Elle

Elle
BAB 26 . TENTANG ABIGAIL



"Tak perlu mengandung dan melahirkan ku. Cukup berikan aku cinta, dan jadikan aku putra mu. Maka kau ibuku!"


"Tentu saja kau putra ku!" pekik nyonya Martha mendorong pelan tubuh Lucas memberi jarak untuk meraup wajahnya.


Lalu ia beranjak merubah posisi duduk, dengan helaan napas kasar dihembuskannya.


"Abie hanya mengandung dan melahirkan mu, tetapi aku yang mengurus mu. Sedari bayi kau sudah menyebalkan, kau bayi yang sangat rewel dan sudah seperti lem yang selalu menempel pada ku, kau tak pernah betah berada dipangkuan orang lain. Bahkan ketika panggilan alam menghampiri ku, kau selalu ada dalam pangkuanku menghirup aroma ba--"


"Hukh ... kenapa ibu membahas itu." Lucas tersedak mendengar penuturan absurd dari sang ibu.


Hahhha


"Maaf ibu keasyikan mengenang masa kecil mu." Gelak tawa sang ibu dibalas delikan oleh Lucas.


Cekleeek


"Sepertinya aku melewatkan sesuatu?" tanya Liam yang baru saja datang, seraya mendaratkan tubuhnya disofa.


"Kau sudah datang, apa kau sudah makan siang?" tanya nyonya Martha lembut menyambut putra sulungnya, yang dibalas anggukan oleh Liam.


Tanpa ibu itu sadari tatapan setajam elang telah dihunuskan oleh putranya yang lain.


"Kau kenapa?" Nyonya Martha yang keheranan dengan ekspresi wajah putra bungsunya.


"Ibu selalu bersikap lembut pada Liam, tidak pada ku." rajuk Lucas pada ibunya.


"Hahha, kau iri pada ku ...." gelak tawa Liam terdengar nyaring ditelinga sang adik.


"Tentu saja aku iri, ibu lebih menyayangi mu dari pada aku. Ketika kau dirundung oleh teman-teman mu, ibu akan turun tangan langsung kemedan perang tanpa memiliki rasa malu melawan anak-anak. Bahkan ketika kita mengikuti Summer Camp ibu lebih banyak mempersiapkan kebutuhan mu dari pada aku. Dan juga--"


Bugh ...


Sandal yang tadinya dikaki sang ibu kini mendarat sempurna dikepala Lucas. Tak ada lagi wajah pucat dari wanita yang sedang dalam perawatan itu, yang ada kini wajah padam memerah menahan kekesalan. Dengan berkacak pinggang, ia menatap tajam kearah putra bungsunya.


"Karena sifat dan watak kalian berbeda, makanya aku bersikap beda pula pada kalian. Kenapa aku selalu memerhatikan makanan Kakak mu, karena dia itu pemilih, tidak seperti kau yang selalu makan apa yang sudah tersedia. Dan ketika kecil kau tahu sendiri betapa lemahnya kakak mu, berbeda denganmu. Sebelum aku turun tangan, kau lebih dulu menghajar mereka." sungut Nyonya Martha penuh kekesalan.


"Kau serius iri pada ku?" tanya Liam mengerutkan dahinya yang terkejut mendengar penuturan sang adik.


Lalu ia menghempaskan tubuhnya kesofa, matanya yang sendu menatap langit-langit.


"Malahan selama ini aku selalu iri, karena ibu selalu bersikap bebas terhadap mu. Kalian begitu dekat layaknya teman, tapi pada ku ibu selalu berhati-hati," ungkap Liam lirih.


"Ya Tuhan ... ada apa dengan anak-anak ku? Aku menyayangi kalian berdua sama berat sama besarnya, aku bersikap sesuai dengan kepribadian kalian. Liam bayi, begitu manis. Berbeda dengan Lucas bayi, yang selalu menempel padaku, tapi setelah kalian beranjak besar kalian membentuk karakter pribadi masing-masing. Entah sejak kapan Lucas berubah menjadi mandiri dan Liam tumbuh menjadi pria dewasa yang manja," beber nyonya Martha, dengan tangan yang masih terpasang infusan memijat dahinya sesekali.


Kedua kakak beradik itu hanya tercenung, saling melemparkan tatapan. Liam pun menghampiri sang ibu yang disusul Lucas dibelakangnya.


"Maaf, maksud kami bukan seperti itu ...." lirih Liam tertunduk, mendaratkan tubuhnya ditepi tempat tidur.


"Ibu tenang saja, aku akan memiliki anak yang sama persis sepertiku, untuk merutuki kebodohan ku setiap harinya, yang telah mengabaikan kasih sayang mu," timpal Lucas berbaring memeluk sang ibu.


"Kau ini, memangnya memiliki anak itu gampang." celetuk Liam.


"Setidaknya aku memiliki kekasih, yang bisa diajak bekerja sama untuk memberikan ibu cucu. Sedangkan kau?" sarkas Lucas membungkam Liam.


gelak tawa haru bercampur kebahagiaan menyertai mereka, keluarga Houston.


"Sekarang kau pulanglah, dan besok ajak dia menemui ibu." Lucas membalas dengan anggukan, tanpa ada rasa terkejut. Pikirnya, jika selama ini ibunya mengawasi dirinya, sudah barang tentu ia pun tahu tentang Elle si gadis pujaan hatinya.


Martha


24 tahun yang lalu suamiku, Dane Houston. Ia membawaku untuk menemui seseorang dirumah sakit. Ketika kami memasuki sebuah ruangan, pandanganku tertuju pada sosok wanita yang tengah berbaring lemah.


Aku tahu wanita itu siapa. Iya, wanita rendahan yang berselingkuh dengan suamiku. Pikirku saat itu.


Ia tersenyum, matanya berbinar menatap penuh kehangatan padaku. Akan tetapi hanya kepedihan yang aku rasakan, rasa cemburu menahanku untuk tidak berempati padanya.


Wanita itu memberi tanda agar aku duduk disampingnya. Dan aku pun menghampirinya, mendaratkan tubuhku dikursi samping tempat tidur. Ia berkata, "Maafkan aku melahirkannya, sungguh ... aku tidak berencana memiliki anak dari Dane."


Deg..


"A-anak ...." gumamku. Sakit, itu yang hatiku rasakan. Ingin ku hempas jiwa yang terajam ngilu ini.


Setelah kalimat itu ia lontarkan padaku, lalu ia menatap Dane yang sedari tadi berdiri ditepian tempat tidur. Dane meraih tangannya, tatapan penuh cinta aku melihatnya dimata suamiku yang ditunjukan untuk wanita itu.


"Aku hanya sebuah mimpi, ketika kau terbangun. Aku akan kembali menjadi sebuah ketiadaan. Jangan terlalu sedih meratapi kepergianku!" ucapnya dihelaan nafas terakhir yang ia hembuskan.


Dane masih bergeming mencium punggung tangan wanita itu. Iya, aku tidak melihat air mata pria itu. Seolah ia menghantarkan kepergian kekasihnya menuju kedamaian.


Namun sepotong bayang kaku yang termakan asa itu, membuatku tak berdaya. Kemarin egoku membumbung tinggi, cemburuku membuncah. Tetapi, semua amarahku menghilang bagaikan helaan nafas yang terbawa angin.


Setelah kepergian Abigail, Dane membawaku ke ruang NICU Tempat Perawatan Intensif Bayi. Ia menunjuk bayi laki-laki yang berada dalam Inkubator, usianya baru 2 hari.


"Aku tahu, bahwa kau juga mengetahui aku memiliki wanita lain. Namun informasi yang kau terima dari orang suruhan mu tidak semuanya benar. Abie adalah istri pertamaku. aku menikahinya dua tahun sebelum menikah dengan mu." ungkap Dane yang membuat denyur nadiku meruat tak karuan.


~ Wulania ~