
*****
Hampir dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai dipusat perbelanjaan, tepatnya dipusat kota Montreal . Lucas tengah memarkirkan mobil pick up yang dikendarainya, sedang Elle masih setia dengan posisinya .
"Kita sudah sampai, cepat turun !!" ucap Lucas seraya membuka pintu lalu berlalu meninggalkan Elle . Gadis yang dilihat dari kaca depan mobil, masih tidak bergeming dari posisinya, Lucas pun kembali menghampiri dan membuka pintu mobil disamping Elle .
"El, kau kenapa..??" lirih Lucas menyondongkan sebagian tubuhnya mensejajarkan dengan posisi Elle, dan kedua tangannya tengah memegang lembut bahu gadis dihadapannya .
"A-aku takut.." ucap Elle terbata .
"Apa yang kau takutkan ?" tanya Lucas khawatir .
"Aku tidak terbiasa dikeramain, kau pasti berpikir aku ini gadis yang aneh kan..?? ucap Elle pelan .
Lucas hanya menatap, ingin rasanya ia merengkuh tubuh itu meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja . Ia pun menyimpulkan gadis yang baru saja ia kenal kurang dari 2 minggu, memiliki phobia sosial atau gangguan kecemasan .
"El, buka mata mu pelan dan tatap mataku, percayalah kau akan baik-baik saja !!" ucap Lucas penuh dengan ketulusan, tubuh Elle bergetar ia teringat akan ibunya dan entah kenapa hatinya ingin mempercayai pria asing itu . Elle mulai mengerjapkan matanya, kini mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, saling menatap menyelami kedalam mata masing- masing . Lucas menyaut tangan Elle dan membantunya turun dari mobil . Dilihat disekelilingnya banyak orang yang berlalu lalang dengan mata berbinar Elle melompat dengan girangnya .
"Lucaaas..., akhirnya aku normal !!" teriak Elle yang tengah berjingkrak bahagia tanpa melepas genggaman Lucas .
"Tingkah mu sekarang tidak menunjukan ke normalan..." ucap Lucas berbisik seraya menahan tubuh Elle yang melompat-lompat, dan ia pun menarik Elle berjalan keluar parkiran .
Kini mereka tengah berada dipusat perbelanjaan, Elle membeli begitu banyak barang dan ia pun tidak lupa membelikan beberapa setel baju untuk Lucas, ya walaupun sebenarnya ia suka melihat Lucas mengenakan pakaian milik paman Jorge, yang super ketat ditubuh Lucas, dan selalu berhasil menjadi bahan ledekan untuknya .
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada disebuah Restoran dengan suasana yang menakjubkan, halaman yang indah menyuguhkan pemandangan alam yang nyata . Bunga serta tanaman yang menjuntai didinding dengan kerlap-kerlip lampu hias, menerangi dinding berpahatan batu kasar, ditambah alunan musik Jazz menciptakan suasana semakin romantis.
"Yeeayyyy..., ini kencan pertama ku !!" teriak Elle yang berdiri menjadi pusat perhatian pengunjung restoran, senyuman mengembang menghiasi wajah cantiknya, sangat terbalik dengan wajah masam pria dihadapannya . Yang sesekali menoleh kekanan dan kekiri menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan, menahan malu karena semua mata menatap kearah meja mereka .
"Berhenti membuatku malu, cepatlah duduk !!" Lucas menarik tangan Elle agar ia duduk dengan tenang .
"Lucas, aku bahagiaa..!!" ucap Elle merentangkan kedua tangannya dengan mata berbinar .
"Iya aku pun sama bahagianya, akhirnya aku bisa makan enak !" ucap Lucas malas yang dibalas dengan dengusan oleh Elle . Tak lama makanan yang dipesan pun datang, Lucas memesan banyak makanan, seakan sebuah pembalasan karena selama hampir dua minggu, ia hanya memakan makanan berbahankan apel saja .
"Berhentilah tersenyum, cepat habiskan makanan mu..!!" Lucas yang risih dengan tingkah Elle, bukannya menikmati makanan ia malah disuguhkan pandangan mata para pengunjung, namun gadis dihadapannya sama sekali tidak menggubris kekesalan Lucas . Saat ini yang ia rasakan hanya kebahagiaan yang amat teramat sangat .
"Bisa-bisanya ia mengatakan bahwa ini adalah kencan.." gumam Lucas pelan namun terdengar jelas ditelinga Elle .
"Aku tidak perduli apa yang kau pikirkan, tapi bagiku ini adalah kencan pertama ku mungkin yang terakhir . Tapi aku sangat sangaaaat bahagia..!" aura kebahagiaan terpancar jelas diwajah Elle, dan Lucas merasa bersalah atas sikapnya karena cuma rasa malu ia mengabaikan wajah bahagia Elle .
"Kau jangan bicara seperti itu, nanti di Ottawa aku akan sering mengajak mu makan diluar.." ucap Lucas merasa bersalah, tanpa menatap wajah gadis dihadapannya yang air matanya sudah nerembas dikedua pipi wajah cantiknya .
"Terimakasih..!!" ucap Elle lirih nyaris tak bersuara seraya menundukan kepala menyembunyikan wajahnya, ia terharu mendapatkan perhatian tulus selain dari ibunya.
*****
"El, boleh aku bertanya ?" Lucas mengawali obrolan .
"Mau tanya apa ?" jawab Elle .
"Sejak kapan phobia mu itu..?" tanya Lucas berhati-hati takut menyinggung lawan bicaranya .
"Aku tidak memiliki phobia" sergah Elle lalu menghisap kembali tehnya.
"Tapi kenapa tadi kau begitu cemas berada dikerumunan banyak orang ??" tanya Lucas penasaran .
"Aku hanya..." suaranya menggantung .
"Hanya apa ?!" Lucas semakin penasaran .
Elle meletakan cangkirnya, ia menghadapkan tubuhnya tepat dihadapan Lucas . Mata indahnya yang bulat berwarna biru menatap lekat kedalam mata milik Lucas, keduanya saling menatap cukup lama . Elle memalingkan pandangannya terlebih dahulu seraya menghembuskan helaan nafas panjang .
"Bukannya aku tidak suka dikeramaian, aku hanya membatasi diri" ucap Elle lirih .
"Kenapa..?!"
"Karena aku berbeda !!" Elle berusaha mengatur deru nafasnya dan menatap Lucas kembali .
"Aku terlahir dengan gen yang berbeda dari kebanyakan orang . Aku bisa mendengar suara dari jarak jauh, pendengaranku memiliki frekuensi rendah dari 16 hingga 20 Hz, sedangkan manusia normal pada umumnya hanya mendengar dari frekuensi 20-70 Hz . Dan mataku ini memiliki penglihatan yang tajam aku dapat melihat dari kilometer jauhnya . Dokter bilang aku memiliki retina normal pada umumnya, tapi entah apa yang membuat ku berbeda" tutur Elle menjelaskan terdapat kekhawatiran diwajahnya, ia takut Lucas akan memandangnya berbeda setelah mengetahui tentang dirinya .
"Dan, jika itu terjadi aku akan mengalami kesulitan bernafas, dada ku akan terasa sesak serta merasakan panas disekujur tubuh" lanjut Elle kembali, sembari menundukan kepala .
"Menurutku kau sangat normal, dan kau pun tadi sangat menikmati perjalanan kita" ucap Lucas dengan nada biasa menyembunyikan keterkejutannya, karena ia tidak ingin wanita dihadapannya merasa cemas setelah memberitahukan rahasia hidupnya .
"Entahlah, mungkin karena selama ini aku melatih fokusku.." jawab Elle sembari menatap langit membayangkan wajah ibunya yang selalu menenangkan dikala ia tertekan .
"Kau pasti berpikir aku ini gadis yang aneh ?!" ucap Elle pelan menatap Lucas dengan nanar .
"Iya, kau ini memang aneh !!" jawab Lucas cepat .
"Huft....!!" Elle kembali menundukan kepala membuang nafas.
"Tapi kau gadis teraneh paling istimewa yang pernah aku temui..!" lanjut Lucas tertawa seraya merangkul leher Elle menyemangati, hingga tawa keduanya pecah menggema dihalaman belakang .
~ Wulania ~