Elle

Elle
BAB 2 . KEKACAUAN



Beberapa bulan kemudian...


"Kami semua menunggu keputusan anda Lord Ellias," tanya seorang pria yang memiliki usia sama sepertinya.


"Begitupun keputusanku masih tetap sama." Ellias menjawab tanpa menatap wajah yang bertanya.


BRAAAKK


Gebrakan meja yang di ikuti tatapan tajam dengan kemarahan yang menyeruak menyingalir keseluruh ruangan.


"Kau merupakan kaum dari bangsa Eelzeb, yang sudah seharusnya berpihak pada kaum mu sendiri! Dan kami semua disini tidak meminta izinmu, jadi. Segera lepas segelmu sekarang ...!" teriak pria tua memerintah yang memiliki usia jauh diatas Ellias.


Ellias bangkit dari kursi kebesarannya, berdiri tegap seraya mengepalkan kedua tangannya. Dengan perlahan ia mengatur napas, dan ditatapnya satu persatu mereka semua yang hadir dalam ruangan.


"Waktu merupakan aset berharga dialam semesta, jika portal menuju alam manusia terbuka itu akan menyalahi aturan. Maka tidak ada lagi kesejajaran dialam semesta dan waktu dialam manusia lambat laun akan berhenti."


"Mereka hanya makhluk fana, dibuka atau tertutupnya portal. Dunia mereka tetap akan hancur, karena ketamakannya sendiri," timpal seorang Lord dari klan Nova bernama Lord Axton yang tak lain pria tua itu.


"Silahkan kalian buka portalnya sendiri, tapi tentunya. Tanpa segel dari Roth!" Ellias berjalan menuju pintu keluar.


"Dan ... bukan hanya alam manusia saja yang akan hancur. Tetapi alam semesta pun akan ikut hancur!" Ellias yang terhenti diambang pintu melajukan kembali kakinya keluar ruangan, disusulnya oleh Arael pria yang memiliki aura misterius dengan tatapan setajam elang serta memiliki kulit pucat pasi namun tidak mengurangi ketampanan versinya sendiri. Arael merupakan kepercayaan dan penasehat tertinggi di Roth.


"Apa Lord yakin atas keputusan anda sendiri?" tanya Arael yang menghentikan langkah Ellias, tetapi tidak mendapatkan sahutan dari tuannya.


"Bagaimana jika mereka, para klan menyerang Roth?" Arael yang terus menyecar Ellias dengan pertanyaan, berharap mendapatkan jawaban.


"Maka ... aku akan siap atas konsekuensinya." Ellias pun berjalan menjauh meninggalkan Arael yang masih berdiri diposisisnya.


Semua klan mengetahuinya, mereka tidak dapat membuka portal tanpa segel Ellias. Seandainya mereka bisa, sudah barang tentu mereka lakukan sejak lama tanpa segel Ellias, dan tak perlu bersusah payah membujuknya.


***


Dua minggu kemudian...


"Aarghh ... sakiit ...!" Cherelia mengerang kesakitan, dengan kedua tangan melingkar memegang kain yang melilit diatas ranjang, napasnya tersengal-sengal.


"Huuhhh ... huuhh ... huuhh," ia berusaha mengatur pernapasannya.


"Panggilkan Ellias segera! Katakan bahwa anaknya akan segera lahir," perintah Cherelia pada salah satu pelayan yang berada dikamarnya. Lalu pelayan itu pun segera undur dengan langkah yang panjang.


BRUUK...


Pelayan itu menabrak tubuh seseorang.


"Ma-maaf tuan, saya terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan," ucapnya dengan kepala yang masih menunduk.


"Kenapa kau tergesa-gesa?" tanya orang yang ditabraknya.


"Ma-maaf ... Lady Cherelia akan segera melahirkan Tuan, dan saya akan menemui Lord Ellias untuk memberitahukannya," jawab sang pelayan terbata.


"Tidak perlu! Aku yang akan memberitahu Lord Ellias," ucap pria itu.


"Baik Tuan," jawab pelayan disertai anggukan .


Pintu kamar terbuka "Kalian semua ... keluar dari ruangan ini. Sekarang!" perintah Arael


"T-tapi Tuan, Lady sebentar lagi akan melahirkan." Salah satu pelayan membuka suara, yang dibalas tatapan mata dingin milik Arael, memancarkan aura dingin keseluruh ruangan disertai tatapan membunuh darinya, membuat semua pelayan bergidik ketakutan.


"Apa yang kau lakukan Arael, dimana Ellias?" Cherelia yang terkejut, berusaha mundur merapatkan tubuhnya ke ujung ranjang.


"Tolong panggilkan suamiku ... Arael, aku mohon panggilkan Ellias!" Cherelia setengah memohon pada Arael.


"Aaarghh ... Ellias ...!" teriak Cherelia memanggil suaminya.


"Arael aku mohon ... sepertinya aku akan segera melahirkan. T-tolong panggilkan Ellias untuk ku!" Cherelia mengerang kesakitan, ia terus berusaha memanggil nama suaminya.


Arael yang sedari tadi hanya menatap beku, akhirnya menghampiri Cherelia mengulurkan tangannya. Cherelia menatap lama kearah uluran tangan Arael, karena rasa sakit yang luar biasa tengah menderanya Cherelia pun meraih uluran tangan Arael.


"Hum ... hum ... hemm ... Aaaahhhhhhh ...!" Cherelia mengejan dengan sekali tarikan napas ia mendorong kuat, dan pecahlah kebekuan Arael mendengar tangisan bayi .


Ditatapnya sang bayi yang baru lahir dengan darah yang masih memenuhi tubuh mungilnya. Arael yang sedari tadi memerhatikan, mendekat meraih bayi Cherelia kedalam dekapannya.


"Kemarikan ia Arael ...! Aku ingin melihat putriku ...." lirih Cherelia dengan suara lemah yang sudah tak bertenaga.


"Dari mana kau tau jika anak mu seorang putri?" sontak Arael terkejut, mendengar Cherelia mengklaim bahwa bayi yang dilahirkannya bayi perempuan.


"Tentu saja aku tahu, karena aku ibunya!" tukas Cherelia, ada kekhwatiran diwajahnya. Karena ketika ia menjalani proses persalinan, tiba-tiba ia mendapat kilatan bayangan seorang gadis dengan kekuatan yang mengerikan. Dan Cherelia merasa bahwa itu adalah bayangan putrinya di masa depan.


Arael menatap lekat pada wajah sang bayi, kemudian ia menelungkupkan bayi mungil itu pada lengan salah satunya, sedang tangan yang lainnya menekan tengkuk sang bayi seraya melafalkan mantra, hanya Arael sendiri yang tau mantra apa itu. Cherelia yang tidak lagi mendengar suara tangisan bayinya, ia melihat Arael dan berusaha bangun untuk meraih putrinya, akan tetapi tatapan tajam Arael menghunus matanya. Seketika tubuh Cherelia terhempas tak berdaya, seakan tersihir oleh sang mata milik Arael.


"Araael ... KAU ...!" suara yang menggema memenuhi seluruh ruangan, terlihat Ellias mengepalkan kedua tangannya. Matanya memerah disertai sorotan tajam, dengan amarah yang sudah memuncah diubun kepala mengeluarkan aura membunuh lalu, "Whooooshh ...." desiran angin menerpa tubuh Arael, dengan seketika ia tersungkur, dan entah kapan serta bagaimana tubuh sang bayi sudah berada dalam dekapan Ellias.


Arael berusaha bangkit bertumpuan pada dinding.


"Putrimu tidak akan menjalani kehidupan sebagai kaum bangsa Eelzeb, maupun makhluk yang bernama Manusia! Ia akan menjadi iblis yang selalu haus akan darah, ia akan tumbuh menjadi monster yang akan menghancurkan alam Manusia!" ucap Arael memprovokasi Ellias.


Ellias menghampiri istrinya yang tak sadarkan diri ditempat tidur, lalu ia menyaut sehelai kain dibalutkannya pada tubuh sang bayi. Lalu ia meletakan bayi mungilnya disamping Cherelia.


Ellias berbalik menatap tajam pada Arael. "Apa yang kau perbuat pada putriku?" geram Ellias yang sudah berada tepat dihadapan Arael dengan mengunci tubuh musuh.


"Aku mengutuk putrimu, dengan tanda kutukan Kraken. Dan tidak akan ada yang mampuh melepas kutukan itu selain aku!" Senyuman kemenangan terukir diwajah Arael.


"Maka aku akan menghancurkan seluruh tubuhmu. Tanpa harus membunuhmu, tetapi kau akan merasakan kematian itu berulang, serta akan aku gunakan tangan dan pikiranmu untuk melepas kutukan itu." Ellias mempererat cengkramannya pada leher Arael.


"Ah, aku sekedar mengingatkan jika kau lupa, bahwa aku ini ... Ancient Devil," bisik Ellias mengangkat salah satu tangannya yang mengeluarkan gumpalan cahaya berwarna biru, yang bila mengenai tubuh akan terasa luka bakar yang teramat panas, namun tidak akan menghancurkan bagian tubuh itu sendiri. Ellias meletakan tangan dengan gumpalan berwarna biru tepat di dada Arael.


"Aarrghh ... jika aku mati putrimu tidak akan tertolong lagi!" Arael mengerang kesakitan.


"Sudah aku katakan, aku tidak akan membunuh mu, hanya akan memberikan rasa sakit ditubuhmu saja!" Ellias menyeringai menatap Arael.


ZZRAAKK...


~ Wulania ~