burung yang berada disalah satu pepohonan . Aku tersenyum mendengarnya, permohonan konyol bagiku tapi tidak untuknya .


"Sebelum aku mengabulkannya, aku akan bertanya ! Mengapa kau beranggapan aku ini Malaikat..??" dahiku mengernyit menunggu jawaban keluar dari mulut mungilnya .


"Aku mengetahuinya karena wajah mu yang tampan, dan juga dari pakaian aneh mu..!!" ia menunjuk dengan matanya memperhatikan pakaianku, jawabannya membuat aku terkekeh menahan tawa .


Dengan jentikan jari, ku perlihatkan trik ku yang mengundang kagum wajah polosnya . Dan ku jadikan subur tanah disekitaran, serta ku hiasi pepohonan yang sudah lama tak berbuah dengan buah yang ranum . Aku bertanya padanya kenapa ia tidak meminta sesuatu hal untuk dirinya sendiri, karena yang ku tangkap dari mataku, badannya yang kurus serta baju yang sudah lusuh, menunjukan ia hidup dengan penuh kekurangan . Tapi lagi-lagi ia menjawab yang hampir membuat jantungku melongos, ucapnya . Hidupnya bahagia karena ia sudah merasa berkecukupan .


Ia tinggal disebuah gubuk dipinggiran hutan seorang diri, hanya bertemankan burung-burung . Dan aku bertanya apa dia tidak takut binatang buas?? Lalu ia menjawab, tatapan manusia lebih menakutkan dari pada penghuni hutan . Mendengar perkataannya membuat hatiku terenyuh .


Setelah hari itu aku selalu menemui dan memperhatikannya, sampai pada saat ayahku mengetahui, bahwa aku menemukan portal rahasia ke alam manusia tanpa menggunakan segel milik ke 4 klan . Ayah menutup portal itu dengan segel yang hanya diketahui Ancient Devil, aku memohon pada ayah ingin menemuinya untuk terakhir kali, namun keinginanku tidak di indahkan olehnya .


Selang beberapa tahun tepatnya dimalam itu, perasaan aneh hinggap dijiwaku . Bayangan Lucy selalu terlihat dipelupuk mata, aku diam-diam memasuki ruang bawah tanah hendak membuka portal . Namun ayah sudah berada diruangan itu, dengan black magic miliknya ia menghancurkan ruang bawah tanah . Ayah melarang keras aku memasuki alam manusia karena itu menyalahi aturan,


setelah hari itu aku tidak pernah lagi menemui Lucy .


Keinginanku sangat sederhana, hanya ingin bersamanya sampai ada seseorang yang menjaga dan melindunginya .


"Jadi, Cherelia...!! Bisakah kau menemui dan tinggal bersamanya ??!"


~ Wulania ~