
Tidak ada lagi amarah yang menjalar dihati Martha, ketika ia mengetahui kebenaran tentang Abigail. Ternyata wanita desa itu, yang meminta Dane untuk menerima perjodohan dan menikah dengannya, juga meminta untuk memberikan cinta yang sama seperti Dane mencintainya. Ia mengajukan syarat Dane hanya boleh menemuinya sebulan sekali, jika tidak ia akan menghilang dari hidup Dane. Sebab itu Martha sama sekali tidak menduga jika suaminya telah menikahi wanita lain, karena selama ini suaminya selalu menghabiskan waktu dirumah bersamanya dan juga Liam putranya. Hanya beberapa bulan terakhir sebelum Abigail meninggal. Ia mendapati sikap Dane berbeda, itu karena Abie tengah dirawat dirumah sakit yang disebabkan ada masalah dalam kandungannya.
Selang setahun kepergian Abigail, Dane pun pergi meninggalkan Martha dan kedua anaknya. Lolos dari pengamatan Martha, selama setahun dalam diamnya. Dane berjuang menata hidupnya kembali tanpa sosok Abigail. Pria itu mendapati luka yang bersarang, namun tak berbekas. Hingga ajal menjemputnya, ia tersenyum bahagia karena akan dipertemukannya kembali, bersama sang kekasih yang terlebih dahulu meninggalkannya.
***
Lucas bergegas kembali setelah mendapat lampu hijau dari sang ibu, aura wajahnya memancarkan rona-rona kebahagian, ia ingin segera menemui gadisnya dan memberitahukan tentang keinginannya untuk menikahi gadis yang baru saja ia kenal beberapa bulan lalu.
Sesampainya dirumah ia langsung menuju kamar Elle. Ia menatap dengan penuh cinta kearah gadis yang tengah meringkuk membelakanginya. Lucas pun membaringkan tubuhnya disamping sang gadis, merengkuhnya kedalam dekapan.
Namun ia terkejut, merasakan tubuh sedingin es yang sedikit basah dengan banyaknya peluh bergetar kedinginan.
"I-ibu ... ibu ...." Hanya nama keramat itu yang lolos dari mulut mungilnya.
Lucas beranjak dari tempat tidur hendak membawa Elle kerumah sakit. Dengan pelan ia menggendong tubuh mungil itu.
"Lucas ...." suaranya pelan.
"Tidurlah kembali, aku kan membawa mu kerumah sakit."
Elle menggelengkan pelan kepalanya. "Aku tidak mau kerumah sakit! Tolong peluk aku ...." pinta Elle lemah matanya kembali mengatup.
Cklek
"Aku sudah memberinya obat, kau temani saja ia tidur." Alex yang datang untuk memeriksa keadaan Elle, sudah mendapati Lucas dikamar.
"Terimakasih Lex ...."
"Hmm." Alex pun kembali keluar kamar dan menutup kembali pintu.
Lucas kembali membaringkan Elle, menanggalkan semua pakaian yang membalut tubuh gadis itu, dan mengelap keringat dibagian tubuh Elle dengan handuk kecil. Lalu menggantinya dengan baju tidur yang baru ia ambil dari lemari. Setelah baju terpasang ditubuh Elle, Lucas pun berbaring berhadapan dengannya sembari menyelimuti tubuh keduanya. Ia mendekap tubuh kekasihnya dengan erat menghantarkan kehangatan, seraya mencium keningnya begitu dalam, lalu beralih mencium bibirnya yang mengatup. Kali ini bukan sekedar kecupan, pria yang memiliki tatapan teduh itu, memanggut dan merasakan manisnya bibir mungil sang kekasih, hanya saja tak ada balasan dari pemilik bibir semerah cerry itu.
"Selamat malam ...." bisiknya pelan seraya tersenyum memandang wajah cantik yang berada dalam dekapannya, dan ia pun ikut terlelap menuju alam mimpi.
***
Seorang gadis tengah berada dihamparan kosong, sejauh matanya memandang tak ada satu pun yang dapat ia lihat. Hanya keberadaannya seorang diri, ia berlari kesana kemari mencari jalan keluar namun tak jua ia temukan pintu keluar, seolah ia berada disuatu planet tak berpenghuni.
"Elijah ...."
Ia menoleh mencari asal suara ketika namanya dipanggil.
"K-kau, si-siapa ...?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Elle, ia tergagap mendapati sosok asing. Matanya meneliti penampilan wanita yang berada dihadapannya, wajahnya samar tertutup cahaya yang menyilaukan pandangan. Tetapi ia dapat merasakan wanita asing itu tengah tersenyum padanya.
"Eum, apa kau ibu peri yang sering diceritakan oleh ibu ku? Ah, mungkin aku sudah mati dan kau ini Malaikat maut yang mencabut nyawaku ...." sambung gadis itu berspekulasi sendiri.
Wanita misterius itu tak menjawab, ia langsung memburu tubuh Elle dan mendekapnya.
"Terimakasih karena sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik," bisiknya mengundang keanehan gadis yang berada dalam pelukannya.
"Elijah dengarkan aku, kau sekarang berada di dimensi kehampaan. Ketika kau berada diantara hidup dan mati, dengan sendirinya segel mu melonggar dan itu sebabnya kau tertarik kemari.
Elle bergeming mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya, namun ia sama sekali tak paham apa yang dikatan wanita asing itu.
"Aku menyembunyikan Batu Jiwa atau Soul Stone ditubuh mu, jika saatnya tiba. Manfaatkanlah kekuatan itu untuk melindungi dirimu dari Arael."
"Arael ...?" gumamnya kembali tak mengerti.
"Dan jangan terlalu sedih jika hal buruk terjadi pada Lucy."
"Lucy ... dari mana kau mengenal ibu ku? Bagaimana keadaannya ...?" teriak Elle pada sosok yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Ingat. Kekuatan mu bersumber dari hati mu! Aku ingin menghabiskan waktu yang lama bersama mu. Akan tetapi ... waktu ku terbatas. Kami menyayangi mu Elijah," ucapnya diiringi tangisan seraya menghilang melebur bersama udara.
~
"Tunggu ... tolong beritahu dimana ibu ku!"
"El, kau kenapa?" tanya Lucas khawatir menangkup wajah Elle yang tengah mengigau.
"Luce ...." Elle mengerjapkan matanya, dan langsung memeluk pria dihadapannya.
Lucas merasakan getaran ditubuh Elle, serta deruan nafas yang tak beraturan. Ia menepuk lembut bahu Elle menenangkannya kembali.
"Aku merindukan ibu ku ...." isak Elle yang berada dalam pelukan Lucas.
"Tenanglah, nanti kita akan cari cara untuk mencari keberadaan ibu mu."
Bukan perkara mudah, untuk mencari seorang Lucy Monteno. Meski ia nomor 1 di E&C Holdings. Namun identitasnya tertutup rapat tak banyak orang tahu tentangnya, karena selama ini semua urusan perusahaan ia limpahkan pada pria bernama Jerome.
"Jadi, Jerome adalah kunci untuk mencari keberadaan Lucy." gumam Lucas seraya memeluk tubuh Elle.
~ Wulania ~